NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

POV: RIANI

Pukul empat sore, langit tiba-tiba gelap. Awan hitam bergerombol, angin bertiup kencang, membawa aroma hujan yang khas.

Riani dan Wahyu baru saja selesai membereskan semua peralatan acara. Kursi sudah disusun rapi di gudang, meja dilipat dan disimpan, sound system sudah diangkut kembali oleh vendor, banner digulung dan dikembalikan ke ruang penyimpanan BEM.

Mereka berdiri di teras gedung serba guna, menatap langit yang semakin gelap.

"Kayaknya mau hujan deras nih," komentar Riani sambil memeluk tubuhnya sendiri—udara mendadak dingin.

Wahyu hanya mengangguk. Dia mengecek ponselnya, melihat notifikasi cuaca: Peringatan hujan lebat untuk wilayah Jakarta Selatan, pukul 16.00-19.00.

"Kamu naik apa?" tanya Wahyu tanpa menatap Riani.

"Motor. Parkir di belakang."

"Motor nggak aman kalau hujan deras. Tunggu hujan reda dulu."

"Kamu?"

"Sama. Motor juga."

Hening.

Lalu petir menyambar—bunyi gemuruh keras yang membuat Riani sedikit terlonjak.

Detik berikutnya, hujan turun.

Deras. Sangat deras.

Air mengguyur halaman kampus dengan intensitas tinggi, membuat genangan air terbentuk dalam hitungan menit. Suara hujan memenuhi udara, menenggelamkan suara-suara lain.

Riani dan Wahyu berdiri di teras, terlindung oleh atap gedung, menatap hujan yang seperti tirai tebal.

"Wah, ini nggak bakal cepet reda kayaknya," gumam Riani.

Wahyu tidak menjawab. Dia hanya menatap hujan dengan ekspresi... kosong.

Riani meliriknya. "Kamu... oke?"

"Iya. Kenapa?"

"Nggak, cuma... kamu kayak lagi mikirin sesuatu."

Wahyu tidak menjawab lagi. Dia duduk di tangga teras, menatap hujan.

Riani ragu sebentar, lalu duduk di samping Wahyu—tidak terlalu dekat, memberi jarak yang aman.

Mereka duduk dalam diam. Mendengarkan suara hujan.

Beberapa menit berlalu.

Lalu Riani berbicara pelan. "Terima kasih."

Wahyu menoleh sedikit. "Untuk apa?"

"Untuk... membiarkan aku bantu tadi. Aku tahu kamu nggak suka orang ikut campur, tapi kamu tetap biarkan aku bantu."

Wahyu kembali menatap hujan. "Aku cuma nggak mau buang waktu argumen."

Riani tersenyum tipis. "Oke, terserah alasanmu. Yang penting aku bisa bantu."

Hening lagi.

Hujan semakin deras.

"Riani," Wahyu tiba-tiba berbicara.

Riani tersentak—ini pertama kalinya Wahyu memanggil namanya tanpa ada konteks tugas atau hal formal.

"Iya?"

"Kenapa kamu... terus mencoba?"

Riani mengerutkan kening. "Mencoba apa?"

"Deketin aku. Peduli sama aku. Aku sudah bilang berkali-kali aku nggak butuh itu. Tapi kamu tetap... ada."

Riani terdiam. Pertanyaan itu... berat.

Kenapa?

"Karena aku rasa... kamu butuh," jawab Riani akhirnya. "Meskipun kamu bilang nggak."

"Aku nggak butuh."

"Semua orang butuh seseorang, Wahyu. Kamu juga manusia."

"Aku bisa hidup sendirian."

"Bisa, bukan berarti harus."

Wahyu menoleh, menatap Riani dengan tatapan tajam. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang hidupku. Jangan sok tahu."

Riani menatap balik. "Kamu benar. Aku nggak tahu. Karena kamu nggak pernah cerita. Tapi aku bisa lihat, Wahyu. Aku lihat kamu capek. Aku lihat kamu selalu sendirian. Aku lihat kamu... kesepian."

"Aku nggak kesepian."

"Bohong."

Wahyu berdiri tiba-tiba, seperti ingin pergi. Tapi hujan masih deras—dia tidak bisa kemana-mana.

Dia berdiri di tepi teras, membelakangi Riani, tangan terkepal di sisi tubuhnya.

"Kenapa kamu nggak bisa... biarkan aku sendiri?" suara Wahyu pelan, hampir tertutup oleh suara hujan.

Riani berdiri juga, melangkah mendekat—tapi tetap memberi jarak.

"Karena aku pernah lihat orang yang terlalu lama sendirian... hancur," jawab Riani pelan. "Dan aku nggak mau itu terjadi sama kamu."

Wahyu menoleh. "Kamu nggak kenal aku."

