Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario yang Mulai Retak
Matahari siang itu terasa menyengat, namun tidak lebih panas dari gejolak di dada Bara. Adi menunduk dalam, tangannya yang kasar dan penuh noda oli permanen meremas tali ransel usang dengan gemetar. Ada beban bertahun-tahun yang seolah tumpah dari bahunya yang merosot.
"Kalau untuk bukti... sebenarnya gue ada, Bar," gumam Adi pelan, nyaris tertelan suara bising jalanan.
Bara tersentak. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba.
"Apa, Om? Bukti apa?"
"Gue punya rekaman CCTV-nya. File itu ada di dalam laptop. Tapi..." Adi menjeda kalimatnya, menarik napas yang terasa berat.
"Laptop itu sudah gue gadai bulan lalu. Gue butuh uang buat berobat, Bar."
Bara memejamkan mata sejenak, membiarkan angin panas menerpa wajahnya. Ia mencoba meredam denyut amarah yang mulai merayap.
"Tapi masih bisa ditebus, kan, Om?"
"Jatuh temponya hari ini," sahut Adi dengan suara yang pecah.
"Kalau hari ini bunganya nggak dibayar, laptop itu bakalan masuk daftar lelang besok pagi."
"Berapa bunganya?" tanya Bara cepat.
"Tiga ratus ribu, Bar."
Bara tertegun.
"Tiga ratus ribu..." gumam Bara. Suaranya tercekat.
"Gue enggak punya duit segitu, Om," ucap Bara jujur.
Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah bengkel Malik Jaya yang megah di seberang jalan. Bara bukan tipe orang yang menyerah pada nasib. Matanya beralih ke ponsel pintar di genggamannya—satu-satunya alat komunikasi dan hiburan yang ia miliki.
"Gue cuma punya HP ini, Om. Sementara kita bayar bunganya dulu, kita ulur waktu biar laptopnya enggak dilelang. Biaya tebusnya berapa, Om?"
Adi merogoh dompetnya yang tipis, mengeluarkan selembar nota merah muda yang sudah terlipat rapi.
"Tiga juta, Bar."
"Ya sudah, Om. Kita ke tempat pegadaian itu sekarang."
Di dalam kantor pegadaian yang pengap, Bara menyerahkan ponselnya ke atas meja kaca. Setelah pemeriksaan singkat, petugas memberikan taksiran harga: satu juta dua ratus ribu rupiah. Tanpa ragu, Bara menandatangani surat gadai itu. Ia menyerahkan uang tersebut untuk membayar bunga laptop Adi dan sisa uangnya ia titipkan sebagai cicilan agar beban tebusan tidak terlalu mencekik.
"Kurangnya masih banyak, masih dua juta seratus," gumam Bara.
Bara menoleh ke arah Adi yang sedang duduk melamun dengan pandangan linglung. Kelelahan fisik dan mental terpancar jelas dari wajah pria itu. Bara menghampirinya, lalu menepuk pelan lututnya.
"Kenapa, Om?" tanya Bara sambil menepuk pelan lutut Adi.
"Gue bingung, Bar. Gue enggak bisa bantu apa-apa. Lo lihat sendiri, per hari ini gue sudah enggak kerja."
Bara tersenyum tipis, mencoba mengalirkan sedikit kekuatan.
"Ngojol aja, Om. Jadi ojek online."
"Gue enggak ada motor, Bar. Motor gue sudah ditarik leasing bulan lalu."
"Tenang, Om. Kantor mereka menyediakan motor elektrik sewaan, kok." jelas Bara dengan nada menghibur.
Ia mengangkat kedua alisnya dengan gaya menantang yang khas.
"Besok gue antar daftar, Om. Gimana?"
Mendengar itu, gumpalan awan mendung di wajah Adi sedikit tersingkap. Pria itu tersenyum lega.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Sementara itu, saat istirahat kedua, di kantin SMA Merah Putih yang riuh oleh gelak tawa siswa, Laras duduk bersama Sekar. Di depannya, semangkuk bakso yang masih mengepul perlahan mulai mendingin. Sendok di tangannya hanya bergerak memutar, mengaduk kuah bening itu tanpa minat. Setiap beberapa menit sekali, tangannya secara refleks meraih ponsel. Hanya untuk memastikan bahwa ia tidak melewatkan satu pun getaran dari sana.
