Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Hantu Bersiap Perang
Kota Hantu tidak pernah mengenal pagi, tetapi hari itu semua orang tahu waktu telah berubah. Pasar yang biasanya dipenuhi suara tawar-menawar tulang, rempah arwah, dan batu kutukan kini kosong setengah. Para iblis kecil berlarian membawa bungkusan. Ibu-ibu bertanduk pendek menarik anak-anak mereka. Makhluk tua yang tidak bisa lagi berubah wujud digendong oleh prajurit muda yang biasanya tidak pernah menolong siapa pun tanpa imbalan.
Perintah Lin Xiurong menyebar lebih cepat dari api. Semua makhluk lemah harus dipindahkan ke Lembah Kabut melalui jalur pemakaman lama. Tidak ada pungutan, tidak ada jual beli tempat, tidak ada klan kuat yang boleh merebut jalan lebih dulu. Bagi Alam Bawah, aturan itu hampir tidak masuk akal.
Song Xiaolian memimpin evakuasi. Kipas putih tulangnya tidak dipakai untuk menyerang, melainkan untuk menuntun kabut agar tidak menelan rombongan. Ia berjalan di depan bersama beberapa pelayan istana. Sesekali ia menenangkan anak-anak iblis yang menangis karena takut meninggalkan rumah.
“Apakah raja baru akan membakar kota?” tanya seorang anak kecil dengan mata hitam besar.
Song Xiaolian berjongkok. “Tidak. Yang Mulia sedang memastikan kalian tidak terbakar oleh perang orang dewasa.”
Anak itu tampak bingung. “Raja Iblis peduli pada anak kecil?”
Pertanyaan itu membuat Song Xiaolian terdiam. Jawaban jujurnya rumit. Lin Xiurong tidak peduli seperti manusia baik hati yang memeluk semua penderitaan. Lin Xiurong peduli dengan cara yang keras, seperti seseorang yang pernah dibiarkan menderita dan tidak mau melihat penderitaan yang sama dipakai sebagai alat.
“Dia peduli dengan caranya sendiri,” jawab Song Xiaolian akhirnya.
Di kejauhan, Lin Xiurong berdiri di balkon istana, melihat arus pengungsi bergerak. Wajahnya tanpa ekspresi. Namun tangannya menggenggam pagar batu begitu kuat hingga retak.
Qi An muncul di belakangnya. “Mereka bergerak sesuai rencana. Ada dua klan yang mencoba menyelundupkan barang berharga lebih banyak dari orang tua mereka. Aku sudah menyita barangnya.”
“Orang tuanya?”
“Masih hidup.”
Lin Xiurong menoleh sedikit.
Qi An mendesah. “Aku tidak membunuh mereka. Kau bilang tidak semua hal menjengkelkan harus kubunuh.”
“Bagus. Kau bisa belajar.”
“Aku tidak suka belajar hal seperti ini.”
“Tidak apa-apa. Aku juga tidak suka menjadi bijaksana.”
Qi An hampir tertawa, tetapi menahannya. Ia melihat ke bawah, ke arah kota. “Mereka membicarakanmu.”
“Tentu saja. Aku raja baru yang membunuh raja lama.”
“Bukan hanya itu. Ada yang bilang kau berbeda dari Juan Ling. Ada yang bilang kau tetap kejam tapi lebih bisa ditebak. Ada yang bilang kau mungkin akan membuat Alam Bawah tidak terlalu busuk.”
Lin Xiurong tertawa pelan. “Harapan adalah penyakit yang mudah menular.”
“Tapi kadang berguna.”
“Kau terdengar seperti Xiaolian.”
Qi An langsung memasang wajah tersinggung. “Itu hinaan yang berat.”
Dari bawah, seorang perempuan tua iblis menatap balkon istana. Ia tidak berlutut, tidak bersorak. Ia hanya mengangkat tangan dan menempelkan dua jari ke dada, salam kuno untuk pemimpin yang menjaga rumah. Beberapa orang di sekitarnya ikut melakukan hal yang sama. Gerakan itu menyebar kecil, tidak meriah, tetapi nyata.
Lin Xiurong melihatnya. Ia tidak membalas.
