Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Mulai nyaman?
Ivy, ia melihat perbedaan itu. Perbedaan yang lumayan jauh antara masyarakat sekitar ibukota dan perbatasan begini.
Lalu ia mencatatnya di jurnal harian, untuk nantinya ia rangkum dalam log book harian.
Sepanjang masuk ke area kantor dusun, ia meringis getir. Ada beberapa tenaga pendidik yang datang termasuk guru relawan, tenaga kesehatan pusat kesehatan masyarakat dengan jumlah dan fasilitas terbatas. Anak-anak dengan tampilan seadanya, yeah...ia benar-benar melolong di tempatnya sekarang, bahkan desa kumuh di sekitaran ibukota saja jauh lebih beruntung sepertinya.
Selama Ivy melakukan bakti sosial, baru ini ia menemukan kondisi---prihatin saat seorang guru bernama Bu Santi sedikit bercerita tentang kondisi sekolah di perbatasan dan pelosok begini.
Gege, sama halnya Ivy...tapi kemudian ia tersenyum pada seorang anak yang sempat menubruknya sebab mencari ibu.
"Hanya bisa menyambut ala kadarnya saja, pak, kak... Neka rabo..." (maaf)
Pak Drajat menggeleng, "tak apa-apa ende, mama...sudah cukup, kami sangat-sangat berterimakasih."
Dan ema Flo membuka acara bersama pak Petrus, dalam kondisi sederhana...bahkan untuk menghalau sinar mentari saja mereka hanya menggunakan tenda seadanya, kursi-kursi plastik bercampur dengan kursi kayu, beberapanya ada yang berjongkok tapi tidak mempengaruhi apapun, kehangatan itu tetap terasa.
"Dan selanjutnya, pemaparan tentang poin proker jendela dunia, akan dipaparkan oleh rekan saya Pravita Ayudisa."
Ivy, lain saat santai lain jika mode begini. Sisi lain dari seorang Pravita Ayudisa, se-ayu namanya.
Fokusnya tidak hanya pada satu orang atau titik saja. Tapi menyebar, pandangannya, public speaking yang dimilikinya, memang berbeda jika ia calon tenaga pendidik.
Panji dan kawan-kawan ada disana bukan semata-mata untuk merecoki acara saja, sebab...situasi keamanan di desa Tanjung komodo ini bisa dibilang masih cukup rawan, sekali waktu personel lanal mendapati konflik perang adat atau perebutan dan sengketa tanah yang melibatkan tawuran antar warga desa, pengeroyokan dan yeah tentu saja....tentang hewan liar yang mungkin bagi warga sudah bisa hidup berdampingan.
Ia tatap wajah seorang Pravita Ayudisa yang tengah berbicara di depan sana, dengan garis wajah berkeringat meskipun tetap cantik, heh?! Cantik??
Lihatlah juga ketika ia memaparkan diselingi candaan, sungguh sisi lain dari seorang Pravita yang tadi jutek, galak, manja dan yeah tentu saja angkuh! seolah itu menjadi satu kesatuan yang membuat ia tertarik magnetnya. Inner beauty yang dikemas oleh sifat manja dan angkuh, uhhh sungguh kamuflase, atau justru itu sebuah brand-nya tersendiri?
Ivy akhirnya selesai dengan pemaparannya saat Gabriel sudah men-slide layar sehingga cahaya yang sedikit samar di depan sana kini memaparkan proyek air bersih dan sanitasi.
Sementara, Ivy dan Raudhah sudah membagikan snack yang mereka bawa dari kabupaten tadi.
"Vy, ke bagian sana..."
Tak lupa ende Hana turut membagikan minuman berbasis rumput laut dan kukusan pada semua yang hadir. Olahan ikan sebagai komoditas utama desa Tanjung komodo juga turut mengisi penyambutan mahasiswa KKN. Dalam keterbatasan, mereka tetap mampu memberikan apa yang mereka punya.
Ivy tak canggung untuk berbaur dan mengobrol dengan para ibu saat seorang paruh baya justru mengajaknya bicara sambil menyentuh-nyentuh tangannya, kontras sekali.
Bara tak ingin hilang kesempatan kebagian minuman dan makanan, Panji mendorong kepalanya, "dasar."
"Lumayan bang...ngemil lah."
"Besok bagian patroli, bang?"
