Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Udara Bogor yang seharusnya sejuk tidak mampu mendinginkan suasana hati Aurora. Pemotretan hari ini dilakukan di sebuah vila bergaya kolonial dengan taman bunga yang luas. Aurora baru saja menyelesaikan sesi terakhir dengan gaun floral yang menjuntai indah, namun begitu kamera mati, fokusnya langsung beralih pada ponsel di genggamannya.
Ia duduk di kursi rotan di bawah pohon ek besar, mengabaikan kru yang sedang sibuk membereskan properti. Jemarinya dengan lincah mengetik pesan, mengirimkan rentetan stiker, hingga mencoba melakukan panggilan suara.
Aurora: Mas, udah pulang dari Istana?
Aurora: Capek nggak? Aku dapet kiriman asinan Bogor nih, mau nggak nanti aku bawain?
Aurora: [Stiker Kucing Bawa Makanan]
Aurora: Mas Langiiiiiit! Kok centang satu sih?
Aurora: Sinyal di sana jelek ya?
Aurora mengerutkan kening. Sudah hampir satu jam pesan-pesannya hanya menunjukkan satu centang abu-abu. Ia memeriksa koneksi internetnya, semuanya lancar. Ia mencoba me-refresh aplikasi WhatsApp-nya berkali-kali, namun foto profil Langit yang tadinya memperlihatkan pria itu dalam seragam dinas, kini menghilang—hanya menyisakan ikon abu-abu kosong.
"Kok nggak dibales? Dia juga nggak online," gumam Aurora cemas. Perasaan tidak enak mulai merayap di dadanya.
"Kak May! Kak May!" teriak Aurora memanggil asistennya yang sedang sibuk membereskan baju-baju di koper.
Mayang menghampiri dengan wajah lelah. "Apa lagi, Ra? Mau pulang sekarang? Sabar, ini koper terakhir."
"Bukan itu. Pinjem handphone Kakak dong, bentar aja!"
"Buat apa? Hp lo kan canggih, masa rusak?" tanya Mayang curiga, namun ia tetap menyerahkan ponselnya.
Aurora dengan cepat memasukkan nomor Langit ke kontak ponsel Mayang. Jantungnya berdegup kencang saat ia membuka profil nomor tersebut di aplikasi WhatsApp milik Mayang. Matanya membelalak. Di ponsel Mayang, foto profil Langit terlihat jelas. Statusnya pun tertulis 'Online'.
"Loh... ini kok ada fotonya?" suara Aurora bergetar. Ia membandingkan dengan ponsel miliknya sendiri yang masih menunjukkan ikon kosong dan centang satu. "Di WA aku fotonya nggak ada. Statusnya juga nggak kelihatan."
Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Aurora. "Aku... diblokir? Mas Langit blokir aku?"
"Hah? Diblokir?" Mayang ikut mengintip. "Mungkin dia nggak sengaja kepencet kali, Ra."
"Nggak mungkin nggak sengaja, Kak! Mas Langit itu orangnya teliti banget. Dia pasti sengaja!" Aurora langsung berdiri, mengabaikan rasa nyeri di perutnya yang masih sesekali datang. Rasa sakit di hatinya jauh lebih mendominasi sekarang.
Tanpa pikir panjang, Aurora langsung menelepon Pak Bambang melalui ponselnya. Beruntung, telepon itu langsung diangkat.
"Halo, Pak Bambang!" Aurora berseru tanpa salam, suaranya sudah hampir menangis.
"Eh, iya Non? Ada apa? Non sudah mau pulang?" suara Pak Bambang terdengar tenang dari seberang sana.
"Pak... Mas Langit ada? Dia udah di rumah?"
"Ada, Non. Baru saja sampai, ini kami sedang di pos, lagi serah terima tugas setelah dari Istana."
"Suruh dia buka blokirnya dong, Pak! Bilangin ke dia, kok aku diblokir? Aku salah apa? Masa gara-gara aku godain tadi pagi dia sampai segininya?" Aurora mulai meracau, air matanya mulai luruh satu per satu, merusak riasan matanya yang mahal.
