NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.

Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.

Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.

Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.

Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.

Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Nama

"Mas Endric..."

Suara itu terdengar lagi, lebih dekat dan lebih pelan, justru membuat suasana semakin tidak nyaman. Endric berdiri kaku di tengah ruangan, matanya tidak lepas dari pintu yang tertutup rapat. Napasnya tertahan, sementara tangannya perlahan mengepal, berusaha menahan gemetar yang semakin terasa.

"Gue ndak buka," bisiknya.

Gandhul mengangguk pelan.

"Bagus. Jangan langsung percaya."

Suara di luar kembali terdengar.

"Mas Endric, ini saya, Pak Wakhid."

Nada suaranya sama persis, tenang dan sabar, seperti orang yang benar-benar hanya ingin memastikan keadaan. Namun, Endric tidak bergerak, tubuhnya tetap tegang.

"Kalau beneran dia?" tanyanya pelan.

"Kalau beneran, dia bisa nunggu," jawab Gandhul.

Endric mengangguk. Masuk akal, tetapi tetap ada sesuatu yang terasa salah.

"Mas Endric..."

Kali ini suara itu terdengar tepat di depan pintu, sangat dekat, seolah wajahnya menempel di kayu.

"buka, Mas."

Endric menelan ludah. Tangannya perlahan bergerak, bukan ke arah pintu, melainkan ke lehernya. Garis hitam itu bergerak lagi, lebih aktif, seolah merespons suara tersebut.

"Ndhul," bisiknya.

"Iya."

"Ini ngaruh ke dalam gue."

Gandhul langsung menegang.

"Jangan dengerin."

"Gue ndak mau, tapi dia kayak narik."

Endric menutup telinganya, tetapi suara itu tetap masuk, bukan melalui telinga, melainkan langsung ke kepalanya.

"Mas Endric."

"Mas Endric."

"Mas Endric."

Suara itu berulang, pelan tetapi memaksa.

"Anjir," Endric mengumpat.

"Dia masuk ke pikiran lo," kata Gandhul cepat.

Endric menggeleng keras.

"Ndak. Ini kepala gue!"

Namun, garis hitam itu kembali bergerak, naik sedikit lagi ke pipi, lebih tebal dari sebelumnya. Sensasi itu membuatnya semakin tidak nyaman.

"buka," bisik suara dari dalam tangannya.

Endric langsung membeku.

"Lo juga?!"

"buka"

Endric menatap tangannya dengan tidak percaya.

"Lo tadi bantu gue!"

"buka"

Endric mundur satu langkah, matanya membesar.

"Lo berubah, ya?"

Gandhul langsung berkata tegas.

"Rek, fokus! Itu bukan mereka lagi!"

Endric mengangguk cepat.

"Iya. Ini beda."

Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Namun, suara dari luar dan dari dalam semakin sinkron, saling menekan pikirannya.

"Mas Endric."

"buka"

"Mas Endric."

"buka"

Endric memegang kepalanya.

"Gue kayak di surround sound."

Gandhul hampir tertawa, tetapi menahan diri.

"Lo harus lawan satu arah dulu!"

Endric menatapnya.

"Yang mana?!"

"Yang di dalam lo!"

Endric langsung fokus pada tangannya. Ia menggenggam pergelangan itu kuat, mencoba mengendalikan apa yang bergerak di bawah kulitnya.

"Dengar, ya," katanya pelan.

Garis hitam itu bergerak liar.

"buka"

Endric menggertakkan gigi.

"Ndak ada buka!"

"buka"

"Gue bilang ndak!"

Tiba-tiba lampu berkedip, sekali, dua kali, lalu menyala lagi. Namun, ruangan terasa berubah, lebih gelap dan lebih padat, seolah ada sesuatu yang menekan dari segala arah. Bayangan di dinding bergerak lagi, lebih aktif dan lebih gelisah.

"mereka ikut panik," bisik suara dari dalam.

Endric mengernyit.

"Siapa?"

"yang di dalam kamu"

Endric langsung sadar. Yang ada di dalam dirinya bukan hanya satu, dan sekarang mereka tidak lagi kompak.

"Anjir, kalian ribut di dalam gue?" katanya.

Gandhul menatapnya.

"Bagus."

"Bagus apanya?!"

"Kalau mereka pecah, lo bisa masuk."

Endric langsung mengerti.

"Gue jadi mediator sekarang?"

"Ya. Lo jadi RT mereka."

Endric hampir tertawa.

"Gue jadi ketua warga di badan sendiri."

Namun, situasi tidak memberi waktu. Suara di luar semakin keras.

"Mas Endric!"

Nada suaranya berubah, lebih tegas dan memaksa.

