NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Angin kencang menerpa wajah Aira saat motor tua itu dipacu membelah jalan raya menuju pinggiran kota. Kejadian dengan pria-pria berjas tadi masih membekas di benaknya, namun Dewa dengan cepat menepisnya sebagai salah sasaran.

"Mereka pasti mengira aku orang lain, Aira. Nama Dewa itu pasaran," begitu alasan Dewa saat itu. Aira ingin percaya, tapi sorot mata pria berjas itu terlalu hormat untuk sebuah kesalahan. Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, motor itu terbatuk.

Uhuk... uhuk... krak!

Mesin motor tua itu mati total tepat di tanjakan sepi yang dikelilingi kebun jati. Asap putih mengepul dari knalpotnya yang berkarat. Dewa menghela napas, turun dari motor, dan mencoba menyelah mesinnya berkali-kali.

Kring... kring... kring...

Nihil. Motor itu tetap bungkam.

"Maaf, Aira. Sepertinya kita harus mendorongnya," ucap Dewa pelan. Ada gurat kelelahan di wajahnya yang tertutup debu jalanan.

Aira tidak mengeluh. Ia turun, lalu ikut mendorong motor itu dari belakang sementara Dewa memegang kemudi.

Gaun putih gadingnya kini sudah ternoda bercak oli dan debu, namun ia terus melangkah. Kaki Aira lecet karena sepatu pernikahan yang tidak nyaman, tapi setiap kali Dewa menoleh, Aira selalu memaksakan senyum.

"Hanya tinggal dua kilometer lagi, Mas. Aku masih kuat," bohongnya.

Dewa menatap punggung tangan Aira yang memerah. Di dalam hatinya, sebuah gejolak rasa bersalah menghantam. Di balik bukit itu, sebuah mobil Mercedes-Benz S-Class miliknya sedang terparkir di sebuah gudang rahasia, siap untuk menjemputnya.

Ia hanya perlu menekan satu tombol di jam tangannya, dan penderitaan ini akan berakhir. Namun, ia harus memastikan satu hal - Apakah Aira mencintainya, atau hanya mencintai bayangan kekuasaannya?

Matahari sudah hampir tenggelam saat mereka sampai di sebuah kawasan pemukiman padat di pinggiran kota. Jalanan aspal berubah menjadi gang sempit yang hanya cukup untuk satu motor. Bau got yang menggenang dan suara bising anak-anak yang bermain di lorong menyambut mereka.

"Kita sampai," ucap Dewa pelan.

Dewa berhenti di depan sebuah bangunan kecil yang terjepit di antara dua tembok rumah petak lainnya. Pagar besinya sudah sangat berkarat hingga suaranya memekakkan telinga saat dibuka.

Dindingnya yang berwarna putih sudah mengelupas, menampakkan batu bata di beberapa sisi. Di atasnya, beberapa lembar asbes tampak retak, dan sebuah ember plastik diletakkan di lantai teras untuk menampung tetesan air dari atap yang bocor.

Aira terpaku. Ia sudah menyiapkan mental untuk hidup sederhana, tapi ini... ini melampaui bayangannya. Rumah ini lebih mirip gudang penyimpanan daripada tempat tinggal.

"Ini... rumah kita, Mas?" tanya Aira, suaranya sedikit bergetar.

"Kontrakan, Aira. Aku belum mampu membeli rumah. Masuklah," Dewa membukakan pintu kayu yang sudah dimakan rayap.

Di dalam, hanya ada sebuah ruang tamu merangkap ruang makan yang sempit, sebuah dapur kecil dengan kompor satu tungku, dan satu kamar tidur dengan kasur busa yang tipis. Udara di dalamnya terasa pengap dan lembap.

"Aku akan menaruh koper di kamar. Kamu istirahatlah dulu," Dewa masuk ke dalam, membiarkan Aira berdiri sendirian di tengah ruangan.

Aira menatap sekeliling. Ia melihat ke atas, ke arah langit-langit yang menghitam karena jamur. Dadanya terasa sesak. Bukan karena ia membenci kemiskinan, tapi karena teringat kata-kata ayahnya dan tawa sinis Siska.

'Apakah ini harga dari harga diri yang aku pertahankan? Apakah aku benar-benar akan menghabiskan sisa hidupku di tempat seperti ini ?'

"Mas, aku izin ke kamar mandi sebentar," pamit Aira.

Ia masuk ke kamar mandi kecil di sudut dapur. Pintunya hanya berupa plastik biru yang ditarik. Di dalam, dindingnya berlumut dan air di bak plastiknya tampak keruh. Aira menutup pintu plastik itu rapat-rapat, lalu ia jatuh terduduk di atas lantai semen yang dingin.

Aira menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam suara isaknya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia meratapi nasibnya yang seperti dibuang, meratapi betapa drastisnya perubahan hidupnya dalam sehari. Ia merasa sangat kecil dan tak berdaya.

Namun, di tengah isaknya, ia mendengar suara Dewa dari luar sedang memukul-mukul sesuatu.

Klak! Klak! Klak!

"Aira? Maaf kalau agak berisik, aku sedang mencoba membetulkan keran yang macet supaya kamu bisa wudu," teriak Dewa dari luar.

