Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Sembilan Ranah Bintang
Pagi hari di Hutan Bambu Ungu terasa tenang dan jernih, cahaya matahari menembus sela-sela batang bambu yang menjulang tinggi, memantulkan warna ungu yang lembut ke tanah dan menciptakan bayangan panjang yang bergerak perlahan tertiup angin. Suasana hutan dipenuhi ketenangan, namun di balik itu tersimpan aura kuat yang membuat setiap helaan napas terasa berbeda.
Di tengah hamparan bambu itu, Meng Wu berdiri dengan sikap tegap, auranya stabil seperti petir yang tertahan. Di hadapannya, Long Chen, Mo Fan, dan Ling Er berdiri berjajar, masing-masing membawa ekspresi yang berbeda, namun sama-sama fokus.
Sementara itu, Shi Hao tetap berada di rumah, menjaga Mei Ling yang masih belum sepenuhnya pulih.
Meng Wu menatap satu batang bambu ungu di hadapan mereka, batangnya tegak dan memancarkan aura halus yang terasa kokoh, seolah menantang siapa pun yang mencoba menebasnya. Ia kemudian berkata dengan suara tegas, “Latihan pertamamu adalah memotong bambu ini menjadi dua. Apakah kau siap, Long Chen?”
Long Chen menggenggam pedangnya dengan lebih erat, jemarinya menyesuaikan pegangan, sementara tatapannya berubah serius. Tidak ada lagi keraguan di wajahnya.
“Aku siap, Guru,” jawabnya mantap.
Di sampingnya, Ling Er sedikit mendekat lalu berbisik pelan agar hanya Long Chen yang mendengar. “Aku butuh seminggu untuk bisa memotongnya,” ucapnya jujur, matanya masih tertuju pada batang bambu di depan mereka. “Ini bukan bambu biasa seperti di dunia bawah, bambu ini sangat keras.”
Long Chen mengangguk kecil, tidak mengalihkan pandangannya dari target di depannya. “Guru juga sudah menjelaskannya kepadaku sebelumnya,” jawabnya tenang, namun genggaman pedangnya sedikit mengencang, menunjukkan bahwa ia tidak meremehkan tantangan itu.
Mo Fan tiba-tiba menepuk kepala Long Chen dengan santai, senyumnya ringan namun penuh keyakinan. “Aku yakin kau bisa lebih cepat dari itu, junior Long Chen. Kau harus percaya diri, oke,” ucapnya dengan nada menyemangati.
Long Chen sedikit terkejut dengan perlakuan itu, namun kemudian tersenyum kecil, rasa tegang di dalam dirinya sedikit berkurang.
“Terima kasih, Senior,” jawabnya tulus.
Meng Wu memberi isyarat dengan satu anggukan singkat. “Mo Fan, bisakah kau memberikan contoh untuk Long Chen?” ucapnya tegas.
Mo Fan langsung melangkah maju tanpa ragu. “Aku bersedia, Guru,” jawabnya mantap.
Ia kemudian menoleh ke arah Long Chen, ekspresinya berubah lebih serius dari sebelumnya. “Perhatikan baik-baik, junior Long Chen. Amati setiap gerakanku,” katanya dengan nada tenang namun penuh fokus.
Sreet, pedang itu terhunus dalam satu gerakan halus yang hampir tidak terdengar, kilau bilahnya memantulkan cahaya di antara bambu-bambu ungu. Mo Fan langsung melompat ke udara dengan gerakan yang ringan dan terkontrol, tubuhnya seolah menyatu dengan aliran angin, cepat namun tetap bersih tanpa gerakan yang sia-sia.
Dalam satu tebasan, pedangnya turun dengan presisi yang sempurna.
Krak.
Batang bambu ungu itu terbelah menjadi dua dengan potongan yang rapi, seolah tidak pernah memiliki ketahanan sama sekali.
