Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 – Naya
“Bima nggak diajak mampir dulu, Nay?” kata mama ketika aku masuk dari luar rumah. Mama dan papa tahu aku makan malam lagi dengan Bima hari ini. Mereka sebetulnya bersikeras, ajak Bima makan malam di rumah saja, tapi aku menolaknya.
“Udah malam, Bu,” kataku dengan cepat, lalu naik ke kamar ku.
Sebab, mana ada orang pacaran di rumah. Yah, walau pun aku dan Bima tidak benar-benar pacaran. Aku meracau… kataku dalam hati.
Suara di kepalaku tidak berhenti, karena masih memikirkan pertikaian tadi.
Apakah Bima cemburu kalau Alfian mengontakku?
Aku duduk di tepi kasur sambil membuka kerudung dan menatap layar ponsel.
Harus kah aku mengontak Bima?
“Aaaah!” Aku merebahkan diri di kasur. Makanan yang enak tadi tiba-tiba tidak terasa lagi karena pertengkaran nggak penting.
--
Paginya, aku pergi ke kafe. Sepanjang sarapan dan selama perjalanan ke kafe, aku menunggu pesan dari Bima, tapi tidak ada pesan. Mungkin dia masih marah?
“Dekorasi sama katering udah tahu gedung baru,” kata Risa yang duduk di hadapanku. Laptopnya terbuka di atas meja.
Kami sedang membahas klien dadakan, tapi kepalaku melamun memikirkan Bima. Aku sudah menghubungi Celsi, menanyakan apakah sedang bersama Bima, tapi belum ada jawaban darinya.
“Masalahnya, foto prewed mereka itu nggak bisa disimpen di lobi, soalnya lobinya kecil. Kalau disimpen di jalanan, takut jatuh kena angin, tapi kalau disimpen di dalem gedung, nanti ganggu orang hilir mudik cari makan,” kata Risa lagi.
Tiba-tiba ada pesan dari Celsi.
Celsi : Sori baru bales. Bima lagi sakit perut. Hari ini kerjaan dicancel semua.
“Oh,” kataku tiba-tiba.
“Oh?” tanya Risa.
“Eh, iya, Kak,” aku cepat-cepat menyimpan ponselku.
Risa menghela napas, “Ada apa sih?”
“Nggak, Kak.”
“Bima ya?” Risa menyingkirkan laptopnya. “Kamu sama Bima kemarin gimana?”
“Oh, itu… kayaknya Bima nggak bisa makan pedes?”
“Hah?”
“Kata Kak Celsi barusan bilang, Bima sakit perut.”
“Emang kalian makan apa?”
“Iga bakar sambel ijo,” kataku dengan sedikit memicingkan mata, menyesal telah membawanya ke tempat pedas tanpa bertanya dulu.
“Ya ampun Naya! Itu pedes banget loh!”
Aku cuma bisa nyengir.
“Ya udah, telepon dia, besuk, bawain apa gitu!” kata Risa mengambil laptopnya lagi. “Sekalian tanyain, kamu kapan mau milih gedung?"
Deg!
"I... iya, mbak,” kataku malu-malu. Lalu menelepon Bima.
--
Sekarang aku di ruang tengah rumah Bima, untuk pertama kali. Rumah yang besar. Berapa gajinya Bima sekali syuting ya? Lantai marmer yang mengkilap. Furniture yang… pasti nggak murah. Langit-langit yang tinggi. Dan kolam renang.
Aku menghela napas, tidak sanggup menaksir harga rumah ini.
Bima datang dengan wajah pucat. Dia lalu duduk di hadapanku, membawa freshcare aroma therapy jeruk nipis.
Bagaimana bisa aku membahas gedung, kalau soal pertikaian kami tadi malam saja belum terbahas. Apa aku bahas sekarang? Tapi dia lagi sakit perut. Nanti malah nambah sakit.
“Nay,” tiba-tiba Bima menghentikan lamunanku.
“Ya?”
“Sori ya, kemarin aku kayak terlalu memaksa kamu tiba-tiba.”
“Hemm…,”
“Soal Alfian.”
“Ya…, aku ngerti.”
“Aku bukannya cemburu. Tapi mungkin karena kepedesan aja kali, jadi agak sedikit emosi,” katanya sambil berusaha tersenyum.
“Oh, jadi kamu nggak cemburu?” tanyaku agak sedikit – serius sedikit sekali – kecewa.
