NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KESAKSIAN DARAH DAN PECAHNYA KEPERCAYAAN

Keheningan yang mencekam mendadak jatuh di atas halaman rumah Mayang. Kata-kata Dion yang menggelegar mengenai konspirasi bunga Lunaria dan segel sihir darah para tetua menggantung di udara pagi, berbenturan dengan kabut tipis yang mulai berputar gelisah. Penduduk desa yang berkumpul di kejauhan—yang semula membawa cangkul, obor, dan kayu pemukul karena terprovokasi oleh teriakan Tetua Gidion—kini mulai saling berbisik satu sama lain. Wajah-wajah mereka yang tadinya dipenuhi amarah buta, perlahan-lahan digantikan oleh keraguan yang mendalam.

"Penawar? Apa maksud iblis kabut itu dengan penawar?" tanya seorang pria paruh baya bertubuh kurus dari kerumunan warga, suaranya terdengar bergetar antara takut dan berharap. "Selama ini Tetua selalu mengatakan bahwa siapa pun yang menghirup kabut hitam malam hari hanya tinggal menunggu ajal!"

Tetua Gidion, yang masih bersandar di tanah berlumpur dengan jubah abu-abunya yang kotor, memelototkan matanya yang licik. Ia buru-buru merangkak menggapai kembali tongkat berkepala tengkoraknya, menggunakannya sebagai tumpuan untuk berdiri dengan kaki yang gemetar. "Jangan dengarkan dia! Dia adalah keturunan klan penyihir sesat yang pandai memutarbalikkan lidah! Mereka ingin memecah belah kita agar kabut bisa menelan desa ini sepenuhnya!" teriak Gidion dengan sisa-sisa wibawanya yang mulai runtuh.

Dion tidak membalas teriakan itu dengan makian. Ia justru menurunkan belati kunonya ke samping tubuh, berdiri tegak bagai batu karang yang tak tergoyahkan, lalu menoleh ke belakang, ke arah pintu rumah yang terbuka lebar. "Mayang, bawa ibumu keluar. Biarkan orang-orang sialan ini melihat dengan mata kepala mereka sendiri siapa yang sebenarnya membawa kematian, dan siapa yang membawa kehidupan."

Di dalam rumah, Mayang menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia menatap ibunya yang kini sudah bisa duduk tegak di atas ranjang, dengan rona merah yang sehat di kedua pipinya. Dengan hati-hati, Mayang membantu ibunya berdiri, memapah tubuh wanita paruh baya itu melangkah perlahan keluar melewati ruang tamu yang berantakan, hingga akhirnya menginjakkan kaki di beranda rumah.

Begitu sosok ibu Mayang muncul di bawah temaram cahaya fajar, gelombang keterkejutan yang masif seketika melanda seluruh penduduk desa. Beberapa orang bahkan refleks menjatuhkan senjata yang mereka bawa ke atas tanah.

"Itu... itu Marta? Bagaimana mungkin?" gumam seorang wanita tua dari kerumunan, matanya membelalak tidak percaya. "Seminggu yang lalu aku melihatnya sendiri terkapar di ranjang dengan kulit yang menghitam karena racun kabut. Tetua Gidion sendiri yang bilang tidak ada harapan lagi untuknya!"

"Ibu... Ibu benar-benar sudah sembuh?" seru warga yang lain, mulai merangsek maju beberapa langkah, mengabaikan peringatan para pengawal desa yang tersisa.

Mayang berdiri di samping ibunya, menatap lurus ke arah Tetua Gidion dengan sepasang mata jernihnya yang kini berkilat penuh keberanian dan keadilan. "Warga desaku sekalian! Pria yang berdiri di sampingku ini, Dion, bukanlah iblis seperti yang Tetua Gidion katakan! Dialah yang menemaniku menembus hutan maut semalam, mempertaruhkan nyawanya melawan The Stalker demi membantuku mengambil bunga Lunaria!"

Mayang menarik kantung kain dari balik jubah beludru merahnya, lalu mengeluarkan dua kuntum bunga Lunaria yang kelopaknya masih memancarkan pendaran cahaya keperakan yang murni dan indah di bawah remang fajar. "Lihatlah! Bunga ini benar-benar ada! Dan bunga ini tumbuh melimpah di tebing hutan kabut, namun sengaja dikurung oleh Tetua Gidion menggunakan sihir darah yang mematikan agar tidak ada satu pun dari kita yang bisa mengambilnya! Mereka membiarkan keluarga kita mati demi menjaga kebohongan masa lalu!"

Marta, ibu Mayang, ikut membuka suara dengan nada yang emosional namun terdengar sangat jelas. "Semalam aku sudah merasa berada di ambang kematian, jiwaku serasa dicekik oleh hawa es kabut hitam. Namun anakku, dengan bantuan ramuan bunga ini dan pemuda ini, berhasil membersihkan racun itu dari darahku. Aku hidup kembali, demi dewa, aku benar-benar telah sembuh!"

