Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manisnya Racun Dalam Sandiwara
"Berhenti menatapku seolah-olah aku akan meracuni makananmu, Arkan. Aku sudah bilang, aku menyerah."
Kanaya meletakkan gelas airnya dengan bunyi klunting yang pelan di atas meja makan, memutus keheningan yang mencekam sejak mereka duduk berdua. Arkan hanya menaikkan sebelah alisnya, tidak menyentuh makanannya sama sekali. Matanya terus mengunci Kanaya, mencari di mana letak kebohongan dari kalimat itu.
"Menyerah bukan kata yang ada di kamusmu, Kanaya. Terakhir kali aku cek, kamu masih mencoba menyuap pelayan hotel untuk kabur," sahut Arkan datar.
"Itu kemarin. Hari ini aku sadar kalau Ayah tidak butuh pahlawan yang mati konyol, dia butuh aku tetap hidup di sisimu agar fasilitas rumah sakitnya tidak dicabut," Kanaya mencondongkan tubuhnya ke depan, menantang tatapan Arkan. "Jadi, mari kita buat kesepakatan yang masuk akal. Aku akan jadi istri pajangan yang paling bisa kamu banggakan di acara peluncuran malam ini. Aku akan tutup mulut, tersenyum pada setiap kamera, dan memuji namamu di depan semua investor. Tapi sebagai imbalannya, aku mau satu hal."
Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak sedikit tertarik. "Apa?"
"Aku mau akses masuk ke ruang arsip kantormu besok. Aku butuh membaca dokumen legalitas rumah Ayah yang kamu sita. Aku perlu tahu sampai kapan aku harus jadi tawananmu sebelum semuanya lunas."
Arkan tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Kamu mau belajar jadi pengacara atau mau mencari celah untuk melaporkanku, Kanaya?"
"Pikirkan saja pakai logikamu, Arkan. Aku tidak punya ponsel, aku tidak punya akses internet, dan Janu selalu mengawasiku seperti bayangan. Apa yang bisa kulakukan selain membaca tumpukan kertas membosankan?" Kanaya mengulurkan tangannya di atas meja, telapak tangannya terbuka. "Kesepakatan? Satu malam sandiwara sempurna, untuk satu hari di ruang arsip."
Arkan terdiam cukup lama. Ia menimbang-nimbang antara egonya yang ingin terus menekan Kanaya atau rasa penasarannya melihat sejauh mana wanita ini bisa "bermain". Akhirnya, ia meraih tangan Kanaya, bukan untuk menjabatnya, tapi untuk menggenggamnya dengan tekanan yang mengingatkan siapa bosnya di sini.
"Hanya ruang arsip"
"Deal," jawab Kanaya tanpa keraguan.
Begitu sampai di lokasi gala dinner, Kanaya langsung mengubah raut wajahnya. Begitu pintu mobil dibuka oleh petugas, ia tidak lagi tampak seperti tawanan. Ia keluar dengan dagu tegak, langsung mengalungkan tangannya di lengan Arkan, dan menyunggingkan senyum yang terlihat sangat tulus—senyum yang ia latih berjam-jam di dalam kepalanya.
"Ingat, jangan bicara kalau tidak perlu," bisik Arkan di sela-sela senyumnya ke arah wartawan.
"Tenang saja, Arkan. Aku tahu persis kapan harus buka mulut dan kapan harus terlihat seperti istri yang penurut," balas Kanaya pelan, suaranya sangat manis namun dingin.
Di dalam aula, Arkan dikerumuni oleh para petinggi industri. Kanaya berdiri di sampingnya seperti bayangan yang mempesona. Ia tidak hanya diam setiap kali Arkan berbicara tentang ekspansi bisnis, Kanaya menimpali dengan komentar singkat yang menunjukkan bahwa dia paham apa yang sedang dibicarakan. Hal ini membuat kolega Arkan terkesan.
"Istri Anda punya otak yang tajam, Arkan. Jarang sekali ada wanita yang mengerti seluk-beluk akuisisi di pertemuan seperti ini," puji Mr. Hadiningrat, salah satu komisaris senior.
"Terima kasih, Pak. Saya banyak belajar dari suami saya," jawab Kanaya sambil menatap Arkan dengan binar mata yang dibuat-buat kagum. Arkan hanya bisa mengangguk, meski ia tahu itu adalah sindiran paling halus yang pernah ia terima.
Namun, target utama Kanaya malam ini bukan para komisaris itu. Matanya terus mengawasi Janu yang berdiri agak jauh di barisan staf. Kanaya butuh momen di mana Arkan lengah.
Kesempatan itu datang saat Arkan harus naik ke podium untuk memberikan pidato singkat. Begitu Arkan mulai berbicara, perhatian seluruh ruangan terpusat ke arah panggung. Kanaya segera memberi isyarat kecil pada Janu.
