Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Rahasia di Brankas Ayah
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah tirai baja ringan, menyengat kelopak mataku yang terasa lengket.
Aku terbangun dengan napas tersentak, posisi dudukku merosot di atas sofa kulit yang asing. Kepalaku berdenyut hebat, seolah ada paku berkarat yang ditancapkan tepat di pelipisku. Butuh waktu beberapa detik bagi otakku yang masih berkabut untuk mencerna di mana aku berada.
Apartemen Pluit. Tempat persembunyian Arlan.
Memori semalam langsung menghantam dadaku layaknya air es. Pelukanku di dadanya. Bau mesiu, darah, dan ozon yang menguar dari kulitnya. Rasa panik yang membuatku berpura-pura tenang hingga akhirnya kelelahan fisik memaksaku pingsan tertidur di sofa ini. Aku tertidur lelap di bawah atap yang sama dengan monster yang baru saja memaksa Hakim Agung Setiawan meniup kepalanya sendiri.
Aku buru-buru duduk tegak, membuang selimut rajut yang menutupi bahuku. Tanganku secara refleks meraba paha kananku. Sarung pistolku masih terikat di sana. Senjataku utuh. Dia tidak melucutiku saat aku tidak sadarkan diri.
Aku menatap sekeliling ruangan yang sunyi. Rak server raksasa di sudut ruangan masih mendengung pelan, tapi Arlan tidak ada di mana pun. Mantel hitamnya lenyap. Pria itu sudah pergi.
Lalu, mataku menangkap sesuatu di atas meja kaca, tepat di sebelah cangkir teh kamomilku yang kini sudah dingin.
Selembar kertas putih yang dilipat dua dengan sangat rapi.
Tanganku sedikit bergetar saat mengambil dan membukanya. Tidak ada kalimat sapaan romantis atau basa-basi. Kertas itu hanya berisi deretan angka, nama rute jalan tol, pelat nomor tiga buah truk lapis baja, dan satu nama yang ditulis dengan huruf kapital tebal: JENDERAL SUDIRO - 23.00 WIB.
Jadwal konvoi logistik.
Aku meremas kertas itu. Arlan sengaja meninggalkannya untukku. Dia tahu aku sudah mencium kebohongannya semalam. Dia tahu aku adalah detektif yang memburunya. Dan alih-alih membunuhku saat aku tertidur tanpa daya, ia justru memberiku jadwal serangan berikutnya. Ia memberiku petunjuk ke mana ia akan pergi malam ini.
Dia sedang memancingku. Dia ingin aku datang ke sana dan menonton pertunjukannya.
"Pria gila," desisku pelan, memasukkan kertas itu ke dalam saku jaket kulitku.
Aku berdiri, merapikan gaunku yang kusut, dan berjalan cepat keluar dari apartemen itu. Lorong gedung mangkrak ini terasa jauh lebih dingin dari semalam. Aku memacu langkahku menuju lift barang, turun ke basement, dan masuk ke dalam SUV-ku.
Begitu mesin mobil menyala, pikiranku berpacu liar menyusun prioritas.
Pukul sebelas malam nanti, Arlan akan mencegat konvoi senjata ilegal Jenderal Sudiro. Aku bisa saja membawa satu peleton pasukan Brimob ke sana untuk menyergap mereka semua.
Namun, jika aku melakukan itu, ayahku—Darmawan Salim—akan menggunakan kekacauan itu untuk memutarbalikkan fakta. Ia akan menuduh Sudiro sebagai dalang tunggal dari semua korupsi Vanguard, mencuci tangannya sendiri hingga bersih, dan terus hidup sebagai raja tanpa tersentuh hukum. Arlan mungkin akan mati tertembak oleh polisi, dan ayahku akan menang.
Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku butuh bukti yang mengikat leher Darmawan Salim secara langsung. Aku butuh dokumen yang membuktikan bahwa ayahku adalah orang yang memberikan perintah eksekusi untuk keluarga Arlan sepuluh tahun lalu, bukan sekadar memo dari mendiang Handoko.
Hanya ada satu tempat di mana seorang pria paranoid seperti ayahku akan menyimpan dosa-dosa aslinya.
