Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-17

Hari berikutnya...
Suasana di lantai direksi pagi itu terasa berbeda. Sangat berbeda.
Biasanya, sebelum Arkan sampai di kantor, meja Nara sudah berantakan dengan berkas, dan suaranya yang cerewet sudah terdengar memarahi staf lain atau mengomel soal kopi.
Tapi hari ini... sunyi senyap.
Nara duduk tegap di kursinya. Wajahnya datar, rapi, dan dingin. Rambutnya disanggul sangat rapi, kacamata baca dipakai, dan tangannya hanya sibuk mengetik atau menandatangani dokumen tanpa ada suara keluhan sedikitpun.
"Bu Nara, ini dokumen dari bagian keuangan," sapa salah satu staf.
"Terima kasih. Taruh di sini. Nanti saya serahkan ke Pak Arkan," jawab Nara singkat, sopan, tapi tanpa senyum. Tatapannya tajam dan jauh.
Staf itu mengangguk takut-takut lalu pergi. "Wih... Bu Nara hari ini kok jadi kaku banget ya? Aneh..." bisiknya pada teman.
Benar saja, Nara benar-benar mengubah total sikapnya. Ia memasang tembok setinggi langit. Tidak ada lagi bercanda, tidak ada lagi debat, tidak ada lagi tatapan yang saling menyindir. Yang ada hanyalah Sekretaris Nara versi paling dingin dan paling profesional.
Pintu lift terbuka, Arkan masuk dengan langkah gagah seperti biasa.
"Pagi," sapanya singkat, matanya langsung mencari sosok wanita yang biasanya sudah siap mengomeli dia karena terlambat.
"Pagi, Pak," jawab Nara tanpa menoleh. Ia tetap fokus pada layar komputer. "Ini jadwal hari ini. Meeting jam 9, jam 11 ada makan siang dengan investor, dan sore ada kunjungan pabrik. Semua sudah siap."
Arkan berhenti di depan meja Nara. Ia mengernyitkan dahi.
"Hah? Itu saja?" tanya Arkan bingung. "Kamu gak mau marahin aku karena aku datang 5 menit telat? Gak mau ngomel soal macet atau apa?"
Nara akhirnya menoleh, menatap Arkan dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Tidak, Pak. Bapak berhak datang kapan saja karena Bapak bos. Tugas saya hanya melayani, bukan mengatur."
Jleb!
Jawaban itu menusuk hati Arkan lebih sakit daripada kalau Nara memakinya habis-habisan. Nada bicara Nara begitu formal, begitu jauh, seolah mereka baru kenal semalam.
Arkan menatap lekat-lekat, mencari celah, mencari tanda-tanda kesal atau cemburu seperti biasa. Tapi nihil. Mata Nara begitu tenang, dingin, dan... kosong.
"Kopi," perintah Arkan singkat, mencoba menguji.
"Siap, Pak." Nara berdiri, mengambil cangkir, membuat kopi, dan meletakkannya di meja Arkan dengan gerakan mekanis. "Ini kopinya, Pak. Manis sesuai permintaan. Ada lagi?"
"Tidak..." Arkan tertegun. "Masuk."
Sepanjang pagi itu, Arkan tidak bisa fokus bekerja. Ia terus mengintip dari celah pintu kaca ke arah meja Nara. Wanita itu bekerja sangat efisien, sangat rapi, tapi... dingin sekali. Tidak ada lagi lagu yang dinyanyikan pelan, tidak ada lagi wajah cemberut, tidak ada lagi godaan kecil.
Hingga saat jam istirahat...
"Nara," panggil Arkan lewat interkom. "Pesan makan siang buat aku. Dan... pesan juga buat kamu. Kita makan di sini bareng."
Beberapa saat kemudian, Nara masuk membawa makanan. Ia meletakkan makanan Arkan di meja, lalu mengambil makanannya sendiri dan berbalik mau keluar.
"Mau ke mana?" tahan Arkan cepat.
"Keburu makan di luar, Pak. Biar tidak menghalangi kerja Bapak," jawab Nara santai.
"Siapa bilang kamu menghalangi? Aku suruh makan di sini!"
"Maaf, Pak. Saya lebih nyaman makan di luar. Selamat makan, Pak."
