Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Matahari siang menyengat pelataran parkir kampus, namun hawa dingin yang mencekam justru datang dari sosok wanita anggun yang berdiri di depan mobil Bentley putihnya. Isabella Enver-Valerio tidak lagi tampak seperti ibu yang hangat dan ceria. Wajahnya mengeras, napasnya memburu, dan matanya memancarkan kilatan amarah yang jarang ia tunjukkan.
Logan baru saja melangkah menuju motor Ducatinya, berniat pergi ke kafe depan untuk membelikan salad salmon kesukaan Vivian sebelum meluncur ke kantor kekasihnya itu. Ia bersiul kecil, masih merasa menang setelah membungkam mulut Ronal satu jam yang lalu.
PLAK!
Suara tamparan itu bergema keras di area parkir yang mulai sepi. Kepala Logan tersentak ke samping. Rasa panas menjalar di pipi kirinya, namun rasa terkejut di hatinya jauh lebih besar.
"Mom?!" Logan memegang pipinya, menatap ibunya dengan mata membelalak.
"Apa Daddymu mengajarimu menjadi pria brengsek, Logan?!" teriak Isabella. Suaranya bergetar karena emosi. "Apa kau kehilangan otakmu saat kau emosi tadi? Di mana harga dirimu sebagai seorang pria?!"
Logan masih mematung, benar-benar buta akan apa yang terjadi. Di kampus, teman-temannya memang melihat perkelahian itu, tapi tidak ada yang berani membahasnya langsung di depan Logan. Mereka lebih sibuk berbisik di belakang punggungnya.
"Apa maksud Mommy? Aku hanya memberi pelajaran pada pria mulut sampah yang menghina Vivian!" bela Logan.
"Maksud? Kau bertanya apa maksudku?!" Isabella meraih ponsel dari tas mahalnya dengan tangan gemetar. "Kau mempermalukan Mommy, Logan! Kau mempermalukan nama keluarga kita! Videomu sudah meledak di internet, dan saat ini Daddymu sedang pusing setengah mati mencoba meredam penyebarannya lewat tim hukum!"
"Video? Video apa?"
Isabella langsung menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Logan. Logan melihat dirinya sendiri di sana. Ia melihat wajah angkuhnya yang sedang berteriak: “Ambil saja bekas-bekasku... mereka semua hanyalah bagian dari permainanku.”
Deg.
Dunia Logan seolah runtuh dalam satu detik. Darahnya terasa membeku.
"Shitt!!! Siapa yang merekam?!" umpat Logan. Tangannya mengepal hingga buku-jarinya memutih.
Hanya satu pikiran yang menghantam otaknya sekarang: Vivian Wheeler. Jika video ini sudah sampai ke tangan ibunya, maka besar kemungkinan video ini sudah ada di layar ponsel Vivian.
"Brengsek!" Logan memaki dirinya sendiri. Ia berniat membungkam Ronal, tapi justru ia sendiri yang memberikan peluru bagi Ronal untuk menghancurkannya.
"Bagaimana kalau Vivian melihat ini, Logan? Bagaimana kalau bayi kalian kenapa-kenapa karena stres?!" Isabella berteriak lagi, air mata mulai menggenang di matanya. "Ibu hamil tidak boleh banyak pikiran! Kau benar-benar bodoh!"
Logan tidak menjawab lagi. Ia langsung melompat ke atas motornya, memakai helm dengan kasar, dan memutar kunci kontak. Mesin Ducati itu menggeram liar seiring dengan jantung Logan yang berpacu tak karuan. Ia melesat keluar dari kampus seolah nyawanya sedang dipertaruhkan.
Tujuan pertamanya adalah kantor Vivian. Ia berlari masuk ke lobi, mengabaikan tatapan heran para staf.
"Vivian! Di mana Vivian?!" tanya Logan dengan napas tersengal di depan meja Sarah, asisten Vivian.
Sarah menatap Logan dengan tatapan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Rupanya, ia juga sudah melihat video itu. "Nona Wheeler sudah meninggalkan kantor sejak satu jam yang lalu, Tuan Valerio. Beliau membatalkan semua jadwal."
"Ke mana?!"
"Saya tidak berwenang memberitahu Anda."
Logan tidak peduli. Ia kembali ke motornya dan melaju menuju apartemen Vivian. Ia masuk menggunakan kode aksesnya, berlari ke setiap sudut ruangan, ke kamar mandi, ke balkon—kosong. Apartemen itu terasa dingin dan mati.
"Di mana kau, Vivian?!" gumamnya frustrasi, menjambak rambutnya sendiri.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Sarah. Tampaknya asisten itu merasa kasihan atau mungkin diperintah secara terselubung.
Sarah: “Nona ada di Mansion Wheeler. Pulang ke rumah orang tuanya.”
