NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Resonansi Malam Terakhir

​Gemerisik pelepah kelapa yang beradu dengan angin malam Nusa Dua terdengar seperti bisikan rahasia yang tidak ingin didengar oleh siapa pun. Kanaya Larasati berdiri di balkon kamarnya, membiarkan gaun tidur tipisnya berkibar pelan. Di hadapannya, Samudra Hindia terbentang luas, sebuah hamparan perak yang berkilau di bawah siraman cahaya bulan purnama yang pucat.

​Bau garam laut yang tajam bercampur dengan aroma dupa yang masih tersisa dari sudut resor. Naya menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara Bali untuk terakhir kalinya sebelum besok pagi mereka harus kembali ke pelukan polusi dan kebisingan Jakarta. Namun, oksigen seolah-olah menolak masuk. Ada sesuatu yang menyumbat dadanya—sebuah gumpalan emosi yang tidak memiliki nama, namun memiliki wajah.

​Wajah Arjuna Dirgantara.

​'Besok semuanya akan kembali normal, Naya. Besok kau akan kembali menjadi desainer junior yang ia maki setiap pagi, dan dia akan kembali menjadi tiran dingin yang tidak mengenal belas kasihan,' batin Naya, jemarinya meremas pagar balkon kayu jati yang masih terasa hangat setelah terpapar matahari seharian. 'Bali hanyalah sebuah anomali. Sentuhannya semalam, pembelaannya di depan klien, dan caranya menatapmu di pabrik... itu semua hanya halusinasi akibat kelelahan dan tekanan kerja.'

​Namun, meskipun ia terus merapal logika itu, detak jantungnya menolak untuk patuh. Tubuhnya masih menyimpan memori tentang bagaimana jarak di antara mereka menyempit hingga ke angka nol semalam. Bagaimana aroma vetiver Juna seolah-olah menjadi candu yang membuat kepalanya pusing.

​Tiba-tiba, suara denting notifikasi dari ponselnya memecah kesunyian. Naya tersentak, hampir menjatuhkan perangkat itu ke lantai balkon. Ia membukanya dengan tangan gemetar.

​"Ke dek pantai sekarang. Ada detail logistik yang harus Anda tanda tangani untuk pengiriman besok pagi. - Juna."

​Naya mengerang pelan, menjatuhkan kepalanya ke pagar balkon. 'Pria ini benar-benar tidak kenal waktu. Ini sudah pukul sebelas malam! Apakah dia tidak punya kehidupan selain dokumen dan kontrak?'

​Dengan enggan, Naya masuk kembali ke kamar. Ia mengenakan kardigan rajut berwarna krem di atas gaun tidurnya yang simpel, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan, dan memakai sandal hotel. Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya. Toh, bagi Juna, ia hanyalah mesin penghasil desain.

​Langkah kaki Naya menggema di sepanjang koridor hotel yang sepi. Dek pantai resor ini terletak di ujung jalur setapak yang dikelilingi taman tropis. Saat ia tiba di sana, ia melihat Juna sudah berdiri membelakanginya, menatap laut lepas.

​Juna tidak mengenakan kemeja kerjanya. Pria itu hanya memakai kaos polo hitam polos yang melekat pas di tubuh atletisnya, menonjolkan bahu lebarnya yang kokoh. Di tangannya, ia memegang sebuah map kulit hitam.

​"Anda memanggil saya untuk dokumen yang sebenarnya bisa ditandatangani di bandara besok, Pak Arjuna?" tegur Naya saat ia sudah berada beberapa langkah di belakang Juna.

​Juna tidak langsung berbalik. Ia membiarkan jeda beberapa detik berlalu, membiarkan suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi musik pengantar percakapan mereka.

​"Efisiensi adalah kunci, Kanaya. Saya tidak suka menyisakan variabel sekecil apa pun sebelum kita menginjakkan kaki di Jakarta," ucap Juna, suaranya terdengar lebih berat dan serak dari biasanya. Ia memutar tubuhnya perlahan.

