NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Akar Pahit dan Rahasia Penutup Celah

​Lonceng pergantian jam pelajaran yang biasanya terdengar biasa saja, kini bergema di telinga Dara Kirana bagaikan alarm dari dunia nyata yang berusaha menariknya keluar dari alam mimpi buruk.

​Dara masih terduduk di atas lantai kayu perpustakaan yang dingin. Di hadapannya, pecahan kaca jendela nako berserakan memantulkan cahaya matahari pagi, sementara di udara, sisa-sisa aroma ozon, pinus terbakar, dan anyir darah perlahan mulai menguap.

​Gadis itu menunduk, menatap pergelangan tangannya. Bekas cengkeraman Willem van Deventer tertinggal di sana—bukan memar biru atau merah layaknya luka fisik biasa, melainkan cetakan jemari berwarna pucat keabu-abuan yang terasa sedingin balok es. Hawa kematian dari sang Opsir Darah seolah telah meresap ke bawah lapisan kulitnya.

​Aku tidak boleh diam di sini, batin Dara. Insting bertahan hidupnya kembali mengambil alih kemudi. Kalau ada guru yang datang dan melihat kaca pecah ini, aku tidak akan bisa menjelaskannya.

​Dengan gerakan kaku, Dara memaksakan diri untuk bangkit berdiri. Lututnya masih sedikit gemetar. Ia menarik lengan sweter seragamnya ke bawah, menyembunyikan jejak beku di pergelangannya, lalu berjalan setengah berlari meninggalkan sayap barat yang sunyi itu.

​Setibanya di toilet perempuan dekat koridor utama, Dara langsung menuju wastafel. Ia menyalakan keran air dingin hingga maksimal dan membasuh wajahnya berkali-kali. Air yang menetes dari dagunya terasa tidak lebih dingin dibandingkan suhu tubuh Willem maupun ledakan energi Pawang yang ia keluarkan semalam.

​Dara menatap pantulan dirinya di cermin yang sedikit kusam. Gadis kota Jakarta yang rapuh, yang meringkuk menangis meratapi kecelakaan pesawat terbang enam bulan lalu, kini tampak memudar. Mata cokelat terangnya kini menyimpan bayang-bayang kegelapan Lembah Marapi. Ia baru saja diancam oleh makhluk penghisap darah berusia dua abad, diselamatkan oleh monster harimau yang sedang sekarat karena nafsunya sendiri, dan dengan nekat menantang monster itu untuk bekerja sama.

​Dara menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang nyata, lalu mengembuskannya perlahan. Satu masalah pada satu waktu, rapalnya dalam hati. Sekarang, berpura-puralah menjadi murid normal.

​Begitu Dara melangkah keluar dari toilet dan kembali ke kelas XI-IPA 1, pelajaran Sejarah baru saja akan dimulai. Santi melambai padanya dari bangku tengah dengan wajah lega.

​"Kamu dari mana aja sih, Ra? Katanya nyusul cepat," bisik Santi begitu Dara duduk di sebelahnya. "Untung Pak Johan baru aja masuk."

​"Maaf, San. Perutku tiba-tiba agak mulas tadi," bohong Dara lancar, mengeluarkan buku catatannya.

​Baru saja Pak Johan membalik halaman buku paketnya, pintu kelas diketuk. Seorang guru piket masuk dengan wajah sedikit tegang.

​"Permisi, Pak Johan. Mohon perhatiannya untuk anak-anak semua," suara guru piket itu menghentikan aktivitas kelas. "Pemberitahuan dari pihak sekolah, mulai hari ini sampai batas waktu yang belum ditentukan, perpustakaan sayap barat ditutup total. Tadi pagi ada dahan pohon mahoni tua yang patah dan menghancurkan jendela serta beberapa rak buku di sana. Area itu berbahaya karena banyak pecahan kaca dan struktur kayunya lapuk. Jangan ada yang bermain di sekitar sana."

​Dara menundukkan kepalanya, pura-pura mencoret-coret buku catatannya.

​Dahan pohon patah. Alasan itu terdengar sangat klasik, sangat rapi. Dara menyadari betapa kuatnya pengaruh keluarga Bagaskara di sekolah ini. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi mereka untuk mengatur skenario dan menutup akses ke lokasi kejadian, memastikan bahwa tidak ada satu pun murid manusia yang mencium keanehan dari kaca yang pecah berantakan akibat ledakan uap panas Indra. Di desa ini, rasionalitas dibengkokkan demi menjaga kewarasan massal.