“Eh, bukan! Eh, aduh! Gimana ya!” Bima salah tingkah. “Yah, agak sedikit cemburu sih….”
Aku terkekeh, lalu menjelaskan, “Jujur, aku juga kaget dia tiba-tiba ngontak gitu. Rasa-rasanya aku udah nggak punya utang sama dia. Mas kawin, cincin lamaran, udah aku balikin.”
Bima menganggukkan kepala sambil mencium freshcare.
“Menurut kamu gimana? Aku bales atau nggak?” tanyaku. Aku harus jujur, mulai sekarang, kalau masalah pribadi, Bima harus tahu.
“Ya terserah kamu sih. Bales boleh, nggak juga nggak apa-apa.”
Aku mengangguk.
“Tapi kalau kamu bales, kamu cerita sama aku,” katanya sambil menatap bubur yang masih belum habis.
“Oke. Tapi kamu juga harus cerita sama aku, kalau kamu nggak suka pedes, atau ada alergi makanan. Jangan iya-iya aja.”
Bima menunduk malu. Ada rona merah di pipi dan telinganya. “Iya.”
“Ya udah, sekarang kamu istirahat dulu, biar cepet sehat lagi,” kataku tersenyum.
“Eh tunggu!” Bima bangkit, lalu masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian, dia keluar lagi membawa dua kotak cincin. Kotak warna hitam dua buah. Dia duduk di hadapan aku dan membuka dua kotak kecil itu, “Sebenernya aku mau ajak kamu ke toko cincin, tapi aku khawatir ada orang yang liat kita dan akan jadi bahan gosip.”
“Oh,” kataku terpesona melihat dua buah cincin. Satu cincin berlian full sekeliling cincin. Dan satu lagi cincin polos, ada garis silver tipis di tengah-tengahnya membentuk bulan sabit tipis. Seperti senyuman cantik.
“Kamu suka yang mana?” tanyanya.
Aku menunjuk cincin yang polos dengan tangan gemetar. Hatiku berdebar. “Ini cantik sekali.”
“I know it! Aku kira kamu pasti suka yang kaya gini,” kata Bima sambil mengambil cincin itu lalu mengulurkan tangannya, meminta tanganku. “Coba?”
Aku dan Bima bertatapan.
Aku lalu memberikan tangan kiriku. Bima langsung memasukkan cincin itu ke jari manisku. Perlahan. Aku seperti melihat masa depan, dimana dia memasangkan cincin itu di depan penghulu.
Ckkk!
Ternyata cincin itu nyangkut di tengah-tengah. Ternyata ukurannya kekecilan.
Aku dan Bima tertawa.
“Ternyata jari kamu gede juga!” kata Bima berusaha mengeluarkan cincin itu.
“Eh, kamu itu cari cincin buat anak-anak apa gimana?” kataku malu.
“Coba yang ini, yang ini ukurannya lebih besar,” kata Bima mengambil cincin berlian heboh itu.
Slup!
Bima dengan mudah bisa memasukkan cincin itu. “Pas!”
Aku tersenyum dan melihat cincin itu di jari manisku.
“Berarti nanti aku cari cincin yang ini, dengan ukuran yang itu,” kata Bima memasukkan cincin bulan sabit itu ke dalam kotaknya.
“Ini berapa harganya?” tanyaku sambil melepaskan cincin berlian dari jari manisku.
“Ada lah…,” Bima menerima cincin berlian dariku, lalu memasukkannya ke kotak.
“Mas!” kataku memberikan peringatan.
Bima menghela napas, “30…”
“JUTA?” tanyaku kaget.
“Ini lebih murah, daripada yang ini. Yang ini dua ratus!”
“Astagfirullah alazim!” aku merebahkan diri ke sandaran kursi.
“Kan nggak sering juga beli ini, nggak apa-apa lah!” Bima berusaha membujukku. “Kalau cincin ini, pasangannya yang cowoknya cincin emas putih, tapi modelnya kaya gini juga.”
“Sama harganya?”
Bima mengangguk.
Aku hanya bisa menghela napas. “Tapi nanti gedungnya di tempat yang biasa aja, ya?”
“Oh, kalau gedung. Kita di restoran temen aku aja, gimana? Nggak gede, tapi luas, outdoor gitu. Nggak usah banyak undangan,” katanya dengan semangat.
“Boleh sih,” restoran pasti nggak semahal gedung, pikirku. “Di mana?”
“Di Bali,” Bima tersenyum lebar.
Aku menepuk jidat.