NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

​"Zara, kamu cantik sekali hari ini. Mas benar-benar pria paling beruntung di dunia," bisik Reza di telinga Zara, sembari mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri.

​Zara tersenyum lebar. Pipinya merona merah. Di atas pelaminan megah berhiaskan ribuan mawar putih segar ini, ia merasa seperti wanita paling bahagia sejagat raya. Baru satu jam yang lalu, Reza dengan lantang dan satu tarikan napas mengucapkan akad nikah di depan ayah kandung Zara. Sekarang, mereka resmi menjadi sepasang suami istri.

​"Terima kasih ya, Mas. Aku juga bahagia sekali. Tolong bimbing aku terus," sahut Zara manja.

​"Pasti, Sayang. Pasti." Reza mengecup kening Zara dengan lembut, membuat para tamu undangan yang melihatnya bersorak menggoda.

​"Aduh, pengantin baru ini! Jangan pamer kemesraan terus dong, hargai kami yang masih jomblo!" teriak salah satu teman kantor Reza dari arah bawah panggung.

​Zara tertawa kecil. Dari kejauhan, ibunya, Sarah, dan ayahnya, Rahmad, tampak tersenyum bangga dengan mata berkaca-kaca. Di samping mereka, Ibu mertua Zara, Ratna, juga terlihat mengangguk-angguk ramah sambil berbincang dengan para tamu VIP. Semuanya sempurna. Benar-benar pernikahan impian yang selama ini Zara cita-citakan.

​Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sekejap.

​BZZZZRFT!

​Suara dengung pengeras suara yang sangat keras tiba-tiba memekakkan telinga seluruh hadirin di dalam gedung. Lampu sorot yang awalnya mengarah hangat ke pelaminan mendadak padam. Suasana aula hotel bintang lima itu langsung senyap seketika.

​"Eh, ada apa ini? Mati lampu ya?" tanya Reza, mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan bingung.

​"Tidak tahu, Mas. Mungkin kru dekorasinya sedang mengganti video latar belakang," jawab Zara polos.

​Layar LED raksasa berukuran sepuluh kali enam meter di belakang pelaminan—yang sejak tadi menampilkan foto-foto prewedding mereka yang romantis di Paris—tiba-tiba berkedip-kedip kasar. Gambar berganti menjadi latar belakang sebuah kamar hotel yang remang-remang.

​Lalu, sebuah suara desahan yang sangat keras memantul ke seluruh penjuru ruangan melalui pengeras suara.

​Ah... Mas, pelan-pelan...

​Semua orang di aula itu terperangah. Suara itu begitu jelas, begitu intim, dan begitu menjijikkan untuk didengar di tengah pesta pernikahan yang suci.

​"Astagfirullah! Suara apa itu?!" jerit salah satu tamu undangan di barisan depan.

​"Heh! Operator! Matikan! Cepat matikan!" teriak Reza panik ke arah kru multimedia di ujung ruangan.

​Namun terlambat. Layar itu kini menampilkan visual dengan sangat jelas. Di atas ranjang, seorang wanita tanpa busana sedang memeluk mesra seorang pria misterius yang wajahnya sengaja disamarkan. Dan ketika wanita di dalam video itu menoleh ke arah kamera...

​Seluruh aula mendadak seperti dihantam bom atom. Senyap, lalu meledak dalam kekacauan.

​"Ya Allah... Zara?!" pekik Sarah, ibu kandung Zara, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tubuhnya gemetar hebat.

​"Apa?! Tidak mungkin!" teriak Rahmad, ayah Zara, dengan mata membelalak hampir keluar.

​Zara membeku. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat wajah wanita di layar raksasa itu. Wajah itu... struktur rambut itu... tanda lahir di leher itu... semuanya benar-benar mirip dengannya!

​"Mas... Mas Reza, itu bukan aku! Demi Allah, Mas, itu bukan aku!" jerit Zara histeris, langsung mencengkeram lengan jas Reza.

​Reza menepis tangan Zara dengan kasar. Wajahnya yang semula penuh cinta kini berubah menjadi merah padam, urat-urat di lehernya menonjol karena amarah yang memuncak. "Zara... apa-apaan ini?! Apa maksudnya semua ini?!"

​"Aku tidak tahu, Mas! Aku tidak pernah melakukan itu! Itu fitnah! Itu video palsu!" tangis Zara pecah seketika. Air matanya merusak riasan pengantinnya yang indah.

