"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Suara deru mesin mobil sport milik Denis yang memasuki area parkir bawah tanah penthouse malam itu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan yang sempat dibangun dengan susah payah. Di ruang tamu yang luas, di bawah pendar lampu kristal yang dingin, Susi dan Puput sudah bersiap. Mereka duduk bersandar di sofa beludru dengan wajah yang disulap sedemikian rupa mata yang dipaksa sembab, riasan yang sedikit sengaja dirusak, dan ekspresi seolah-olah martabat mereka baru saja diinjak-injak oleh tiran yang kejam.
Begitu pintu lift pribadi terbuka dan sosok jangkung Denis melangkah masuk dengan jas mahal yang tersampir malas di lengan kirinya, Susi langsung bangkit berdiri. Ia menyongsong Denis dengan langkah terburu-buru, seolah-olah ia baru saja lolos dari maut dan menemukan penyelamatnya.
"Denis! Akhirnya kau pulang juga! Mama hampir saja menelepon polisi karena situasi di rumah ini sudah tidak terkendali!" seru Susi dengan nada suara yang bergetar hebat, tangannya gemetar saat mencoba menyentuh lengan putranya.
Denis berhenti melangkah tepat di tengah ruangan. Ia mengendurkan simpul dasinya dengan gerakan lambat yang penuh otoritas, sama sekali tidak tampak terkejut dengan sambutan histeris itu. Matanya yang tajam menyapu seluruh penjuru ruangan, menemukan Calista yang duduk tenang di sudut perpustakaan kecil sambil membolak-balik majalah bisnis. Gadis itu tampak sangat santai, seolah-olah drama besar yang sedang dipentaskan di tengah ruangan hanyalah gangguan nyamuk yang tidak berarti.
"Ada apa lagi?" tanya Denis pendek, suaranya sedingin es yang baru keluar dari pembeku.
Puput berlari mendekati kakaknya, air mata buaya mulai membasahi pipinya yang mulus. "Mas Denis, kau harus melakukan sesuatu sekarang juga! Calista... dia benar-benar sudah gila! Dia memecat Bi Inah dan dua pelayan lainnya secara sepihak! Kau tahu betapa setianya mereka pada keluarga kita, kan? Dia mengusir mereka seperti mengusir anjing kurap di depan semua orang!"
Susi menimpali dengan nada yang lebih dramatis, sambil memegangi dadanya seolah jantungnya baru saja berhenti berdetak. "Benar, Denis. Bi Inah sudah bekerja di keluarga ini belasan tahun, bahkan jauh sebelum kau membawa gadis kecil tanpa asal-usul ini masuk ke rumah kita. Dia pelayan kesayangan Mama! Bagaimana bisa istrimu itu membuangnya begitu saja hanya karena masalah sepele? Ini bukan sekadar pemecatan pelayan, Denis. Ini adalah penghinaan besar bagi Mama sebagai orang tua di rumah ini!"
Denis tidak langsung memberikan reaksi yang diinginkan mereka. Ia berjalan menuju minibar dengan langkah tenang, menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal yang berkilau, lalu menyesapnya perlahan sambil menatap pemandangan kota Jakarta dari balik dinding kaca. Keheningan yang diciptakan Denis membuat Susi dan Puput merasa di atas angin. Mereka mengira Denis sedang menahan amarah yang meledak-ledak kepada istrinya yang dianggap telah melampaui batas.
"Dia memecat mereka?" tanya Denis tanpa menoleh, matanya yang gelap kini melirik tajam ke arah Calista melalui pantulan kaca.
Calista menutup majalahnya dengan bunyi plak yang tegas, lalu berdiri. Ia melangkah maju ke tengah ruangan, berdiri sejajar dengan Denis. Ia tidak tampak takut atau merasa bersalah sedikit pun. "Iya, aku memecat mereka. Aku melakukannya karena mereka secara terang-terangan membangkang dan menolak menjalankan perintahku sebagai nyonya rumah ini. Mereka lebih memilih mendengarkan bisikan hasutan dari 'orang luar' daripada menghormati posisiku."
Susi membelalakkan mata, napasnya tersengal mendengar istilah 'orang luar' yang diucapkan dengan begitu berani oleh Calista. "Kau dengar itu, Denis? Dia menyebut Mama, ibu yang membesarkan rumah ini, sebagai orang luar! Beraninya dia bicara seperti itu di depanmu!"
"Cukup," potong Denis pelan, namun volume suaranya yang rendah justru mengandung ancaman yang jauh lebih mengerikan hingga membuat Susi terbungkam seketika.