Brankas pribadinya di rumah Menteng.
Aku menginjak pedal gas, memutar kemudi menuju kawasan elite Jakarta Pusat.
Jarum jam di dasbor mobilku menunjukkan pukul sepuluh pagi saat aku memarkir SUV-ku tiga blok dari rumah masa kecilku. Kawasan perumahan Menteng selalu terlihat tenang dari luar. Pohon-pohon rindang menutupi trotoar, dan tembok-tembok tinggi menyembunyikan istana orang-orang kaya dari pandangan rakyat biasa.
Rumah keluarga Salim menempati tanah seluas setengah hektar, dikelilingi pagar beton setinggi tiga meter dengan kawat berduri yang dialiri listrik tegangan rendah. Kamera pengawas terpasang di setiap sudut.
Darmawan Salim tidak ada di rumah pada jam segini. Ia pasti sedang sibuk di Vanguard Tower, mengadakan rapat darurat untuk menahan anjloknya harga saham setelah kematian Setiawan. Namun, rumah ini tidak pernah benar-benar kosong. Ada enam orang penjaga keamanan berseragam safari yang berpatroli, ditambah beberapa asisten rumah tangga.
Aku tidak bisa masuk melalui pintu depan. Jika penjaga melihatku, mereka diinstruksikan untuk segera melapor pada ayahku, tak peduli bahwa aku adalah putrinya.
Aku berjalan menyusuri gang sempit di sisi barat tembok rumah. Area ini berbatasan langsung dengan saluran air kota. Aku ingat persis sudut ini. Saat usiaku enam belas tahun, ketika aku muak dengan kurungan kemewahan, aku sering memanjat tembok di titik ini karena tahu kamera keamanan nomor empat memiliki blind spot (titik buta) selebar dua meter akibat terhalang dahan pohon mangga yang rimbun.
Aku menarik napas panjang, melompat, dan mencengkeram tepian tembok beton yang kasar. Otot lenganku menjerit saat aku menarik tubuhku naik, menghindari kawat berduri dengan susah payah, lalu menjatuhkan diri ke atas rumput taman belakang dengan pendaratan berguling untuk meredam suara.
Jantungku berdebar sangat kencang. Jika salah satu penjaga ayahku memergokiku sekarang, mereka mungkin akan menarik pelatuk sebelum menyadari wajahku.
Aku mengendap-endap di balik deretan semak hias, mataku terus mengawasi pergerakan penjaga di teras belakang. Begitu penjaga bertubuh tambun itu berbelok ke arah garasi, aku melesat berlari menyeberangi taman, masuk melalui pintu kaca area kolam renang dalam ruangan yang jarang dikunci pada siang hari.
Rumah ini terasa sangat dingin. Lantai marmernya mengilap, memantulkan bayangan furnitur antik yang diimpor dari Eropa. Tidak ada kehangatan keluarga di tempat ini. Tidak pernah ada.
Aku melepaskan sepatuku, menyembunyikannya di balik pot porselen besar, lalu berjalan tanpa suara hanya dengan kaus kaki. Tanganku secara refleks turun ke dekat gagang pistol di pahaku saat aku menaiki tangga kayu jati yang melengkung menuju lantai dua.
Ruang kerja pribadi ayahku terletak di ujung lorong timur. Pintu kayu oak ganda yang tebal itu tertutup rapat.
Aku menempelkan telingaku ke daun pintu. Tidak ada suara dari dalam.
Dengan tangan yang sedikit berkeringat, aku memutar kenop kuningan perlahan. Pintunya tidak dikunci. Ayahku selalu percaya diri bahwa tidak ada seorang pun di rumah ini yang berani melangkah masuk ke ruangan sucinya tanpa izin.
Aku menyelinap masuk dan menutup pintu kembali dengan sangat pelan hingga bunyi klik engselnya nyaris tak terdengar.
Ruang kerja Darmawan Salim dipenuhi oleh rak-rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit. Aroma khas cerutu dan kulit asli langsung menusuk hidungku. Meja kerja raksasanya bersih, tak ada selembar kertas pun yang berserakan.
