NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

***

Malam harinya di meja makan kayu jati utuh sepanjang enam meter yang diimpor langsung dari pedalaman Jawa itu kini hanya diisi oleh dua orang. Di bawah pendar lampu kristal Baccarat yang megah, suasana terasa begitu hening, hampir seperti di dalam museum. Darma Mangkuluhur duduk di ujung meja dengan posisi tegak sempurna, memotong salmon panggangnya dengan presisi seorang dokter bedah. Sementara itu, Karina berada di sisi kanannya, merasa ruangan ini terlalu luas dan terlalu "dingin" hanya untuk sekadar aktivitas mengunyah.

"Mas, boleh tanya tidak?" Karina memulai percakapan, mengaduk sup krim jamurnya dengan gerakan melingkar yang asal.

"Apa?" sahut Darma tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari piring.

"Kenapa di rumah ini tidak ada TV di ruang makan? Atau setidaknya radio? Atau... musik latar kek. Sepi sekali, Mas. Seperti sedang makan di dalam kuburan mewah yang sangat estetik," cerocos Karina polos, suaranya menggema di langit-langit ruangan yang tinggi.

Darma meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan. Suara denting logam yang beradu dengan porselen fine bone china terdengar nyaring dan tajam di ruangan yang sunyi itu. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet linen putih sebelum menatap Karina.

"Makan adalah waktu untuk fokus, Karina. Distraksi hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak menghargai apa yang ada di piringnya. Di keluarga ini, kami menghargai ketenangan sebagai kemewahan mutlak," jelas Darma dengan nada datar yang sangat kaku.

Karina mendengus pelan, matanya berputar jenaka. "Ketenangan atau kesepian? Mas tahu tidak, di Korea, kalau kami makan bersama di dorm, suasananya seperti pasar tumpah. Ada tawa, ada musik, ada kehidupan. Kalau begini terus, aku bisa lupa cara bicara."

Karina kemudian melirik gelas jus jeruknya yang masih setengah penuh. Dengan sengaja, ia memasukkan sedotan ke dalam mulutnya dan menyedot sisa jus itu hingga mengeluarkan suara "srrruuupppp" yang panjang, nyaring, dan sangat tidak sopan dalam standar table manner Menteng.

Para pelayan yang berdiri siaga di sudut ruangan tampak menahan napas serempak. Beberapa dari mereka menunduk, takut melihat reaksi sang tuan besar.

Darma perlahan mengangkat pandangannya. Matanya yang tajam seperti elang menatap Karina, yang kini justru memberikan senyum tak berdosa dengan pipi yang menggembung berisi sup.

"Karina," panggil Darma dengan nada rendah yang sangat memperingatkan.

"Iya, Mas Suami? Segar sekali jusnya. Kayaknya jeruknya dipetik langsung dari kebun surga ya?" jawab Karina dengan wajah menggemaskan yang sengaja dibuat-buat.

Darma menghela napas panjang, sebuah tanda langka bahwa pertahanannya sedikit goyah. Ia merasa "investasi" yang satu ini benar-benar membutuhkan cadangan kesabaran ekstra yang tidak diajarkan di sekolah bisnis manapun.

"Selesaikan makanmu. Setelah ini, naik ke atas. Ada hal yang perlu kita bicarakan soal keberangkatan kita ke Eropa minggu depan. Dan tolong... simpan suara sedotan itu untuk di kamarmu saja, bukan di depan para pelayan," perintah Darma sambil bangkit dari kursinya, meninggalkan aura dominan yang tertinggal di udara.

Karina tertawa kecil setelah Darma menjauh, merasa menang karena berhasil meruntuhkan wajah kaku suaminya meski hanya sesaat.

"Siap, Bos Besar!"

**

Sesampainya di kamar utama yang luasnya hampir menyamai luas satu rumah biasa itu, Karina mendapati Darma sudah duduk di sofa velvet dekat jendela besar yang menghadap ke kerlap-kerlip lampu kota. Darma menyerahkan sebuah amplop beludru berwarna biru tua ke arah Karina.

Karina menerimanya dengan kening berkerut. Begitu dibuka, di dalamnya terdapat tiket first class dan dokumen reservasi vila pribadi di kawasan pegunungan Swiss dan Paris.