​"Palsu kamu bilang?! Jelas-jelas itu mukamu, Zara! Mukamu!" bentak Reza dengan suara menggelegar, mengalahkan suara bising dari para tamu.

​Di bawah pelaminan, kepanikan massal terjadi. Ratusan tamu undangan mulai saling berbisik, kasak-kusuk, bahkan banyak yang langsung mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam layar LED dan wajah Zara yang sedang menangis di pelaminan.

​"Eh, lihat itu! Ternyata pengantin wanitanya bekas pakai!" cemooh seorang tamu wanita paruh baya dengan suara sengaja dikeras-keraskan.

​"Wah, parah sih ini! Mukanya kelihatan alim, tapi kelakuannya menjijikkan sekali di hotel!" sahut yang lain sambil asyik merekam video.

​"Kasihan ya keluarga pria, sudah bayar gedung mahal-mahal, ternyata dapat barang rongsokan!"

​Mendengar gunjingan itu, Ratna—ibu mertua Zara—berjalan cepat menaiki tangga pelaminan dengan langkah menghentak. Wajahnya dipenuhi rasa murka dan malu yang luar biasa. Tanpa aba-aba, ia langsung merebut buket bunga dari tangan Zara dan melemparkannya ke lantai.

​PLAK!

​Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Zara, membuat kepala wanita muda itu tertoreh ke samping.

​"Ibu!" jerit Zara, memegangi pipinya yang terasa panas dan perih.

​"Jangan panggil aku Ibu! Aku tidak sudi punya menantu jalang seperti kamu!" teriak Ratna histeris, jarinya menunjuk tepat ke hidung Zara. "Kamu sudah mencoreng muka keluarga kami! Kamu mempermalukan kami di depan semua relasi bisnis kami! Dasar wanita tidak tahu malu!"

​"Ibu, demi Allah, dengarkan penjelasanku dulu... Aku tidak pernah ke hotel itu, aku tidak pernah membuat video menjijikkan seperti itu! Sumpah, Ibu!" Zara bersujud di kaki Ratna, menangis tersedu-sedu hingga gaun putih mewahnya menyapu lantai yang kotor.

​"Lepas! Jangan sentuh kaki saya dengan tangan kotor kamu itu!" Ratna menendang kaki Zara hingga wanita itu tersungkur.

​Melihat putrinya diperlakukan seperti binatang, Rahmad dan Sarah langsung berlari naik ke pelaminan. Namun, bukannya langsung memeluk Zara, Rahmad menatap putrinya dengan tatapan nanar dan penuh keraguan yang menyakitkan.

​"Zara... katakan pada Ayah..." suara Rahmad bergetar hebat. "Apa yang kamu lakukan di belakang kami selama ini?!"

​"Ayah? Ayah tidak percaya pada Zara?!" jerit Zara tak percaya, air matanya kian deras mengalir. "Itu bukan Zara, Yah! Tolong, demi Allah, itu bukan Zara!"

​"Tapi itu tanda lahir di lehermu, Zara! Itu jelas-jelas kamu!" sahut Sarah, ibunya, yang kini ikut menangis sembari memegangi dadanya yang sesak. "Ya Allah, Zara... kenapa kamu tega mempermalukan kami seperti ini di depan ratusan orang?!"

​"Ibu! Kenapa Ibu malah menyudutkan aku?! Aku tidak melakukan itu!" Zara merangkak ke arah ibunya, mencoba memeluk kaki Sarah, namun Sarah justru melangkah mundur, menghindari sentuhan putrinya sendiri seolah Zara adalah wabah penyakit yang menjijikkan.

​"Jangan sentuh Ibu, Zara... Ibu malu... Ibu sangat malu!" isak Sarah, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.

​"Dengar itu, Pak Rahmad! Istri Anda sendiri saja malu mengakui anak kotor ini!" teriak Ratna memanas-manasi. "Reza, mau tunggu apa lagi?! Kamu mau tetap mempertahankan wanita pembawa sial dan aib ini?! Cepat selesaikan sekarang juga! Ibu tidak sudi melihat dia ada di keluarga kita bahkan untuk satu detik ke depan!"

​"Betul itu, Reza! Cepat ceraikan saja! Bikin malu tujuh turunan!" teriak salah satu kerabat dari keluarga besar Reza dari bawah pelaminan.

​"Ceraikan! Ceraikan! Wanita pezina tidak pantas jadi istri!" sorak para tamu undangan yang mulai terprovokasi. Suasana benar-benar seperti sidang pengadilan jalanan yang siap menghakimi Zara hidup-hidup.