Fokusku langsung tertuju pada lukisan pemandangan perburuan kuda era Victoria yang tergantung di belakang meja kerjanya.
Semua orang di rumah ini tahu ada brankas di balik lukisan itu, tapi tidak ada yang tahu cara membukanya. Ayahku selalu memasukkan kodenya saat ia sendirian.
Aku berjalan mendekat, menarik bingkai lukisan itu. Engsel tersembunyi berderit pelan saat lukisan itu berayun ke samping, memperlihatkan sebuah pintu brankas baja tahan api bermerek Diebold. Di permukaannya terdapat roda pemutar mekanis klasik (combination dial) dan sebuah layar pemindai biometrik untuk sidik jari. Sistem ganda.
Perutku terasa melilit. Tanpa sidik jari Darmawan, pemutar mekanis itu tidak akan berfungsi.
Aku mengutuk pelan, menyeka keringat dingin di pelipisku. Berpikir, Elara. Berpikir seperti detektif, bukan anak yang ketakutan.
Orang-orang paranoid seperti ayahku tidak pernah mempercayai teknologi sepenuhnya. Mesin pemindai biometrik bisa rusak akibat lonjakan listrik, baterai habis, atau kebakaran. Hukum dasar perancangan brankas elit selalu menyertakan sebuah lubang kunci fisik darurat (master override key) yang biasanya disembunyikan di balik panel logo produsen.
Aku mengeluarkan pisau lipat kecil dari sakuku, mencongkel pelat logo Diebold yang terbuat dari plastik keras di bawah pemutar angka. Pelat itu terlepas, memperlihatkan sebuah lubang kunci silinder berukuran sangat kecil.
Jika aku tahu tabiat ayahku, ia tidak akan pernah membawa kunci fisik itu bersamanya keluar rumah. Risiko kecopetan atau hilang terlalu besar. Ia pasti menyembunyikannya di suatu tempat di ruangan ini. Sesuatu yang berada dalam jangkauan tangannya saat ia duduk di kursinya.
Mataku mulai menggeledah meja kerjanya. Aku menarik laci-laci kayu satu per satu. Kosong. Hanya ada pena-pena mahal dan tumpukan map kosong. Aku meraba bagian bawah meja, mencari selotip atau rongga tersembunyi. Tidak ada.
Waktu terus berjalan. Keringat mulai menetes membasahi kerah bajuku.
Pandanganku beralih ke atas meja. Terdapat sebuah kotak pelembap cerutu (humidor) berbahan kayu cedar merah. Aku membukanya. Bau tembakau yang sangat kuat menyeruak. Kotak itu penuh dengan cerutu impor. Aku mengeluarkan cerutu itu satu per satu, meraba dasar kayunya. Tidak ada kompartemen ganda.
Lalu, mataku tertuju pada sebuah objek yang sangat tidak biasa untuk berada di meja pria sedingin Darmawan Salim.
Sebuah piala perak kecil yang sudah kusam. Itu adalah piala juara dua lomba debat tingkat SMA yang kumenangkan lima belas tahun lalu. Satu-satunya barang yang berkaitan denganku di ruangan ini.
Aku meraih piala itu. Benda itu terasa terlalu berat untuk ukurannya.
Dengan tangan gemetar, aku memutar alas piala yang terbuat dari kayu hitam tersebut. Alurnya berputar. Dasar kayu itu terlepas, memperlihatkan rongga kecil di dalamnya. Di dalam rongga yang dibalut kain perca itu, tergeletak sebuah kunci baja berlekuk rumit.
"Kau menaruh kelemahanmu di tempat yang tak terduga, Yah," bisikku getir. Rasanya menyakitkan mengetahui bahwa ia menggunakan satu-satunya hadiah dariku sebagai tempat menyembunyikan kuncinya.
Aku membawa kunci itu ke brankas, memasukkannya ke dalam lubang override, lalu memutarnya ke kanan. Terdengar bunyi klik mekanis yang memuaskan. Layar biometrik langsung mati, sistem elektroniknya dilumpuhkan.
Sekarang, tinggal putaran kombinasinya.