Qi An menunggu reaksi, tetapi Lin Xiurong hanya berkata, “Pastikan jalur ketiga tidak bocor. Jika langit menemukan Lembah Kabut, aku akan menggantung semua penjaga di gerbang.”
Namun Qi An melihat jemari tuannya tidak lagi menggenggam pagar sekuat tadi.
Yao Tian ditugaskan memeriksa lapisan pertahanan di Gerbang Tulang Barat. Itu keputusan yang membuat hampir semua prajurit iblis ingin protes. Tidak ada yang suka menerima arahan dari dewa, apalagi dewa yang baru saja menusuk raja mereka. Namun Lin Xiurong telah memberi perintah, dan perintah Lin Xiurong tidak bisa ditawar kecuali seseorang ingin menjadi abu.
Yao Tian berjalan di sepanjang tembok tulang dengan mata mengamati formasi. Tembok itu menjijikkan bagi standar langit, tetapi efektif. Tulang raksasa disusun seperti gigi, dilapisi mantra racun, lalu diikat dengan rantai roh. Jika prajurit langit menyerang tanpa tahu susunannya, mereka akan terperangkap dalam gema kematian yang membuat arah utara dan selatan tertukar.
“Bagian ini terlalu terbuka,” kata Yao Tian kepada seorang kapten iblis bertubuh besar.
Kapten itu mendengus. “Kau pikir kami butuh saranmu?”
“Tidak. Tapi jika tombak cahaya turun dari sudut itu, lima prajuritmu mati duluan sebelum sempat mengumpat.”
Kapten itu ingin membalas, tetapi berhenti. Ia melihat arah yang ditunjuk Yao Tian. Benar. Ada celah kecil di antara dua pilar tulang. Dari atas, celah itu bisa dipakai untuk memasukkan serangan lurus.
“Perbaiki,” gerutu kapten itu kepada bawahannya.
Yao Tian melanjutkan pemeriksaan. Beberapa iblis muda memandangnya dengan kebencian terbuka. Satu anak kecil yang ikut membantu membawa batu bahkan melemparkan kerikil ke punggungnya. Yao Tian menoleh. Anak itu langsung bersembunyi di belakang prajurit.
Ia tidak marah. Ia justru mengerti. Di mata mereka, ia bukan penyelamat. Ia adalah bagian dari langit yang selalu merasa suci.
Beberapa langkah kemudian, ia menemukan seorang prajurit terluka karena salah memasang rantai roh. Luka itu mulai membusuk. Tanpa berpikir, Yao Tian berlutut dan menyalurkan sedikit tenaga dewa untuk menahannya.
Prajurit itu terkejut. “Kenapa kau menolongku?”
Yao Tian menjawab pelan, “Karena kau belum waktunya mati.”
Kalimat itu terdengar biasa. Namun bagi makhluk Alam Bawah, ucapan seperti itu terlalu asing untuk datang dari langit.
Menjelang malam, Song Xiaolian menemukan masalah. Salah satu rombongan pengungsi tidak sampai ke titik kedua. Jalur mereka menghilang di dekat Makam Seribu Nama, tempat roh-roh lama menempel pada batu nisan tanpa tulisan.
Lin Xiurong menerima laporan itu di aula kecil. Lukanya belum pulih, tetapi ia segera berdiri.
“Aku ikut,” kata Yao Tian.
Qi An langsung menolak. “Tidak.”
Lin Xiurong menatap keduanya. “Aku belum bertanya pendapat kalian.”
“Kau terluka,” kata Yao Tian.
“Kau juga nyaris mati karena racun Qi An. Tapi aku tidak melarangmu berjalan-jalan seperti orang berguna.”
Qi An tersenyum bangga mendengar racunnya disebut.
Mereka akhirnya berangkat dalam kelompok kecil: Lin Xiurong, Yao Tian, Qi An, dan Song Xiaolian. Kabut pemakaman terasa dingin bahkan bagi iblis. Di sepanjang jalan, batu nisan tanpa nama berdiri miring. Beberapa berbisik ketika mereka lewat, menyebut nama yang sudah dilupakan.