​"Tuh kan, aku bilang juga apa," bisik Santi sambil menyenggol lengan Dara. "Sayang banget, padahal kamu tadi mau cari buku di sana, kan? Untung kamu nggak kena runtuhan dahannya."

​"I-iya, untung saja," jawab Dara dengan senyum tipis yang dipaksakan. Seandainya dahan pohon adalah hal terburuk yang ada di perpustakaan itu.

​Sisa jam sekolah dihabiskan Dara dengan melamun. Peringatan Indra terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak: Bulan baru tinggal tiga hari lagi. Aku yang akan mencarimu. Aku yang akan menjadi monster yang mengakhiri hidupmu. Tiga hari. Waktunya sangat sempit. Ia harus berbicara dengan Kakek Danu.

​Lonceng pulang sekolah berbunyi. Kabut tebal yang menjadi ciri khas Lembah Marapi turun lebih awal dari biasanya, membawa hawa dingin yang menggigit tulang.

​Dara berjalan menuju parkiran sepeda. Saat ia mengayuh ontelnya melewati gerbang, ekor matanya menangkap keberadaan Tio dan Adi—si kembar dari kawanan Ajag. Keduanya sedang duduk santai di atas jok motor, namun mata mereka mengawasi pergerakan Dara dengan tajam. Saat pandangan mereka bertemu, Tio memberikan anggukan kecil, sebuah sinyal tak kasat mata bahwa kawanan serigala menepati janji Bumi Arka untuk menjaganya.

​Perjalanan pulang menuju rumah Kakek Danu terasa lebih mencekam dari sebelumnya. Mengetahui bahwa hutan di sekitarnya bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan rumah bagi pemangsa-pemangsa kuno, membuat setiap bayangan daun pinus terlihat seperti cakar yang siap menerkam.

​Ketika Dara akhirnya tiba di halaman rumah, ia melihat asap tipis mengepul dari cerobong dapur.

​Jantungnya melonjak lega. Kakek Danu sudah pulang.

​Dara menyandarkan sepedanya sembarangan dan berlari menaiki anak tangga beranda. Ia mendorong pintu depan yang tidak terkunci dan langsung mencium aroma yang sangat menyengat. Bau itu tidak seperti rendang atau masakan normal lainnya. Aromanya campuran antara tanah basah, akar pahit, belerang, dan kayu terbakar.

​Dara melangkah tergesa menuju dapur.

​Di sana, Kakek Danu berdiri di depan kompor minyak tanah. Pria tua itu tampak sangat lelah; kantung matanya menebal, pakaiannya terkena noda lumpur, dan rajah tato di punggungnya sedikit terlihat dari kerah kemejanya yang kendor. Ia sedang mengaduk sebuah panci tanah liat kecil berisi cairan pekat berwarna hitam kehijauan.

​"Kakek!" seru Dara, menghampiri pria itu.

​Kakek Danu menoleh. Mata tuanya langsung memindai tubuh cucunya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya terpaku pada pergelangan tangan kiri Dara yang sedikit menyembul dari balik lengan sweter.

​Kakek Danu mematikan kompor dengan gerakan kasar, mengabaikan pancinya, dan melangkah cepat mendekati Dara. Pria itu menyambar pergelangan tangan Dara, menarik lengan sweter gadis itu hingga ke siku.

​Bekas cetakan jari pucat keabu-abuan itu masih ada di sana, menguarkan aura beku.

​Wajah Kakek Danu yang biasanya setenang permukaan danau kini berubah menjadi sekeras batu karang. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot di pelipisnya menonjol. Kemarahan dan ketakutan bercampur baur di matanya.

​"Di mana kau bertemu dengannya, Dara?" suara Kakek Danu terdengar pelan, namun mengandung ketajaman sebilah pisau belati. "Di mana Opsir Darah itu menyentuhmu?!"

​"Di... di perpustakaan sekolah, Kek," jawab Dara terbata. Reaksi kakeknya membuat teror yang sejak tadi siang ia tekan kini kembali merayap naik. "Tadi pagi. Ruangannya kosong. Dia tiba-tiba muncul dan menahanku. Dia bilang namanya Willem."

​Kakek Danu melepaskan tangan Dara, berbalik, dan memukul meja dapur kayu dengan kepalan tangannya secara brutal. BRAK! Mangkuk-mangkuk berguncang hebat.