"Janu, aku perlu ke toilet. Kawal aku sekarang," ucap Kanaya tegas begitu Janu mendekat.
Di lorong menuju toilet yang sepi dari jangkauan kamera, Kanaya berhenti mendadak. Ia berbalik dan menatap Janu yang tampak sangat tegang.
"Janu, aku tahu Arkan membayar semua biaya pengobatan ibumu di luar negeri. Itu alasan kenapa kamu mau jadi anjing penjaganya, kan?" Kanaya langsung menusuk ke inti masalah.
Janu terbelalak, wajahnya pucat. "Mbak Kanaya, tolong... saya hanya bekerja."
"Aku tidak menyalahkanmu karena ingin menyelamatkan ibumu. Tapi kamu tahu Arkan menjebak Ayah. Kamu yang menghapus rekaman CCTV di kantor malam itu, kan? Aku melihat namamu di log akses saat aku tidak sengaja melihat laptop Arkan yang terbuka tempo hari," bohong Kanaya, berjudi dengan keberuntungan.
Janu menunduk, bahunya gemetar. "Saya tidak punya pilihan, Mbak."
"Kamu punya pilihan sekarang. Bantu aku masuk ke server pribadi Arkan besok malam saat dia di Bogor, atau aku akan pastikan Arkan tahu bahwa aku sudah mencurigaimu. Kamu tahu apa yang Arkan lakukan pada orang yang dianggapnya 'bocor', kan?"
"Mbak mengancam saya?"
"Aku mengajakmu bekerja sama untuk bebas, Janu. Berikan aku kartu akses cadanganmu. Aku hanya butuh sepuluh menit di dalam ruangannya besok. Kamu bisa bilang pada Arkan kalau aku hanya membaca berkas di perpustakaan seperti perjanjiannya," Kanaya mengulurkan tangannya. "Cepat, Arkan akan selesai pidato dalam tiga menit."
Dengan gerakan yang sangat cepat dan ketakutan yang terlihat jelas di matanya, Janu merogoh saku dalamnya. Ia menyerahkan sebuah kartu tipis berwarna perak. Kanaya segera menyembunyikannya di dalam genggaman tangannya.
"Kalau Pak Arkan tahu... saya mati, Mbak," bisik Janu.
"Kalau kita berhasil, kita berdua tidak perlu lagi takut padanya," jawab Kanaya sebelum berjalan kembali menuju aula dengan wajah tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Arkan turun dari podium dan langsung menghampiri Kanaya. Ia tampak sangat puas dengan dirinya sendiri, melihat bagaimana semua orang bertepuk tangan memujanya.
"Kamu dari mana?" tanya Arkan menyelidik.
"Hanya memperbaiki riasan. Kamu tidak mau kan istrimu terlihat berantakan di depan rekan bisnismu?" Kanaya merapikan sedikit jas Arkan, tangannya menyentuh dada pria itu, menciptakan ilusi kemesraan yang sempurna.
"Kamu luar biasa malam ini, Kanaya. Aktingmu sangat natural. Hampir saja aku percaya kalau kamu benar-benar mulai menyukaiku."
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Arkan. Aku hanya sedang menjalankan bagianku dari kesepakatan kita," bisik Kanaya tepat di depan wajah Arkan. "Jangan lupa, besok aku punya janji di ruang arsipmu."
"Aku tidak pernah lupa, Kanaya. Tapi ingat, satu kesalahan kecil saja besok, dan kamu akan melihat betapa cepatnya aku bisa menghancurkan apa yang tersisa dari keluargamu."
Arkan mengecup kening Kanaya di depan umum, sebuah gestur yang langsung ditangkap oleh belasan kamera. Kanaya memejamkan mata, menahan rasa mual yang meluap di perutnya. Di balik senyumannya, ia menggenggam erat kartu akses di tangannya.
Malam itu berakhir dengan kemenangan besar bagi Arkan di mata publik. Namun di dalam mobil menuju pulang, Kanaya tidak lagi bicara. Ia menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu jalanan yang kabur. Ia tahu, langkah yang ia ambil malam ini adalah jalan satu arah. Tidak ada jalan kembali.
Arkan tertidur di sampingnya, kepalanya bersandar di sandaran kursi dengan napas yang teratur. Untuk sesaat, pria itu terlihat seperti manusia biasa, bukan iblis yang menghancurkan hidupnya. Tapi Kanaya segera menepis pikiran itu. Ia tahu siapa Arkan sebenarnya.
"Besok malam, Arkan," bisik Kanaya dalam hati. "Besok malam, aku akan mengambil kembali apa yang kamu curi dari hidupku."
Ia menyentuh kartu di dalam sakunya sekali lagi, meyakinkan dirinya bahwa ini bukan sekadar mimpi. Jaminan bisnis ini akan segera berakhir, dan Kanaya bersumpah, dialah yang akan menuliskan kata "lunas" dengan cara yang paling menyakitkan bagi Arkan Dirgantara.