NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: CAKRAWALA SINGAPURA DAN BAYANG-BAYANG LONDON

Singapura menyambut mereka dengan udara lembap yang hangat dan deretan gedung pencakar langit yang berkilau di sepanjang Marina Bay.

Bagi Reihan, kota ini adalah taman bermain bisnisnya yang kedua. Namun bagi Laluna, ini adalah pertama kalinya ia melangkah keluar dari zona nyamannya di Jakarta untuk membawa identitas "Khay" ke panggung internasional.

Mereka menginap di Presidential Suite salah satu hotel bintang lima milik grup yang ingin bekerja sama dengan mereka.

Begitu masuk ke kamar, Laluna langsung menuju jendela besar yang menghadap ke arah Gardens by the Bay.

"Indah sekali," bisik Laluna.

Ia masih mengenakan setelan blazer kasual yang dipilihkan Reihan agar ia tampak seperti pengusaha muda yang serius namun tetap artistik.

Reihan meletakkan koper kecilnya dan mendekat, berdiri di belakang Laluna.

"Ini baru permulaan, Luna. Besok, saat kau mempresentasikan konsep tokomu di depan dewan direksi mereka, mereka tidak akan hanya melihat keindahan tempat ini. Mereka akan melihat masa depan industri pastry di Asia Tenggara melalui tanganmu."

Laluna berbalik, menyandarkan punggungnya pada kaca jendela. "Kau tidak takut aku akan mengacaukannya? Aku hanya terbiasa bicara dengan adonan, bukan dengan investor Singapura yang terkenal sangat perfeksionis."

Reihan menangkup wajah Laluna dengan kedua tangannya. "Aku sudah melihatmu menghadapi dewan komisaris Arta Wiguna yang jauh lebih kejam. Kau akan baik-baik saja."

Keesokan harinya, pertemuan dengan pihak hotel berlangsung di ruang rapat yang sangat formal. Laluna membawa sampel donat dan chiffon cake yang dibuatnya khusus di dapur hotel sejak subuh. Ia menjelaskan filosofi "Khay"—tentang kehangatan rumah, tentang bahan-bahan alami dari tanah air, dan tentang bagaimana ia ingin setiap orang yang memakan kuenya merasa "pulang".

Direktur hotel tersebut, seorang pria paruh baya bernama Mr. Chen, mencicipi donat lavender lemon milik Laluna. Ia terdiam cukup lama, membuat suasana ruangan menjadi sangat tegang.

"Nyonya Arta Wiguna," ucap Mr. Chen akhirnya.

"Banyak orang bisa membuat roti yang manis. Tapi sangat sedikit yang bisa membuat roti yang memiliki... jiwa. Saya mengerti sekarang mengapa Reihan begitu gigih melindungi brand ini."

Laluna tersenyum, namun matanya melirik ke arah Reihan. Reihan hanya mengangguk tipis, memberikan ruang bagi Laluna untuk bersinar tanpa campur tangannya.

Kesepakatan itu pun ditandatangani. "Khay" akan segera hadir di tiga lokasi strategis di Singapura.

Namun, kemenangan itu segera berganti dengan kecemasan saat sore hari tiba. Sesuai janji, mereka harus menemui Ibu Ratna di sebuah kafe privat di kawasan Orchard.

Ibu Ratna sudah menunggu di sana. Ia tampak lebih tenang dibandingkan pertemuan terakhir mereka di galeri seni. Saat Reihan dan Laluna masuk, ia berdiri dan menatap putranya dengan pandangan yang penuh kerinduan sekaligus penyesalan.

"Reihan," ucap Ratna lirih.

Reihan duduk di hadapan ibunya dengan ekspresi datar, namun Laluna bisa merasakan genggaman tangan Reihan di bawah meja sangatlah kencang.

"Ibu ingin bicara, jadi kami di sini," kata Reihan dingin.

Ratna menatap Laluna, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. "Laluna, maafkan aku atas kata-kataku waktu itu. Aku terlalu pahit dengan masa laluku hingga aku ingin meracuni masa depanmu.

Aku salah tentang Reihan. Dia tidak sepertinya ayahnya dalam hal kepemilikan... dia lebih baik."

Ia membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah bros antik berbentuk gandum yang terbuat dari emas putih dan mutiara.

"Ini milik nenek buyut Reihan. Dia adalah seorang wanita yang juga sangat suka memasak untuk keluarganya. Aku ingin kau menyimpannya sebagai permintaan maafku," Ratna menggeser kotak itu ke arah Laluna.

"Dan Reihan... aku akan kembali ke London malam ini. Aku tidak akan mengganggu hidup kalian lagi. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa ayahmu... dia benar-benar mencintaimu. Kecelakaan itu bukan salahmu, dan bukan salah Laluna."

Keheningan menyelimuti meja itu. Reihan perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Laluna dan menatap ibunya.

"Aku sudah tahu itu sekarang, Bu," ucap Reihan pelan.

"Dan aku tidak lagi membencimu. Aku hanya lelah membawa beban ini sendirian."

Ratna mulai terisak kecil.

Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, tembok antara ibu dan anak itu mulai retak. Laluna merasa matanya panas. Ia meraih tangan Ibu Ratna dan menggenggamnya.

"Terima kasih untuk bros ini, Nyonya. Dan terima kasih telah melahirkan Reihan. Tanpa dia, aku tidak akan pernah tahu bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang seberapa keras kita memukul, tapi seberapa lembut kita bisa menerima kenyataan."

Malam harinya, sebelum mereka kembali ke Jakarta, Reihan mengajak Laluna berjalan-jalan di sepanjang Esplanade. Angin laut bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma air garam yang segar.

"Kau luar biasa hari ini," ucap Reihan.

"Kita luar biasa," koreksi Laluna.

Ia menyandarkan kepalanya di bahu Reihan.

"Reihan, apakah kau benar-benar sudah memaafkan ibumu?"

Reihan menatap lampu-lampu kapal di kejauhan. "Memaafkan adalah proses, Luna. Tapi setidaknya, malam ini aku bisa tidur tanpa harus merasa dihantui oleh bayang-bayang masa lalu. Kita punya dunia baru yang harus dibangun, kan? Singapura baru awal."

Laluna tersenyum, melihat bros emas putih yang kini tersemat di blusnya. "Ya. Dunia yang penuh dengan aroma mentega dan masa depan yang nyata."

Namun, di kegelapan Jakarta, tanpa mereka ketahui, seorang pengacara baru saja mengunjungi Danu di penjara. Ia membawa pesan dari seseorang yang selama ini diam di balik layar, seseorang yang tidak suka melihat Arta Wiguna kembali stabil.

"Waktu untuk bermain sudah habis," bisik sang pengacara kepada Danu. "Saatnya kita menggunakan kartu terakhir: Rahasia tentang kakek Surya yang sebenarnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!