NovelToon NovelToon
Cinta Sang Ratu Bayangan

Cinta Sang Ratu Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:532
Nilai: 5
Nama Author: vier08

Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.

Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.

Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.

"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.

Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UNDANGAN MINUM TEH

"Ayo makan, bantu aku membawa ini ke depan," perintah Elena, suaranya kembali datar.

Pangeran Arlon mengangguk, dengan tangan yang masih menggenggam lengan Elena, dia membawa mangkuk sup itu ke meja kayu di ruang tengah.

Mereka duduk berdampingan, dengan masih bergandengan tangan.

"Makanlah, kamu butuh tenaga untuk melanjutkan sandiwara ini," Elena menyendok sup itu, lalu meniupnya pelan.

"Kamu tidak menyuapiku?" tanya Arlon dengan nada menggoda.

"Tanganku lebih terbiasa memegang pisau untuk memotong leher orang daripada memegang sendok untuk menyuapi pangeran manja, mau makan sendiri atau mau aku jejalkan pancinya ke mulutmu?" jawab Elena menoleh, menatap Arlon datar.

"Galak sekali. Baiklah, aku makan sendiri," ucap Arlon tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar tulus.

Saat Arlon mulai makan, Elena memperhatikannya, dia melihat betapa lahapnya pria ini memakan masakan yang sangat sederhana.

Elena jadi teringat kata-kata pria berjubah hitam itu, dan tujuan dirinya ada di sini saat ini.

Melihat Pangeran Arlon sekarang, Elena sadar bahwa kematian itu bukan hanya karena racun, tapi karena kesepian dan pengabaian selama bertahun-tahun di istana ini.

"Kenapa kamu melihatku begitu? Apa aku terlalu tampan sampai kamu lupa makan?" goda Arlon, tanpa mengalihkan pandangan dari mangkuknya.

"Aku hanya sedang berpikir, Selena tidak akan tinggal diam setelah kejadian tadi pagi, wanita tua itu pasti akan mengirim sesuatu yang lebih buruk daripada sekadar pembunuh bayaran," jawab Elena, mengabaikan godaan Arlon.

Arlon meletakkan sendoknya, wajahnya kembali serius.

"Kamu benar, dia akan menyerang titik lemah kita, dan saat ini, titik lemah ku adalah... kamu," ucap Arlon menatap Elena.

"Kalau sampai mereka tahu kamu adalah obat ku, mereka akan balik memburu mu, El," lanjut Arlon, sendu.

Elena menyeringai miring, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang tenang.

"Aku bukan titik lemah mu, Arlon, aku adalah jebakan, jika mereka mencoba menyentuhku, dia hanya akan menemukan ujung belati ku di tenggorokannya," jawab Elena, dengan mata berkilat tajam.

"Aku tahu itu," bisik Arlon, meraih tangan Elena di atas meja, menggenggamnya erat.

"Tapi di mata istana ini, kamu adalah gadis desa rendahan, mereka akan menggunakan hukum kerajaan, bukan kekuatan fisik, untuk menekan mu, demi mencapai ambisi mereka," ucap Pangeran Arlon, khawatir.

"Dan Ayahanda, dia tidak akan membelamu jika Selena memiliki alasan hukum yang kuat, wanita tua itu sangat licik, El," lanjut Pangeran Arlon.

Elena terdiam, di dunia pembunuh, hukum adalah siapa yang lebih cepat mencabut nyawa, tapi di sini, kata-kata dan kertas bisa lebih mematikan daripada racun.

"Lalu apa rencanamu?" tanya Elena.

Arlon mendekatkan wajahnya ke telinga Elena, aromanya tubuh Elena terasa sangat hangat, dan menenangkan.

"Biarkan mereka merasa menang untuk beberapa hari, biarkan Clarissa dan Arkan menginjak-injak kita, semakin tinggi mereka terbang karena kesombongan, semakin hancur mereka saat kita menarik tanah dari bawah kaki mereka," jawab Arlon, dengan suara berat nya.

"Tapi ingat satu, jangan pernah mengorbankan diri mu, apalagi hanya demi pria tidak berguna seperti ku," ucap Arlon, terkekeh miris.

"Berhenti berbicara seperti itu, kalau tidak mau ku cekek leher mu," ucap Elena, galak.

Arlon tergelak, dan membawa kepala Elena ke dadanya, memeluk erat, wanita yang menjadi obat satu-satunya untuk dirinya bertahan hidup.

Tuba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu paviliun yang sudah rusak.