​"Sialan! Brengsek!" rutuk Kakek Danu. Ini adalah pertama kalinya Dara mendengar kakeknya mengumpat. "Batas pelindung di pemukiman ini benar-benar sudah hancur. Segel yang mengurungnya di kawah vulkanik bukan hanya melemah, tapi sudah jebol sepenuhnya. Beraninya lintah kolonial itu masuk ke area sekolah di siang hari!"

​"Dia takut pada matahari, Kek," tambah Dara cepat, berusaha memberikan informasi. "Dia menarikku ke tempat yang gelap. Sepatunya berasap saat nyaris terkena sinar matahari."

​"Tentu saja," desis Kakek Danu, mondar-mandir di dapur yang sempit. "Dia belum mengonsumsi Darah Pawang. Selama dia belum menghisap darahmu, tubuhnya yang terkutuk itu akan terus menolak matahari. Tapi fakta bahwa dia bisa mempertahankan wujud fisiknya hingga ke dalam gedung sekolah berarti energinya sudah pulih cukup banyak dari memakan makhluk-makhluk rendahan di hutan."

​Kakek Danu berhenti mondar-mandir, menatap Dara lamat-lamat. "Bagaimana kau bisa selamat? Kau menggunakan energi Pawangmu lagi?"

​Dara menggeleng. "Tidak. Indra... Indra Bagaskara datang. Dia menghancurkan kaca jendela untuk membiarkan cahaya matahari masuk. Willem menghilang ke dalam bayang-bayang."

​Mendengar nama pemuda Cindaku itu, Kakek Danu menghela napas panjang dan mengusap wajahnya yang kasar. Ironi dari situasi ini sangat menyesakkan. Pemangsa yang semalam berteriak ingin mengklaim Dara, pagi ini justru bertindak sebagai perisai yang menyelamatkan nyawanya.

​"Duduklah, Nduk," perintah Kakek Danu sambil menunjuk kursi rotan di dekat meja makan. Nada suaranya kembali melembut, dipenuhi oleh beban rasa bersalah. "Kau berhak tahu semuanya hari ini. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Waktunya sudah habis."

​Dara menurut. Ia menarik kursi dan duduk, menatap kakeknya yang kini mengambil dua buah cangkir kaleng dan menuangkan cairan hitam pekat dari panci tanah liat tadi ke dalamnya.

​Kakek Danu meletakkan satu cangkir yang masih mengepul di hadapan Dara. Bau pahit yang luar biasa menyengat membuat Dara refleks menutup hidungnya.

​"Minum ini perlahan-lahan. Jangan dihirup terlalu lama, rasanya akan membuatmu mual," kata Kakek Danu sambil duduk di seberangnya. "Ini adalah rebusan akar Pasak Bumi murni yang dicampur dengan getah Daun Ruruhi. Kakek harus mendaki Lereng Utara semalaman menembus badai untuk mendapatkan daun ini dari wilayah tetua Ajag."

​"Untuk apa ini, Kek? Apakah ini obat untuk luka sentuhan Willem?" tanya Dara ragu, menatap cairan hitam yang tampak seperti racun itu.

​"Ini bukan untuk lukamu. Ini untuk menutupi aromamu," Kakek Danu menatap mata Dara dalam-dalam. "Segel gaib di telapak tanganmu yang terbuka semalam saat kau mendinginkan Indra... segel itu memancarkan resonansi spiritual yang luar biasa kuat. Bagi makhluk seperti Willem, kaum Cindaku, atau Ajag, aroma energi Pawangmu tercium seperti oase di tengah padang pasir. Kau mengundang mereka. Ramuan Ruruhi ini akan 'mengotori' sirkulasi darahmu untuk sementara waktu. Ia akan meredam energi murnimu dan membuat aromamu di penciuman mereka menjadi pahit dan menjijikkan seperti abu vulkanik."

​Dara membelalak. Ia teringat kembali bagaimana Willem mengendus nadinya, dan bagaimana Indra menenggelamkan wajah di lehernya pagi tadi. Aromanya adalah kutukan utamanya.

​Tanpa ragu, meskipun bau cairan itu sangat memuakkan, Dara mengangkat cangkir kaleng itu dan meminumnya.

​Cairan itu menyentuh lidahnya. Rasanya benar-benar mengerikan—kombinasi antara tanah berlumpur, daun busuk, dan karat besi. Dara tersedak, matanya berair, dan perutnya langsung berkontraksi ingin memuntahkannya kembali. Namun, kakeknya menatapnya dengan keras.

​"Telan, Dara. Telan semuanya. Kau butuh perlindungan itu malam ini," tegas Kakek Danu.

