NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Rumah yang Ikut Bernapas

Malam masih belum benar-benar larut.

Jam di dinding menunjukkan 23.47.

Normal.

Terlalu normal.

Namun—

yang berdiri di depan Kinasih sekarang… tidak.

Bima masih di sana.

Wajahnya masih sama.

Tubuhnya masih sama.

Namun—

sesuatu di dalam dirinya…

bukan lagi miliknya.

“Kita… sudah pulang.”

Suara itu keluar dari mulut Bima.

Namun—

bukan hanya satu.

Seperti ada beberapa suara yang bertumpuk.

Selaras.

Sinkron.

Hidup.

Kinasih mundur.

Pelan.

Satu langkah.

Dua langkah.

“Bim… denger aku…”

Namun—

Bima hanya tersenyum.

Dan senyum itu—

tidak berubah.

Tidak goyah.

Seperti sudah menetap di wajahnya.

“Aku denger…”

katanya pelan.

“…tapi aku bukan yang jawab.”

Sunyi.

Udara terasa lebih berat.

Lebih dingin.

Dan—

dinding di sekitar mereka…

bergerak.

Sangat halus.

Hampir tidak terlihat.

Namun—

cukup untuk dirasakan.

Seperti rumah ini…

bernapas.

Kinasih menoleh ke sekeliling.

Dinding.

Langit-langit.

Lantai.

Semua terasa…

hidup.

“Apa yang terjadi…”

bisiknya.

Bima tidak menjawab.

Ia hanya melangkah.

Satu langkah ke depan.

Dan saat kakinya menyentuh lantai—

lantai itu sedikit… tenggelam.

Seperti diinjak sesuatu yang lunak.

Basah.

“Dia suka tempat ini…”

bisik Bima.

“…hangat.”

Kinasih membeku.

Perutnya terasa mual.

Hangat.

Seperti—

tubuh.

“Bima… keluar dari tubuh itu…”

Suara Kinasih bergetar.

Namun—

Bima hanya tertawa kecil.

“Keluar ke mana…?”

Ia mengangkat tangan.

Menunjuk ke sekitar.

“Ini semua… sudah bagian dari kita.”

Sekejap—

lampu berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu—

padam.

Gelap.

Namun—

tidak sepenuhnya.

Ada cahaya lain.

Dari dinding.

Merah.

Pucat.

Seperti darah yang bersinar.

Dan—

di cahaya itu—

Kinasih melihat sesuatu.

Dindingnya…

tidak lagi rata.

Melainkan—

berdenyut.

Pelan.

Seperti jantung.

DUM…

DUM…

DUM…

Suara itu terdengar.

Jelas.

Dari segala arah.

“Kamu dengar itu…?” bisik Bima.

Namun—

ia tidak menunggu jawaban.

Ia menutup mata.

Menikmati.

Seperti seseorang yang… akhirnya menemukan rumahnya.

“Dia bangun…”

bisiknya.

Kinasih gemetar.

“Siapa…?”

Bima membuka mata.

Dan—

untuk sesaat—

ada sesuatu di sana.

Sangat dalam.

Sangat gelap.

“Yang punya tempat ini.”

Sunyi.

Lalu—

suara lain muncul.

Dari bawah.

Dari lantai.

Ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Kinasih menunduk.

Dan—

ia melihatnya.

Lantai kayu itu…

retak.

Pelan.

Dan dari dalam retakan itu—

keluar sesuatu.

Jari.

Satu.

Pucat.

Kotor.

Basah.

Kinasih menjerit.

Ia mundur cepat.

Namun—

retakan itu melebar.

Dan—

lebih banyak tangan keluar.

Banyak.

Menjulur.

Meraba.

Mencari.

“Mereka bangun juga…”

bisik Bima.

“…lapar.”

Tangan-tangan itu meraih kaki Kinasih.

Ia berusaha menghindar.

Namun—

terlambat.

Salah satu berhasil menggenggam pergelangan

kakinya.

Dingin.

Lengket.

Menarik.

Kinasih jatuh.

Menjerit.

“LEPAS!!!”

Ia menendang.

Berusaha lepas.

Namun—

semakin banyak tangan muncul.

Menahan.

Menarik.

Mencengkeram.

“Bim!!!” teriaknya.

Namun—

Bima tidak bergerak.

Ia hanya berdiri.

Menonton.

Tenang.

Seperti ini… hal biasa.

“Biarkan…” katanya pelan.

“Mereka cuma mau kenalan.”

Kinasih menatapnya.

Tidak percaya.

“KAMU GILA?!”

Bima tersenyum.

“Bukan aku…”

Ia menunjuk kepalanya.

“…dia.”

Tangan-tangan itu semakin kuat.

Menarik Kinasih ke arah retakan.

Dan—

retakan itu…

mulai membuka.

Seperti mulut.

Gelap.

Dalam.

Dan dari dalam—

suara.

Banyak suara.

“Masuk…”

“Masuk…”

“Masuk…”

Kinasih menjerit.

Ia berusaha menahan.

Namun—

tidak cukup kuat.

Ia mulai terseret.

Pelan.

Namun pasti.

“Bim… tolong…”

Air matanya jatuh.

Namun—

Bima hanya menatap.

Diam.

Lalu—

perlahan—

wajahnya berubah.

Senyumnya memudar.

Matanya berkedip.

