Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancurnya Lapis Baja dan Pos Penjagaan Berdarah
Beruang Punggung Besi itu mengaum memekakkan telinga. Tanah bergetar saat monster seberat ratusan kilogram itu menerjang maju. Cakarnya yang melengkung setajam sabit membelah udara, mengincar dada Lin Tian dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya yang raksasa.
Bagi kultivator tingkat tiga biasa, menghadapi kecepatan dan kekuatan fisik monster tingkat empat ini sama saja dengan mencari mati.
Namun, mata Lin Tian bahkan tidak berkedip. Saat cakar raksasa itu berjarak kurang dari satu jengkal dari wajahnya, ia mengambil langkah miring yang sangat presisi.
WUSH!
Cakar beruang itu hanya menyambar udara kosong dan menghantam batang pohon pinus raksasa di belakang Lin Tian. Batang pohon sebesar pelukan dua orang dewasa itu hancur berkeping-keping seolah terbuat dari kerupuk, serpihan kayunya terlempar ke segala arah.
"Kecepatan dan tenaga yang bagus," puji Lin Tian dingin. "Sayangnya, kau terlalu gegabah."
Memanfaatkan momentum beruang yang kehilangan keseimbangan akibat serangannya sendiri, Lin Tian mengepalkan tinju kanannya. Ia tidak menggunakan Tinju Runtuh Sembilan Lapis. Ia mengalirkan Qi ungu keemasan secukupnya untuk melapisi buku-buku jarinya, lalu menghantamkan pukulan lurus tepat ke sisi tulang rusuk beruang tersebut.
BAM!
Suara benturan tumpul bergema di hutan. Beruang Punggung Besi itu terhuyung mundur, melengking kesakitan. Pukulan Lin Tian berhasil meretakkan tulang rusuknya, namun tidak menghancurkannya sepenuhnya.
Lin Tian menyipitkan mata, menatap tangannya sendiri. "Kulitnya sangat alot. Lapis baja di punggungnya pasti jauh lebih keras."
Marah karena dilukai oleh manusia kecil, beruang itu menjadi buas. Matanya menyala merah darah. Monster itu berdiri dengan dua kaki belakangnya dan menjatuhkan seluruh bobot tubuhnya ke arah Lin Tian, berniat menghancurkannya menjadi pasta daging.
Kali ini, Lin Tian tidak menghindar. Ia sedikit menekuk lututnya, menyalurkan energi naga ke kedua kakinya hingga tanah di bawahnya retak. Begitu bayangan raksasa beruang itu menimpanya, Lin Tian melesat naik layaknya pegas yang dilepaskan.
Ia melompat melampaui tinggi beruang tersebut, berputar di udara, dan memusatkan seluruh kekuatan fisiknya yang dipadukan dengan Qi naga astralnya ke bagian siku kanannya.
"Hancur!" raung Lin Tian tertahan.
Sikunya menghantam tepat di tengah-tengah lapisan tulang hitam pelindung di punggung beruang tersebut—bagian yang diyakini paling tidak bisa ditembus oleh pedang dan tombak para kultivator.
KRAK! BOOM!
Suara retakan yang mengerikan terdengar bersamaan dengan tubuh raksasa beruang itu yang terhempas mencium tanah berbatu. Lapisan baja hitam di punggungnya hancur lebur berkeping-keping, memperlihatkan tulang belakangnya yang patah menjadi dua.
Monster tingkat empat yang menjadi mimpi buruk para kultivator liar itu kejang-kejang sesaat, sebelum akhirnya mati dengan mata membelalak penuh teror.
Lin Tian mendarat dengan mulus di samping bangkai raksasa itu. Ia mengibas-ngibaskan lengan kanannya yang terasa sedikit kebas.
"Lapis baja tingkat empat ternyata lumayan keras. Jika tanpa Qi naga yang menopang tulangku, tulang sikuku mungkin yang akan retak," gumam Lin Tian.
Ia mencabut belati dari pinggangnya, membelah dahi monster tersebut, dan mengambil sebuah inti binatang buas berwarna cokelat pekat seukuran bola pingpong. Energinya jauh lebih padat dan buas dibandingkan inti ular yang ia temukan di hutan sekte.
"Satu inti tingkat empat. Kurang sembilan lagi untuk misi, dan mungkin butuh puluhan lagi untuk menembus tingkat empat," Lin Tian tersenyum tipis. Ia menyimpan inti tersebut dan segera melesat kembali ke dalam gelapnya hutan, memulai perburuannya.
Tiga hari berlalu.
Pinggiran Hutan Darah Besi yang biasanya dipenuhi raungan binatang buas, mendadak berubah menjadi sangat sunyi. Binatang buas memiliki insting bertahan hidup yang sangat peka. Kehadiran aura purba dari Seni Pemurnian Tulang Naga Astral milik Lin Tian membuat monster-monster tingkat rendah lari ketakutan, sementara monster tingkat empat yang cukup bodoh untuk menantangnya berakhir menjadi mayat tanpa inti.
Selama tiga hari itu, Lin Tian telah membantai lima belas ekor Beruang Punggung Besi.