"Buka pintunya, Mas."

Endric menatap pintu dengan tenang, tetapi tidak bergerak.

"Lo bukan Pak Wakhid," katanya pelan.

Sunyi.

Beberapa detik berlalu.

"Kenapa begitu, Mas?" jawab suara itu.

Nadanya masih sama, tetapi ada sesuatu yang hilang.

Endric tersenyum tipis.

"Pak Wakhid ndak pernah maksa."

Gandhul mengangguk pelan.

"Nice."

Endric melangkah satu langkah ke depan, tetap menjaga jarak dari pintu.

"Kalau lo beneran dia, lo pasti nunggu."

Sunyi kembali, lebih lama dari sebelumnya.

Lalu suara itu berubah. Masih mirip, tetapi tidak lagi sempurna.

"buka"

Endric langsung menunjuk pintu.

"Ya, itu dia. Udah mulai bocor."

Gandhul tertawa kecil.

"Topengnya lepas."

Endric menghela napas.

"Gue ndak buka."

Sunyi total. Tidak ada suara lagi.

Endric menunggu, beberapa detik, lalu beberapa detik lagi.

Masih diam.

"Udah pergi?" bisiknya.

Gandhul menggeleng pelan.

"Belum tentu."

Endric tetap menatap pintu tanpa bergerak.

Namun, tiba-tiba dari bawah pintu muncul sesuatu. Hitam, tipis, seperti asap, merayap masuk perlahan.

Endric langsung mundur.

"Anjir!"

Gandhul berteriak.

"Jangan biarin masuk!"

"Itu udah masuk!"

Asap itu menyebar di lantai dengan cepat, seolah mencari, lalu mengarah ke Endric.

"wadah," bisiknya.

Endric langsung menatap tangannya.

"Lo bantu gue sekarang!"

Garis hitam itu bergerak, tetapi tidak langsung, seolah ragu.

"kami takut"

Endric membeku.

"Takut apa?!"

"itu beda"

Gandhul langsung menegang.

"Rek, ini bukan yang biasa."

Endric menelan ludah.

"Gue tahu!"

Asap itu naik perlahan, membentuk sesuatu yang menyerupai wajah. Tidak jelas, tetapi tampak tersenyum.

"buka," bisiknya lagi.

Endric langsung mengambil apa saja di sekitarnya, kursi, meja, lalu melemparkannya ke arah asap itu. Namun, tidak ada efek sama sekali.

"Anjir, ini kebal!"

Gandhul mundur.

"Lo ndak bisa lawan itu pakai fisik!"

"Terus pakai apa?!"

Gandhul menunjuk kepalanya.

"Pikiran!"

Endric langsung diam. Asap itu semakin dekat, kini setinggi dada, wajahnya semakin jelas, kosong tetapi terasa penuh.

"wadah," ulangnya.

Endric menutup mata dan menarik napas dalam.

"Gue ndak kosong," katanya pelan.

Asap itu berhenti sejenak.

"Gue udah penuh," lanjutnya.

Garis hitam di tubuhnya bergerak serempak, seolah merespons.

"kami di sini," bisik suara dari dalam.

Endric membuka mata dan menatap asap itu.

"Lo telat," katanya.

Sunyi.

Asap itu berhenti, tidak maju dan tidak mundur.

Beberapa detik berlalu.

Lalu perlahan mundur, kembali ke bawah pintu, dan menghilang.

Endric langsung jatuh terduduk, napasnya terengah-engah.

"Gue barusan nolak sesuatu yang lebih gede."

Gandhul mengangguk.

"Iya."

Endric tertawa kecil.

"Gue mulai ngerti."

Gandhul menatapnya.

"Ngerti apa?"

Endric menatap tangannya, lalu lehernya, lalu bayangan di sekitarnya.

"Gue ndak cuma lagi bertahan," katanya pelan.

Gandhul mengangkat alis.

"Terus?"

Endric tersenyum tipis.

"Gue mulai jadi bagian sistem."

Sunyi.

Beberapa detik berlalu.

Gandhul tidak langsung menjawab.

"Dan itu lebih bahaya."

Endric mengangguk.

"Gue tahu."

Namun, tiba-tiba garis hitam itu bergerak lagi, lebih cepat dan lebih kuat. Garis itu naik menuju mata, membuat Endric langsung menegang.

"Ndhul."

"Iya."

Endric menelan ludah.

"Kayaknya mereka ndak cuma mau masuk."

Gandhul menatapnya.

"Terus?"

Endric menatap lurus ke depan. Suara itu muncul lagi, bukan dari luar dan bukan dari bawah, melainkan dari dalam kepalanya sendiri.

"kami hampir jadi"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!