Dan untuk sesaat—

ia kembali.

“Kinasih…”

Suaranya.

Yang asli.

Lemah.

Namun ada.

“Lari…”

Kinasih membeku.

“Bim…?”

Namun—

hanya sesaat.

Karena—

mata itu kembali gelap.

Dan senyum itu… muncul lagi.

“Dia hampir hilang…”

bisik suara itu.

“…tapi belum.”

Tiba-tiba—

rumah itu bergetar.

Keras.

Dinding berdenyut lebih cepat.

DUM!

DUM!

DUM!

Tangan-tangan itu berhenti.

Sekejap.

Seperti terkejut.

Dan—

dari atas—

suara retakan.

Kinasih menoleh.

Langit-langit…

terbelah.

Dan dari celah itu—

sesuatu turun.

Pelan.

Gelap.

Seperti cairan.

Namun—

lebih kental.

Lebih hidup.

Itu jatuh ke lantai.

Dan—

membentuk sesuatu.

Sosok.

Tinggi.

Lebih besar dari manusia.

Tanpa wajah.

Tanpa bentuk jelas.

Namun—

terasa.

Sadar.

Mengawasi.

Kinasih membeku.

Napasnya terhenti.

“Dia…”

bisik Bima.

“…bangun.”

Sosok itu tidak bergerak.

Namun—

semua tangan di lantai—

langsung berhenti.

Seperti takut.

Seperti tunduk.

Kinasih bisa merasakan—

sesuatu yang lebih besar dari semuanya.

Lebih tua.

Lebih dalam.

Lebih… lapar.

Sosok itu menoleh.

Pelan.

Mengarah ke Kinasih.

Dan—

tanpa suara—

ia tahu.

Ia sedang dilihat.

Benar-benar dilihat.

Bukan hanya tubuhnya.

Namun—

segala sesuatu di dalamnya.

Kinasih gemetar.

Tidak bisa bergerak.

Tidak bisa lari.

Dan—

sosok itu melangkah.

Satu langkah.

Dan lantai—

berubah.

Menjadi hitam.

Mengikuti jejaknya.

“Dia suka kamu…”

bisik suara di dalam Bima.

“…karena kamu pernah membuka.”

Sosok itu berhenti tepat di depan Kinasih.

Sangat dekat.

Dan—

untuk pertama kalinya—

sesuatu muncul di wajahnya.

Bukan mata.

Bukan mulut.

Namun—

lubang.

Dalam.

Gelap.

Dan dari dalam lubang itu—

suara.

Sangat pelan.

Namun—

menggema.

“Kunci…”

Kinasih membeku.

“Kunci…”

Suara itu masuk ke kepalanya.

Menggema.

Berulang.

“Kunci…”

Dan—

tiba-tiba—

tangannya bergerak.

Sendiri.

Menuju dadanya.

Menekan.

Dan—

sesuatu terasa.

Di dalam.

Seperti ada benda.

Tertanam.

Berdenyut.

Kinasih menjerit.

“Apa ini—”

Namun—

sosok itu mengangkat tangannya.

Dan—

tanpa menyentuh—

sesuatu itu… keluar.

Dari dada Kinasih.

Pelan.

Menembus kulit.

Tanpa darah.

Tanpa luka.

Hanya—

muncul.

Itu—

koin.

Namun—

tidak utuh.

Retak.

Hitam.

Dan—

bergerak.

Seperti hidup.

Kinasih membeku.

Matanya membesar.

“Itu…”

bisiknya.

Sosok itu mengambilnya.

Pelan.

Dan—

saat jari-jarinya menyentuh koin itu—

semua suara berhenti.

Semua gerakan berhenti.

Rumah…

diam.

Untuk satu detik.

Dua detik.

Lalu—

semuanya berubah.

Ledakan suara.

Jeritan.

Tangisan.

Dinding pecah.

Lantai retak.

Tangan-tangan itu menjerit.

“KEMBALIKAN!”

“KEMBALIKAN!”

“KEMBALIKAN!”

Sosok itu tidak bergerak.

Ia hanya menatap koin itu.

Dan—

perlahan—

sesuatu di dalamnya…

terbuka.

Kinasih menatap.

Dan—

ia melihat.

Di dalam koin itu—

ada sesuatu.

Seperti—

mata.

Membuka.

Dan saat itu—

semua menjadi gelap.

Kinasih terbangun.

Terengah.

Di lantai.

Kamarnya.

Seperti biasa.

Sunyi.

Tidak ada Bima.

Tidak ada sosok itu.

Tidak ada tangan.

Semua…

hilang.

Jam menunjukkan—

00.03.

Berjalan.

Normal.

Namun—

dadanya terasa kosong.

Ia menyentuhnya.

Tidak ada luka.

Namun—

ia tahu.

Sesuatu sudah diambil.

Koin itu.

Hilang.

Dan—

bersamaan dengan itu—

sesuatu di dalam dirinya…

juga hilang.

Namun—

tidak semuanya.

Karena—

di sudut kamar—

ada sesuatu.

Berdiri.

Diam.

Bayangan.

Lebih gelap dari gelap.

Tidak bergerak.

Tidak mendekat.

Hanya…

menunggu.

Dan dari dalam—

suara itu muncul lagi.

Lebih pelan.

Lebih dalam.

Lebih… dekat.

“Sekarang…”

“…rumah ini milik kita.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!