Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan dari Abu
Langit di atas pulau pribadi itu memerah, bukan karena fajar, melainkan karena kobaran api yang mulai melahap gudang penyimpanan di sisi timur dermaga. Suara ledakan beruntun yang diatur oleh Aara menciptakan simfoni kehancuran yang sempurna. Dari kejauhan, radar menunjukkan helikopter FBA mulai mendekat, mengira mereka akan menjemput kemenangan atas kematian Kenzo Arkana.
Di dalam sebuah bunker rahasia yang terletak jauh di bawah fondasi villa, Kenzo dan Aara berdiri di depan monitor yang menampilkan visual dari kamera-kamera luar yang masih berfungsi.
"Satu menit lagi, dan mereka akan mendarat di zona merah," ucap Aara. Ia telah mengganti pakaiannya dengan tactical suit hitam yang ketat, namun ia masih sempat memoles bibirnya dengan lipstik merah menyala. Sebuah kontras yang aneh namun mematikan.
Kenzo menatap layar dengan dingin. Ia mengenakan jaket kulit gelap, tangannya menggenggam senapan mesin ringan. "Kau tidak merasa bersalah membantai mantan rekan-rekanmu sendiri, Agen?"
Aara menoleh, memberikan kedipan mata centil yang kini terasa lebih tajam dari sebelumnya. "Rekan? Mereka adalah orang-orang yang menandatangani surat kematianku, Kenzo. Di duniaku yang lama, pengkhianatan dibalas dengan laporan formal. Di duniaku yang baru... pengkhianatan dibalas dengan kembang api."
*BOOM!*
Ledakan besar mengguncang layar monitor saat helikopter pertama mencoba mendarat di landasan yang telah dipasangi peledak C4. Api membubung tinggi, menelan helikopter itu dalam sekejap.
"Ayo pergi. Kita tidak punya banyak waktu sebelum unit cadangan mereka datang dengan kekuatan penuh," perintah Kenzo.
Mereka bergerak melalui terowongan bawah tanah yang menuju ke gua tersembunyi di balik tebing. Di sana, sebuah kapal selam mini teknologi militer yang diselundupkan Kenzo setahun lalu telah menunggu.
Namun, sebelum mereka mencapai kapal, sebuah suara tembakan menggema di terowongan, pelurunya menyerempet bahu Kenzo.
"Berhenti di sana, Arkana!"
Vico berdiri di ujung terowongan dengan wajah yang dipenuhi amarah dan pengkhianatan. Di sampingnya, beberapa pengawal elit yang tersisa menodongkan senjata.
"Vico?" Kenzo membalikkan badan, matanya menyipit. "Apa yang kau lakukan?"
"Kau sudah gila, Tuan!" teriak Vico. "Kau menghancurkan kerajaanmu sendiri demi pelacur FBA ini? Aku sudah bekerja untukmu selama sepuluh tahun! Aku yang menjaga punggungmu, tapi kau justru mempercayai wanita yang dikirim untuk membunuhmu!"
Aara melangkah maju di depan Kenzo, tangannya bersedekap. "Aduh, Vico sayang... kau cemburu ya? Harusnya kau tahu, di samping pria hebat selalu ada wanita yang lebih hebat. Dan sayangnya, posisi itu bukan milikmu."
"Diam kau, Jalang!" Vico menarik pelatuknya, namun Aara lebih cepat. Ia melakukan gerakan gulingan ke samping sambil mencabut pistol dari pahanya.
BANG! BANG!
Dua peluru Aara bersarang tepat di bahu dan kaki Vico, membuatnya terjatuh namun tetap hidup. Kenzo mendekati mantan tangan kanannya itu.
"Kau setia pada kekuasaanku, Vico, tapi tidak pada diriku," ucap Kenzo rendah. "Itulah bedamu dengan Aara. Dia melihat monster di dalam diriku, dan dia memilih untuk menjadi pasangannya."
Kenzo tidak membunuh Vico. Ia meninggalkan pria itu di terowongan yang sebentar lagi akan runtuh karena sistem penghancur otomatis. Itu adalah hukuman yang lebih kejam daripada peluru di kepala.
Kapal selam mini itu meluncur masuk ke dalam kegelapan laut dalam, meninggalkan pulau yang kini menjadi bola api raksasa di atas permukaan. Di dalam kabin yang sempit dan remang, suasana mendadak menjadi sangat intim.
Kenzo duduk di kursi kemudi, sementara Aara duduk di atas meja navigasi di sampingnya. Adrenalin dari pertempuran barusan masih terasa di udara.
"Kita sekarang adalah hantu, Kenzo," bisik Aara. Ia mengulurkan tangan, mengusap bekas luka gores di bahu Kenzo akibat tembakan tadi. "Tidak ada lagi Kenzo Arkana sang mafia, tidak ada lagi Aara sang agen."
Kenzo menarik pinggang Aara, membuat wanita itu meluncur ke pangkuannya. Ia mencium leher Aara dengan penuh gairah, tangan kasarnya merobek sedikit bagian dari *tactical suit* yang dikenakan Aara.
"Hantu atau bukan, kau tetap milikku," geram Kenzo.
Di bawah tekanan ribuan ton air laut, di dalam ruang yang sangat terbatas, mereka melepaskan semua ketegangan yang tersisa. Gairah mereka meledak, lebih liar dan lebih dalam dari sebelumnya. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi penyamaran. Yang ada hanyalah dua jiwa yang sama-sama berdosa, saling mengklaim satu sama lain di tempat yang paling tersembunyi di bumi.
Aara mendesah di telinga Kenzo, suaranya bukan lagi centil yang dibuat-buat, melainkan kejujuran murni. "Aku tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini... di pelukan musuh terbesarku."
"Musuhmu sudah mati di atas sana, Aara," sahut Kenzo sambil memperdalam ciumannya. "Sekarang hanya ada aku dan kau."
Dua minggu kemudian.
Di sebuah pelabuhan kecil di pantai Mediterania yang cerah, seorang pria dan wanita turun dari sebuah *yacht* mewah. Pria itu tampak sangat berwibawa dengan kemeja linen putih, dan wanitanya tampak luar biasa cantik dengan gaun musim panas yang ringan dan topi lebar.
Mereka tampak seperti pasangan kaya yang sedang berlibur. Tidak ada yang akan menyangka bahwa di balik koper-koper mahal yang mereka bawa, terdapat kunci akses menuju aset kripto senilai miliaran dolar dan data-data yang bisa meruntuhkan pemerintahan beberapa negara.
Aara menggandeng lengan Kenzo, tersenyum manis kepada penjaga pelabuhan. "Selamat pagi! Cuaca yang indah untuk memulai hidup baru, bukan?" ucapnya dengan nada centil yang kini menjadi ciri khasnya yang paling mematikan.
Kenzo meliriknya dengan senyum miring yang jarang terlihat. "Kau tidak akan pernah berhenti bersandiwara, ya?"
Aara tertawa renyah, tawa yang kini terdengar tulus. "Oh, Sayang... ini bukan sandiwara. Ini adalah gaya hidup."
Mereka berjalan menuju sebuah mobil convertible klasik yang sudah menunggu. Di duniaku, di dunianya, atau di dunia mana pun yang akan mereka buat nanti, satu hal yang pasti: Sang Binatang Buas telah menemukan pawangnya, dan sang Dewi Penyamaran telah menemukan tempat di mana ia tidak perlu lagi bersembunyi.