"Mansion Wheeler?" Logan mengerutkan kening. Vivian jarang sekali membicarakan rumah orang tuanya. Ia segera melakukan pencarian cepat di GPS. Sebuah kawasan elit di perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Logan memacu motornya secepat mungkin. Ia harus menjelaskan. Ia harus mengatakan bahwa kata-kata itu hanya tameng harga diri, bukan kebenaran.
Sampainya di Mansion Wheeler, Logan disambut oleh pagar besi raksasa dan taman yang sangat luas. Penjaga keamanan membiarkannya masuk setelah ia menyebutkan namanya. Logan mengira ia akan diusir, tapi anehnya, ia justru diterima dengan sangat baik.
Ia dipersilakan duduk di ruang tamu yang dipenuhi dengan barang antik dan aroma cerutu mahal. Tak lama kemudian, seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih namun masih memiliki sorot mata yang sangat tajam berjalan masuk. Itu adalah Tuan Wheeler, ayah Vivian.
"Kau mencari siapa?" suara pria itu berat dan berwibawa.
Logan berdiri, mencoba bersikap sesopan mungkin meski hatinya sedang kacau. "Saya kekasih Vivian, Om. Maksud saya, Tuan. Saya mencari Vivian."
Tuan Wheeler terdiam sejenak, menatap Logan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia kemudian duduk di kursi besarnya dan menyilangkan kaki. "Kekasih? Kekasih Vivian... putraku?"
Logan sedikit mengernyit. "Putri Anda, Tuan Wheeler. Bukan putra. Saya tidak memacari seorang laki-laki."
Tiba-tiba, Tuan Wheeler tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya memenuhi ruangan. "Oh ya? Kau pintar ternyata. Kebanyakan pria yang dibawa Vivian ke sini akan langsung pucat jika aku menyebutnya putra."
Logan mendengus pelan, harga dirinya kembali naik. "Saya seorang Cavanaugh, Tuan. Wajar saja jika saya sedikit lebih pintar dan sombong dari pria-pria biasa yang Anda temui."
Tuan Wheeler berhenti tertawa, ia mengamati Logan lagi. Biasanya, 4-5 pria yang pernah dibawa Vivian sebagai calon kekasih akan langsung gemetar jika ia bersikap keras. Tapi pria muda di depannya ini berbeda. Dia tampak seperti... bocah SMA yang sangat kekar karena terlalu banyak olahraga, tapi memiliki nyali sebesar singa.
"Gila..." Tuan Wheeler bergumam. "Kau? Apa kau bisa memuaskan putriku?"
Deg.
Logan nyaris tersedak ludahnya sendiri. Pertanyaan gila apa ini? Apa semua orang di keluarga Wheeler memang memiliki urat saraf yang putus?
"Tuan... itu pertanyaan yang sangat privat," jawab Logan, mencoba tetap tenang. "Tapi saya seorang pria sejati. Bagaimana mungkin saya tidak bisa memuaskannya?"
Tuan Wheeler tiba-tiba memasang wajah serius, ia condong ke depan. "Dengar, Nak. Sebenarnya putriku itu... dia punya kepribadian ganda. Dia sebenarnya tidak suka pada seorang laki-laki. Dia itu penyuka sesama jenis. Itulah kenapa semua kekasihnya dulu menyerah."
Deg.
Jantung Logan seolah jatuh ke lantai dua kali. Apa? Apa benar Vivian menyukai sesama jenis? Karena itu dia menolakku? Karena itu dia membangun tembok? Tapi... dia menikmati ciuman kami. Dia membalas pelukanku dengan manja. Apa itu semua hanya akting?
"Apa-apaan ini...?" bisik Logan dalam hati. Pikirannya mendadak kacau. "Vivian, kenapa kau tidak cerita hal sebesar ini padaku?"
Tuan Wheeler memperhatikan ekspresi bingung Logan dengan puas. "Itulah kenapa aku selalu menyebutnya sebagai 'putraku'. Dia lebih jantan dari kebanyakan pria yang kukenal."
Logan menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di kepalanya. Ia menatap Tuan Wheeler dengan tatapan yang sangat teguh.
"Dia putrimu, Tuan. Berhenti mengatakannya sebagai putramu," ucap Logan dengan nada tegas yang membuat Tuan Wheeler terdiam.
"Dia kekasihku. Dan aku sangat mencintainya. Kami saling mencintai. Apapun rahasia yang dia miliki, entah dia suka laki-laki, perempuan, atau bahkan alien sekalipun, itu tidak mengubah fakta bahwa dia adalah milikku sekarang."
Tuan Wheeler menatap Logan lama, lalu sebuah senyum misterius muncul di wajahnya. "Kau punya nyali, Bocah. Vivian ada di balkon belakang. Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menembak kakimu karena sudah berani menyombongkan nama Cavanaugh di rumahku."
Logan tidak menunggu perintah kedua. Ia langsung berlari menuju bagian belakang mansion, bersiap menghadapi badai yang sesungguhnya: kemarahan Vivian Wheeler yang kini mungkin jauh lebih mematikan daripada peluru ayahnya.
gimana bisa ada gunung Argopuro ya