NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reaksi Berantai

Angin malam berembus dingin di sepanjang dermaga tua, namun atmosfer di sekitar pelabuhan mati itu terasa jauh lebih membekukan. Primus berdiri diam tanpa keraguan. Sepasang mata abu abunya tertuju lurus pada selembar foto fisik yang tergeletak begitu saja di atas tanah berbatu.

Aurora.

Di dalam foto itu, kedua belah tangan cewek itu terikat kuat ke belakang. Wajahnya dipenuhi lebam keunguan, dipaksa duduk di atas sebuah kursi logam yang dingin di dalam ruangan yang remang. Visual itu menyajikan kejelasan yang mutlak; foto tersebut baru diambil beberapa jam yang lalu.

Perlahan, Primus membungkuk untuk memungut lembaran foto tersebut. Matanya menyapu setiap jengkal detail dengan presisi analitis: latar belakang ruangan, proyeksi bayangan objek, hingga sudut pengambilan gambar kamera. Itu adalah kebiasaan lamanya yang tidak pernah hilang; ia selalu memperhatikan hal hal kecil yang dilewatkan orang awam.

Dan pada detik itu juga, Primus menyadari satu poin krusial. Foto ini sengaja dibuat dan dikirimkan dengan satu motif yang telanjang. Mereka ingin dia melihatnya. Mereka ingin dia tersulut emosi, murka, dan kehilangan kendali atas akal sehatnya.

Sayangnya bagi mereka, umpan itu salah sasaran. Semakin besar kemarahan yang membakar dada Primus, justru akan semakin dingin dan tajam cara otaknya bekerja dalam merancang sebuah pembalasan.

---

"Apakah pesannya sudah tersampaikan dengan baik, Tuan Muda?"

Pertanyaan itu datang dari seorang pria bertubuh besar yang berdiri beberapa meter di depannya. Pria itu menyunggingkan senyum sinis yang meremehkan, seolah olah dia sedang memegang kendali penuh atas situasi malam ini.

"Lebih cepat dari yang kami kira," tambah pria itu lagi, penuh percaya diri.

Primus tidak langsung menjawab. Ia melipat foto tersebut, memasukkannya ke dalam saku, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi tenang yang justru terasa mengintimidasi. "Kalian menculik seorang wanita tak bersenjata hanya untuk mengirimkan sebaris pesan ancaman? Murahan."

Senyum percaya diri di wajah pria bertubuh besar itu langsung memudar seketika. "Apa katamu, bangsat?"

Primus melangkah maju satu langkah. Hanya satu langkah kecil. Namun entah mengapa, gerakan sederhana itu secara instingtif langsung membuat kelima pria kekar di depannya menegang dan memasang kuda kuda defensif.

"Katakan pada orang bodoh yang mengirimmu ke sini," suara Primus terdengar sangat tenang, mengudara di antara deru angin malam pelabuhan. "Aku paling tidak suka diancam."

Mendengar hal itu, sang pemimpin kelompok justru meledakkan tawa keras yang dipaksakan. Keempat anak buahnya segera ikut tertawa, seolah olah mereka baru saja mendengar lelucon paling konyol malam ini.

"Dan kalau kami tetap memilih untuk mengancammu, kau mau apa, hah?!" tantang pria itu dengan pongah.

Primus menarik sudut bibirnya, menyunggingkan seulas senyum tipis untuk pertama kalinya malam itu. Namun, senyuman dingin itu justru membuat Robert—yang sejak tadi berdiri siaga di belakangnya—langsung memahami satu hal dengan mutlak.

Ada seseorang yang akan mengalami kesialan luar biasa malam ini. Sangat sial hingga mungkin mereka akan mengutuk hari kelahiran mereka sendiri.

---

"Tuan Muda," Robert berbisik pelan, mengikis jarak. "Ada lima orang di depan kita."

"Aku tidak buta, Robert. Aku bisa menghitung jumlah mereka dengan benar," jawab Primus santai.

"Lalu?"

Primus tidak menjawab dengan kata kata. Ia mengangkat kedua tangannya, membuka kancing jas hitam berpotongan pas miliknya dengan gerakan yang sangat tenang, lalu menyerahkannya ke arah belakang. "Tolong pegang ini sebentar."

Robert menerima jas tersebut dengan cekatan, lalu menghela napas panjang. Sudah lama sekali ia tidak melihat ekspresi es seperti itu di wajah Primus. Tatapan mata yang dulu sering kali dimiliki oleh mendiang ayahnya; sebuah ekspresi mutlak dari seseorang yang telah mengetuk palu keputusan di dalam kepalanya.

---

Pria bertubuh besar di depan mereka mulai kehilangan seluruh sisa kesabarannya. "Kau pikir situasi ini adalah sebuah permainan, bocah?!"

