NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad Zea

“Zea?”

Panggilan itu hanya lewat seperti desau angin di telingaku. Aku masih terpaku, menatap lurus ke arah papan tulis putih di depan kelas, namun mataku sama sekali tidak menangkap deretan rumus manajemen keuangan yang tertera di sana. Untungnya dosen sedang keluar karena sedang ada urusan mendadak katanya. Pikiranku justru terseret kembali ke lorong apartemen yang dingin, ke rasa sakit yang menghujam, dan ke wajah pria yang telah menghancurkan duniaku dalam satu malam.

“Zea! Woi, Zea! Lo kesurupan rumus ya?”

Aku tersentak hebat. Bahuku berjingkat hingga pena yang kupegang terlepas dari jemariku yang gemetar, jatuh ke lantai dengan bunyi denting yang nyaring. Seluruh kelas yang tadinya hening seketika menoleh ke arahku. Aku segera menunduk, mencoba menyembunyikan wajahku yang mendadak panas.

Di depanku, seorang laki-laki sedang menyeringai lebar, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatapku jenaka.

“Lo ngelamun dari tadi. Serius deh, Ze, lo lagi mikirin apa? Ditinggal nikah ya sama pacar khayalan lo?” ledeknya dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.

Aku mendengus pelan, berusaha mengumpulkan kembali kepingan kewarasanku. “Berisik, Kael. Fokus aja sama dosen, jangan urusin hidup gue.”

Kael Maheswara Aditya. Laki-laki itu hanya terkekeh. Dia adalah teman sekelasku, salah satu dari segelintir orang yang cukup dekat denganku di kampus ini. Kael itu tipe cowok yang berisik, suka bercanda tanpa kenal waktu, dan terkadang terlalu ramah untuk ukuran cowok populer di fakultas bisnis yang biasanya jaim.

“Gue serius, Ze,” katanya lagi, kini ia menarik kursi dan duduk di meja depanku, memutar posisinya agar bisa menghadapku sepenuhnya. “Dari awal jam kelas tadi, lo kayak orang kehilangan semangat hidup. Mata lo bengkak, lo pucat. Lo sakit? Atau lagi ada masalah yang nggak bisa lo bagi ke gue?”

Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyum palsu yang sudah kuasah sejak pagi tadi. “Cuma kurang tidur, Kael. Tugas statistik numpuk, kan? Gue begadang nyelesain itu.”

Kalau lo tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam, Kael, lo mungkin bakal berhenti bercanda dan ngerasa jijik sama gue, batinku perih.

Sebelum aku sempat menanggapi lebih jauh, dua sahabatku, Salsa dan Nadine, datang menghampiri. Salsa langsung meletakkan tas bermereknya di atas meja sambil memutar bola mata menatap Kael.

“Kael, bisa nggak sih lo sehari aja jangan ganggu Zea terus? Kasihan dia lagi pusing lihat angka, ditambah lihat muka lo yang absurd itu,” protes Salsa sambil menyenggol bahu Kael agar sedikit bergeser.

“Lah, gue kan cuma memastikan temen gue ini masih bernapas,” jawab Kael santai.

Nadine ikut menimpali dengan nada santai namun tajam, “Lagian kalau lo emang suka, ya tembak aja kali, El. Jangan cuma jadi laler yang muter-muter di sekitar Zea tapi nggak ada progres. Gemes gue liatnya.”

Kael langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya yang biasanya santai kini sedikit memerah. “Apa sih?! Kalian berdua tuh kalau dateng suka banget bikin gosip yang nggak-nggak! Gue sama Zea itu murni pertemanan sehat!”

Salsa menyilangkan tangan di depan dada, menatap Kael dengan tatapan menginterogasi. “Murni? Tiap hari lo nyamperin meja Zea bahkan sebelum dosen masuk. Rajin banget. Peduli banget. Cieee... ada yang lagi pedekateann tapi nggak ngaku nihh.”

“Woi! Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!” Kael protes keras. “Gue cuma peduli! Zea tuh temen baik gue, ya wajar dong kalau gue nanya kabarnya.”

Nadine mendekat ke arahku, lalu berbisik cukup keras hingga terdengar oleh seisi meja, “Temen katanya, Ze. Tapi tiap malem nanyain jadwal kuliah lo ke gue lewat WhatsApp. Modusnya klasik banget, ya?”