"Minggu depan kita berangkat. Siapkan pakaian musim dinginmu," ucap Darma santai, seolah baru saja memesan kopi, bukan merencanakan perjalanan lintas benua.

Karina terkejut bukan main. Ia meletakkan amplop itu di meja riasnya dengan kasar. "Mas yang benar saja! Kenapa kita tiba-tiba honeymoon gini sih? Di kontrak kita tidak ada poin wajib bulan madu, Mas Darma!"

Darma menoleh, menatap Karina dengan tatapan yang seolah-olah ia sedang berhadapan dengan anak kecil yang tidak paham aritmatika dasar. "Saya pikir kamu itu pintar karena bisa bertahan di industri musik Korea yang kejam, ternyata dalam urusan strategi publik, kamu masih sangat hijau."

Karina berkacak pinggang, dress satinnya berdesir mengikuti gerakannya. "Jangan meremehkan saya seperti itu! Saya cuma tanya alasannya. Kita kan baru saja menikah, kenapa harus buru-buru ke Eropa? Skandalku belum benar-benar hilang dari internet."

"Justru karena itu," Darma berdiri, melangkah mendekat hingga bayangannya yang tinggi menutupi tubuh Karina. "Dunia butuh narasi baru. Foto kita di jalanan Paris atau pegunungan Swiss akan jauh lebih menarik daripada berita bullying sampah itu. Kita perlu strategi visual untuk meyakinkan orang-orang terutama para kolega ayahmu dan musuh bisnis saya—bahwa pernikahan ini bukan sekadar hitam di atas putih."

Darma berhenti tepat di depan Karina, aroma sandalwood dan wibawanya yang kaku menguar kuat. "Dan satu lagi... mempunyai keturunan lebih cepat akan lebih baik. Itu cara paling efektif untuk membungkam para penjilat ayahmu yang masih meragukan stabilitas koalisi kita. Anak adalah pengunci kekuasaan yang paling sah."

Mata Karina membelalak. "Keturunan? Mas... Mas serius? Kita bahkan baru kenal beberapa hari!"

Darma memicingkan matanya, menatap wajah Karina yang tampak manglingi meski tanpa riasan. "Bukankah di kontrak poin kelima kamu sendiri yang menulis soal anak? Kamu minta tambahan uang bulanan tiga kali lipat per anak, bukan?"

Karina mendadak teringat coretannya di serbet tempo hari. Wajahnya memanas hebat. "Y-ya... tapi kan saya pikir itu untuk nanti! Bukan langsung tancap gas di bulan pertama!"

"Dalam bisnis saya, waktu adalah uang. Semakin cepat kita menunjukkan 'hasil', semakin cepat posisi kita aman," sahut Darma dingin, namun ada sorot mata menantang di sana. "Atau kamu takut, Karina? Takut kalau kamu benar-benar jatuh cinta pada 'investor'-mu ini saat di Eropa nanti?"

Karina mendengus, mencoba membalas tatapan tajam itu dengan keberanian yang ia kumpulkan. "Takut? Dalam kamus Karina Dyah Pramesti tidak ada kata takut. Saya cuma khawatir Mas Darma yang nanti kaget kalau harus membayar tagihan tiga kali lipat itu."

Darma sedikit terkekeh—suara yang sangat jarang dan terdengar sangat seksi bagi Karina, meski ia enggan mengakuinya. "Jangan khawatirkan soal uang saya. Khawatirkan saja bagaimana kamu akan menjaga jantungmu agar tidak berdegup terlalu kencang saat kita berada di Swiss nanti."

Darma kemudian berbalik menuju tempat tidur, mematikan lampu nakas, dan meninggalkan Karina yang masih berdiri mematung di tengah kamar dengan wajah semerah buah bit.

"Mas Darma benar-benar beruang es paling menyebalkan!" gumam Karina pelan, meskipun ia tidak bisa memungkiri ada rasa berdebar yang asing saat membayangkan perjalanan mereka minggu depan.

Karina masih berdiri mematung di tengah kamar, menatap punggung tegap Darma yang kini sudah berbaring santai di sisi ranjang bagian kanan, seolah percakapan tentang "membuat keturunan" tadi hanyalah obrolan mengenai prediksi cuaca.