"Ras, baksonya keburu dingin, tuh. Kalau cuma mau diaduk, mending buat gue aja," celetuk Sekar sambil menyuap siomay dengan lahap.
Laras tersentak, seperti baru saja dibangunkan dari mimpi buruk. Ia menghela napas panjang dan meletakkan garpunya dengan suara denting yang lemah.
"Enggak nafsu, Kar."
Sekar menyipitkan mata. Ia meletakkan garpunya, lalu mencondongkan tubuh ke arah Laras dengan raut selidik yang kentara.
"Nungguin kabar dari siapa, sih? Kayaknya penting banget sampai dunia lo berhenti berputar gitu."
Laras tidak menjawab. Jemarinya refleks menyentuh layar ponsel, memastikan sinyal di pojok kanan atas tidak sedang menghilang. Tapi tetap saja, hening.
"Lo gitu sekarang, ah, enggak asyik!" gerutu Sekar.
Laras menoleh ke arah Sekar dengan dahi berkerut.
"Maksudnya?"
"Sekarang main rahasia-rahasiaan," sindir Sekar sambil membuang muka.
Melihat itu, Laras segera merangkul bahu sahabatnya.
"Enggak gitu... aku cuma belum siap cerita saja."
"Iya, iya..." ujar Sekar pasrah, meski mulutnya masih sibuk mengunyah siomay.
"Eh, ngomong-ngomong, kemarin gue dengar lo belain Bara, ya? Emang lo kenal sama dia?"
"Enggak seberapa kenal, sih. Cuma beberapa kali sempat mengobrol," jawab Laras pelan.
Mulut Sekar seketika menganga.
"Lah... sejak kapan? Hmm... mau cerita enggak? Gue enggak maksa, sih, tapi gue penasaran tingkat dewa!"
Laras terkekeh melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Heiii... Sekar, kok gitu? Iya, iya, aku cerita."
Laras pun mulai menceritakan semuanya kepada Sekar. Mulai dari pertemuan awal mereka yang tak terduga, hingga bertukar pesan WhatsApp. Sekar tampak sangat terkejut, namun matanya berbinar melihat Laras yang begitu bersemangat setiap kali menyebut nama Bara.
"Lo naksir Bara, ya?" goda Sekar dengan kerlingan nakal.
"Naksir apanya? Enggaklah!" jawab Laras sewot, meski rona merah samar mulai muncul di pipinya.
"Hahaha! Biasa aja kali, enggak usah ngegas!" tawa Sekar pecah, menggoda Laras yang kini salah tingkah.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Laras mempercepat langkahnya menuju mobil jemputan yang sudah terparkir rapi. Pak Joko sudah membukakan pintu belakang dengan sigap. Namun, tepat saat kaki Laras hendak melangkah masuk, ia merasakan desir aneh—sebuah tatapan yang begitu intens hingga membuat bulu kuduknya meremang.
Laras menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan ke arah jam tiga, ke sisi kanan gerbang sekolah yang mulai lengang. Di sana, di bawah bayangan pohon angsana yang rimbun, sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya berdiri mematung.
Cowok itu bersandar pada motor tuanya. Jaket denimnya yang khas, dan rambutnya yang berantakan tertiup angin sore. Ia tidak melambaikan tangan, tidak juga berteriak. Ia hanya menatap Laras dengan tatapan tajam namun dalam, seolah sedang menyampaikan beribu kata yang tak bisa diucapkan lewat ponsel yang kini mendekam di pegadaian.
"Non Laras? Ada yang tertinggal?" tanya Pak Joko heran melihat majikannya terpaku.
Laras tidak menjawab. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Rona merah yang tadi digoda Sekar di kantin kini benar-benar muncul di pipinya. Tanpa sadar, Laras menarik napas panjang, merasa lega sekaligus gugup luar biasa.
Bara mengangkat sedikit dagunya, sebuah isyarat kecil yang seolah berkata, "Gue di sini."
Laras membalas dengan senyum tipis yang tulus, jenis senyum yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.
Ijin mampir🙏