Aku tertawa pelan melihat Kael yang mulai salah tingkah. “Parah banget kalian. Kasihan tuh Kael mukanya udah kayak kepiting rebus.”

“Denger tuh! Zea aja kasihan sama gue!” seru Kael dramatis sambil memegang dadanya. “Parah banget kalian. Fitnah karakter ini namanya. Gue bakal laporin kalian ke dewan mahasiswa karena perundungan temen sekelas.”

“Bodo amat! Kalau suka bilang, Kael. Biar nggak kena friendzone permanen terus ujung-ujungnya jadi sad boy di pojokan kelas sambil dengerin lagu galau,” Salsa menutup argumennya dengan tawa kemenangan.

Kael menutup wajahnya dengan kedua tangan, tampak frustrasi. “Kalian bertiga kalau disatuin emang bakal bikin gue makin stres sebelum lulus.”

Aku akhirnya berkata untuk menenangkan suasana, meski kalimatku terasa sedikit pahit bagi Kael. “Tenang aja, Kael bukan tipe gue kok. Dia terlalu berisik, gue lebih suka yang... tenang.”

Suasana meja mendadak diam. Salsa dan Nadine saling pandang, lalu Kael menatapku dengan wajah datar yang dibuat-buat sedih. “Sadis. Gue ditolak bahkan sebelum gue menyatakan perasaan. Mental gue kena, Ze. Hancur berkeping-keping.”

Kami semua tertawa bersama. Untuk sesaat, beban yang menghimpit dadaku sejak keluar dari apartemen Erlangga terasa sedikit lebih ringan. Namun, tawa itu tak bertahan lama. Tak lama kemudian dosen masuk, kelas dimulai, dan aku kembali berusaha memaku fokusku pada layar presentasi di depan.

Siang pun tiba. Kelas selesai dan keramaian mahasiswa mulai berhamburan keluar gedung. Aku berjalan bersama Salsa dan Nadine menuju gerbang depan.

“Gue duluan ya, Guys,” kata Salsa sambil menunjuk mobil sedan mewah yang sudah menunggu di area parkiran. “Supir gue udah standby dari tadi. Mau bareng nggak? Sekalian gue anter.”

Nadine mendengus pelan sambil merapikan tas ranselnya. “Duh, orang kaya emang beda ya. Hidupnya penuh kemudahan. Nggak usah, Sa. Kost gue deket sini, mending jalan kaki itung-itung bakar lemak.”

Salsa tertawa, melambaikan tangan. “Ya udah, maaf ya wahai rakyat jelata. Zea, lo beneran nggak mau bareng?”

Aku menggeleng pelan. “Nggak usah, Sa. Gue mau ke halte busway aja, mau langsung ke rumah sakit.”

“Oke, hati-hati ya! Kabarin kalau ada apa-apa sama nyokap lo! Kalau butuh bantuan apa-apa, jangan sungkan!” teriak Salsa sebelum masuk ke mobil.

“Bye, Ze! Semangat ya!” Nadine juga berpamitan dan berjalan ke arah yang berlawanan.

Setelah mereka pergi, aku berjalan ke halte di depan kampus. Hari itu sangat panas, matahari seperti membakar aspal Jakarta. Bus yang kutunggu tak kunjung datang. Lima menit, sepuluh menit, halte semakin sesak. Tiba-tiba, suara deru motor berhenti tepat di depanku.

“Mau ke mana? Masih mau nunggu di halte busway yang udah penuh sesak itu?”

Aku menoleh dan melihat Kael membuka kaca helmnya sambil tersenyum lebar. “Mau ke rumah sakit, Kael.”

“Naik,” katanya singkat sambil menepuk kursi belakang motor besarnya.

“Hah? Ngapain? Gue bisa naik bus kok.”

“Gue anter, Ze. Lihat tuh, bus lo dari tadi belum muncul-muncul juga. Keburu malem lo di jalan, nanti jam besuknya abis baru tau rasa,” Kael memaksa sambil menyodorkan helm cadangan.

Aku ragu sejenak. “Gue nggak mau ngerepotin lo, El.”