​Dengan susah payah dan menahan napas, Dara menelan habis cairan hitam tersebut. Sensasi panas dan gatal langsung menjalar dari kerongkongan turun ke perutnya. Tubuhnya menggigil sejenak, dan ia bisa merasakan keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di keningnya.

​"Bagus," Kakek Danu menyodorkan segelas air putih untuk menetralkan mulut Dara.

​"Sekarang... ceritakan padaku tentang Willem," pinta Dara dengan suara parau setelah meneguk air putih. "Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia begitu terobsesi pada darahku?"

​Kakek Danu menyandarkan punggungnya, pandangannya menerawang menembus dinding dapur, kembali ke masa lalu yang telah terkubur berabad-abad lamanya.

​"Lebih dari dua ratus tahun yang lalu, saat Belanda pertama kali menancapkan kukunya di tanah Sumatera untuk mengeruk rempah dan kopi, datanglah seorang pria bernama Willem van Deventer," Kakek Danu memulai ceritanya dengan suara yang sarat akan dongeng kelam. "Dia bukanlah seorang kompeni biasa. Dia adalah pengikut aliran gelap dari Eropa Timur. Ia mencari keabadian, dan ia percaya bahwa tanah vulkanik Nusantara, dengan segala energi gaibnya, adalah kunci untuk mencapai hal itu."

​Dara mendengarkan tanpa berkedip. Sejarah yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun kini tergelar di hadapannya.

​"Willem melakukan ritual terlarang dengan mencampurkan darahnya dengan darah makhluk-makhluk gaib rendahan di hutan ini," lanjut Kakek Danu. "Ritual itu berhasil, namun cacat. Ia mendapatkan keabadian, kekuatan fisik yang melampaui manusia, dan ketahanan terhadap penyakit. Ia menjadi apa yang tetua kita sebut sebagai 'Opsir Darah'. Vampir pertama di tanah Marapi."

​"Tapi... dia tidak bisa terkena matahari," potong Dara teringat kejadian di perpustakaan.

​"Benar. Alam semesta selalu menuntut harga atas sesuatu yang melawan kodrat," Kakek Danu tersenyum pahit. "Matahari tropis kita menolak eksistensinya. Cahaya matahari membakar dagingnya. Dan untuk bertahan hidup, ia harus terus mengonsumsi darah manusia dan makhluk gaib. Willem mulai membantai warga desa dan anggota klan di pinggiran hutan. Ia menciptakan pasukan dari mayat-mayat hidup."

​Kakek Danu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saat itulah, untuk pertama dan terakhir kalinya dalam sejarah, kaum Cindaku dan kaum Ajag melupakan permusuhan wilayah mereka. Mereka bersatu untuk memerangi Willem. Namun, kekuatan fisik binatang tidak cukup untuk membunuh makhluk yang sudah mati."

​"Lalu... bagaimana mereka mengalahkannya?" tanya Dara, jantungnya berdebar kencang, firasat tentang garis keturunannya mulai bermunculan.

​"Mereka tidak bisa. Tapi leluhurmu bisa," mata Kakek Danu berkaca-kaca karena kebanggaan sekaligus kesedihan. "Nyai Ratih. Sang Pawang Rimba pertama. Keturunan darah murni yang energinya mampu memanipulasi alam. Nyai Ratih menggunakan darahnya sendiri sebagai media segel. Ia mengorbankan nyawanya di dasar kawah Marapi, menarik Willem dan pengikutnya ke dalam tidur panjang di bawah lautan lahar."

​Kamar dapur yang sempit itu tiba-tiba terasa sangat luas dan hampa. Dara mencerna informasi itu. Leluhurnya mengorbankan diri demi menyegel monster yang kini mengincarnya.

​"Darah mengikat darah, Nduk," Kakek Danu memegang tangan Dara yang gemetar. "Kini, segel itu telah lapuk dimakan zaman. Willem telah bangkit. Namun tubuhnya masih terikat oleh kutukan matahari. Satu-satunya cara agar Willem bisa mematahkan kutukan matahari itu dan berjalan di siang bolong sebagai penguasa abadi... adalah dengan mengonsumsi darah dari garis keturunan murni Nyai Ratih."

​Dara terkesiap. Satu gigitan, Nona Kirana. Hanya butuh satu tegukan darimu untuk memutus sisa kutukan... Kata-kata Willem kembali terngiang, kini dengan kejelasan yang mematikan.

​"Dia membutuhkan darahku untuk aklimatisasi," bisik Dara, merasa mual bukan lagi karena ramuan akar, melainkan karena realitas yang menjijikkan. "Dia ingin menjadikanku kunci untuk menjajah tempat ini lagi."

