NovelToon NovelToon
Putri Penguasa Yang Terlupakan

Putri Penguasa Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rere Lumiere

Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.

Bagaimana kelanjutan cerita ku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Tubuh Shopia

Selepas makan sup, Shopia kini dibawa oleh Lisa menuju kamar mandi sambil memegang makanan ringan di tangannya. Lisa mencoba melepaskan pakaian Shopia. Namun, mata Shopia tak lepas dari wajah Lisa yang nampak tergores panjang.

Saat Lisa menunduk mencoba melepaskan gaun lusuh milik Shopia, tiba-tiba tangan mungil itu mengelus wajah sang bodyguard.

"Kak Lisa, apakah ini tidak sakit?" tanya Shopia dengan wajah penuh kekhawatiran.

Lisa tersenyum miris dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, ini tidak sakit sama sekali, karena lukanya sudah sangat lama."

Lisa teringat jelas bagaimana ia mendapatkan luka itu. Dulu, saat ayah tirinya mencoba melecehkannya, ia terus memberontak hingga sebuah golok menggores wajahnya. Beruntung ia berhasil melarikan diri.

Saat itu ia merasa hancur, karena tidak ada satu pun yang membelanya, malah ia dihina karena wajahnya yang rusak parah dan dibuang begitu saja di jalanan yang dingin. Hingga akhirnya Lucas meraih tangannya dan melindunginya hingga ia bisa menjadi wanita tangguh seperti sekarang, meski luka batin dan fisiknya di masa lalu tak akan pernah benar-benar sembuh.

"Kenapa Nona bertanya begitu? Apakah Nona takut pada saya?" tanya Lisa, ingin memastikan apakah Shopia mengejeknya atau justru takut melihat wajahnya.

Shopia menggelengkan kepalanya tegas, "Tidak Kak Lisa, Kak Lisa sangat cantik. Hanya saja Shopia akan sedih kalau Kakak sakit."

Lisa tersenyum dan menggelengkan kepala, mulai menyadari bahwa Shopia bermulut manis. Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya, namun seketika mata Lisa terbelalak melihat tubuh mungil Shopia yang penuh dengan luka memar.

Terlihat jelas di sana, ada yang sudah kering dan menghitam, namun yang lebih mencengangkan adalah memar kebiruan dan ada pula yang masih mengeluarkan darah segar.

Lisa menutup mulutnya kaget, lalu berkata, "Tunggu di sini dulu Nona, saya akan keluar sebentar."

Shopia memandang Lisa dengan heran namun hanya bisa mengangguk saat wanita itu pergi begitu saja tanpa menunggu jawabannya. Gadis kecil itu hanya memandangi kamar mandi yang begitu mewah itu dengan bak bertatahkan marmer putih dan wastafel yang mengkilap, serta sabun-sabun yang terlihat sangat premium.

 *

Lisa kini sudah sampai di hadapan tuannya. Melihat kening Lisa yang berkerut, Lucas refleks menoleh.

"Ada apa? Kau sudah selesai mengurusi anak itu?" tanya Lucas dengan wajah datarnya.

"Itu... Tuan," jawab Lisa dengan suara tersendat.

"Katakan saja," kata Lucas lalu kembali berbalik menghadap dokumen yang sedang ia baca.

"Tubuh Nona penuh dengan luka serius, Tuan. Apakah tidak sebaiknya kita obati saja dulu?" ucap Lisa sambil membungkukkan tubuhnya memohon.

"Lisa, kurasa kau tidak pernah selembek ini pada apa pun. Mengapa kau begitu peduli pada anak itu? Merawatnya berarti dia harus tinggal lama di sini, dan aku tidak suka itu. Kau tahukan aku tidak suka gangguan di kediamanku?" tegas Lucas.

Lisa hanya terdiam lesu. Sebenarnya ia hanya ingin Lucas melihat keadaan Shopia barang sedetik saja. Namun, keputusan Lucas sudah bulat dan tak bisa ia bantah.

"Cepat, urus anak itu, dan kembalikan dia ke villa," desak Lucas sembari membalik kertas dokumen yang ia pegang.

Lisa kemudian berjalan dengan gontai kembali menuju kamar mandi. Di sana, Shopia terlihat masih mematung di tempatnya, tidak bergerak sama sekali. Tampak polos dan penurut seperti anak-anak pada umumnya, tidak sama dengan bayangan tuannya yang menganggap anak itu seperti monster tanpa perasaan.

"Kak Lisa sudah kembali," kata Shopia menoleh mendengar langkah kaki yang masuk, dan ia tampak senang karena ternyata itu Lisa.

