NovelToon NovelToon
Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:674.1k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.

Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.

"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."

"Dasar tidak waras!"

"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."

Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.

"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"

Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan Ivy

Thomas Carter adalah mimpi buruk yang tak pernah bisa bangun dari tidur Ivy. Pria paruh baya itu adalah definisi dari kegagalan seorang ayah, seorang pecandu alkohol dan penjudi kelas berat yang selama bertahun-tahun menjadikan Ivy sebagai sumber penghasilan utama. Sejauh apa pun Ivy berlari dan bersembunyi, Thomas selalu punya cara untuk mengendus keberadaannya, seolah pria itu memiliki radar kegelapan yang tertanam pada putrinya. Seperti saat ini, tubuh Ivy mendadak kaku dan wajahnya pias saat mendapati Thomas berdiri dengan santai di tengah apartemen mewahnya.

"Ngapain Papa ke sini?!" tanya Ivy dengan nada menyentak, mencoba menutupi gemetar di suaranya.

Thomas menoleh perlahan, menatap Ivy dengan pandangan meremehkan. Tatapannya kemudian turun, mengunci pada perut Ivy yang mulai membuncit di balik baju tidurnya. Sebuah seringai licik terukir di wajah Thomas, membuat bulu kuduk Ivy meremang.

"Oh, jadi begini cara mainmu sekarang? Menjerat 'bank berjalan' dengan cara memelihara benihnya. Biasanya pria akan membayarmu mahal agar kamu menggugurkan janinmu. Tapi ... tampaknya pria kali ini berbeda, bukan? Dia membiarkanmu tinggal di tempat semewah ini," ucap Thomas dengan nada menghina yang membuat kedua tangan Ivy mengepal kuat.

"Aku tidak lagi mengerjakan pekerjaan kotor seperti itu, Pa! Berhenti memintaku melayani pria-pria tua yang membayar mahal padamu! Aku bukan barang dagangan! Berhenti mengusikku!" teriak Ivy dengan air mata yang mulai menderas. Luka masa lalu saat ayahnya sendiri menjualnya kembali berdenyut perih.

Thomas membulatkan mulutnya, berpura-pura terkejut. "Tergantung, Ivy. Kamu bisa memberi Papa seberapa banyak? Kalau kamu bisa memberi lebih banyak dari pria-pria itu, kenapa tidak? Tapi sepertinya, pria yang menghamilimu kali ini benar-benar kaya raya." Thomas menatap sekeliling apartemen, menilai harga setiap perabotan di sana dengan mata rakusnya.

"Tujuan Papa datang ke sini hanya uang, kan?" tanya Ivy dengan nada sinis. Ia masuk ke kamarnya, mengambil seikat uang tunai dari brankas kecil, lalu kembali menghampiri Thomas. Ia melemparkan uang itu ke atas meja.

"Ambillah dan pergi! Jangan pernah usik hidupku lagi!" ucap Ivy tajam. Thomas menyeringai, menyambar uang itu dan mencium aromanya dengan bangga.

"Terima kasih, Sayang. Papa akan datang kembali lusa untuk jatah berikutnya," ucapnya sembari berlalu pergi, meninggalkan Ivy yang terduduk lemas di lantai sambil memegangi perutnya yang mendadak terasa tegang.

Thomas berjalan di koridor apartemen dengan langkah ringan, bersiul senang karena kantongnya kembali terisi. Namun, langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan seorang pria muda yang tampak sibuk menatap ponselnya dengan wajah cemas. Thomas menyingkir sedikit, lalu berbalik setelah pria itu melewatinya. Ia mengamati pria itu, terlihat Raka masuk ke dalam unit apartemen yang baru saja ia tinggalkan.

"Woah, kupikir dia menjerat pria tua. Ternyata pria itu masih muda. Hm ... selera yang bagus. Ternyata naik juga kelas putriku," gumam Thomas dengan seringai misterius sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan gedung mewah tersebut.

Sementara itu, Raka masuk ke dalam apartemen dengan terburu-buru. Ia sedikit terkejut melihat Ivy yang tampak sangat pucat dan gemetar menyambut kedatangannya. Sontak, sisi protektif Raka bangkit. Ia melangkah mendekati wanita itu dengan gurat kekhawatiran yang nyata.

"Apa sakit sekali? Kenapa wajahmu pucat seperti ini?" tanya Raka khawatir. Ia berlutut di hadapan Ivy yang terduduk di sofa, menggenggam tangannya yang terasa sedingin es.

"Enggak ... sudah tidak apa-apa. Aku hanya ... aku hanya takut saja tadi," ucap Ivy dengan suara bergetar. Bayangan ayahnya masih menghantuinya.

Raka menatap Ivy dengan perasaan campur aduk. Jujur saja, kehamilan ini adalah harapan besarnya setelah sepuluh tahun menanti. Ia teringat bagaimana Zira mengalami keguguran berulang kali, dan ia sangat takut hal itu terjadi pada janin yang dikandung Ivy. Raka memang mencintai Zira dengan seluruh jiwanya, namun keinginan memiliki ahli waris adalah lubang hitam dalam hidupnya. Jika ditanya apakah ia mencintai Ivy? Jawabannya adalah tidak tahu. Ivy baginya adalah jembatan menuju impiannya, namun kebersamaan mereka selama proses bayi tabung menciptakan kedekatan yang membingungkan.