Aira tersentak. Ia segera menyeka air matanya dengan ujung kerudungnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia tidak boleh terlihat menangis.

Ia tidak ingin Dewa merasa bahwa istrinya menyesal menikah dengannya. Pria itu sudah bekerja keras mendorong motor, ia tidak boleh menambah beban mental suaminya.

Aira membasuh wajahnya dengan air keruh itu berkali-kali sampai matanya tidak lagi merah. Ia memaksakan wajah ceria, lalu keluar dari kamar mandi.

"Mas, kerannya sudah benar?" tanya Aira dengan nada suara yang sengaja diceriakan.

Dewa berbalik, tangannya penuh dengan karat dan air. Ia menatap Aira dengan tajam. Sebagai pria yang terbiasa membaca ekspresi rekan bisnisnya, ia tahu mata Aira bengkak. Ia tahu istrinya baru saja menangis.

Namun, melihat betapa kerasnya Aira mencoba menyembunyikan kesedihannya demi menjaga perasaannya, Dewa merasakan hatinya seperti diremas.

"Sudah, Aira. Tidurlah duluan, aku akan membersihkan sisa air di teras," ucap Dewa pelan.

Malam semakin larut. Aira sudah tertidur di kasur busa tipis itu karena kelelahan yang luar biasa. Ia tertidur dengan masih mengenakan mukenanya, meringkuk kedinginan karena tidak ada selimut yang layak.

Dewa duduk di kursi plastik di teras depan, menatap kegelapan gang. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel tipis dengan teknologi paling mutakhir yang sengaja ia simpan di tempat tersembunyi.

Ia membuka kontak bernama 'Bara - Asisten' Jarinya gemetar di atas tombol panggil.

"Pindahkan dia sekarang, Dewa. Jangan biarkan dia menderita seperti ini hanya untuk egomu," batinnya berteriak.

Ia membayangkan Aira bangun esok pagi di sebuah penthouse mewah dengan seprai sutra, pelayan yang menyediakan sarapan terbaik, dan air hangat yang mengalir dari pancuran emas.

Ia bisa melakukannya hanya dalam sepuluh menit. Satu telepon, dan iring-iringan mobil hitam akan datang menjemput mereka, mengubah gubuk ini menjadi kenangan buruk dalam sekejap.

Dewa menekan tombol panggil.

"Halo, Tuan Muda ?" suara Bara terdengar di seberang sana dengan nada sigap. "Mobil sudah siap di koordinat biasanya. Haruskah kami menjemput Anda dan Nyonya Aira sekarang ?"

Dewa diam. Matanya beralih ke dalam kamar, melihat siluet Aira yang tertidur pulas. Ia teringat bagaimana Aira mendorong motor bersamanya tanpa mengeluh.

Ia teringat bagaimana Aira mencium tangannya dengan takzim di depan orang-orang yang menghina mereka. Dan ia teringat bagaimana Aira menyeka air matanya di kamar mandi hanya agar tidak melukai harga dirinya.

Ketulusan seperti itu tidak bisa dibeli dengan saham miliaran rupiah.

"Tuan Muda ?" Bara mengulangi.

Dewa menarik napas panjang. "Batalkan, Bara. Tetaplah dalam posisi stand-by. Aku belum akan kembali."

"Tapi Tuan, rumah itu tidak layak untuk Anda, apalagi untuk Nyonya..."

"Dia belum tahu siapa aku, Bara. Dan aku ingin tahu sejauh mana hatinya bisa bertahan bersamaku saat aku tidak punya apa-apa. Karena suatu saat nanti, saat aku memberikan dunia padanya, aku ingin tahu bahwa dia mencintaiku, bukan hartaku."

Dewa mematikan teleponnya. Ia masuk ke dalam, lalu menyelimuti kaki Aira dengan jaket jeans lusuhnya yang tadi ia pakai. Ia duduk di lantai di samping tempat tidur, menjaga istrinya yang tertidur lelap.

Tiba-tiba, ponsel tua milik Aira yang diletakkan di atas lantai bergetar. Sebuah pesan masuk dari ayahnya, Pak Surya.

Dewa melirik layar ponsel itu yang retak. Pesan itu terbaca jelas di notifikasi.

"Bagaimana rumah barumu, Aira? Sudah tahu rasa hidup dengan orang miskin? Kalau kamu menyerah, jangan pernah kembali ke rumah ini !"

Rahang Dewa mengeras. Matanya berkilat marah. Ia menatap wajah tenang Aira yang sedang bermimpi.

"Ayahmu salah, Aira," bisik Dewa dingin. "Dia tidak tahu bahwa pria yang dia sebut kuli ini, bisa meruntuhkan seluruh hidupnya hanya dengan satu jentikan jari."

...----------------...

To Be Continue .....

1
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
ρυтяσ kang'typo✨
Good Ai...jangan biarkan mereka merendahkan mu hanya karna baju dan rantang di tangan, dikira haku dan gila🤦‍♀️😌hadeeeh...padahal orang kampung lebih jujur dari pada orang kota yang sok baik di balut dengan baju mewah'y namun hati'y busuk🤭🤭🤭nak kan u harus siap mentak lagi Ai, di rumah ada tamu tak di undang yang mau kembali sam suami mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!