Aldo pulang merantau dari kota karena mendengar kabar bahwa sebentar lagi Airin akan segera menikah, Kakak kesayangannya itu akan menikah sehingga dia harus segera pulang.
tanpa dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan Aldo sama sekali tidak mendengar kabar tentang hal itu, bahkan hal yang begitu buruk akan segera menghampiri dia karena kedatangan dia ke desa ini hanya akan mengungkap apa yang telah terjadi kepada Airin yang telah lama menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. menolak pertolongan
"Gila, seumur hidup menjadi setan baru saat ini aku mendapat saweran." Maharani menatap lembaran uang berwarna merah yang ada di tangan dia.
"Hahahaaaa siapa sangka kalau kita malah diberi uang seperti ini oleh para manusia." Nilam tertawa kencang.
"Apa dia berpikir bahwa kita ini miskin sekali sehingga tidak bisa mencari uang?" Maharani melemparkan uang tersebut ke sembarang arah.
Nilam masih tidak bisa berhenti tertawa karena menurut dia ini adalah hal yang begitu lucu sekali, niat datang karena ingin mencari arwah gentayangan tapi malah bertemu dengan para manusia itu dan dia justru mendapat uang saweran seperti ini dari mereka bertiga tadi.
"Aih kok keadaan sekitar sini terasa mencekam sekali ya." Maharani sudah masuk ke dalam kebun sawit.
"Hei Ayo tunjukkan dirimu sekarang karena kami datang untuk membantu dirimu." Nilam agak berteriak keras.
"Tapi kalau tidak mau ya tidak usah karena kami juga tidak akan memaksa." imbuh Maharani.
"Aih kau ini malah menambahi saja seperti itu, udah tahu orang lagi serius malah kau buat bercanda." Nilam tampak tidak terima.
"Ya kan kita datang memang membantu dan kalau dia tidak mau dibantu ya mau bagaimana lagi kan." ujar Maharani dengan santai.
"Siapa tak usah jadi yang masih belum yakin dengan kita sehingga takut untuk ketemu langsung." Nilam tetap dengan gaya yang seolah sangat peduli sekali.
"Dia mati karena apa ya kok sekarang gentayangan di kebun sawit seperti ini?" Maharani malah semakin penasaran dengan hal itu.
"Dugaan ku kuat kalau dia ini mati karena diperkosa dan kemudian mayat Dia dibuang dalam kebun sawit ini." Nilam sudah sangat yakin.
Maharani terdiam karena dia ingat dulu ketika dirinya masih menjadi bahan percobaan oleh ayah tiri dia sendiri, sangat menyakitkan dan kemungkinan hal itu akan terus terulang pada gadis yang tidak bisa menjaga diri dan tidak ada tempat untuk berlindung sehingga mereka semua harus mengalami nasib buruk seperti dia.
Jamil memang bisa dikatakan bahwa dia memiliki uang yang cukup banyak karena orang tua Dia adalah juragan sawit di desa ini, di antara mereka bertiga memang hanya Jamil seorang yang kaya sehingga para teman seringkali menempel kepada dia untuk mendapat keuntungan yang berlebih dan terutama itu Fitra sendiri karena dia memang jarang memiliki uang.
Mau serumit apa saja urusan yang mereka hadapi tapi kalau ada uang maka semua akan selesai, tadi Jamil sengaja memberi uang kepada gadis itu karena dia ingin dianggap sebagai pria yang gentlemen dan tidak pelit kepada para gadis, sebab dia yakin bahwa suatu saat nanti akan bertemu lagi dengan kedua gadis tersebut.
Maka Jamil sengaja meninggalkan kesan yang sangat mencolok agar nanti dia bila bertemu lagi maka hubungan ini akan sedikit membaik, tentu dalam pikiran para pria sekarang adalah bahwa wanita akan sangat menyukai uang dan mereka akan terus menerima pemberian dari para pria yang memiliki banyak uang.
Tidak tahu saja bahwa dua gadis yang dia temui tadi bukanlah manusia biasa, andai saja mereka tahu bahwa yang mereka temui tadi adalah dua kuntilanak gila peliharaan dari ratu ular yang selama ini telah merajai desa sebelah, wajah yang sangat menawan sehingga terkadang orang tidak percaya bahwa mereka adalah kuntilanak.