"Mas! Saya belum selesai bicara!" seru Karina, melangkah mendekat ke sisi ranjang dengan wajah yang masih terasa terbakar.

Darma hanya bergumam pelan, mata tertutup, namun tangannya meraih ponsel di nakas untuk sekadar mengecek jam. "Ini sudah lewat tengah malam, Karina. Seorang Nyonya Hutomo harus menjaga waktu istirahatnya agar tetap terlihat prima."

"Tapi Mas... soal anak itu... Mas tahu kan kalau saya ini idol? Karier saya belum benar-benar selesai. Kalau saya hamil sekarang, itu namanya bunuh diri karier!" Karina berusaha membela diri, tangannya bergerak heboh di udara, sangat kontras dengan Darma yang kaku dan statis.

Darma perlahan membuka satu matanya, menatap Karina yang sedang merajuk di tepi ranjang. "Poin nomor satu dalam kontrakmu: saya akan memulihkan nama baikmu. Dan poin nomor lima: kamu bersedia memberikan keturunan. Saya hanya menjalankan apa yang sudah kita sepakati. Dan di dunia bisnis saya, tidak ada kata 'tunggu' jika momentum sudah ada di depan mata."

Karina mendengus keras, benar-benar gemas dengan cara berpikir suaminya yang serba mekanis. "Mas Darma ini sebenarnya manusia atau robot produksi sih? Semua dihitung pakai profit dan momentum! Apa Mas tidak punya perasaan... sedikit saja? Ini bulan madu, Mas! Bukan akuisisi perusahaan!"

Mendengar kata "perasaan", Darma bangkit sedikit, menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang yang dilapisi beludru mahal. Ia menatap Karina dengan intensitas yang membuat gadis itu menciut sesaat.

"Perasaan adalah variabel yang tidak stabil, Karina. Tapi hasil? Hasil adalah kepastian. Dan saya butuh kepastian untuk membungkam mulut-mulut besar di luar sana," jawab Darma dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. "Sekarang, tidurlah. Atau kamu ingin saya mulai menjalankan 'strategi keturunan' itu malam ini juga?"

Mata Karina membelalak sempurna. Ia langsung meloncat ke sisi ranjangnya sendiri, menarik selimut sutra hingga menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan matanya yang melotot waspada. "Mesum! Dasar beruang es mesum!"

Darma hanya mendengus pelan hampir menyerupai tawa tertahan sebelum ia kembali mematikan lampu di sisinya. "Saya hanya pragmatis. Selamat malam, Karina."

Keheningan kembali menyelimuti kamar megah itu. Namun, otak Karina bekerja dua kali lipat lebih cepat. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi.

"Mas..." panggil Karina lagi, suaranya kini lebih kecil, terdengar seperti bisikan anak kecil yang takut gelap.

"Apalagi?" sahut Darma, suaranya berat dan dalam.

"Kalau nanti di Eropa... Mas bakal belikan saya es krim cokelat paling mahal di Swiss tidak? Sebagai kompensasi karena Mas memaksa saya honeymoon?"

Darma terdiam sejenak. Ia tidak habis pikir dengan isi kepala istrinya yang bisa berubah dari urusan karier internasional ke es krim cokelat dalam waktu kurang dari satu menit.

"Saya bisa membelikanmu pabriknya sekalian kalau kamu berhenti bicara dan tidur sekarang juga."

Karina tersenyum lebar di balik selimutnya. "Janji ya! Awas kalau bohong, nanti saya posting di Instagram kalau Mas Darma Hutomo itu pelit!"

"Tidur, Karina Dyah Pramesti."

"Iya, iya! Galak banget sih suaminya Ayin," gumamnya pelan, sengaja menggunakan nama panggilannya sendiri untuk memancing reaksi Darma.

Namun Darma tetap diam, meski dalam kegelapan, ia menarik napas panjang. Menghadapi lawan bisnis paling licik pun ia tidak pernah merasa sekelelahan ini. Karina benar-benar variabel acak yang mulai mengacaukan ritme hidupnya yang teratur.

****

1
Tika maya Sari
min tolong update yg banyak 🤣🤣
Tika maya Sari
lanjut dong kak
Heresnanaa_: stay tune ya ka🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
up lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!