Tok

Tok

Tok

"Nona Elena! Ada perintah dari Ratu Selena!" teriak seorang pelayan dari luar dengan nada angkuh.

"Anda dipanggil ke taman mawar untuk menemani Lady Clarissa minum teh. Segera!" teriak nya lagi.

Elena dan Arlon saling berpandangan, baru saja mereka membicarakan para wanita ular itu, dan kini mereka mulai kembali menyebar racunnya.

"Seperti nya hari ini aku akan sedikit bersenang-senang," ucap Elena, tersenyum miring.

"Lakukan apapun yang kamu mau istri ku, tapi ingat jangan sampai kamu terluka," ucap Arlon, mengelus lembut rambut Elena.

Seringai dingin muncul di wajah mereka secara bersamaan, sebuah keserasian yang mengerikan dari dua orang yang baru saja bertemu.

Elena berdiri, lalu menatap Arlon yang kembali memasang wajah lemas dan pucat.

"Tetaplah di sini, jangan mati sebelum aku kembali," ucap Elena, menatap Arlon.

Arlon meraih tangan Elena sekali lagi sebelum gadis itu pergi, memberikan satu tekanan kuat seolah sedang mengisi energi tubuhnya.

"Berhati-hatilah, Elena. Clarissa itu seperti ular kecil, tidak berbisa, tapi lilitannya sangat mengganggu," pesan Arlon, sebelum Elena pergi l.

"Tenang saja, Pangeran, aku sudah biasa menghadapi naga. Ular kecil seperti dia hanya akan menjadi mainan siang bolong ku," jawab Elena hanya bola matanya malas.

Elena melangkah keluar dengan gaun yang sudah dia rapikan seadanya, meninggalkan Arlon yang menatap kepergiannya dengan tatapan posesif yang semakin dalam.

Dengan langkah tegas nya, dan dagu terangkat, Elena melangkah menyusuri lorong istana yang megah menuju taman mawar.

Di tangannya, dia memegang sebuah sapu tangan kecil untuk menutupi lebam di pergelangan tangannya, bekas cengkeraman Clarissa kemarin, bukan karena sakit, tapi Elena tahu luka itu bisa menjadi senjata yang bagus di depan banyak orang.

Begitu sampai di taman mawar, pemandangannya sungguh sangat jauh berbeda dengan Paviliun Bintang yang kumuh, di sana, Lady Clarissa duduk bersama tiga orang Lady lainnya, mereka tampak tertawa kecil sambil menyesap teh nya.

"Ah, lihat siapa yang datang," ucap Clarissa dengan nada melengking saat melihat Elena.

"Sang Pengantin Sampah akhirnya menunjukkan batang hidungnya," ucap Clarissa, dengan tatapan mengejek.

Para Lady lainnya menutup mulut dengan kipas, membisikkan, yang sengaja dikeraskan agar Elena mendengar.

"Lihat lah, gaun nya itu, murahan sekali."

"Benar-benar sial nasib gadis desa itu."

"Cocok sih, sama-sama sampah tidak berguna, dia dengan suaminya."

Elena tidak membalas, dia hanya berjalan mendekat.

"Anda memanggil saya, Lady Clarissa?" tanya Elena, santai.

"Duduklah," perintah Clarissa sambil menunjuk sebuah kursi kecil yang diletakkan di bawah terik matahari.

"Aku ingin kamu bercerita, bagaimana rasanya tidur di samping pria yang hampir membusuk? Apa aromanya tidak membuatmu ingin muntah?" tanya Clarissa, tersenyum mengejek.

"Pangeran Arlon adalah suami saya," jawab Elena datar, matanya menatap tajam ke arah Clarissa.

"Mengenai aromanya, saya rasa bau obat-obatan masih jauh lebih baik daripada bau mulut orang yang hanya tahu cara menghina," lanjut Elena, melipat kedua tangannya.

Suasana di meja itu mendadak hening, Clarissa meletakkan cangkirnya dengan kasar hingga isinya tumpah sedikit.

"Berani sekali kau! Ingat posisimu, gadis desa!" bentak Clarissa, marah.

Elena hanya memutar bola matanya malas, jujur saja dia benar-benar sudah muak dengan lady di depan nya ini, kalau saja Elena tidak ingat dengan misi nya, sudah dirinya mencekik leher Clarissa, sampai mati.

"Ngomong-ngomong, aku kehilangan kalung permata pemberian Ratu pagi ini, kalung itu sangat mahal, mungkin harganya setara dengan seluruh desa asalmu," ucap Clarissa, berjalan memutari Elena dengan sombong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!