Setiap kali ia mendapatkan inti beruang, ia langsung mencari gua tertutup dan memurnikannya. Fisiknya kini mengalami transformasi yang mengerikan. Lapisan kulitnya memancarkan kilau tembaga yang samar saat ia mengalirkan Qi. Fondasi pertahanan dari esensi Beruang Punggung Besi telah sepenuhnya diserap dan disempurnakan oleh garis keturunan naganya.
Kini, meskipun ia berdiri diam, tebasan pedang dari kultivator tingkat empat biasa tidak akan mampu meninggalkan luka gores di kulitnya.
"Batas puncak tingkat tiga," gumam Lin Tian saat keluar dari guanya di pagi hari keempat. Meridiannya terasa padat hingga nyaris tumpah. "Aku membutuhkan stimulan energi yang jauh lebih besar dan murni untuk mendobrak dinding tingkat empat. Bunga Teratai Api Berdarah itu adalah satu-satunya jawabannya."
Lin Tian mengeluarkan peta lusuh yang ia dapatkan dari bandit sebelumnya. Ia telah melewati zona luar, dan kini berada di batas awal zona tengah. Kawah Puncak Merah berjarak kurang dari satu hari perjalanan dari posisinya saat ini.
Ia kembali menarik tudung jubah abu-abunya dan bergerak bagaikan bayangan menembus pepohonan lebat.
Menjelang siang, langkah Lin Tian melambat. Penciumannya yang tajam menangkap aroma asap kayu bakar dan bau amis darah manusia.
Ia melompat ke atas dahan pohon ek raksasa dan menyembunyikan auranya secara total. Dari celah dedaunan, ia melihat sebuah lembah sempit yang menjadi satu-satunya jalur darat teraman menuju Kawah Puncak Merah.
Di tengah lembah itu, barikade kayu berujung runcing telah didirikan, menghalangi jalan. Sebuah bendera hitam dengan lambang kepala serigala bertaring merah berkibar ditiup angin lembah. Itu adalah pos penjagaan Kelompok Tentara Bayaran Taring Darah.
Di depan barikade, tujuh orang kultivator liar sedang dipaksa berlutut dengan tangan terikat di belakang. Mereka tampak babak belur.
Di hadapan mereka, berdiri lima orang pria berpakaian zirah kulit buaya. Empat di antaranya memancarkan aura ranah Mortal tingkat lima, sementara satu orang yang memegang cambuk berduri memiliki fluktuasi Qi tingkat enam puncak.
"Sudah kubilang, wilayah ini ditutup atas perintah Bos Serigala Mata Satu!" teriak pria pemegang cambuk itu sambil meludahi salah satu tawanan. "Kalian tikus-tikus liar berani mencoba menyelundup masuk untuk mencuri Teratai Api Berdarah kami? Kalian pasti sudah bosan hidup!"
"Tuan! Kami tidak tahu aturannya! Kami hanya sedang mencari herbal biasa, kami bersumpah tidak mengincar teratai itu!" isak salah satu kultivator liar yang berlutut, wajahnya berlumuran darah.
"Terlambat," seringai pria bercambuk itu dengan kejam. "Bos memerintahkan untuk tidak meninggalkan saksi agar sekte-sekte besar di selatan tidak mencium pergerakan kami. Bunuh mereka semua dan gantung kepalanya di barikade sebagai peringatan!"
Keempat penjaga tingkat lima langsung menghunuskan golok lebar mereka dan berjalan mendekati para tawanan yang menjerit histeris.
Dari atas pohon, mata Lin Tian menatap pemandangan itu tanpa riak emosi. Ia tidak peduli pada nasib para kultivator liar itu—di dunia ini, kelemahan adalah dosa terbesar. Namun, pos penjagaan ini menghalangi jalannya. Dan jika ia harus memutar melalui tebing beracun di sisi lain gunung, ia akan kehilangan waktu dua hari, mempertaruhkan teratai itu jatuh ke tangan orang lain.
"Lima penjaga. Satu tingkat enam puncak," batin Lin Tian, menghitung secara kalkulatif. Di dalam sekte, ia harus menahan diri. Di sini, ia bisa melepaskan insting naganya secara penuh.
Saat salah satu algojo mengangkat goloknya untuk memenggal tawanan pertama, sebuah suara gesekan angin yang sangat tajam membelah keheningan lembah.
SYUT!
Sebuah dahan pohon sebesar lengan yang dipenuhi aliran Qi ungu keemasan melesat turun dari langit layaknya tombak dewa.
JLEB!
Dahan itu menembus tepat di tengah dada algojo tersebut dengan kekuatan yang luar biasa buas, memaku tubuhnya ke tanah berbatu hingga tewas seketika.
Seluruh orang di lembah itu terdiam kaku. Tawanan yang hampir dipenggal itu menatap dengan mata terbelalak ngeri pada mayat algojo di depannya.
"Siapa di sana?! Tunjukkan dirimu, Pengecut!" raung pria bercambuk tingkat enam, wajahnya memerah karena amarah bercampur kaget.
Dari atas dahan pohon ek, sesosok bayangan berjubah abu-abu melompat turun. Jubahnya berkibar perlahan, mendarat di tanah dengan suara debum pelan yang secara aneh membuat tanah bergetar ringan.
Lin Tian berdiri tegak, matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah para penjaga Taring Darah.
"Kalian terlalu berisik," ucap Lin Tian datar. "Buka barikade itu, dan aku akan membiarkan kalian mati dengan tubuh utuh."