Di pos penjagaan, Pak Bambang menatap Langit yang berdiri kaku di depannya. Pak Bambang menghela napas, merasa tidak tega. Ia mengarahkan ponselnya ke arah Langit dan memberikan kode agar Langit mendekat.
"Ngit, ini Non Aurora. Dia nangis. Dia nanya kenapa kamu blokir dia," bisik Pak Bambang pelan.
Langit terdiam. Wajahnya tetap datar, namun matanya menatap ponsel Pak Bambang dengan tatapan yang sangat dingin—dingin yang dipaksakan. Ia mengambil ponsel itu dari tangan Pak Bambang, namun tidak menempelkannya ke telinga. Ia hanya menekan tombol speaker.
"Halo, Non Aurora," suara Langit terdengar sangat formal, bahkan lebih kaku daripada saat pertama kali mereka bertemu.
"Mas! Mas kenapa blokir aku? Aku minta maaf kalau aku keterlaluan, aku—"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Non," potong Langit dengan suara yang tidak memiliki emosi sama sekali. "Saya memblokir nomor Non karena itu adalah hal yang benar. Tidak seharusnya seorang ajudan memiliki jalur komunikasi pribadi dengan putri atasannya di luar urusan pekerjaan."
"Tapi Mas, kemarin kan Mas udah janji—"
"Itu kesalahan saya," Langit memutus kalimat Aurora lagi. "Saya baru saja mendapatkan teguran keras dan pengingat tentang posisi saya yang sebenarnya. Saya adalah staf di rumah ini, dan Non adalah majikan saya. Garis itu tidak akan pernah berubah, Non. Mohon jangan hubungi saya lagi di luar protokol resmi. Tugas saya adalah menjaga keamanan Anda, bukan menjadi teman Anda."
Deg.
Aurora merasa jantungnya seperti diremas kuat. Kata-kata Langit barusan jauh lebih menyakitkan daripada bentakan kakaknya atau sindiran ayahnya semalam. Ini bukan lagi soal kaku, ini adalah penolakan mentah-mentah.
"Mas... Mas beneran ngomong gitu?" suara Aurora hampir hilang, tenggelam dalam isak tangis.
"Selamat sore, Non. Saya harus bertugas kembali."
Pip.
Sambungan telepon itu terputus sepihak dari ujung sana. Langit mengembalikan ponsel itu ke Pak Bambang tanpa sepatah kata pun, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju paviliun, meninggalkan Pak Bambang yang hanya bisa mengusap wajahnya dengan rasa bersalah.
Di teras vila di Bogor, Aurora masih memegang ponselnya yang sudah mati. Ia menatap kosong ke arah taman bunga. Air matanya kini mengalir deras, membasahi pipinya. Semua keberanian, semua rasa percaya dirinya sebagai "cegil" yang tangguh, runtuh seketika.
"Ra... lo oke?" Mayang mendekat, merangkul bahu Aurora dengan lembut.
Aurora tidak menjawab. Ia hanya menggeleng lemah, lalu tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu di pelukan Mayang. Rasa sakit menstruasi, rasa lelah bekerja, dan hantaman kenyataan dari Langit meledak menjadi satu.
"Dia jahat, Kak... Mas Langit jahat banget," isak Aurora.
"Sabar, Ra... Mungkin ini emang cara dia buat jagain lo," hibur Mayang, meski ia sendiri tahu kata-kata itu tidak akan mempan.
Aurora melepaskan pelukan Mayang, menghapus air matanya dengan kasar. Ia menatap ponselnya, lalu menatap ke arah jalan pulang menuju Jakarta.
"Tadi pagi Papa ngomong apa sama dia?" gumam Aurora pelan, matanya yang sembab kini memancarkan rasa ingin tahu yang besar sekaligus rasa perih yang mendalam. "Pasti Papa yang bikin dia kayak gini."
Aurora masuk ke dalam mobil dengan langkah yang tak lagi ringan. Tidak ada lagi senyum. Tidak ada lagi semangat. Di dalam mobil yang sunyi itu, Aurora hanya bisa mendekap botol kompres hangat dari Langit yang masih ia bawa—satu-satunya sisa kebaikan pria itu yang kini terasa seperti ejekan bagi hatinya yang sedang patah.
aurora gitu dechhhh
penyelamatttt