"Aku kenal cukup untuk tahu kamu layak mendapat lebih dari kesendirian ini."

"Kamu tahu apa—"

"Aku tahu ayahmu sedang menghadapi kasus hukum." Riani akhirnya mengatakannya. "Aku tahu kamu pernah di-bully. Aku tahu kamu kerja sambil kuliah. Aku tahu kamu... menanggung banyak hal sendirian."

Wahyu membeku.

Wajahnya berubah—dari terkejut, menjadi marah.

"Siapa yang cerita?" suaranya dingin, berbahaya.

"Bukan siapa-siapa yang—"

"SIAPA?!" Wahyu berteriak—untuk pertama kalinya sejak Riani mengenalnya.

Riani tersentak. "Karin. Tapi dia nggak bermaksud—"

"Karin." Wahyu tertawa pahit. "Tentu saja. Dia selalu... merasa berhak cerita tentang hidupku."

"Wahyu, dia peduli sama kamu—"

"Peduli?" Wahyu berbalik, menatap Riani dengan tatapan penuh luka. "Kalau dia peduli, dia nggak bakal cerita hal-hal pribadi aku ke orang lain tanpa izin!"

"Dia cerita karena dia khawatir! Karena dia mau aku ngerti kenapa kamu—"

"AKU NGGAK BUTUH KAMU NGERTI!" Wahyu berteriak lagi.

Hening.

Hujan masih deras. Petir menyambar lagi di kejauhan.

Riani merasakan air matanya mulai berkumpul. Tapi dia tahan.

"Aku tahu kamu nggak butuh," ujar Riani pelan, suaranya gemetar. "Tapi aku... aku peduli, Wahyu. Aku nggak bisa berhenti peduli."

Wahyu menggeleng. "Kamu peduli karena kamu kasihan. Karena kamu lihat aku sebagai... projek charity atau apa."

"Bukan!"

"Lalu apa? Kenapa kamu begitu ngotot? Apa kamu merasa jadi pahlawan kalau bisa 'selamatkan' orang yang rusak kayak aku?"

"Kamu nggak rusak!" Riani melangkah mendekat, air matanya mulai jatuh. "Kamu cuma... terluka. Dan itu nggak salah."

"Kamu nggak ngerti—"

"Lalu buat aku ngerti! Cerita! Marah-marah kalau kamu mau! Nangis kalau kamu butuh! Apapun—asal kamu nggak terus pendam sendiri!"

Wahyu menatap Riani dengan tatapan yang... hancur.

"Kamu tahu kenapa aku nggak mau cerita?" suaranya serak. "Karena begitu aku cerita... kamu bakal lihat aku beda. Kamu bakal lihat aku sebagai 'anak yang kasian', 'anak yang bapaknya dituduh koruptor', 'anak yang nggak punya apa-apa'."

"Aku nggak akan—"

"SEMUA ORANG BILANG BEGITU!" Wahyu berteriak. "Dan semua akhirnya pergi!"

Riani terdiam.

Wahyu menarik napas tersendat-sendat, seperti menahan tangis.

"Kamu tahu apa rasanya... deket sama seseorang, percaya sama mereka, terus mereka tau satu hal tentang kamu dan tiba-tiba mereka... menjauh?" suara Wahyu mulai bergetar. "Aku sudah ngalamin itu berkali-kali, Riani. Berkali-kali."

Air mata Riani jatuh semakin deras.

"Aku nggak akan pergi," ujarnya pelan tapi tegas.

Wahyu menggeleng. "Kamu bilang begitu sekarang. Tapi nanti—"

"Aku nggak akan pergi!" Riani melangkah lebih dekat lagi. "Aku nggak peduli apa yang kamu cerita. Aku nggak peduli seberapa 'berat' hidupmu. Aku nggak akan pergi."

Wahyu menatapnya—tatapan penuh keraguan, penuh ketakutan.

"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa kamu begitu yakin?"

"Karena aku sudah tahu. Aku sudah tahu tentang kasus ayahmu. Tentang bullying yang kamu alami. Tentang beban yang kamu tanggung. Dan aku masih di sini, Wahyu. Aku nggak pergi."

Wahyu terdiam.

Lalu perlahan... kakinya melemas.

Dia duduk kembali di tangga teras, menundukkan kepala, menutup wajah dengan kedua tangan.

Dan untuk pertama kalinya...

Riani melihat Wahyu menangis.

Tidak bersuara. Hanya bahunya yang bergetar pelan.

Riani duduk di sampingnya—kali ini benar-benar dekat.

Dia tidak bicara. Tidak menyentuh. Hanya... ada.

Membiarkan Wahyu melepaskan sesuatu yang sudah dia pendam terlalu lama.

Hujan terus turun.

Dan di bawah suara hujan itu...

Wahyu akhirnya membiarkan dirinya... rapuh.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!