Mo Fan mendarat dengan tenang, kakinya menyentuh tanah tanpa suara, seolah gravitasi pun tunduk pada kendalinya. Ia menoleh ke arah Long Chen dengan ekspresi santai namun penuh keyakinan. “Bagaimana, junior, sudah mengerti?” tanyanya.
Long Chen mengangguk mantap, tatapannya fokus dan lebih tajam dari sebelumnya. “Aku mengerti, Senior. Aku sudah mengamati semua gerakanmu,” jawabnya dengan serius, lalu menambahkan dengan sopan, “Terima kasih.”
Meng Wu melirik ke arah Long Chen, sorot matanya tajam namun penuh ekspektasi. “Long Chen, sekarang giliranmu,” ucapnya tenang, namun jelas memberi tekanan.
Long Chen melangkah maju, pedangnya masih tergenggam erat di tangannya.
Di samping, Ling Er menyilangkan tangan sambil tersenyum kecil, nada suaranya terdengar santai namun sedikit menggoda. “Sepintar apa pun kau, tidak mungkin bisa melakukannya dalam satu hari,” katanya ringan, seolah ingin menguji tekadnya.
Long Chen mengangkat pedangnya perlahan, genggamannya menguat seiring ia mencoba menenangkan dirinya. Ia menutup mata sesaat, mengatur napas seperti yang ia lihat dari Mo Fan tadi, mencoba meniru setiap detail yang masih terpatri di pikirannya.
Lalu ia membuka mata.
“Haaah!” teriaknya, seluruh tenaganya ia kerahkan dalam satu ayunan.
Pedangnya melesat ke depan.
DANG!
Suara benturan keras menggema di antara bambu-bambu ungu, memantul jauh ke dalam hutan.
Namun bambu itu tetap tidak terbelah, hanya menyisakan bekas tipis di permukaannya yang hampir tidak berarti. Long Chen tidak menyerah, ia kembali mengangkat pedangnya dan mencoba lagi, lalu sekali lagi, mengerahkan tenaga yang sama bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Namun hasilnya tetap sama.
Tidak ada perubahan.
Setiap tebasan hanya meninggalkan goresan kecil, sementara batang bambu itu tetap berdiri kokoh seolah tidak tersentuh.
Tangannya mulai gemetar akibat benturan yang terus berulang, napasnya menjadi berat, dan keringat mulai membasahi dahinya.
Perlahan, ia menurunkan pedangnya.
Kepalanya tertunduk.
Ada rasa kecewa yang muncul, bukan karena ia tidak mencoba, tetapi karena ia sudah berusaha… dan tetap gagal.
Mo Fan menghampiri Long Chen dengan langkah santai, ekspresinya tidak menunjukkan kekecewaan sedikit pun. Ia menepuk bahu Long Chen dengan ringan, berusaha menenangkan. “Tidak apa-apa,” ucapnya dengan nada hangat.
Ia lalu tersenyum tipis sebelum melanjutkan, “Latihan pertama memang selalu terasa sulit, apalagi dengan bambu seperti ini.”
Tatapannya tetap tenang, penuh keyakinan. “Tapi suatu saat… kau pasti bisa. Tenang saja, oke.”
Meng Wu kemudian berkata dengan nada tenang namun tegas, “Sepertinya aku harus pergi ke Aula Besar. Ketua Sekte memanggilku.”
Ia menoleh ke arah Mo Fan, tatapannya penuh kepercayaan. “Latihan Long Chen untuk sementara aku serahkan padamu,” lanjutnya singkat.
Mo Fan langsung mengangguk tanpa ragu. “Baik, Guru,” jawabnya mantap.
Tanpa menunda, Meng Wu melangkah mundur sedikit, lalu dalam satu gerakan ringan ia berdiri di atas pedangnya. Bilah itu terangkat ke udara, membawa tubuhnya melayang dengan stabil sebelum melesat cepat meninggalkan tempat itu.
Ling Er mengangkat tangannya dan melambaikan dengan semangat. “Hati-hati, Guru!” serunya.