"Sedikit," jawab Primus, melonggarkan ikatan dasinya. "Dan sejauh ini, rasanya cukup menyenangkan."

Merasa terhina dengan arogansi Primus, salah satu anak buah bertubuh kekar langsung melangkah maju dengan agresif. "Bos, biar aku saja yang memberi pelajaran pada—"

*BRAK!*

Kalimat pria itu terputus di udara. Karena dalam kedipan mata, Primus sudah memangkas jarak dan berdiri tepat di hadapannya. Tidak ada aba aba, tidak ada ancang ancang, dan tidak ada gerakan taktis yang berlebihan.

Hanya satu pukulan mentah yang dikirimkan secara presisi. Sederhana, namun menghantam telak di titik ulu hati.

Pria kekar itu bahkan sampai terangkat beberapa sentimeter dari atas tanah akibat saking besarnya daya dorong pukulan Primus. Tubuhnya terlempar ke belakang, menghantam kap mesin mobil jip dengan keras hingga menimbulkan dentuman logam yang bergema nyaring di area pelabuhan. Pria itu langsung ambruk ke aspal dan tidak bangkit lagi. Pengingsingan kesadaran yang instan.

Sunyi. Atmosfer mendadak berubah menjadi sunyi senyap.

Empat pria yang tersisa seketika membeku di posisi masing masing. Bahkan sang pemimpin kelompok yang bertubuh besar pun ikut terdiam dengan mata terbelalak. Mereka semua gagal melihat dengan jelas bagaimana proses gerakan itu terjadi karena kecepatan Primus berada di luar nalar awam mereka. Yang mereka tahu pasti hanya satu fakta mengerikan: rekan mereka tumbang hanya dalam satu kali serangan.

---

"Masih ada yang ingin bicara?" tanya Primus, merapikan manset kemeja putihnya yang sedikit bergeser.

Pria besar itu panik, ia langsung memberikan isyarat tangan yang tegas. Keempat anak buahnya yang tersisa bergerak bersamaan dari berbagai arah. Mereka jelas adalah orang orang terlatih; gerakannya mengepung dengan sinkronisasi yang rapi, meluncurkan serangan cepat yang efisien tanpa banyak menyisakan celah kosong.

Namun, kalkulasi motorik Primus jauh lebih cepat dari jangkauan kepungan mereka.

*DUK! KRAK! BRAK!*

Seluruh rangkaian kontak fisik itu terjadi hanya dalam hitungan detik yang brutal. Satu orang terjerembap ke tanah sambil memegangi tulang bahunya yang bergeser sembari berteriak kesakitan. Satu orang lagi terhuyung mundur dengan hidung yang patah akibat hantaman siku, sementara orang ketiga jatuh menghantam aspal setelah sapuan kaki Primus mematahkan poros keseimbangannya. Orang terakhir bahkan belum sempat melayangkan tinjunya sebelum sebuah hantaman telak bersarang di rahangnya.

Robert yang mengamati dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan. Pemandangan dominasi mutlak ini seketika membangkitkan memorinya pada sosok ayah Primus di masa jaya dulu. Darah murni keluarga Aristokrat memang memiliki anomali yang mengerikan. Ketika mereka memutuskan untuk berhenti menggunakan diplomasi dan mulai bertindak serius, mereka bertransformasi menjadi monster sejati.

---

Sekarang, konfrontasi itu hanya menyisakan satu orang yang masih berdiri tegak. Sang pemimpin kelompok.

Pria bertubuh besar itu melangkah mundur satu langkah, lalu dua langkah berikutnya dengan tubuh yang mulai bergetar halus. Seluruh aura kepercayaan diri yang ia banggakan sejak awal kini menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa ketakutan primordial yang mencekam dadanya.

"Si... siapa kau sebenarnya, hah?!" tanyanya dengan suara yang mendadak terbata bata.

Primus berjalan mendekat dengan langkah kaki yang teratur. Ketukan sol sepatunya di atas aspal terdengar ritmis, tidak terburu buru namun konstan. Karena ia tahu betul, pria di depannya ini sudah tidak memiliki jalur evakuasi atau opsi untuk melarikan diri lagi.

"Aku juga sedang mencoba untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan itu," jawab Primus dingin, lalu menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di hadapan pria besar tersebut. "Di mana posisi Aurora sekarang?"

Pria itu memilih untuk bungkam. Sepasang matanya bergerak liar ke arah kanan dan kiri, mencoba mencari celah sempit untuk meloloskan diri dari intimidasi Primus. Sayangnya, ruang geraknya sudah dikunci sepenuhnya.

"Di mana dia?" ulang Primus. Kali ini, intonasi suaranya turun satu oktav, menghasilkan getaran dingin yang menusuk pendengaran.

Pria besar itu menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya. "Aku... aku tidak tahu."