​Kakek Danu mengangguk berat. "Ya. Dan karena itulah, Cindaku dan Ajag akan berusaha setengah mati untuk melindungimu, atau malah... menyembunyikanmu. Jika Willem berhasil mendapatkanmu, seluruh klan di hutan ini akan musnah di bawah kekuasaan siang dan malamnya."

​Dara terdiam. Beban takdir ini terasa terlalu masif untuk pundak seorang gadis berusia delapan belas tahun. Ia bukan pejuang; ia hanya anak SMA yang kehilangan orang tuanya. Namun, ia juga tahu bahwa menangis tidak akan membuat Willem kembali ke peti matinya, dan tidak akan menolong Indra yang sedang berjuang melawan kegilaannya sendiri.

​"Kek," Dara mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah kakeknya. Tidak ada lagi ketakutan yang melumpuhkan di matanya. Yang ada hanyalah tekad yang mengkristal, persis seperti tekad yang ia tunjukkan pada Indra di perpustakaan. "Bulan baru tinggal tiga hari lagi. Indra memberitahuku bahwa Nafsu Rimba-nya akan mencapai puncaknya di malam itu. Dia bisa menjadi gila. Jika dia kehilangan akal sehatnya, Willem akan memanfaatkan kekacauan itu untuk menyerang, bukan?"

​Kakek Danu terlihat terkejut dengan analisis taktis cucunya, namun ia mengangguk perlahan. "Nafsu Rimba di bulan tak bersinar adalah titik terlemah sekaligus terkuat bagi Cindaku. Indra bisa merobek apa saja, termasuk dirinya sendiri."

​"Kalau begitu, Kakek harus mengajariku," kata Dara tegas, mengepalkan tangan kanannya hingga perbannya mengetat. Segel di baliknya berdenyut tipis, terhalang oleh ramuan akar yang baru saja ia minum, namun ia tahu energi itu masih ada. "Kakek harus mengajariku bagaimana mengendalikan segel ini. Bagaimana cara mendinginkan suhu tubuh Indra tanpa membuat diriku pingsan atau terikat secara emosional padanya."

​"Dara, latihan seorang Pawang tidak bisa dilakukan dalam tiga hari! Itu berbahaya!" Kakek Danu memperingatkan.

​"Sembunyi di dalam kamar juga tidak membuatku aman, Kek!" bantah Dara tak kalah keras. "Aku hampir digigit vampir di perpustakaan hari ini! Kakek tidak bisa selamanya memasakkanku akar berbau lumpur ini setiap hari. Aku harus bisa membela diriku sendiri. Dan aku sudah berjanji pada Indra bahwa aku akan menolongnya."

​Kakek Danu terpaku. Kata 'berjanji pada Indra' bergema di telinganya. Pria tua itu melihat bayangan Nyai Ratih yang keras kepala dan tak kenal takut di dalam sorot mata cucunya.

​Selama bertahun-tahun, Kakek Danu dan ibunda Dara telah berusaha keras untuk mengubur takdir itu. Namun takdir, seperti halnya akar pohon beringin, akan selalu menemukan cara untuk memecah beton dan menjalar mencari air.

​Setelah keheningan panjang yang hanya diisi oleh suara detak jarum jam dinding, Kakek Danu akhirnya mengembuskan napas panjang, menyerah pada roda nasib.

​"Baiklah," putus Kakek Danu dengan suara yang berat. Ia bangkit berdiri. "Tidurlah malam ini dengan tenang, Nduk. Ramuan Ruruhi di perutmu akan melindungimu dari penciuman mereka hingga besok siang. Setelah pulang sekolah besok, kita tidak akan langsung pulang ke rumah."

​Dara mengernyitkan kening. "Lalu kita ke mana?"

​Mata Kakek Danu menatap tajam ke arah batas Hutan Marapi yang gelap di balik jendela dapur. "Kita akan mendatangi wilayah kekuasaan Sutan Agung. Kita harus menemui tetua Cindaku itu secara langsung sebelum bulan baru tiba. Jika kita akan bermain dengan api, kita harus belajar dari sang naga itu sendiri."

​Sebuah babak baru telah terbuka. Hari-hari persembunyian Dara Kirana telah berakhir secara resmi malam itu. Di bawah bayang-bayang puncak Gunung Marapi, sang Pawang terakhir bersiap melangkah masuk ke sarang Harimau Hitam, tidak lagi sebagai mangsa, melainkan sebagai sang Penengah yang ditakdirkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!