Denis melangkah mendekati Calista, lalu secara mengejutkan ia menarik pinggang istrinya itu dan merangkulnya dengan sangat posesif di depan mata mereka berdua. Ia menatap Ibu tirinya dengan tatapan yang sangat datar, jenis tatapan yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi lawan bisnis di meja perundingan.
"Jika Calista memecat mereka, artinya mereka memang sudah sangat pantas untuk diusir," ucap Denis tanpa keraguan sedikit pun.
Susi terperangah, mulutnya terbuka lebar tanpa suara, seolah-olah ia baru saja ditampar secara fisik. "Tapi Denis... mereka orang-orang lama! Mereka tahu semua rahasia dan kebiasaan kita! Siapa yang akan melayani Mama dengan benar sekarang?"
"Dengarkan aku baik-baik, Nyonya Susi," suara Denis merendah, setiap kata yang keluar terasa seperti vonis yang mutlak. "Sejak hari pernikahan kami, aku sudah menyerahkan seluruh kunci, kewenangan administrasi, dan otoritas urusan rumah tangga ini kepada istriku tercinta. Calista memiliki hak mutlak untuk menentukan siapa yang layak bekerja di bawah atap ini dan siapa yang harus diseret keluar jika dianggap sampah."
Denis beralih menatap Puput yang mulai gemetar ketakutan melihat kilatan amarah di mata kakaknya. "Jika menurut Calista mereka tidak berguna, tidak kompeten, atau tidak tahu cara menghormati siapa yang memegang kendali di sini, maka keputusan itu adalah keputusanku juga. Aku tidak butuh pelayan yang setia pada 'sentimen lama' tapi buta terhadap hierarki kekuasaan yang baru."
Puput mencoba membela diri dengan suara mencicit yang hampir tidak terdengar. "Tapi Mas, ini benar-benar tidak adil... Calista sangat galak dan sombong tadi pagi, dia mempermalukan Bi Inah di depan semua orang..."
"Aku justru sangat bangga padanya," potong Denis lagi, kali ini dengan senyum tipis yang tampak sangat puas dan penuh kemenangan. "Artinya dia sudah menjalankan perannya dengan sangat baik. Dia tahu cara melindungi harga dirinya sendiri, yang berarti dia sedang melindungi kehormatanku sebagai suaminya. Aku tidak ingin istriku dianggap remeh oleh pelayan rendahan."
Denis kemudian menatap Susi kembali dengan pandangan yang lebih tajam. "Jika Mama merasa tidak nyaman dengan aturan baru atau gaya kepemimpinan istriku, Mama tahu di mana letak pintu keluar. Aku bisa membelikan Mama unit apartemen lain di pusat kota besok pagi jika Mama merasa rumah ini sudah bukan lagi wilayah kekuasaan Mama."
Wajah Susi berubah pucat pasi, lalu memerah padam karena malu dan marah yang bercampur aduk secara dahsyat. Tawaran Denis bukan sekadar tawaran kebaikan, melainkan sebuah ancaman halus bahwa posisi Susi di kediaman Satrya benar-benar sudah di ujung tanduk. Ia tidak pernah menyangka dalam mimpi buruknya sekalipun bahwa Denis akan membela gadis SMA yang polos itu sedemikian rupa, bahkan sampai tega mengabaikan pengabdian Bi Inah selama belasan tahun.
"Ayo, sayang. Kita ke kamar. Aku butuh istirahat setelah hari yang panjang," ajak Denis pada Calista, mengabaikan dua wanita yang berdiri mematung layaknya patung garam di tengah ruangan.
Calista tersenyum tipis ke arah Susi dan Puput sebuah senyum kemenangan yang sangat manis namun terasa mematikan. Saat mereka melangkah menuju lift pribadi, Calista sempat menoleh sebentar dengan tatapan yang sangat dingin.
"Selamat malam, Nyonya Susi. Puput. Semoga kalian bisa tidur nyenyak malam ini, meski tanpa bantuan Bi Inah untuk sekadar mengambilkan air minum," ucap Calista tenang.
Begitu pintu lift tertutup rapat, Susi menghentakkan kakinya ke lantai marmer dengan geram hingga suaranya bergema. "Sialan! Gadis itu benar-benar sudah menggunakan sihirnya untuk mencuci otak Denis! Kita harus mencari cara lain untuk menendangnya keluar!"
Sementara di dalam lift, Calista merasakan tangan Denis di pinggangnya semakin erat, seolah-olah pria itu tidak ingin melepaskannya. Ia tahu, kemenangan ronde ini baru saja berakhir, dan pertempuran yang lebih besar menantinya. Namun untuk saat ini, melihat wajah hancur Ibu tiri dan adik iparnya adalah bayaran yang sepadan bagi segala rasa perih yang ia rasakan.
Please komen dan like ❤🙏❤❤