Aku mengeluarkan stetoskop lipat dari dalam tas selempangku—perkakas standar yang selalu kubawa sejak aku menangani kasus perampokan bank dua tahun lalu. Aku menempelkan ujung dingin stetoskop itu ke permukaan baja brankas, tepat di samping roda pemutar, dan memasang sumbat pendengaran ke telingaku.
Aku memutar rodanya dengan sangat pelan ke arah kanan.
Ruangan itu sangat hening, hanya terdengar suara napasku sendiri dan detak jam dinding grandfather clock di sudut ruangan.
Klek. Klek. Klek. Suara pin baja yang bergesekan terdengar nyaring di telingaku.
Aku terus memutar hingga terdengar bunyi TAK yang tebal, lebih berat dari bunyi lainnya. Angka 42.
Aku memutar roda ke arah sebaliknya. Butuh waktu lima menit yang terasa seperti menyiksa diri di dalam oven. Keringat mengalir menembus gaun sutraku. Jika ada asisten rumah tangga yang masuk untuk membersihkan ruangan sekarang, aku akan tertangkap basah dengan stetoskop di tangan.
TAK. Angka 11.
Putaran terakhir. TAK. Angka 86.
Aku memutar tuas besi penarik brankas. Dengan suara desisan karet kedap udara yang terlepas, pintu brankas baja setebal sepuluh sentimeter itu berayun terbuka ke arahku.
Hawa dingin dari dalam brankas langsung menerpa wajahku.
Di dalam lemari besi itu, berjajar tumpukan dokumen, sertifikat tanah, dan beberapa kotak kecil yang kuyakin berisi perhiasan ibuku yang sudah lama meninggal. Tapi mataku tidak tertarik pada perhiasan.
Aku menarik keluar beberapa map tebal bersampul hitam. Aku duduk di lantai, menyilangkan kakiku, dan mulai membaca isinya dengan cepat.
Dua map pertama berisi catatan pembukuan ganda. Bukti pencucian uang dari proyek infrastruktur pemerintah yang dialirkan ke rekening Vanguard. Sangat memberatkan, tapi bukan ini yang kucari.
Tanganku meraih map ketiga yang terletak di bagian paling dasar brankas. Map itu terlihat lebih tua, debu tipis menempel di sampul plastiknya. Tidak ada judul atau label di bagian luarnya.
Aku membuka ikatan talinya.
Di halaman pertama, terdapat sebuah pasfoto hitam putih berukuran kecil. Foto Adrianus Wiratama dan istrinya. Tepat di bawah foto itu, tertera sebuah formulir perintah operasional berlambang perisai dan pedang Vanguard Group.
Mataku menyapu barisan kalimat yang diketik rapi tersebut. Napasku terhenti secara paksa.
Itu bukan sekadar memo evaluasi. Itu adalah Perintah Eliminasi Target. Dokumen itu mencantumkan rute perjalanan mobil Adrianus pada tanggal 22 Oktober sepuluh tahun lalu, lengkap dengan daftar nama empat prajurit bayaran bayangan yang ditugaskan untuk merusak sistem pengereman hidrolik mobil tersebut di rest area sebelum jalan tol.
Di bagian paling bawah kertas laknat itu, terdapat tanda tangan basah menggunakan tinta biru tebal. Tanda tangan Darmawan Salim.
Ayahku. Darah dagingku. Ia tidak hanya merestui pembunuhan itu. Ia adalah arsitek utamanya.
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah, menetes mengenai permukaan kertas bersejarah itu. Kenyataan ini jauh lebih menyakitkan daripada dugaan apa pun. Sang Joker, pria bermantel yang membunuh Handoko dan Setiawan, benar-benar lahir dari dosa yang ditandatangani oleh tangan ayahku. Arlan tidak pernah berbohong padaku semalam. Keluarganya dibantai demi menjaga harga saham perusahaan ini.
Tanganku yang bergetar hebat hendak menutup map itu, berniat membawanya sebagai bukti untuk menghancurkan ayahku.
Namun, saat aku membalik halaman berikutnya, gerakanku membeku.
Terdapat selembar kertas tua lain yang diselipkan di belakang surat perintah eksekusi itu. Sebuah dokumen laporan lapangan yang diketik oleh komandan prajurit bayaran Sudiro.
Judul laporannya berbunyi: STATUS OPERASI PEMBERSIHAN SISA TARGET.
Aku membaca isinya dengan mata yang membelalak.
Laporan Situasi: Target sekunder, anak laki-laki dari Adrianus (Arlan Wiratama, 18 tahun), berhasil selamat dari ledakan kendaraan karena terlempar ke luar kabin. Target sempat dibawa ke rumah sakit kota, kemudian dialihkan ke Panti Asuhan Harapan secara rahasia oleh pihak kepolisian yang belum terkondisikan.
Instruksi Lanjutan dari Direktur Utama (Darmawan Salim): Eksekusi target sekunder untuk mencegah risiko balas dendam di masa depan. Pembersihan harus terlihat seperti kecelakaan asrama atau keracunan makanan.
Aku menekan mulutku dengan kedua tangan, berusaha meredam jeritan ngeri yang memaksa keluar dari tenggorokanku.
Ayahku tidak hanya membunuh orang tua Arlan. Setelah melihat anak remaja itu selamat dari kecelakaan yang membakar ayah ibunya, Darmawan Salim secara eksplisit memerintahkan anak buahnya untuk pergi ke panti asuhan dan membunuh Arlan yang saat itu masih berumur delapan belas tahun.
Tanganku bergerak meraba baris terakhir dari laporan itu.
Update Operasi: GAGAL. Saat tim pembersih tiba di Panti Asuhan pada malam hari, target sekunder telah melarikan diri. Ranjang kosong. Jejak pelarian mengarah ke kawasan kumuh stasiun kereta api. Pencarian dihentikan untuk menghindari kecurigaan media. Target dianggap tidak lagi menjadi ancaman nyata tanpa dukungan finansial.
Duniaku runtuh berkeping-keping. Dinding ruang kerja ini terasa menyempit, mencekik paru-paruku.
Ayahku mencoba membunuh Arlan. Ia memburu seorang anak remaja yang sedang berduka layaknya memburu binatang liar. Itulah sebabnya Arlan harus menghilang, hidup menggelandang di jalanan, bertahan hidup dari sisa sampah dan mengasah kemampuannya di pasar gelap. Ayahku yang memaksanya masuk ke dalam kegelapan itu, mengubah seorang anak laki-laki biasa menjadi sang Joker yang tak kenal ampun.
Aku mencengkeram kertas laporan operasional itu hingga kusut. Rasa benci yang murni dan panas mengalir di nadiku, membakar habis setiap sisa rasa hormat yang kumiliki untuk pria yang membesarkanku.
Darmawan Salim bukanlah ayahku. Ia adalah monster yang harus dihentikan.
Aku memasukkan seluruh isi map hitam itu ke dalam tas selempangku dengan terburu-buru. Aku mengunci kembali pintu brankas, menutupnya dengan lukisan kuda, dan merapikan meja kerjanya agar tak ada satu pun jejak debu yang tertinggal. Aku mengembalikan kunci piala ke tempat asalnya.
Aku melangkah keluar dari ruangan itu dengan lutut yang terasa lemas, namun memiliki tekad yang telah mengeras seperti baja.
Sambil berjalan menuruni tangga mengendap-endap, aku merogoh saku jaketku, mengeluarkan selembar kertas berisi jadwal konvoi senjata Jenderal Sudiro yang ditinggalkan Arlan untukku pagi tadi.
Pukul sebelas malam nanti.
Arlan berencana menghancurkan salah satu pilar ayahku malam ini, di tengah jalan raya kota. Dan sekarang, setelah membaca tumpukan dosa di brankas tadi, aku tahu persis di mana aku harus berdiri.
Bukan sebagai polisi yang menghentikan sang Joker. Melainkan sebagai orang yang akan memastikan bahwa keadilan akhirnya ditegakkan, tak peduli serusak apa pun caranya.
Mataku menatap tajam ke arah kertas laporan pembunuhan yang menyembul dari resleting tasku.
"Dokumen ini seharusnya tidak ada."