​Tatapan mereka kembali bertabrakan. Di bawah lampu taman yang temaram dan cahaya bulan, mata Juna terlihat sangat gelap, hampir menyerupai kedalaman laut di depan mereka. Naya bisa melihat ada kelelahan yang nyata di sana—sebuah sisi manusiawi yang Juna sembunyikan dengan sangat rapi selama di kantor.

​Juna menyodorkan map itu. Naya meraihnya, jemarinya secara tidak sengaja bersentuhan dengan jemari Juna.

​Seketika, sebuah kejutan listrik statis seolah-olah merambat naik melalui saraf lengan Naya, membuat bulu kuduknya meremang. Ia buru-buru menarik map itu dan membukanya, berpura-pura sangat fokus membaca barisan teks yang sebenarnya terlihat kabur di matanya.

​'Tanda tangan di sini, Naya. Cepat tanda tangani dan lari kembali ke kamarmu,' batin Naya memperingatkan.

​"Anda terlihat... berbeda malam ini," ucap Juna tiba-tiba, memecah fokus Naya.

​Naya mendongak, alisnya bertaut. "Berbeda? Saya hanya lelah, Pak. Dan saya mengenakan gaun tidur. Tentu saja saya terlihat berbeda dari desainer yang Anda maki di ruang rapat."

​Juna melangkah maju satu langkah. Hanya satu langkah, namun cukup untuk membuat Naya merasa oksigen di sekitarnya kembali menipis.

​"Bukan itu maksud saya," Juna menjeda, matanya menelusuri wajah Naya dengan intensitas yang melumpuhkan akal sehat. "Biasanya Anda selalu memakai topeng kemarahan atau gengsi setiap kali berhadapan dengan saya. Malam ini... topeng itu retak."

​Naya tertawa kering, sebuah tawa yang dipenuhi rasa sakit yang ia sembunyikan. "Topeng? Pak Arjuna, jika ada seseorang yang paling ahli memakai topeng di dunia ini, itu adalah Anda. Anda memakai topeng kaku itu begitu lama hingga saya curiga Anda lupa bagaimana rasanya menjadi manusia."

​Rahang Juna mengeras. "Menjadi manusia adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa saya miliki, Kanaya. Di dunia saya, menjadi manusia berarti menjadi lemah. Dan menjadi lemah berarti dihancurkan."

​Naya merasakan gelombang simpati yang tidak diinginkan muncul di dadanya. Ia teringat kilas balik tentang Juna kecil dan ayahnya. Ia melihat pria di hadapannya ini bukan lagi sebagai CEO yang angkuh, melainkan sebagai tawanan dari imperiumnya sendiri.

​"Siapa yang akan menghancurkan Anda, Pak? Ayah Anda? Para direktur? Atau ketakutan Anda sendiri?" tanya Naya berani, suaranya merendah menjadi bisikan.

​Juna terdiam. Keheningan di antara mereka terasa sangat berat, dipenuhi oleh resonansi emosi yang selama ini mereka kubur di bawah tumpukan cetak biru dan laporan keuangan.

​"Segalanya," jawab Juna singkat. Ia menoleh kembali ke arah laut. "Pernahkah Anda merasa seolah-olah Anda sedang membangun menara yang sangat tinggi, namun Anda tahu bahwa fondasinya terbuat dari pasir yang rapuh? Itulah hidup saya. Setiap desain yang saya setujui, setiap kontrak yang saya tanda tangani, adalah satu batu bata lagi di atas pasir itu. Dan saya tidak boleh membiarkan menara itu miring sedikit pun."

​Naya melangkah mendekat tanpa ia sadari. Ia berdiri di samping Juna, ikut menatap cakrawala yang gelap.

​"Desain saya tidak terbuat dari pasir, Pak Arjuna. Saya menggunakan teknik serat karbon vakum semalam, ingat?" ucap Naya, mencoba menyisipkan sedikit humor untuk mencairkan ketegangan yang menyesakkan. "Menara Anda tidak akan runtuh selama saya yang merancang interiornya."

​Juna menoleh perlahan. Sudut bibirnya tertarik ke atas—bukan sebuah senyum sinis, melainkan sebuah senyum yang sangat tipis dan... tulus. Senyum yang membuat Naya merasa seluruh dunianya baru saja bergeser dari porosnya.