*BRAK!*

Satu pukulan keras tanpa peringatan menghantam telak di bagian perutnya. Pria besar itu langsung jatuh berlutut di atas aspal, wajahnya berubah menjadi seputih kertas dengan napas yang terputus putus akibat pasokan oksigen di paru parunya yang mendadak kosong.

"Kau baru saja menggunakan kesempatan pertamamu," kata Primus, menatapnya dari atas dengan pandangan merendahkan. "Dan itu adalah kesempatan terakhirmu. Jangan menyia nyiakannya lagi jika kau masih ingin melihat matahari esok pagi."

---

Pada akhirnya, benteng pertahanan mental pria itu runtuh sepenuhnya di bawah ancaman kematian yang nyata.

"Gudang nomor tujuh!" teriaknya dengan suara parau, menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. "Pelabuhan Timur! Dia ada di sana!"

"Apalagi?"

"Aku bersumpah aku hanya disuruh untuk menjaga area luar dan memberikan foto itu kepadamu! Aku tidak tahu apa apa lagi tentang rencana utama mereka, demi Tuhan!" serunya ketakutan.

Primus menatap mata pria itu selama beberapa detik, menggunakan intuisi psikologisnya untuk mendeteksi tanda tanda kebohongan atau distorsi informasi. Tidak ada retakan. Setidaknya, untuk bagian ini, pria bertubuh besar itu sedang mengatakan kebenaran yang sesungguhnya.

Namun, tepat sebelum Primus sempat menginterogasi lebih jauh mengenai dalang di balik layar, ponsel di dalam saku jaket pria yang sedang berlutut itu mendadak bergetar dengan intensitas tinggi. Layarnya menyala terang di dalam kegelapan malam, menampilkan sebuah panggilan masuk tanpa nama dan tanpa nomor digital yang teregistrasi.

Pria besar itu melirik layar ponselnya dan seketika wajahnya berubah menjadi berkali lipat lebih pucat dari sebelumnya. Ekspresinya tampak seolah olah dia baru saja melihat hantu yang keluar dari dalam kubur.

Primus bergerak cepat, merampas ponsel tersebut dari genggaman tangan pria itu, lalu langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada suara apa pun dari ujung sambungan telepon, hanya menyisakan deru napas yang teratur. Sampai akhirnya, sebuah suara pria paruh baya terdengar mengudara. Karakter suaranya sangat tenang, berat, dingin, dan memancarkan rasa percaya diri yang absolut.

> "Aku tahu kau sedang mendengarkan panggilan ini dengan baik, Primus Aristokrat."

Sepasang mata abu abu Primus seketika menajam, kilat pembunuhan terpancar jelas dari tatapannya. Sementara itu, suara di seberang telepon kembali melanjutkan kalimatnya tanpa beban.

> "Jika kau memang masih memiliki niat untuk menyelamatkan nyawa gadis Laurent itu..."

> "Datanglah ke sini sendirian."

> "Tepat tengah malam."

> "Gudang nomor tujuh Pelabuhan Timur."

Lalu, pria misterius di ujung telepon itu melepaskan sebuah tawa kecil yang kering. Sebuah tawa meremehkan yang sukses membuat atmosfer malam di dermaga tua itu terasa semakin mencekam dan dingin.

> "Dan saranku, jangan terlambat bahkan untuk satu detik."

> "Karena untuk setiap lima menit keterlambatanmu dari waktu yang sudah kutentukan..."

> "Aku akan memotong satu ruas jari tangan gadis ini secara langsung."

*KLIK.*

Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak, menyisakan suara bising statis sebelum akhirnya layar ponsel tersebut menggelap sepenuhnya.

Sunyi. Pelabuhan tua itu kembali dilingkupi kesunyian yang teramat sangat.

Robert yang berdiri di belakang langsung mengepalkan kedua belah tangannya kuat kuat hingga buku jarinya memutih, menahan amarah yang membakar dadanya atas kelancangan pihak musuh. Sementara itu, Primus tetap berdiri tegak tanpa menampilkan ekspresi atau riak emosi apa pun di wajah tampannya.

Namun, siapa pun orang yang telah mengenal sosok Primus sejak lama akan tahu satu fakta yang mengerikan tentang gestur tersebut. Saat ini, Primus sedang berada di puncak kemarahannya. Sangat marah.

Karena dinamika malam ini bukan lagi sekadar permainan bisnis yang kotor di lantai bursa. Ini juga bukan lagi tentang perebutan takhta warisan keluarga Aristokrat yang melelahkan. Pihak lawan telah melakukan satu kesalahan paling fatal di dalam hidup mereka: mereka telah menyentuh orang yang tidak seharusnya disentuh.

Dan dalam sejarah hidup Primus, orang orang yang melakukan kesalahan fatal seperti itu tidak akan pernah berakhir dengan kondisi yang baik.

---

BERSAMBUNG...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!