​"Mas Reza, tolong... kita baru saja berjanji di depan penghulu..." mohon Zara, merangkak di lantai ke arah suaminya.

​Reza menatapnya dengan dingin. "Janji itu batal, Zara. Aku tidak sudi berbagi ranjang dengan wanita menjijikkan seperti kamu."

​"Mas, jangan!"

​"Hari ini, di depan semua orang..." Reza berteriak melalui mikrofon dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru aula. "Aku, Reza Alfian, menjatuhkan talak satu kepadamu, Zara Amanta! Kita cerai!"

​"TIDAAAK! MAS REZA!!!"

​Zara ambruk. Pandangannya mendadak mengabur, detak jantungnya terasa melemah, dan dunianya mendadak gelap gulita. Ia pingsan di atas panggung pelaminannya sendiri yang kini telah berubah menjadi panggung eksekusi bagi harga dirinya.

Keesokan harinya...

​"Euh..."

​Zara melenguh pelan. Ia merasakan kepalanya sangat pening, seperti baru saja dihantam batu besar. Aroma tajam obat-obatan dan antiseptik langsung menusuk indra penciumannya. Perlahan, ia membuka kelopak matanya yang terasa sangat bengkak dan berat.

​Di atasnya, langit-langit putih bersih dengan lampu neon yang temaram menyambut pandangannya.

​"I-Ibu...?" suara Zara tercekat di tenggorokan. Sangat parau dan kering. "Ayah...?"

​Zara memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sepi. Ruangan berukuran empat kali empat meter itu benar-benar sunyi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada bunyi konstan dari mesin pendeteksi jantung yang berbunyi malas di sudut ruangan.

​"Ibu... Ayah... Mas Reza..." panggil Zara lagi, kali ini dengan volume yang sedikit lebih keras.

​Namun, tidak ada sahutan. Pintu kayu kamar rawat itu tetap tertutup rapat. Keheningan yang mencekam itu membuat bulu kuduk Zara merinding. Rasa panik yang luar biasa tiba-tiba merayapi dadanya.

​Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang suster paruh baya masuk dengan membawa nampan berisi obat dan air putih.

​"Suster!" jerit Zara, langsung mencoba duduk di atas ranjangnya, mengabaikan rasa pening yang luar biasa menyerang kepalanya. "Di mana keluargaku? Di mana ibuku? Di mana suamiku?!"

​Suster itu menatap Zara dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada gurat rasa kasihan, namun juga ada jarak dingin yang sengaja diciptakan.

​"Mbak Zara, silakan berbaring dulu. Kondisi Mbak belum stabil," ucap suster itu dengan nada datar.

​"Tidak! Aku tidak mau berbaring! Katakan padaku, di mana keluargaku?! Kenapa tidak ada yang menungguku di sini?!" tanya Zara setengah berteriak, air matanya mulai menggenang kembali.

​Suster itu menghela napas pendek, meletakkan nampannya di atas meja nakas. "Maaf, Mbak Zara. Sejak Mbak dibawa ke sini tadi malam oleh mobil ambulans gedung, tidak ada satu pun anggota keluarga yang mendampingi."

​"Apa?! Tidak mungkin! Ayah dan ibuku pasti di luar! Mereka pasti sedang mengurus administrasinya!" bantah Zara histeris. "Coba suster cek di luar! Tolong!"

​"Mbak Zara, tenang dulu," pinta suster itu, menahan bahu Zara yang gemetar. "Tadi malam, ayah Mbak memang datang sebentar. Beliau hanya membayar uang deposit kamar kelas tiga ini untuk satu malam, lalu langsung pergi. Beliau juga meninggalkan pesan kepada pihak administrasi rumah sakit."

​"P-Pesan apa, Suster...?" tanya Zara dengan bibir bergetar hebat.

​"Beliau berpesan... agar pihak rumah sakit tidak menghubungi nomor telepon beliau lagi jika terjadi sesuatu pada Mbak. Beliau bilang, urusan Mbak Zara bukan lagi tanggung jawab keluarga mereka," ucap suster itu pelan, seolah tidak tega menyampaikan kalimat kejam tersebut.

​DEG!

​Dada Zara seperti dihantam oleh godam tak kasat mata. Napasnya langsung memburu, terasa sangat sesak hingga ia harus mencengkeram dadanya sendiri.

​"Tidak... tidak mungkin... Ayah tidak mungkin sekasar itu padaku... Ini pasti mimpi! Iya, ini pasti mimpi!" jerit Zara histeris. Ia mulai menarik paksa jarum infus yang tertancap di punggung tangannya hingga darah segar menciprat ke sprei putih rumah sakit.

