Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.
Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 Keputusan Olivia
Aku merasakan gelombang rasa frustrasi dan amarah mengalir di nadiku. "Kalian tidak akan ikut kemanapun dengan ku dan pernikahan ini tak perlu di perbaiki."
Ucapku, suaraku tegas. "Tugasku menyenangkan hati kalian sudah selesai. Kalian tidak bisa mengendalikan aku lagi. Aku, Olivia akan bercerai dengan Alexander Stone dan tidak ada yang bisa kalian perbuat untuk itu!"
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa terkendali. Dan dilihat dari ekspresi mereka, aku bisa tahu jika mereka berdua sangat shock dengan responku.
Aku tidak memberi kesempatan pada keduanya untuk memberi tanggapan, karena aku langsung berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua sambil membanting pintu.
Sarah dan Dennis berlari mengejarku sampai ke ruang makan. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi setelah mendengar suara pintu yang dibanting.
Wajah keduanya terlihat cemas. "Olivia, apa yang terjadi?" tanya Dennis, kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya dan juga Sarah.
"Katakan! Papa dan mama ngomong apa? Kamu ngomong apa sampai mereka marah begitu?"
Aku melihat mereka satu persatu dan menyadari sesuatu.
Aku tidak ingin tinggal di rumah ini lebih lama lagi. "Aku mau pulang sekarang! Masalah ini kalian tanyakan saja pada kedua orang tua kalian!" Aku tidak menghiraukan mereka dan langsung mengambil tasku sebelum melangkah keluar.
Setelah berada di dalam mobil, aku langsung tancap gas agar tidak ada yang mencoba menghentikanku. Aku sangat terluka melihat suamiku terlihat mesra dengan wanita lain, dan kedua orang tuaku yang seharusnya mendukungku malah kini menjadi salah satu yang menentangku.
Di sepanjang perjalanan pulang, pandangan mataku mengabur oleh air mata. Perasaanku campur aduk, pikiranku kacau karena emosi.
Saat mobilku memasuki halaman, aku melihat mobil Alex terparkir di luar garasi, hatiku terasa hancur.
Aku tahu aku harus menghadapi Alex, menuntut penjelasan darinya. Tapi bagian diriku yang lain, tidak ingin menemuinya. Aku tidak sanggup untuk bertemu Alex saat ini. Saat ini aku sedang tidak dalam kondisi yang baik.
Frustasi, aku memutar mobil balik keluar gerbang. Aku memutuskan pergi ke tempat di mana tak seorangpun dapat menemukan aku untuk menenangkan diri.
"Hei, Olivia, ada apa?" suara Sonya terdengar melalui speaker saat telponku terhubung.
"Aku ingin ketemu kamu," jawabku, suaraku serak. "Apakah kamu ada di rumah sekarang? Aku sedang menuju ke sana."
"Ya, aku di rumah sekarang."
Tanpa berkata-kata lagi, aku mematikan ponselku dan langsung melaju ke rumah Sonya. Beberapa menit kemudian, mobilku sudah terparkir di halaman rumahnya, dan dia sedang duduk di teras menungguku.
"Apa yang terjadi?" tanya Sonya begitu aku keluar dari mobil dan berjalan menghampirinya. Aku ingin bicara tapi tak bisa, hanya air mataku saja yang melesak keluar tanpa dapat kutahan.
Sonya tidak mengatakan apapun, dia hanya menarik ku ke dalam pelukannya. Aku menangis dalam pelukan Sonya untuk beberapa saat.
Setelah tangisanku mereda, Sonya memberi tepukan lembut pada punggungku sebelum melepaskan pelukannya. Dia mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah.
Kami berjalan beriringan memasuki rumahnya. Dan begitu sampai di ruang tamu, aku menjatuhkan diri di sofa dan bersandar pada bahunya. "Bicaralah, aku mendengarkan," ucapnya sambil membelai lembut rambutku.
"Apakah kamu belum melihat postingannya?"
"Postingan apa?" tanya Sonya, wajahnya dipenuhi oleh rasa penasaran.
Aku mendengus, kemarahan dan emosi di hatiku yang tadinya mereda, kembali lagi. "Alexander dan Claudia," jawabku, tenggorokanku seperti tercekik saat mengucapkan kedua nama itu. Rasanya seperti menelan racun.
Sonya langsung berdiri dan menatapku. "Ada postingan - postingan tentang mereka di beberapa media sosial," ucapku terbata-bata, menyangkut di tenggorokan. Setelah ibukku perlihatkan postingan mengenai mereka, aku hampir tak sanggup lagi membuka ponsel.
Aku tak sanggup menghadapi komentar - komentar kejam para netizen. Aku juga tidak sanggup melihat foto - foto kebersamaan mereka.
"I'm sorry about that," kata Sonya, suaranya penuh simpati. "Jadi, sebenarnya dia berbohong mengenai semua itu?" tanyanya dan aku mengangguk mengiyakan.
Siapa yang tahu, sudah berapa lama mereka saling bertemu? Aku bahkan tidak tahu mengenai hal itu sebelum seseorang merekam merekam dan melaporkan hal itu padaku tanpa sepengetahuan mereka.
"Mungkin sudah saatnya bagiku untuk menandatangani surat perceraian itu dan menjauh pergi dari kehidupannya."
Itu bukanlah hal yang mudah tetapi menjalani kehidupan pernikahan yang toksik seperti ini aku tidak akan sanggup.