NovelToon NovelToon
Kehidupan Ke 2 Legenda Raja Pembunuh

Kehidupan Ke 2 Legenda Raja Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:872
Nilai: 5
Nama Author: Iqbal Pertha

black hole yang menjadi legenda pembunuhan di masanya kini sedang berbaring lemah menahan rasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

" dalam hidup ini aku sudah banyak melakukan dosa, dan sudah tidak terhitung berapa nyawa yang aku hilangkan."

" jika sakit ini menjadi menjadi penebus atas dosaku, maka aku bersumpah di kehidupan keduaku aku akan menjadi seorang yang lebih baik dan tidak akan menghilangkan nya orang lagi kecuali itu terpaksa. "

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqbal Pertha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

alam menjadi saksi

" kakak seperti nya kamu memiliki tamu." ucap p firman.

" sial ay.... Sasa...." ucap Wira turun dengan terburu buru, firman juga tidak diam dia segera menyusul.

Wira dengan sangat cepat Melawati tangga menuju tempat yang menjadi tempat tinggalnya selama ini, perasaan takut menyeruak di kepalanya, walau dalam kehidupan ini ayu dan Sasa bukan keluarganya, tapi keduanya sudah di berikan kepadanya yang artinya Wira harus bisa menjaganya.

jarak semakin dekat suara tangisan Sasa sudah jelas di telinga Wira, dia berlari semakin cepat hingga sampai di tempat tinggalnya Wira langsung memanggil nama Sasa anaknya.

" Sasa, Sasa ayah datang nak...." ucap Wira.

" ayah ayah... Ayah... Ayah...." ucap Sasa.

Wira mengambil Sasa dari Tanga ayu wajah khawatir terlukis jelas di wajahnya ayu dapat melihat itu, dan ntah apa ayu dengan rela melepaskan Sasa pada Wira.

ayah ayu yang melihat Wira segera berkata sarkas dan kasar bahkan mengumpat dengan menyebutkan beberapa nama hewan.

Ayu mencoba menenangkan sang ayah hanya saja sepertinya ayahnya itu begitu marah pada Wira.

" Sasa... Tenang sayang...., cup cup cup, anak ayah kuat...." ucap Wira lembut dan hangat menggosok lembut punggung Sasa dan membaringkan kepala Sasa di bahunya.

" ayah...ayah kembali....." suara Sasa masih di sertai sesegukan.

" ayah pasti kembali ayah kan sudah berjanji...." ujar Wira.

" ayah kakek jahat kakek berkata hal buruk tentang ayah Sasa tidak suka, kakek juga mau membawa pergi mama dan Sasa dari ayah, Sasa mau ayah....." ucap Sasa tidak terasa air mata Wira menetes, Wira mengingat bagaimana dirinya yang begitu jahat dan tega.

" Sasa tenang saja, ayah tidak akan biarkan siapapun membawa Sasa dan mama, selamanya Sasa ayah dan mama akan bersama." ucap Wira.

" ayah cengeng, ayah cengeng...." ucap Sasa mengusap air mata Wira ayu yang menyaksikan itu hanya bisa menangis terisak dia ingin sekali berteriak.

" iya ayah cengeng...." ucap Wira.

" Sasa akan memeluk ayah, mama melakukan itu saat Sasa menangis dan Sasa tidak menangis lagi." ujar Sasa begitu menusuk hati Wira.

Bagai mana bisa seorang anak yang begitu murni ini dahulunya di terlantarkan, bukankah seharusnya anak sepertinya sedang asik asiknya bermain. Wira menangis didalam hati pelukan dari anaknya itu memberi kekuatan.

Ayu Bahakan Tampa sadar menjatuhkan dirinya dalam dekapan suaminya yang sudah lama tidak dia dapatkan. tangisnya pecah di sana ayu menyembunyikan semuanya dari Sasa agar tidak melihat itu.

" Sasa ayah mama dan juga kakek perlu mengobrol, karena ini obrolan orang dewasa apa Sasa bisa untuk sebentar...." ucapan Wira terpotong karena Sasa dengan sangat pintar melanjutkan kan perkataan Wira.

" pergi atau menghindari karena obrolan orang dewasa tidak baik untuk anak kecil. Itu yang mama ucapkan pada Sasa." ucap Sasa.

" pintar sekali anak ayan, lihat itu adalah om firman." ujar Wira.

" halo Sasa." ujar firman dia juga terbawa suasana haru itu.

" halo om...." jawab sasa

" Sasa akan pergi bersama on firman sebentar Samapi ayah mama dan kakek selesai mengobrol, apa Sasa bisa." tanya Wira.