Panji mengangguk, "nanti malam." sembari menerima segelas minuman rumput laut dari para ibu, "tiba teing (terimakasih), ende." Angguknya singkat dan ikut menyeruput di barisan paling luar dan belakang.
"Abang tau kemarin unit patroli 3, menemukan jejak kapal bukan dari Nusantara?" tanya Bara diangguki Kelana, "ya, tau juga saya."
Panji mengangguk, "makanya nanti malam ditelusuri. Kalau siang mana mungkin mereka berani keluar..."
Dan latar suara dengan mic yang sedikit berisik mengganggu masih menjadi latar mereka mengobrol.
/
Berswafoto bersama perangkat dusun dengan spanduk KKN 78 dan warga desa menjadi penutup acara penyambutan hari ini.
Hari yang semula terik kini mulai mereda dan sedikit menghembuskan udara dinginnya. Suhu yang mulai nyaman itu kontras dengan langit indah sore di Tanjung komodo.
Hal ketiga yang membuat nyaman, adalah suhu di sore hari yang hangat sepaket langit indah. Ivy memejamkan matanya merasai suhu hangat dan hembusan angin.
Pak Drajat dan pak Firman akhirnya harus berpamitan hari ini pada anak KKN 78.
"Baik-baik dan hati-hati disini. Arsa, saya percayakan rekan rekan tim KKN 78 sama kamu, berkabar selalu di ZM."
"Siap pak."
Bersama dengan rencana pulangnya pak Drajat dan pak Firman kembali ke ibukota, para tentara itu pun harus kembali ke lanal termasuk Panji dan kawan-kawan.
"Betah-betah disini, terutama kamu Vy, Ge..." ucap pak Firman.
"Iya. Dadah bapak. Jangan rindu aku ya! Samperin sama ibukota, baik-baik sama dunia.." Ucap Gege pada pak Drajat berkelakar dan sudah ditertawai yang lain termasuk balasan kelakar pak Drajat.
Nanda, ia memotret ke segala arah, "gila bagus banget."
Sama halnya Nanda, Ivy menarik ponsel di saku jasnya lalu mengarahkan itu mencari angle cantik hingga tak sengaja lensa kameranya mengarah pada belakang truk reo yang kini seseorang tengah berusaha naik.
Ia terpaku sejenak melihatnya, diantara langit dengan gradasi oranye, biru lengkap dengan landscape maha karya Tuhan perbukitan di sebrang sana, seorang perwira dengan baret kebanggaannya telah duduk di bangku paling pinggir menumpukan kedua sikunya di lutut lalu mengarah padanya.
Ia sadar kamera yang membuat Ivy refleks tertawa, "aigooo..dasar tentara sengklek."
Tapi tak urung Ivy menangkap gestur itu dalam sebuah jepretan kamera.
Bukan hanya sekali, dua kali dengan gaya berbeda, "so cool."
"Bye bapak-bapakkk!!!" seru Gege yang dihadiahi dorongan di bahunya dari Ivy, "bapak-bapak si anjirrr."
"Lah, emang bener kan, itu bapaknya lebih dari satu."
"Udah yuk balik-balik, kita bebenah basecamp dulu, kerjaan numpuk nih guys! Kerja-kerja-kerja-semangattt!" Itu Gabriel yang justru memancing kekehan semuanya, "ahhh, udah sore Gab...capek, mana ada semangat, besok lagi aja!"
Ivy menatap terakhir kalinya sebelum reo itu semakin menjauh dan ia berbalik ke arah basecamp, 2 km dari terparkirnya mobil, dari tempat yang bisa terjangkau kendaraan besar macam mobil.
"Duhhh sebulan disini betis gue Segede betis gajah."
Dan masih saja, mereka mengoceh sambil berjalan menuju basecamp, menyusuri jalanan yang---kenapa ia baru tau, jika jalanan kampung yang meskipun terlihat kumuh dan pelosok begini tapi cukup enak dipandang, dengan an jing dan kucing peliharaan, lalu kambing...
Gege sudah teriak-teriak saat Bumi dengan sengaja menyenggolnya mendekatkan ia dengan seekor kambing. Ia bahkan terjerit-jerit.
"Si Ivy tuh Ivy...!"
"Apa Lo?! Mau jahil pasti!" pelotot Ivy pada Gabriel.
.
.
.
.
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati