NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Suasana di ruangan privat itu semakin rileks. Udara dingin AC yang menyapu kulit telanjang mereka membuat rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuh. Mereka berdua asyik mengobrol santai sambil sesekali menyeruput air jeruk peras yang dingin dan segar.

Namun, di tengah obrolan, Juniarta terlihat mulai gelisah. Gerakannya menjadi tidak tenang, dia sering menggeser posisi duduknya, dan wajahnya tampak sedikit memerah. Matanya sesekali melirik ke arah bawah, terlihat ada sesuatu yang mengganggu kenyamanannya.

Ternyata, rasa bebas dan sensasi dingin yang menyentuh kulit itu justru memicu hal lain. Darahnya berdesir cepat, dan hasrat alami yang sedari tadi tertahan karena kesibukan kerja kini mulai bangkit dan meminta penyaluran.

Juniarta menghela napas panjang, lalu menatap Sulthan dengan tatapan yang bercampur rasa malu namun juga memohon. Karena kedekatan mereka yang sudah sedemikian dekat dan terbuka, dia memberanikan diri untuk bicara jujur.

"Ehm... Bos..." panggil Juniarta, suaranya terdengar sedikit berat.

"Ada apa, Jun? Kenapa mukanya merah begitu?" tanya Sulthan santai tanpa curiga, sambil memutar badannya menghadap asisten setianya itu.

"Begini Bos... Maaf kalau saya lancang. Tapi rasanya... rasanya badan saya ini panas sekali dari tadi. Mungkin karena kecapekan atau efek gerah tadi," jawab Juniarta terbata-bata, tangannya secara tidak sadar mengusuk bagian bawah perutnya. "Terus sekarang kan kita lagi santai gini... hasrat saya itu lagi naik banget dan tertahan."

Juniarta menelan ludah, lalu menatap Sulthan dalam-dalam. "Boleh tidak Bos... saya melepaskan hasrat saya di sini saja? Saya butuh release biar pikiran jadi lega dan badan jadi segar lagi buat lanjut kerja nanti," pinta Juniarta dengan sungguh-sungguh.

Sulthan menatap asistennya itu sebentar, lalu tersenyum tipis dan mengangguk santai. Dia sama sekali tidak terkejut atau merasa aneh. Baginya, hal-hal seperti ini adalah hal yang wajar dan manusiawi bagi pria muda seperti Juniarta, apalagi di ruangan yang benar-benar privat dan aman ini.

"Boleh saja, Jun. Kenapa harus minta izin sih. Ini kan ruangan kita sendiri, nggak ada orang lain yang tahu," jawab Sulthan santai dan merestui sepenuhnya. "Silakan saja, lakukan apa yang bikin kamu nyaman. Anggap saja lagi di kamar sendiri."

"Terima kasih banyak, Bos! Bos memang paling mengerti," seru Juniarta lega, senyumnya terlihat sangat lega.

Dengan izin itu, Juniarta pun tidak lagi menahan diri. Rasa malu hilang seketika. Dia pun mulai memanjakan dirinya sendiri.

Dengan tubuh yang masih telanjang bulat, Juniarta mulai memijat dan menggerakkan tangannya sendiri untuk menyalurkan hasrat yang sudah membludak itu. Wajahnya yang tadi tegang perlahan berubah menahan rasa nikmat, matanya terpejam sedikit, dan napasnya mulai memburu seiring dengan irama gerakannya.

Sulthan hanya duduk santai di sampingnya, tetap menikmati sisa air jeruknya, sesekali menatap ke arah lain atau melihat layar ponselnya, memberikan privasi namun tetap berada di ruangan yang sama. Tak ada rasa canggung, tak ada rasa aneh. Di antara mereka berdua, ini hanyalah cara alami untuk melepas stres dan ketegangan otot setelah seharian bekerja keras.

Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara napas mereka yang teratur dan desiran angin dari AC. Juniarta benar-benar membiarkan dirinya hanyut dalam kenikmatan itu, melupakan sejenak beban kerja dan pangkat, hanya menjadi diri sendiri yang bebas dan lepas.

Tak lama kemudian, setelah mencapai puncak kenikmatan dan melepaskan semua cairan kenikmatannya, tubuh Juniarta lebih rileks dan lemas namun sangat puas. Dia menghela napas panjang dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

"Huahh... Lega rasanya Bos. Makasih ya," ucap Juniarta sambil menyeka keringat dingin di dahinya, wajahnya terlihat segar kembali.

"Sama sama. Sekarang kan badan jadi enteng lagi pikirannya," jawab Sulthan santai.

Setelah merasa puas dan tubuhnya terasa jauh lebih ringan, Juniarta pun berniat membersihkan diri. Rasa lengket dan sisa aktivitas tadi membuatnya ingin segera menyegarkan badan dengan air dingin.

Tanpa rasa malu sedikitpun, dan tanpa memakai apa-apa, Juniarta berjalan santai keluar dari ruang privat itu. Tubuhnya yang telanjang terpampang jelas di bawah cahaya lampu ruangan utama. Dia berjalan santai seolah sedang berjalan di dalam kamar sendiri menuju kamar mandi yang terletak di ujung lorong lantai eksekutif itu.

Namun, saat dia baru saja melangkah keluar, ternyata Putri sedang berdiri tidak jauh dari sana. Wanita cantik itu sedang merapikan berkas-berkas di meja kerjanya, atau mungkin baru saja hendak masuk mengantar sesuatu.

Putri yang melihat pemandangan itu sontak sedikit terkejut. Matanya membelalak sedikit dan dia refleks menutup mulutnya dengan tangan, namun hanya sesaat.

"Ya ampun... Mas Jun..." gumamnya, tapi wajahnya tidak sampai panik atau berteriak.

Memang benar, lantai paling atas ini adalah area khusus eksekutif yang penghuninya hanya mereka bertiga, Sulthan, Juniarta, dan Putri. Jadi pemandangan seperti ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar asing baginya, meski tetap saja membuat jantung berdebar.

Juniarta justru tersenyum lebar melihat reaksi Putri. Dia tidak berniat menutupi diri atau lari masuk kamar mandi. Justru dia berhenti tepat di hadapan sekretaris cantik itu.

"Kenapa kaget, Put? Kan kamu juga tahu kalau di sini kita bebas," kata Juniarta santai sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Bukan kaget sih, Mas... Cuman... ya itu lah. Tiba-tiba keluar begitu," jawab Putri sambil tersenyum kecut, matanya berusaha tetap menatap wajah Juniarta, tapi sesekali tak sengaja melorot ke bawah melihat tubuh kekar dan kemaluannya yang masih terlihat besar dan menggantung gagah.

"Emangnya jelek gini?" tanya Juniarta sok percaya diri sambil sedikit menegakkan tubuh, memamerkan otot-otot tubuhnya yang atletis.

"Enggak... bukan jelek, Mas. Bagus kok, kekar," jawab Putri jujur, suaranya terdengar sedikit bergetar. Wajahnya mulai memerah menahan rasa malu yang bercampur dengan sesuatu yang lain.

Saking tak fokusnya, Putri tanpa sadar menggigit-gigit bibir bawahnya dengan manja. Matanya kembali melirik ke arah bawah, melihat burung Juniarta yang terlihat sangat besar dan kokoh, membuat imajinasinya liar dan tenggorokannya terasa kering.

"Mau mandi ya, Put. Gerah banget," kata Juniarta lagi sambil tersenyum menggoda, sadar betul kalau wanita di depannya ini sedang tergoda oleh pemandangan di depannya.

"I-iya... Silakan Mandi Mas Jun. Airnya dingin lho, seger," jawab Putri terbata-bata, matanya makin sulit diajak kompromi, terus saja ingin melihat ke bagian bawah tubuh pria itu.