" bisa...tapi apa itu lama." ucap Sasa sepertinya tidak mau berpisah terlalu lama.

" tidak lama ayah janji." ucap Wira.

" baik Sasa setuju." ucap Sasa.

" bagus Sasa bisa dapatkan oleh oleh Sasa ayah meninggalkannya di bawah. Maaf ayah lupa." ucap Wira.

" waaaaah.... Boneka beruang putih." ucap Sasa semangat.

" tepat sekali." ucap Wira.

" wah...." ucap Sasa bahagia.

" ayo tuan putri kita ambil hadiahnya." ujar firman.

Akhirnya Sasa pun sudah pergi bersama firman tapi harmoni kesedihan masih begitu menggetarkan hati.

" ay... Maafkan aku kali ini keluarga kita terutama kamu dan Sasa akan selamanya bahagia " ucap Wira.

" cuiiiiiih......" ayah ayu meludah.

" ayah mertua...." ujar Wira menyapa tapi sudah di sambar oleh ucapan ayah ayu.

" kamu masih tau cara kembali, kenapa kamu masih kembali, tidak pergi saja selamanya, kau sudah menghancurkan masa depan anak ku dengan pernikahan, sekarang kau mau membunuhnya juga dengan penderitaan. hari ini akan ku pastikan untuk membunuhmu." ucap ayah ayu.

Memukul kan tongkat kayu milik nya itu tepat di kepala Wira, Wira diam tidak melawan tidak pula menghindar, Wira sadar orang di depannya ini sedang berperan sebagai ayah dari anak nya yang sengaja Wira sakiti selama beberapa tahun.

Wira mematung tidak terhuyung atau meringis sakit, cairan kental berwarna merah sedikit demi sedikit mulai mengalir dari kepalanya. Luka kecil sebelumnya sepertinya bertambah parah.

ayu dan Santi mereka menutup mata melihat itu dan ketika membuka mata melihat Wira berdarah ayi tak tahan untuk diam, sedang Santi dia menutup mulutnya takut bersuara terlalu keras.

Sedang ayah ayu yang di kuasai amarah masih sempat memukul beberapa kali di tubuh Wira sebelum terhenti karena teriakan ayu.

" berhenti......( suara keras ), ayah ini negara hukum ada hukam dalam setiap kekerasan." ucap ayu.

Ayah ayu gemetar dia masih sangat ingin memukul hingga mati si Wira.

" ay jangan hentikan ayah mertua biarkan saja." ucap Wira.

" apa.... Apa kamu bilang, biarkan saja, setelah semua yang terjadi kamu bilang biarkan saja, ayah ingin membunuh mu kamu bilang biar saja. apa kamu masih memikirkan perasaan kami, hah... Bajingan sampai kapan kau akan menyiksa batinku dan Sasa hah....." ayu memukuli dada Wira. Sambil histeris menangis, Wira tau ayu sedang meluapkan semua isi hatinya saat ini Wira tidak menghentikannya Wira hanya membawa ayu dalam pelukannya untuk memberinya kekuatan.

butuh waktu untuk akhirnya ayu tenang kemudian ayu berdiri membelakangi Wira dan menghadapi sang ayah.

" ayah keputusanku sudah bulat aku tidak akan ikut ayah atau pergi kemanapun, di sini rumahku dan di sini juga keluargaku, entah ayah suka atau tidak suka ini keputusanku." ujar ayu.

" ayu apa kamu bodoh, masih mau tinggal dengan bangsat ini." ucap ayahnya.

" yah..... Aku sudah memutuskan ini juga demi Sasa yang tidak mau kehilangan sosok ayahnya, hari ini aku katakan dengan jelas, setelah hari ini jika dia suamiku masih berani menyakiti aku atau anakku, akan aku pastikan dengan cara apapun aku akan membawanya dalam kematian." ucap ayu.

Jduaaaaaar...... Petir menyambar tepat diatas mereka sepertinya alam juga menyaksikan hal ini.

" Tidak aku tidak setuju." keras kepala ayah ayu.

" ayah mertua dulu aku memang salah tapi mulai detik ini dan seterusnya aku tidak akan pernah menyakiti ayu mau pun Sasa aku akan slalu membahagiakan mereka." ujar Wira.

Jeeeeddduuuuuuaaaaaaar...... Suara petir lebih keras dan Bahakan sepertinya akan menghancurkan bangunan itu menyambar lagi.

hati ayah ayu sedikit goncang dia tidak bisa juga terlalu memaksa, karena dia sadar akan menyakiti mereka, dan itu membuktikan apa beda dirinya dengan Wira yang dulu

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!