Kesaksian hidup dari Marta dan bukti nyata bunga Lunaria yang bercahaya di tangan Mayang seketika menghancurkan tembok kebohongan yang telah dibangun para tetua selama dua abad. Kerumunan warga desa mendadak riuh rendah oleh kemarahan yang kini berbalik arah sepenuhnya. Pandangan mata mereka yang semula penuh kebencian pada Dion dan Mayang, kini tertuju tajam pada Tetua Gidion yang berdiri pucat pasi di tengah halaman.

"Gidion! Jelaskan pada kami! Apakah ini semua benar?!" tuntut pria paruh baya yang tadi bertanya, melangkah maju sambil mengacungkan cangkulnya dengan tangan yang bergetar karena murka. "Anak lakilakiku mati dua bulan lalu karena kabut! Kau bilang tidak ada obatnya! Kau membiarkan anakku membusuk di dalam kamar!"

"Istriku juga mati setahun lalu! Kau membohongi kami semua, Gidion! Kau pembunuh yang mengenakan jubah suci!" teriak warga lainnya, memicu gelombang kemarahan massal yang tak terbendung lagi. Situasi di halaman rumah Mayang kini berubah menjadi persidangan rakyat yang mengerikan bagi sang tetua desa.

Dion memperhatikan pergeseran situasi itu dengan senyum sinis yang dingin. Keadilan yang tertunda selama dua ratus tahun bagi klannya yang dibantai perlahan-lahan mulai menagih taruhannya hari ini. Namun, mata tajam Dion tidak pernah lepas dari gerak-gerik Gidion. Sebagai pemburu, ia tahu bahwa seekor predator yang terdesak dan terpojok akan menjadi jauh lebih berbahaya dan tak terduga.

Benar saja, melihat gelombang massa yang mulai mengitari dirinya dengan amarah yang membara, Tetua Gidion justru tertawa terbahak-bahak—sebuah tawa yang terdengar sangat gila, serak, dan penuh dengan keputusasaan yang gelap.

"Hahaha! Bodoh! Kalian semua adalah sekumpulan domba bodoh yang tidak tahu berterima kasih!" teriak Gidion, wajah tuanya mendadak memerah dengan urat-urat hitam yang menonjol di pelipisnya akibat emosi yang meluap. "Kalian pikir mengapa klan kami dulu membantai klan kabut? Karena kekuatan mereka terlalu besar! Jika mereka dibiarkan hidup, manusia di desa ini hanya akan menjadi budak mereka! Kami melakukan itu untuk mempertahankan eksistensi manusia di lembah ini!"

Gidion menghentakkan tongkat berkepala tengkoraknya ke atas tanah berlumpur dengan kekuatan penuh, tidak lagi menyembunyikan sihir hitamnya yang menjijikkan. "Dan jika aku harus hancur hari ini, maka aku akan memastikan kalian semua, beserta pelacur kecil dan bajingan kabut itu, ikut terseret bersamaku ke dalam neraka!"

Tiba-tiba, mata tengkorak pada tongkat Gidion memancarkan cahaya merah darah yang sangat pekat, jauh lebih besar dan mengerikan dibandingkan semalam. Hawa panas yang berbau anyir darah mendadak meledak dari tongkat tersebut, menciptakan riak gelombang kejut yang melempar beberapa warga desa terdekat hingga terjungkal ke tanah.

Bukan hanya itu, dari tanah berlumpur di sekeliling Tetua Gidion, cairan merah menyerupai darah segar mulai merembes keluar dan bergerak berputar-putar, membentuk sebuah lingkaran segel sihir terlarang berskala besar yang langsung mengurung seluruh halaman rumah Mayang. Suhu udara yang semula dingin khas fajar mendadak berubah menjadi sangat gerah dan mencekam, seolah-olah mereka semua sedang digiring masuk ke dalam perut gunung berapi yang siap meledak.

Dion seketika melebarkan langkahnya, melompat ke depan untuk memosisikan dirinya di beranda rumah, melindungi Mayang dan ibunya dari radiasi energi merah yang kian membesar. "Gidion menggunakan sihir pengorbanan darah terlarang! Dia berniat meledakkan seluruh energi kehidupannya untuk meruntuhkan tempat ini!" seru Dion dengan nada yang sangat serius, menyadari tingkat bahaya dari sihir keputusasaan tersebut.

Mayang mencengkeram jubah merahnya erat-erat, menatap pemandangan mengerikan itu dengan jantung yang kembali bertalu kencang. Fajar yang seharusnya membawa kedamaian kini justru menjadi saksi dari pertempuran hidup mati yang sesungguhnya di batas desa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!