"Oke, nanti kita lanjut ngobrol ya kalau aku sudah siap," pamit Juniarta sambil melambaikan tangan, lalu berjalan lagi dengan gaya yang sangat percaya diri menuju kamar mandi, membiarkan Putri berdiri sendiri dengan jantung yang berdegup kencang dan wajah yang memanas.

Putri menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya. "Aduh... Mas Jun ini ya..." batinnya, namun ada senyum tipis yang terukir di bibirnya.

Juniarta sudah masuk ke dalam kamar mandi, tak lama terdengar suara air yang mulai mengalir deras membasahi lantai keramik, Putri berdiri termenung sejenak di luar.

Jantungnya masih berdegup kencang. Bayangan tubuh telanjang Juniarta yang gagah dan maskulin tadi terus terbayang di pelupuk matanya. Rasa penasaran bercampur dengan hasrat yang tiba-tiba memuncak membuatnya tak bisa diam.

Dengan napas yang mulai memburu dan rasa berani yang muncul entah dari mana, Putri pun melangkah perlahan mendekati pintu kamar mandi yang tidak terkunci rapat.

Kreeek...

Pintu didorong pelan-pelan.

Di dalam, kabut uap air sudah mulai memenuhi ruangan. Juniarta sedang berdiri membelakangi pintu, membiarkan air dingin menyiram tubuhnya yang kekar. Dia terlihat sangat menikmati.

Mendengar suara pintu terbuka, Juniarta menoleh. Matanya sedikit membelalak melihat Putri yang berdiri di ambang pintu.

"Putri? Kamu mau mandi juga?" tanya Juniarta santai, tidak terkejut sama sekali dan tidak berusaha menutupi tubuhnya.

Putri tak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk, lalu dengan gerakan yang terlihat berani namun gemetar, dia mulai melepaskan kemeja kerjanya, menurunkan roknya, dan melepaskan semua atribut lainnya satu per satu.

Dalam hitungan detik, tubuh indah, putih mulus, danbentuk sempurna milik Putri kini berdiri telanjang di hadapan pria itu. Payudaranya yang montok dan area bawahnya yang terawat rapi terpampang jelas di bawah guyuran cahaya lampu kamar mandi.

"Wah... berani banget kamu, Put," gumam Juniarta sambil menatap lekat tubuh seksi sekretaris itu, matanya langsung berbinar dan alat vitalnya yang tadi mulai lemas kini kembali menegang sempurna melihat pemandangan surga di depannya.

"Kan di sini cuman ada kita bertiga, Mas... Lagian aku juga gerah dan kotor abis perjalanan tadi," jawab Putri manja, suaranya terdengar lembut dan menggoda. Dia pun melangkah masuk, membiarkan air juga membasahi tubuh cantiknya.

"Ya sudah, sini aja. Mandi bareng," ajak Juniarta sambil tersenyum menggoda.

Putri pun masuk lebih dalam, berdiri tepat di bawah guyuran air yang sama. Sekarang mereka berdua berdiri berhadapan, sama-sama telanjang, tanpa sekat, tanpa pakaian, dan tanpa rasa malu.

Air dingin mengalir membasahi kulit mereka, bercampur dengan rasa hangat yang mulai menjalar di dada.

"Mandi bareng-bareng gini enak juga ya, bisa saling bantu gosok badan," canda Juniarta sambil tangannya mulai berani menyentuh bahu putih mulus milik Putri.

Putri hanya tersenyum menggigit bibir, membiarkan tangan kasar pria itu menjelajahi kulitnya. Rasanya sangat nikmat dan bebas. Di ruangan tertutup ini, mereka bukan lagi atasan dan bawahan, melainkan dua manusia yang sedang menikmati kebebasan dan kenikmatan sesaat.

Mereka pun mulai saling menyabuni, saling membersihkan, dan menikmati momen intim yang sangat panas dan menggairahkan itu di bawah guyuran air yang sejuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!