​"Mbak Zara! Jangan dicabut! Mbak masih lemas!" pekik suster itu panik, mencoba menahan tangan Zara.

​"Lepaskan aku! Aku harus pulang! Aku harus menjelaskan semuanya kepada Ayah dan Ibu! Mereka harus tahu kalau aku difitnah!" teriak Zara kalap.

​Dengan tenaga yang tersisa, Zara turun dari ranjang tidur. Langkah kakinya sangat gontai, ia bahkan hampir tersungkur jika tidak berpegangan pada tiang infus. Gaun pengantin putih yang semalam begitu megah, kini tampak kotor, robek di beberapa bagian, dan ternoda oleh darah dari bekas infusnya.

​Zara berlari keluar dari kamar rawat. Ia tidak peduli dengan tatapan menghakimi dari beberapa perawat dan pembesuk di koridor rumah sakit yang tampaknya mengenali wajahnya dari video viral semalam. Yang ada di pikirannya hanya satu: ia harus pulang ke rumah orang tuanya.

​TOK! TOK! TOK!

​"Ibu! Ayah! Tolong buka pintunya! Ini Zara, Bu!"

​Zara menggedor pintu kayu jati rumah orang tuanya dengan sisa-sisa kekuatannya. Hujan deras yang tiba-tiba mengguyur kota membuat tubuhnya basah kuyup. Gaun pengantinya kini terasa sangat berat karena air hujan, menempel ketat di kulitnya yang kedinginan hingga ia menggigil hebat.

​"Ayah! Ibu! Tolong dengarkan Zara dulu! Demi Allah, Zara tidak melakukan itu, Yah!" teriak Zara lagi, suaranya parau beradu dengan suara gemuruh guntur di langit.

​Setelah beberapa menit menggedor tanpa henti, kunci pintu akhirnya terdengar diputar dari dalam. Harapan buncah di dada Zara.

​KREEEKKK...

​Pintu terbuka. Ibunya, Sarah, berdiri di sana. Wajah Sarah tampak sembab karena terlalu banyak menangis, namun sorot matanya yang biasa teduh kini berubah menjadi sangat dingin dan penuh kebencian.

​"Ibu..." Zara langsung maju, hendak memeluk kaki ibunya. "Ibu, tolong Zara, Bu..."

​"Jangan sentuh aku! Jangan berani-berani kamu mengotori lantai rumah ini dengan tangan pezinamu itu, Zara!" bentak Sarah dengan suara melengking, langsung mendorong bahu Zara hingga wanita muda itu terjatuh ke lantai teras yang basah.

​"Aduh!" ringis Zara, sikunya bergesekan keras dengan ubin teras. "Ibu... kenapa Ibu sekasar ini pada Zara? Aku anak kandung Ibu! Aku korban fitnah, Bu!"

​"Korban fitnah apa?! Hah?!" teriak Sarah histeris, air matanya kembali tumpah. "Seluruh tetangga di kompleks ini membicarakan kamu pagi ini! Grup WhatsApp keluarga besar kita penuh dengan videomu yang menjijikkan itu! Semua orang menertawakan kami! Mengasihani kami karena punya anak pelacur sepertimu!"

​"Itu editan, Ibu! Itu teknologi! Ada orang jahat yang ingin menghancurkan pernikahanku!" tangis Zara pecah di bawah guyuran sisa air hujan yang merembes ke teras.

​"Bohoooong!" bentak sebuah suara bariton yang sangat keras dari dalam rumah.

​Ayah Zara, Pak Rahmad, berjalan keluar dengan langkah tegap namun wajahnya tampak merah padam karena amarah yang memuncak. Di tangannya, ia memegang sebuah koper hitam besar milik Zara.

​"Ayah..." rintih Zara, menatap ayahnya dengan tatapan memelas.

​"Diam kamu! Jangan pernah sebut kata 'Ayah' lagi dari mulut kotormu itu!" bentak Rahmad. "Hari ini, nama baik keluarga Amanta yang kubangun dengan susah payah selama puluhan tahun hancur total dalam semalam karena kelakuan bejatmu!"

​"Ayah, tolong percaya padaku... Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki lain..."