​"Gengsi Anda benar-benar tidak ada obatnya, Kanaya," gumam Juna.

​"Itu bukan gengsi. Itu fakta teknis," balas Naya, meskipun ia tahu suaranya kini terdengar sangat tidak meyakinkan.

​Angin laut kembali berhembus kencang, membuat Naya sedikit menggigil. Juna memperhatikannya. Tanpa berkata-kata, Juna melangkah mendekat. Ia tidak menyentuh Naya, namun kehadirannya yang dominan memberikan kehangatan yang sangat ia butuhkan.

​"Kenapa Anda membela saya di depan Tuan Wirawan semalam?" tanya Naya tiba-tiba, menyuarakan pertanyaan yang menghantuinya sejak kemarin. "Anda bisa saja mengabaikan komentarnya. Itu hanya komentar pria mabuk."

​Juna menatap Naya dengan tatapan yang seolah-olah menembus lapisan terdalam jiwanya.

​"Karena dia meremehkan sesuatu yang berharga bagi perusahaan saya," jawab Juna. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dalam, "Dan karena saya membenci fakta bahwa dia melihat apa yang saya lihat, namun dengan cara yang menjijikkan."

​Naya menahan napas. 'Apa yang saya lihat? Apa maksudnya dia melihatku?'

​"Apa yang Anda lihat, Pak?" tanya Naya, hampir tidak terdengar.

​Juna tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia menjatuhkan map kulit di tangannya ke atas dek kayu. Suara jatuhnya map itu terdengar seperti gong yang menandakan dimulainya sesuatu yang tidak bisa mereka hentikan.

​Juna mengangkat tangannya, jemarinya perlahan menyentuh dagu Naya, memaksa gadis itu untuk terus menatap matanya. Sentuhan itu terasa panas, seperti bara api yang menyentuh es.

​"Saya melihat seorang variabel yang mengacaukan seluruh sistem saya, Kanaya," bisik Juna, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Naya. Aroma vetiver itu kini bercampur dengan aroma napas Juna yang hangat. "Saya melihat seseorang yang membuat saya benci pada meja kerja saya karena saya lebih suka berada di pabrik yang kotor bersamanya. Saya melihat seseorang yang membuat saya merasa bahwa menjadi mesin itu... sangat membosankan."

​Naya merasa seluruh sendinya meleleh. Ia seharusnya menarik diri. Ia seharusnya menampar Juna atau setidaknya mengeluarkan argumen profesional yang tajam. Namun, matanya justru terkunci pada bibir Juna yang kini terlihat begitu dekat.

​'Ini salah. Ini bencana profesional,' batin Naya menjerit, namun tubuhnya justru bergerak mendekat secara otomatis, seolah-olah ada gaya tarik gravitasi yang tidak bisa dilawan.

​Juna memejamkan matanya, menghembuskan napas panjang melawan keraguannya yang terakhir. "Sialan," umpatnya pelan sebelum akhirnya ia menunduk dan mencium Naya.

​Ciuman itu tidak seperti ciuman romantis di film-film yang Naya tonton. Ciuman itu terasa mendesak, penuh dengan frustrasi yang menumpuk, kemarahan yang tertahan, dan keinginan yang selama ini mereka sangkal. Rasanya seperti dua galaksi yang bertabrakan—kacau, panas, dan menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.

​Naya memejamkan matanya, tangannya tanpa sadar meremas kaos polo hitam Juna, menarik pria itu lebih dekat. Rasa benci yang selama ini ia pelihara terhadap Juna seolah-olah terbakar habis, menyisakan sebuah realita baru yang jauh lebih menakutkan: ia tidak membenci pria ini. Ia justru menginginkannya dengan cara yang paling menyakitkan.

​Juna melepaskan ciumannya setelah beberapa saat, namun ia tidak menjauhkan wajahnya. Dahinya menempel pada dahi Naya, napas mereka berdua tersengal-sengal di tengah heningnya malam Bali.