Setelah itu, Mo Fan berdiri tepat di depan Long Chen, ekspresinya berubah lebih serius dibandingkan sebelumnya, seolah memasuki peran sebagai pembimbing yang sesungguhnya. “Sekarang kita mulai dari dasar dulu, hal yang paling penting,” ucapnya dengan nada tenang.
Ia lalu duduk santai di atas batu, namun aura di sekitarnya tetap stabil dan dalam. “Di awal, aku akan menjelaskan tentang ranah di dunia kultivasi ini, supaya kau benar-benar mengerti seperti apa dunia yang sedang kau masuki,” lanjutnya.
Long Chen langsung menegakkan tubuhnya, matanya fokus tanpa berkedip.
Mo Fan mulai menjelaskan dengan nada tenang namun penuh wibawa, memastikan setiap kata dapat dipahami dengan jelas. “Di dunia ini, kekuatan tidak datang begitu saja, semuanya dibagi dalam beberapa tingkatan yang disebut ranah,” ujarnya sambil menatap Long Chen.
Ia kemudian melanjutkan, menyebutkannya satu per satu dengan jelas, “Dimulai dari Ranah Mortal Star atau Bintang Fana, lalu meningkat ke Ranah Earth Star atau Bintang Bumi, kemudian Ranah Sky Star atau Bintang Langit, dilanjutkan dengan Ranah Mystery Star atau Bintang Misteri.”
Nada suaranya tetap stabil saat ia meneruskan, “Setelah itu ada Ranah King Star atau Bintang Raja, kemudian Ranah Sovereign Star atau Bintang Penguasa, lalu Ranah Saint Star atau Bintang Suci, dan Ranah Ancient Star atau Bintang Kuno.”
Ia berhenti sejenak sebelum menyebutkan yang terakhir, seolah memberi penekanan khusus. “Dan yang tertinggi… adalah Ranah Divine Star, atau Bintang Ilahi.”
Suasana menjadi sedikit lebih berat.
Mo Fan menatap Long Chen lebih dalam. “Ranah terakhir itu sangat sulit dicapai. Bahkan di era sekarang, hanya segelintir orang yang mampu menyentuhnya,” ucapnya pelan.
Ia kemudian menambahkan dengan nada serius, “Bahkan Ketua Sekte kita sendiri… baru mencapai Ranah Bintang Kuno.”
Long Chen terdiam, matanya sedikit menunduk saat ia mencerna semua penjelasan tadi. Dunia yang ia kenal terasa semakin luas, bahkan jauh melampaui bayangannya sebelumnya. “Jadi… ini baru permulaan…” gumamnya pelan.
Mo Fan tersenyum, melihat perubahan di wajahnya. “Benar,” jawabnya singkat.
Ia kemudian berdiri perlahan, auranya kembali fokus. “Sekarang kita mulai dari teknik dasar pedang,” lanjutnya dengan nada lebih serius.
Tatapannya tertuju pada Long Chen. “Fokuskan dirimu pada qi di dalam tubuhmu. Rasakan alirannya, jangan dipaksa, biarkan mengalir dengan stabil.”
Ia mengangkat satu jari, memberi penekanan. “Kalau qi-mu stabil, maka tebasanmu tidak hanya mengandalkan tenaga, tapi juga kekuatan dari dalam.”
Mo Fan menoleh ke arah bambu ungu di depan mereka. “Dengan begitu, kemungkinan besar kau akan bisa memotong bambu itu.”
Latihan berlangsung hingga sore hari, waktu berlalu tanpa terasa di tengah ayunan pedang yang terus diulang. Keringat membasahi tubuh Long Chen, pakaiannya mulai lengket, dan napasnya beberapa kali tersengal karena kelelahan yang menumpuk.
Namun ia tidak berhenti.
Setiap gerakan yang ia lakukan kini tidak lagi sembarangan, melainkan mulai mengikuti ritme yang diajarkan Mo Fan, perlahan mencoba merasakan aliran qi di dalam tubuhnya.
End Chapter 17