“Nggak usah banyak gaya, Ze. Naik aja. Gratis. Ini promo khusus buat teman baik yang lagi butuh tumpangan agar tidak pingsan di halte. Lagian arah rumah sakit searah sama jalan pulang gue kok, beneran deh!”

Akhirnya aku menyerah. “Ya udah. Makasih ya, Kael. Lo baik banget hari ini.”

“Hari ini doang? Kemarin-kemarin gue jahat gitu?” candanya sambil mulai menjalankan motor.

Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung cukup santai. Begitu sampai, Kael bersikeras ingin ikut menjenguk sebentar. “Gue mau mastiin Tante nggak bosan nungguin lo yang lama di jalan.”

Karena tidak enak, apalagi sudah di antar, akhirnya Zea biarkan saja Keal ikut.

Di dalam kamar bangsal, ibuku tersenyum melihat kedatanganku. “Kamu datang, Nak. Sama siapa ini?”

“Ini Kael, Tante. Temen kampus Zea yang paling ganteng,” Kael memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri sambil menyalimi tangan ibuku.

Ibuku tertawa kecil, wajah pucatnya sedikit cerah. “Anak ganteng. Makasih ya sudah nganter Zea.”

“Sama-sama, Tante. Nanti kalau Zea nakal, kasih tau Kael aja, biar Kael jewer,” gurau Kael yang membuat suasana menjadi hangat.

Namun, suasana itu terputus ketika seorang suster masuk. “Mbak Zea? Bisa ke ruang administrasi sebentar? Ada hal yang perlu disampaikan petugas.”

Aku langsung berdiri. “Iya, Sus. Sebentar ya, Bu, Zea keluar dulu. El, titip Ibu bentar ya.” Yang hanya di balas dengan kata "Okey aman"

Di meja administrasi, harapanku runtuh.

“Mbak Zea, kondisi ibu Anda menurun drastis. Dokter menyarankan operasi secepatnya,” petugas itu memulai.

“Berapa biayanya sus?” suaraku bergetar.

“Sekitar enam puluh juta rupiah untuk operasi dan tindakan darurat lainnya. Kami butuh konfirmasi dan uang muka maksimal dua hari lagi.”

Enam puluh juta. Angka itu menghantamku dengan keras. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Gajiku sebagai pekerja part time di beberapa tempat secara harian tidak akan cukup meski aku bekerja sepuluh tahun tanpa makan.

"Baik sus, terimakasih ya, saya akan secepatnya memberikan uang untuk biaya operasinya"

Aku berjalan kembali ke kamar dengan langkah berat. Kael sudah pamit karena ada urusan urgent katanya, dan Ibu sedang tertidur kembali. Aku duduk di samping ranjangnya, menahan tangis yang menyesakkan dada.

Tuhan, tolong aku...

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk.

\[Restoran El Savore\]

Selamat! Anda diterima bekerja sebagai waitress. Mohon hadir besok pukul 16.00 untuk briefing.

Aku menutup mulut, air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Ini jalan kecil, tapi ini adalah harapan.

“Aku pasti cari caranya, Bu... Zea janji,” bisikku pelan. “Apapun itu, Zea akan lakukan untuk sembuhin Ibu.”

1
Faiz Utama
gws hp
Fatma
Kasian hp nyaa
Nadia Julia
Enaknya punya temen kyk Rian
M. ZENFOX: Author kak💪
total 1 replies
Nadia Julia
Semangat thorr, aku tunggu updatenya ;)
M. ZENFOX: Siapp
total 1 replies
Nadia Julia
Jail amat
Nadia Julia
Perbedaan kael & Erlangga :)
M. ZENFOX: Apatuh?
total 1 replies
Nadia Julia
Jangan pernah pelit untuk memberi intinya, bolee
Nadia Julia
Semangat Thorrr>
M. ZENFOX: Makasih kakkk💪
total 1 replies
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
M. ZENFOX: Makasihh kakk🤩
total 1 replies
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
M. ZENFOX: Tau ya, ngapain diem 😄
total 1 replies
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
M. ZENFOX: hehe🙄😁
total 1 replies
Nessa
gimna nasib zea
M. ZENFOX: Di tunggu ya kakk
total 1 replies
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
M. ZENFOX: Sama kak🥲
total 1 replies
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
M. ZENFOX: Ending tamatnya cepet kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!