Update:
Senin-Jum'at - 2 Bab
Sabtu-Minggu - 3 Bab
Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: JARING YANG MERAPAT
Suasana di kantor pusat Nusa-Capital terasa berbeda pagi itu. Bagi para staf, ini hanyalah hari Selasa biasa, tetapi bagi Nata yang duduk di ruang riset, hari ini adalah awal dari keruntuhan sebuah pola lama. Di layar monitornya, Nata tidak sedang melihat grafik BitCore, melainkan memantau pergerakan harga tanah di sekitar kaki Gunung Merapi melalui data internal yang disediakan oleh tim lapangan Hendra Wijaya.
"Nata, kamu benar-benar yakin?" Mas Andre mendekat sambil membawa segelas kopi hitam. "Pamanmu, Danu, baru saja mencairkan seluruh aset likuidnya. Dia bahkan menjaminkan rumah pribadinya ke bank untuk membeli lahan di lereng barat yang kamu sebut 'tanah mati' itu."
Nata menyesap teh hangatnya, matanya tidak beralih dari layar. "Keserakahan adalah penutup mata yang paling efektif, Mas Andre. Ketika saya melarangnya kemarin, ego Paman Danu justru meyakinkannya bahwa saya sedang mencoba menyembunyikan harta karun darinya. Dia tidak lagi menggunakan logika bisnis; dia sedang berjudi dengan kebencian."
Andre menggelengkan kepala. Ia merasa ngeri sekaligus kagum pada remaja di sampingnya. Nata tidak menyerang pamannya dengan senjata atau kekerasan, melainkan dengan membiarkan sifat buruk pria itu menjadi bumerang.
"Lalu, bagaimana dengan rencana kita di Desa Sidomulyo?" tanya Andre.
"Tim lapangan sudah mengamankan 10 hektar lahan persawahan di sana dengan harga pasar saat ini," jawab Nata datar. "Pemilik lahan senang karena mereka mendapatkan uang tunai di saat harga gabah sedang turun. Mereka tidak tahu bahwa dalam waktu singkat, tanah itu akan menjadi lokasi Exit Tol utama yang menghubungkan tiga kota besar."
Ini adalah langkah Penguasaan Titik Strategis. Nata tidak hanya ingin menyelamatkan warisan ayahnya; ia sedang membangun sebuah pelabuhan darat yang akan menjadi pusat logistik masa depan.
Siang harinya, Nata kembali ke sekolah. Di koridor, ia melihat Raka sedang menunggunya dengan wajah pucat. Tanpa banyak bicara, Raka menarik Nata ke belakang gudang sekolah yang sepi.
"Ini," Raka menyerahkan sebuah map tipis. "Daftar lelang proyek jalan provinsi yang akan diikuti perusahaan ayahku. Kamu benar, Nata. Ada proyek besar di jalur tengah Jawa. Tapi ada yang aneh."
Nata membuka map tersebut dan memindai isinya dengan cepat. "Apa yang aneh, Raka?"
"Ayahku bilang, ada seorang pengusaha mebel—siapa itu, Danu Prawira—yang tiba-tiba ikut campur dalam urusan lahan di sana. Dia mencoba melobi dinas pekerjaan umum untuk menggeser rencana jalan agar melewati tanah yang baru saja dia beli di lereng barat. Ayahku kesal karena itu akan merusak rencana drainase proyeknya," jelas Raka.
Nata tersenyum tipis. Semuanya berjalan sesuai rencana. Paman Danu sedang mencoba "menjemput bola" dengan melakukan lobi ilegal. Namun, Danu tidak tahu bahwa tim ahli geologi yang disewa Hendra Wijaya telah menyerahkan laporan risiko bencana kepada pemerintah pusat pagi ini.
"Terima kasih, Raka. Utangmu sudah dianggap lunas. Katakan pada ayahmu, jangan terlalu khawatir soal Danu Prawira. Bulan depan, dia tidak akan punya modal lagi untuk mengganggu siapa pun," ucap Nata sambil menepuk bahu Raka.
"Nata... sebenarnya kamu ini siapa?" tanya Raka dengan nada ngeri. "Kamu bukan Nata yang dulu aku kenal."
Nata berhenti melangkah, menoleh sedikit tanpa sepenuhnya berbalik. "Aku adalah Nata yang seharusnya ada jika dunia ini adil sejak awal, Raka. Sekarang, aku hanya sedang menyeimbangkan timbangannya."
Setelah sekolah usai, Nata tidak langsung ke kantor. Ia meminta sopir perusahaan untuk mengantarnya ke sebuah kawasan tua di Jakarta Barat. Di sana berdiri sebuah ruko berlantai tiga yang tampak usang dengan cat yang sudah mengelupas. Di depannya terdapat papan bertuliskan "DIJUAL CEPAT".
Nata turun dari mobil, mengamati struktur bangunan tersebut dengan mata seorang perencana. Di masa depan, tepat di depan ruko ini akan dibangun salah satu stasiun integrasi transportasi masal terbesar di Jakarta. Saat ini, harganya masih sangat rendah karena dianggap kawasan "mati" yang sering banjir.
"Dek, mau lihat ruko ini?" seorang pria tua pemilik ruko mendekat.
"Benar, Pak. Saya tertarik," jawab Nata.
"Harganya delapan ratus juta, Dek. Tapi kalau bayar tunai minggu ini, bapak kasih diskon jadi tujuh ratus lima puluh juta. Bapak butuh uang buat pengobatan istri di Singapura," ucap pria itu dengan wajah penuh harap.
Bagi anak SMA biasa, angka itu adalah mustahil. Namun bagi Nata, dengan saldo BitCore yang kini bernilai ribuan dolar per koin dan dana kepercayaan dari Nusa-Capital, ini adalah investasi yang sangat murah.