​"Tutup mulutmu, Zara!" potong Rahmad kasar. "Karena video sialanmu itu, pagi ini direktur utama dikantorku memanggilku dan memecatku secara tidak hormat! Perusahaan tidak mau memiliki manajer yang keluarganya terlibat skandal asusila! PlTidak hanya itu, keluarga Reza menuntut ganti rugi dua miliar rupiah atas pembatalan pernikahan ini! Dua miliar, Zara! Dari mana Ayah harus mencari uang sebanyak itu?!"

​"Astaga... dua miliar...?" gumam Zara, mendadak merasa kepalanya semakin berputar.

​"Ya! Dan semua tabungan masa tua Ayah dan Ibumu habis hanya untuk membayar uang muka tuntutan mereka agar keluarga kita tidak dijebloskan ke penjara!" teriak Rahmad dengan urat-urat leher yang menonjol. "Kami bangkrut! Kami kehilangan segalanya karena kamu!"

​"Zara tidak tahu kalau akan jadi seperti ini, Yah... Zara bersumpah..."

​"Cukup, Zara! Kami sudah tidak mau mendengar bualanmu lagi!" sela Sarah dingin, menatap Zara seolah-olah wanita itu adalah tumpukan sampah yang bau. "Kami membesarkanmu dengan penuh kasih sayang, menyekolahkanmu di tempat terbaik, berharap kamu bisa mengangkat derajat keluarga. Tapi apa balasanmu?! Kamu memberikan kami kehinaan paling menjijikkan!"

​"Ibu, tolong jangan buang Zara... Zara harus ke mana, Bu? Zara tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini..." ratap Zara, merangkak mendekati kaki Sarah, mencoba memegang ujung daster ibunya.

​PLAK!

Ibu ​Sarah menepis tangan Zara dengan sangat kasar. "Pergi kamu, Zara! Cari laki-laki yang ada di dalam video itu! Minta dia yang menghidupimu sekarang!"

​"Ibu! Tega sekali Ibu bicara begitu padaku!" jerit Zara histeris.

​Rahmad maju selangkah, lalu melempar koper hitam milik Zara ke arah teras dengan kasar hingga koper itu terbuka dan beberapa helai pakaian Zara berserakan di lantai yang basah terkena air hujan.

​"Mulai hari ini, detik ini, kamu bukan lagi anak kami!" ucap Rahmad dengan suara bergetar namun sangat dingin dan penuh penekanan. "Nama belakangmu akan kuhapus dari Kartu Keluarga. Hubungan kita terputus. Jangan pernah sekali-kali kamu berani menginjakkan kakimu di rumah ini lagi!"

​"Ayah, jangan! Tolong, Ayah! Bunuh saja Zara kalau begitu! Jangan buang Zara seperti ini!" teriak Zara histeris, memegangi kaki celana Rahmad sembari bersujud di lantai teras yang dingin.

​"Lepaskan!" bentak Rahmad. Dengan kejam, ia menghentakkan kakinya hingga pegangan tangan Zara terlepas.

​"Ibu! Tolong Zara, Bu! Ibu!!!" jerit Zara memohon pada ibunya.

​Namun, Sarah justru memalingkan wajahnya, tidak sudi menatap wajah putrinya yang hancur. "Pergi, Zara... sebelum tetangga keluar dan melempari kamu dengan batu karena mengotori kompleks ini dengan kehadiranmu."

​"Tidak... kalian tidak boleh melakukan ini padaku... Aku anak kalian..." rintih Zara, suaranya mulai habis.

​"Pergi!" teriak Rahmad.

​BRAAAKKK!

​Pintu kayu jati itu ditutup dengan sangat keras tepat di depan wajah Zara. Terdengar suara grendel pintu dan kunci yang diputar berkali-kali dari dalam, menegaskan bahwa pintu itu telah tertutup rapat untuk Zara selamanya.

​"Ayah! Ibu! Buka pintunya!" Zara menggedor-gedor pintu itu dengan sisa tenaganya, namun tidak ada jawaban dari dalam. Hanya terdengar suara gemuruh hujan yang kian menderu, seolah menertawakan kemalangannya.

​Zara jatuh terduduk di lantai teras yang basah. Ia memeluk lututnya, menangis meraung-raung di tengah derasnya badai. Kehancuran ini begitu sempurna. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia kehilangan suami yang sangat dicintainya, dihina oleh mertuanya, difitnah di depan ratusan orang, dan kini... dibuang oleh orang tua kandungnya sendiri seperti sampah tak berguna.

​"Kenapa... kenapa dunia sekejam ini padaku?!" teriak Zara ke arah langit malam, suaranya tenggelam dalam gemuruh petir. "Siapa yang melakukan ini semua padaku?! Siapa?!"

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!