Di tengah kabut, mereka menemukan kereta pengungsi terbalik. Tidak ada mayat. Tidak ada darah. Hanya jejak cahaya putih di tanah.
Yao Tian berlutut menyentuh jejak itu. “Bukan prajurit biasa. Ini mantra pelacak langit.”
Qi An menatapnya. “Kau mengenalinya terlalu cepat.”
“Aku pernah memakainya.”
Lin Xiurong menyentuh udara. Matanya menyala merah. “Mereka tidak dibunuh. Mereka dibawa.”
Song Xiaolian pucat. “Untuk sandera?”
“Untuk umpan,” jawab Lin Xiurong.
Dari balik kabut, terdengar suara anak kecil menangis. Lalu suara lain muncul, lembut dan dingin.
“Lin Xiurong, jika ingin rakyat kecilmu hidup, datanglah tanpa pasukan.”
Qi An mengangkat pedang. Yao Tian berdiri di depan Lin Xiurong secara refleks. Lin Xiurong menatap kabut dengan senyum sangat tipis.
“Mereka belum mengenalku,” katanya. “Tidak ada yang boleh memakai kelemahanku sebelum aku sendiri mengaku punya.”
Namun semua orang tahu, malam itu kelemahan Lin Xiurong sedang diuji bukan melalui tubuhnya, melainkan melalui rakyat yang baru saja mulai berharap padanya.
Setelah para sandera ditemukan hilang, Kota Hantu berubah lagi. Sebelumnya penduduk bergerak karena takut pada perintah. Kini mereka bergerak karena takut kehilangan orang-orang mereka. Bedanya kecil, tetapi terasa. Di jalan sempit dekat pasar tulang, seorang pembuat topeng memberi seluruh persediaan kainnya untuk membalut luka prajurit. Di sudut lain, pemilik kedai arwah membagikan sup panas tanpa meminta bayaran. Tidak ada yang menyebutnya kebaikan. Kata itu terlalu canggung di Alam Bawah. Mereka menyebutnya “tidak ingin repot jika semua orang mati”.
Song Xiaolian memahami bahasa itu dan tidak memaksanya menjadi lebih manis.
Lin Xiurong berjalan melewati kota dengan jubah gelap dan pengawal minimal. Banyak orang berlutut, sebagian karena hormat, sebagian karena takut. Seorang anak kecil yang tadi diselamatkan dari ruang sela menatapnya terlalu lama. Ibunya segera menarik anak itu agar menunduk.
“Biarkan,” kata Lin Xiurong.
Anak itu menggenggam ujung baju ibunya. “Apakah Yang Mulia benar-benar melawan langit untuk kami?”
Pertanyaan itu membuat semua orang di sekitarnya pucat. Menanyakan alasan raja bukan kebiasaan sehat.
Lin Xiurong menatap anak itu. “Aku melawan siapa pun yang memakai rakyatku sebagai umpan.”
“Berarti kami rakyat Yang Mulia?”
Lin Xiurong tidak langsung menjawab. Kata rakyat terasa aneh. Selama ini ia punya bawahan, musuh, pengikut, dan orang yang takut padanya. Rakyat adalah kata yang membawa tanggung jawab lebih berat.
“Jika kalian tinggal di bawah panjiku, ya.”
Anak itu tersenyum kecil. “Kalau begitu semoga Yang Mulia menang.”
Doa sederhana itu membuat Lin Xiurong lebih tidak nyaman daripada kutukan musuh. Ia berjalan pergi tanpa membalas, tetapi langkahnya sedikit lebih pelan.
Yao Tian melihat dari kejauhan. Ia mulai memahami hal yang tidak tertulis dalam laporan langit: Alam Bawah bukan sekumpulan monster yang menunggu dibinasakan. Mereka kotor, keras, sering kejam, tetapi juga hidup. Mereka punya anak, makanan, pasar, rasa takut, dan harapan yang tumbuh malu-malu.
Mungkin itulah yang paling menakutkan bagi langit. Selama Alam Bawah dianggap gelap sepenuhnya, langit bisa merasa suci. Tetapi jika di dalam gelap juga ada kehidupan yang perlu dijaga, maka garis antara benar dan salah tidak lagi mudah digambar.