Nata mengeluarkan ponselnya, melakukan pengecekan saldo digitalnya yang baru saja ia cairkan sebagian melalui perantara internasional. Ia sudah menyiapkan dana sekitar satu miliar rupiah di rekening pribadinya untuk investasi properti nyata ini.
"Saya ambil, Pak. Besok kita ke notaris Ibu Sari untuk pengurusan dokumennya," ucap Nata mantap.
Langkah ini adalah Diversifikasi Aset. Nata tahu bahwa meskipun kekayaan digital sangat menggiurkan, memiliki tanah dan bangunan di dunia nyata adalah jangkar yang akan menjaganya tetap stabil jika terjadi badai di pasar kripto.
Sore hari, Nata kembali ke apartemen. Di ruang tengah, ia melihat Kirana sedang duduk termenung sambil memegang sebuah foto lama. Foto Ayah dan Ibu.
"Kirana?" panggil Nata lembut.
Kirana mendongak, matanya sedikit sembab. "Kak... tadi Paman Danu menelepon lagi. Dia tidak marah-marah seperti biasanya. Dia menangis. Dia bilang dia salah dan minta kita membatalkan tuntutan hukum lewat Ibu Sari. Dia bilang dia bisa kehilangan segalanya."
Nata duduk di samping adiknya, mengambil foto itu dari tangan Kirana. "Dan apa jawabanmu?"
"Aku tidak menjawab. Aku langsung mematikannya seperti yang Kakak bilang. Tapi Kak... apa kita tidak terlalu kejam? Dia tetap saudara kandung Ayah."
Nata menatap mata Kirana dengan sangat dalam. "Kirana, ingatkah kamu saat Arya demam tinggi tiga tahun lalu dan kita tidak punya uang untuk ke dokter? Kita pergi ke rumah Paman Danu saat hujan deras, dan dia bahkan tidak membukakan pagar. Dia bilang kita hanya akan membawa sial bagi bisnisnya."
Kirana terdiam, ingatannya kembali ke malam yang dingin itu.
"Dia bukan sedang menyesal karena dia merasa bersalah, Kirana. Dia menyesal karena dia sedang kalah," lanjut Nata dengan suara tegas. "Jika hari ini dia yang menang, dia tidak akan segan-segan mengusir kita ke jalanan demi sertifikat tanah di desa itu. Kelembutan hati kita adalah makanan bagi orang seperti dia. Kita tidak sedang membalas dendam; kita sedang memberikan konsekuensi."
Kirana menghela napas panjang, lalu mengangguk perlahan. "Aku mengerti, Kak. Aku hanya... aku hanya ingin kita hidup tenang."
"Itulah yang sedang aku lakukan. Aku sedang membangun dinding yang begitu tinggi sehingga orang seperti dia tidak akan pernah bisa melompatinya lagi untuk menyakiti kita," ucap Nata sambil memeluk adiknya.
Malam harinya, ponsel Nata berdering. Kali ini dari nomor Hendra Wijaya.
"Nata, ada berita besar," suara Hendra terdengar sangat puas. "Baru saja disahkan dalam rapat terbatas tingkat kementerian. Jalur tol Merapi dipindahkan 5 kilometer ke timur, tepat melewati Desa Sidomulyo. Area lereng barat yang diborong Pamanmu resmi dinyatakan sebagai 'Zona Merah Bencana' yang dilarang untuk segala jenis pembangunan komersial."
Nata bersandar di kursi balkonnya, menatap kerlap-kerlip lampu Jakarta. "Lalu bagaimana dengan nasib lahan yang sudah dibeli Danu?"
"Nilainya jatuh ke titik nol, Nata. Tidak ada bank yang mau menerima tanah itu sebagai jaminan sekarang. Ditambah lagi, kejaksaan mulai menyelidiki asal-usul modalnya karena ada dugaan pencucian uang dari proyek-proyek gagal sebelumnya. Pamanmu tamat."
"Terima kasih atas informasinya, Pak Hendra."
"Sama-sama. Oh, dan satu lagi. Sahammu di Nusa-Trans sudah resmi tercatat. Dengan pengumuman tol ini, nilai valuasi kemitraan logistik kita naik tiga kali lipat dalam satu malam. Kamu sekarang secara teknis adalah miliarder termuda di lingkaran saya, Nata."
Nata mematikan telepon. Tidak ada sorak sorai kemenangan. Ia hanya merasakan ketenangan yang dingin. Di layar ponselnya, harga BitCore melonjak lagi ke angka 550 dolar AS.
Ia mengambil buku catatannya, mencoret nama Danu Prawira. Bab itu sudah selesai. Sekarang saatnya ia fokus pada rencana yang lebih besar: Nata Holdings. Sebuah entitas yang akan menampung seluruh aset properti, saham teknologi, dan aset digitalnya.
Nata menatap bintang-bintang. Ia tahu, di sebuah sudut kota yang lain, Paman Danu mungkin sedang berteriak histeris di depan meja kerjanya yang penuh dengan surat tagihan. Namun di sini, di balkon lantai lima belas, Nata Prawira baru saja meletakkan batu pertama untuk kekaisaran yang akan bertahan selama beberapa generasi.
"Masa depan tidak menunggu siapa pun," bisik Nata. "Dan aku sudah berada di sana."
Ia kembali masuk ke dalam, melihat Arya yang sudah tidur pulas dengan buku gambar bertema laut di sampingnya. Nata tersenyum kecil. Besok, ia akan kembali ke sekolah sebagai siswa kelas tiga, membawa tas usang dan duduk di bangku belakang, sementara di dunia nyata, ia telah memenangkan pertempuran yang bahkan orang dewasa pun takut untuk memulainya.
Bersambung.....