"Jangan repot mencari aku untuk memberikan bantuan, karena aku akan membalas mereka dengan cara yang aku pilih sendiri." gadis berwajah hancur muncul di hadapan Maharani dan nilam.
"Nah ini yang sudah banyak menghantui para warga kan ya." Nilam bersorak senang karena berhasil menemukan.
"Cara dia ketika berbicara Kenapa angkuh sekali?" Maharani membatin.
"Aku ucapkan terima kasih kepada kalian karena telah bersusah payah mau membantu aku, tapi aku tidak membutuhkan itu semua." tolak gadis berwajah hancur ini.
"Kenapa kau tidak ingin membutuhkan bantuan kami?" Nilam bertanya dengan nada lembut.
"Karena Aku ingin bebas tanpa aturan dan akan aku lampiaskan seluruh rasa sakit hati ini kepada mereka, Aku tidak ingin terikat." ujar gadis berwajah hancur itu.
"Oh maksudmu kau tidak ingin berada di bawah bayang-bayang ratu ular?" Maharani membuka suara.
"Ya, aku bisa membalas mereka tanpa bantuan dari kalian dan tidak perlu arahan dari ratu ular!" tolak gadis itu secara langsung.
Maharani sebenarnya sudah panas karena dia sendiri sudah mau bersusah payah mendatangi kebun sawit ini hanya karena ingin memberikan bantuan, namun apa daya ketika sudah bertemu dan gadis ini justru menolak dengan ucapan yang menurut Maharani cukup angkuh juga karena dia merasa mampu memberikan balasan tersendiri.
"Baik lah kalau kau memang tidak ingin mendapat bantuan dari kami maka silahkan saja balas sendiri orang yang sudah menyakiti dirimu." putus Maharani.
"Eh tunggu dulu, begini bila kau ingin masuk ke dalam rombongan kami maka tidak akan ada yang terlalu mengekang atau memberikan arahan tentang balas dendam mu ini." Nilam masih berusaha untuk berbicara.
"Tidak, aku sudah tahu tentang hal itu dan aku tidak ingin larut dalam masalah seperti kalian." gadis berwajah hancur ini menggeleng.
"Bila kau bergerak sendiri itu justru nanti akan berbahaya, kita bahkan tidak tahu musuh nanti di depan sana memiliki kekuatan apa untuk menghalau kedatangan kita." ujar Nilam.
"Tidak, aku sudah sangat yakin untuk tidak masuk ke dalam sekte Ratu ular itu." gadis berwajah hancur ini berkata dengan sangat tegas.
"Nilam! kita datang memberikan bantuan dan bila dia memang menolak maka kita tidak pantas mengemis seperti itu." Maharani sudah terlanjur emosi mendengar segala ucapan yang keluar dari mulut si gadis.
Jadi Nilam juga menyerah karena gadis ini tetap kekeh ingin bergerak sendiri dan tidak ingin mendapat bantuan dari mereka berdua, Nilam sebenarnya menyadari bahwa gadis ini tidak mau nanti dia terikat oleh ratu ular dan kemungkinan setelah misi dia selesai maka akan terus menjadi member Ratu ular itu, menjadi member ratu ular memang bukan hal yang mudah karena mereka harus siap mendapat perintah.
"Kita pergi sekarang, terserah saja dia mau melakukan apapun." Maharani berkelebat pergi dari sana.
"Bila suatu saat kau berubah pikiran maka bisa hubungi aku, aku pasti akan datang untuk memberikan bantuan kepada dirimu." Nilam masih sempat tersenyum sebelum pergi.
Gadis ini diam saja karena dia merasa yakin bahwa dia akan mampu untuk mengatasi masalah yang terjadi di dalam hidup dia ini, bahkan tanpa bantuan dari ratu ular dia akan mampu menyelesaikan semua dengan cepat dan beres sehingga nanti tidak perlu terikat dengan sekte itu sendiri.
Selamat siang para pembaca Novita Jungkook, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya di hari Minggu yang sangat cerah ini.