Mata Lisa nampak berkaca-kaca memperhatikan luka-luka itu dengan perasaan yang kacau, seolah melihat dirinya sendiri di masa lalu. Namun, wajah polos itu justru mengerutkan kening.

"Kak Lisa, kenapa matanya berair? Kelilipan ya?"

Perasaan Lisa menjadi semakin kacau dibuatnya, ia juga kesal pada tuannya yang tega tidak mau peduli.

"Tidak Nona, tidak apa-apa, hanya kelilipan saja," jawabnya berbohong.

"Oh," sahut Shopia tersenyum simpul.

"Nona, kita mandi dulu ya. Nanti saya beri obat setelah mandi serta ganti baju Anda," jelas Lisa sembari mengelap matanya yang mengeluarkan air mata.

Shopia menganggukkan kepala patuh. Lisa menyiapkan air hangat di dalam bak serta menambahkan sabun di dalamnya. Lalu, dengan perlahan Lisa memasukkan Shopia ke dalam bak itu.

Shopia sedikit meringis sebab luka-lukanya kini terasa nyeri padahal tadi terasa tidak apa-apa. Mungkinkah rasa cemasnya sudah sedikit mereda sehingga daya tahan tubuhnya melemah?

"Nona, apakah tubuhmu terasa sakit?" tanya Lisa penasaran, sebab anak sekecil Shopia pasti tidak akan tahan dengan rasa sakit sehebat itu.

"Tidak Kak Lisa, ini tidak sakit," bohong Shopia, ia merasa malu untuk menunjukkan rasa sakitnya pada Lisa.

Lisa hanya menarik napas kasar, tak menyangka Shopia sangat kuat di usia yang masih belia. Lisa kemudian menggosok tubuh Shopia dengan sangat lembut, hingga akhirnya air yang digunakan Shopia berubah menjadi keruh kecokelatan karena kotoran. Lisa menyudahi kegiatan itu dan mengangkat tubuh Shopia, kemudian mengelapnya menggunakan handuk kering.

"Aku merasa lebih segar, Kak Lisa," akunya dengan begitu gembira.

"Baguslah Nona, saya akan mengoleskan obat terlebih dahulu," balas Lisa kemudian mengambil Betadine di atas nakas kamar mandi itu.

Lisa mulai mengoleskan obat cair itu di tubuh Shopia yang masih mengeluarkan darah. Shopia sedikit meringis namun ia tidak memberontak, seolah rasa sakit itu bukan hal besar yang perlu dipermasalahkan.

"Sudah selesai Nona," ucap Lisa meletakkan kembali betadine itu ke atas nakas.

Shopia berbalik arah menghadap Lisa yang kini mengambil sebuah gaun baru yang lebih bagus dengan motif bunga-bunga berwarna merah muda.

"Nona, ini baju yang dibelikan Nyonya ketika masih mengandung Nona," ujar Lisa sambil mencoba mengepaskan baju itu pada tubuh Shopia.

Shopia menyentuh baju itu dengan tangan mungil nya, "Benarkah ini... Mama yang beli? Seperti apa ya wajah Mama?" sahut Shopia tanpa aba-aba.

Lisa terdiam mematung dan matanya kembali berkaca-kaca. Pertanyaan sederhana itu seolah menyentuh hati sang wanita yang biasa hidup tanpa ekspresi itu.

'Huh, padahal aku hanya penasaran saja, kenapa harus sesendu ini sih,' gumam Shopia dalam hati, merasa tidak suka dengan ekspresi Lisa saat ini.

"Kak Lisa jangan sedih, Shopia tidak akan bertanya tentang Mama lagi," ungkap Shopia cepat.

"Tidak Nona, bukan begitu," kilah Lisa sambil menggelengkan kepalanya.

Dengan cepat ia mengenakan gaun itu ke tubuh Shopia. Selepas berpakaian, mereka keluar dari kamar mandi. Terlihat Lisa mengandeng tangan Shopia melewati ruang tamu, namun Lucas masih duduk santai di sana seolah tidak melihat keberadaan mereka.

Sampai di depan pintu rumah utama, terlihat Bima menyambut tangan Shopia dari tangan Lisa, bersiap mengembalikan gadis kecil itu ke villa sebelumnya. Namun, sebelum pergi, Shopia menatap Lucas dengan wajah datar namun penuh harap ingin diterima oleh pria itu. Akan tetapi nyatanya, pria itu masih tetap dingin dan tak bergeming.

1
Cty Badria
👍
Rere Lumiere
Cerita ini kalau sepi pembaca akan di hapus pada bab 20, jadi yang suka cerita ini tolong ramaikan ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!