​"Ini tidak seharusnya terjadi," bisik Juna, suaranya terdengar hancur.

​"Saya tahu," sahut Naya, suaranya bergetar hebat.

​"Besok kita kembali ke Jakarta. Besok kita akan kembali saling membenci," Juna menegaskan, seolah-olah ia sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dari ia meyakinkan Naya.

​"Tentu saja," jawab Naya, meskipun ada air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

​Juna menarik diri perlahan, mengambil map kulitnya dari lantai, dan berdiri tegak kembali. Topeng esnya perlahan mulai terpasang kembali, namun retakannya terlalu besar untuk disembunyikan.

​"Tanda tangani dokumennya dan segera kembali ke kamar Anda, Kanaya. Saya tidak ingin melihat Anda lagi sampai kita tiba di bandara besok pagi," perintah Juna, suaranya kembali menjadi dingin, namun ada getaran yang tidak bisa ia hilangkan sepenuhnya.

​Naya mengambil map itu dengan tangan gemetar, menandatanganinya tanpa membaca satu kata pun, dan menyerahkannya kembali pada Juna. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Naya membalikkan badan dan berlari menjauh dari dek pantai tersebut.

​Ia berlari melewati taman yang gelap, melewati kolam renang, dan terus berlari hingga ia tiba di dalam kamarnya. Ia mengunci pintu, menyandarkan punggungnya ke pintu kayu yang tebal, dan akhirnya membiarkan dirinya menangis tanpa suara.

​Bali telah merenggut satu-satunya hal yang ia miliki untuk melawan Juna: kebenciannya. Sekarang, ia harus kembali ke Jakarta dengan sebuah rahasia yang akan membakar jiwanya setiap kali ia menatap mata pria itu di ruang rapat.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak pelan menyusuri sebuah studio arsitektur yang berantakan di sebuah universitas negeri. Di atas meja-meja besar, maket-maket bangunan terlihat berserakan. Suara hujan deras menghantam atap seng studio.

​Empat tahun yang lalu.

​Kanaya, yang saat itu masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, sedang menangis dalam diam di sudut ruangan. Di hadapannya, sebuah maket gedung pusat kebudayaan yang ia bangun selama sebulan penuh terlihat hancur berkeping-keping. Seseorang telah dengan sengaja menjatuhkan botol air keras di atas maketnya, melelehkan polistiren dan menghitamkan kayu balsanya.

​Seorang asisten dosen berjalan mendekat, menatap reruntuhan maket itu dengan iba.

​"Kau bisa meminta perpanjangan waktu, Naya. Ini jelas sabotase. Semua orang tahu kau adalah ancaman bagi proyek unggulan anak Dekan," ucap asisten dosen itu.

​Naya menghapus air matanya dengan kasar menggunakan lengan bajunya yang kotor oleh lem. Ia berdiri, menatap maketnya yang hancur dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan penuh determinasi.

​"Saya tidak butuh perpanjangan waktu. Dan saya tidak butuh kasihan," ucap Naya, suaranya terdengar sangat tajam. "Saya punya waktu empat puluh delapan jam sebelum presentasi final. Saya akan membangunnya kembali. Lebih baik, lebih kuat, dan lebih rumit dari ini. Mereka pikir mereka bisa menghentikan saya hanya dengan merusak maket?"

​Naya mengambil pisau pemotongnya kembali. Jemarinya yang luka-luka akibat pengerjaan maket sebelumnya tidak ia hiraukan.

​"Dunia ini tidak peduli seberapa keras kau menangis karena dijatuhkan," bisik Naya pada dirinya sendiri di tengah studio yang sunyi. "Dunia hanya peduli jika kau punya kekuatan untuk merangkak naik dan menampar mereka dengan kesuksesanmu. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun melihatku lemah lagi."

​Kamera melakukan close-up pada tangan Naya yang mulai memotong kayu balsa baru dengan presisi yang menakutkan. Di detik itu, lahirnya Kanaya Larasati yang keras kepala dan penuh gengsi dimulai—sebuah perisai yang kini justru dihancurkan oleh seorang Arjuna Dirgantara dalam satu malam di Bali.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!