Dan Nara pun pergi meninggalkan Arkan yang terpaku dengan mulut ternganga.
Arkan menepuk meja keras-keras. "Sialan! Dia berubah! Dia benar-benar berubah!" geramnya kesal.
Ia sadar... sesuatu yang besar sedang terjadi. Nara menjauh. Dan rasanya... jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan proyek besar.
______
Benar saja, seharian itu Arkan bagaikan orang gila. Ia terus mencari cara agar Nara marah, agar Nara cerewet, atau setidaknya menatapnya dengan perasaan, bukan tatapan hampa seperti patung.
Brak!
"Nara! Kenapa laporan ini angkanya meleset satu digit?! Kamu buta atau gimana?!" teriak Arkan mencari-cari alasan, padahal angkanya benar sempurna.
Nara masuk dengan wajah datar, mengambil kertas itu, melihat sekilas, lalu mengembalikannya.
"Angka ini benar, Pak. Mungkin mata Bapak yang kurang fokus. Mau saya carikan kacamata?" jawabnya tenang tanpa emosi sedikitpun.
Jleb! Gagal lagi.
Arkan menghela napas panjang, lalu beralih taktik. Ia mengeluarkan kotak perhiasan mewah.
"Nar, ini hadiah buat kamu. Kalung berlian baru. Cocok buat acara kemarin. Pakai ya," katanya sok manis.
Nara menolak halus dengan mengangkat kedua tangan. "Maaf Pak, saya tidak bisa menerima hadiah semahal itu. Itu di luar aturan kantor. Simpan saja... mungkin bisa buat hadiah buat orang lain yang lebih pantas."
Lagi-lagi ditolak dengan sopan tapi mematikan harapan.
Arkan benar-benar frustrasi. Ia menarik napas dalam, berniat mengajak Nara ketempat yang tenang dan bicara dari hati ke hati.
"Tidak bisa begini terus! Aku harus..." gumamnya.
Namun, tepat saat ia berdiri...
Klek!
Pintu ruangannya terbuka.
Sarah datang..
"Arkan... aku bawa makan siang nih buat kamu!" seru Sarah dengan suara ceria dan manja. Wanita itu masuk dengan membawa paperbag makanan, berjalan langsung ke arah Arkan dan merangkul lengan pria itu dengan akrab.
"Kangen banget nih, kemarin kan kamu sibuk banget," celoteh Sarah, lalu ia menoleh ke arah Nara yang berdiri mematung di dekat sofa.
"Oh... Tante Nara juga ada ya. Maaf ya ganggu, aku mau makan sama Arkan berdua aja nih," ucapnya lembut, namun jelas sekali ada nada pengusiran disana.
Nara melihat pemandangan itu. Melihat Arkan yang tidak menepis pelukan Sarah, melihat senyum yang terpaksa di wajah bosnya, dan melihat betapa serasinya mereka berdua.
Hati Nara yang tadinya sudah perih, kini terasa hancur berkeping-keping.
Tapi ia tidak marah. Ia tidak ngamuk. Ia justru tersenyum... senyum yang sangat tipis dan penuh pengertian.
Nah kan... ini dunia mereka. Aku cuma penonton.
"Silakan, Pak. Silakan Mbak Sarah," ucap Nara pelan, suaranya terdengar datar namun jauh. "Saya permisi keluar dulu. Biar Bapak dan tamu bisa istirahat dengan tenang."
Nara berbalik badan, berjalan keluar dengan langkah tegap namun hati yang remuk redam. Ia menutup pintu perlahan, membiarkan mereka berdua di dalam.
Di dalam, Arkan ingin sekali melepaskan tangan Sarah dan mengejar Nara. Ia ingin berteriak kalau yang ia inginkan cuma Nara! Tapi situasi dan gengsinya membuatnya terperangkap.
Sarah tersenyum puas melihat pintu tertutup. "Akhirnya... wanita tua itu pergi juga. Makan yuk Kan, aku masakin lho..."
Arkan duduk diam, menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan campur aduk antara marah, cemas, dan takut... takut kalau Nara benar-benar akan hilang dari hidupnya selamanya.
BERSAMBUNG...
Makanya Pak,kalau cinta bilang, Nara mana ngeh sama kode kode kamu itu...