"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang. Aku tidak mau mengambil risiko," ajak Raka.

Namun, Ivy menahan tangan Raka. Ia menatap dalam ke mata pria itu, sebuah rencana baru muncul di benaknya. "Raka, bisakah aku tinggal bersamamu dan Kak Zira saja di rumah kalian? Aku mohon ... aku takut tinggal sendirian di sini." Ivy berpikir, jika ia ada di kediaman Laurent, ayahnya tidak akan berani masuk ke sana sesuka hati.

Mendengar permintaan itu, Raka merasa frustrasi. "Ivy, kita sudah membahas hal ini berkali-kali! Aku tidak mungkin menempatkanmu di rumahku lagi setelah kejadian malam itu. Zira pasti akan marah besar. Dia akan pergi dari hidupku dan—"

"Biarkan saja dia pergi!" sentak Ivy yang seketika membuat Raka syok. Raka menarik tangannya dengan kasar, menatap Ivy dengan tatapan tajam dan dingin.

"Aku sudah katakan padamu berkali-kali, Ivy. Aku tidak takut kehilanganmu! Yang aku pedulikan hanyalah anak ini dan perasaanku pada Zira! Jangan membuatku semakin marah dan menyesal telah membelamu di hadapan Zira!" ucap Raka dengan nada yang mengancam.

Ivy beranjak berdiri, air matanya tumpah karena rasa sakit hati yang luar biasa. "Lalu aku ini apa bagimu, Raka?! Pemuas nafsumu? Atau hanya sekadar wadah untuk anakmu? Istrimu tidak bisa memberimu anak, hanya aku yang bisa! Kenapa kamu lebih mencintainya? Aku tidak kalah cantik darinya, bahkan aku bisa memuaskanmu lebih dari dia, bukan begitu katamu dulu? Lalu kenapa kamu tidak bisa mencintaiku sedikit saja?!"

Raka menyisir rambutnya ke belakang, wajahnya terlihat sangat frustrasi. Debat ini selalu berujung pada jalan buntu. Namun, di tengah ketegangan itu, tiba-tiba raut wajah Ivy berubah drastis. Ia memegangi perut bagian bawahnya dengan ekspresi panik yang nyata.

"Aaakh ...," Ivy merintih pelan.

"Ada apa lagi? Kamu mencoba bersandiwara?" tanya Raka, mulai curiga karena Ivy sering menggunakan alasan sakit untuk menahannya.

Ivy menggeleng lemah, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Tadi aku hanya berpura-pura agar Raka datang, mengapa sekarang perutku sakit beneran?" batin Ivy panik. Rasa sakit itu datang seperti gelombang yang menyiksa, menusuk hingga ke tulang punggungnya.

"Aww ... Raka, ini sakit sekali! Hiks ... ini beneran sakit! Aku tidak bohong lagi, kali ini sangat sakit!" Ivy mengerang kesakitan, tubuhnya merosot kembali ke sofa.

Raka terdiam sejenak, mencerna kata-kata Ivy. Matanya menyipit penuh selidik. "Tadi ... kamu mencoba menipuku?"

Degh!

Ivy terdiam, lidahnya kelu. Kebohongannya terbongkar di saat ia benar-benar membutuhkan bantuan. Raka menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, antara rasa muak karena merasa dimanipulasi dan rasa takut jika janinnya benar-benar terancam.

___________

Harusnya ini buat kemarin malah ketiduran😭

1
bunda n3
aku pun berharap semoga ada keajaiban
Dcy Sukma
Vier udh sembuh dr anti bakterinya y..😄
udh ga segan lg gendong anak org..
Ita rahmawati
itulah keuntungannya nikah SM yg udah dewasa dn berpengalaman 😂
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 iya byk drama si zay
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aduuuhhhh si lebay
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lilik Lailiyah
dikit amat thor
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketus amat zay
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
reaksi zayra adalah reaksi ku ke suami ketika aku bilang enggak dan di anggap enggak beneran 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
hahaha xavier udah kayak suami aku, bukan modelan yg bakal begging gt bagi dia ya dia udah nanya atau nawarin kalo di jawab enggak ya bagi dia literally enggak 😆
Asri Indah Nur 'Aini
pliiissss lah Thor, Zira udah banyak sedihnya dari kecil, jangan dibikin sedih lagi hanya gegara masalalunya bang Kay yang ga jelas itu 😭
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: bukan sedih cuma lagi akting berdlama dia ditinggal bulan madu Papanya mantan berondong karatan🤣biasa jiwa anak-anak nya keluar pengen diperhatikan juga makanya caper dia kak🤣
total 1 replies
Hanima
👍👍
nuraeinieni
kenapa tdk jujur saja sih kay,ntar zira tau,jadi masalah.
Hasanah Purwokerto
Haish...kirain dilepas,,ternyata oh..ternyata...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Zira malu malu harimau...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Nessa
akhirnya si brondong g perjaka lagi 😆😆🤪
Nessa
jangan jadi pelakor y sop cinta g bisa di paksakan 😁🤭
Nessa
napa g jujur aja sih kay 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!