Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
“Kalau begitu… saya keluar dulu,” ujar Usman tiba-tiba.bNada suaranya tenang dan datar. Tidak dingin, tapi juga tidak berusaha mencairkan suasana. Ia langsung menyerahkan Habibi pada Umi Salma tanpa banyak bicara.
Namun baru saja tubuh Habibi berpindah pelukan bayi itu menangis semakin keras. Wajah kecilnya memerah. Tangannya bergerak-gerak gelisah ke arah Amira.
Ruangan mendadak hening beberapa detik. Usman ikut memperhatikan perubahan itu. Tatapannya lalu beralih perlahan pada Amira. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, lelaki itu benar-benar melihatnya. Perempuan muda dengan wajah pucat, jilbab sederhana, dan sorot mata yang tampak gugup setengah mati berada di dekatnya.
Sementara Habibi terus menangis ke arah perempuan itu. Umi Salma menghela napas kecil. “Dia memang seperti itu sekarang.”
Amira langsung merasa tidak enak. “Maaf…”
“Tidak perlu minta maaf,” potong Umi Salma lembut.
Habibi masih terus menangis. Akhirnya Amira memberanikan diri melangkah mendekat. “Boleh saya gendong?”
Usman tampak diam sesaat sebelum sedikit mengangguk dan mundur memberi jarak.
Amira buru-buru menerima Habibi dari pelukan Umi Salma. Dan ajaibnya baru beberapa detik berada di dadanya, tangisan bayi itu mulai mereda. Tubuh kecilnya yang tadi tegang perlahan tenang.
Usman memperhatikan itu tanpa bicara. Sorot matanya sulit dibaca.
Sementara Amira justru semakin canggung karena sadar sedang diperhatikan langsung oleh ayah bayi yang ia susui. Ia otomatis membenahi jilbabnya lagi sambil menunduk. “Maaf…” gumamnya pelan. “Mungkin dia memang lapar.”
Usman akhirnya bicara lagi. “Habibi merepotkan panjenengan.” Kalimat itu terdengar formal sekali. Seperti jarak yang sengaja dibuat jelas.
Amira cepat menggeleng. “Tidak, Kyai.”
Mendengar panggilan itu, Usman tampak sedikit tidak nyaman. Mungkin karena baru beberapa hari lalu istrinya meninggal, sementara sekarang sudah ada perempuan asing di kamar anaknya. Suasana kembali canggung.
Habibi mulai kembali gelisah di pelukan Amira. Mulut kecilnya bergerak mencari susu di balik kain jilbab yang menutupi dada Amira.
Amira langsung sadar. Ia makin kikuk karena Usman masih berada di dalam kamar. Tangannya refleks membenahi jilbab sambil menunduk lebih dalam.
Umi Salma yang memahami situasi itu segera menoleh pada putranya.“Usman.”
Usman langsung mengerti tanpa perlu dijelaskan lebih jauh. “Iya, Mi.”
Lelaki itu mundur beberapa langkah lalu berkata singkat pada Amira, “Maaf.”
Amira buru-buru menggeleng. “Enggak, Kyai…”
Namun Usman sudah lebih dulu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh sekilas ke arah Habibi yang kini tenang di pelukan Amira. Tatapan itu singkat sekali. Tapi ada sesuatu di sana. Rindu. Canggung. Dan kehilangan yang belum selesai. Setelah itu Usman keluar dan pintu kamar kembali tertutup pelan.
Amira baru bisa bernapas lebih lega. Entah kenapa aura lelaki itu membuat ruangan terasa tegang meski ia tidak melakukan apa-apa.
Amira lalu duduk di sofa sambil mulai menyusui Habibi dengan kain penutup yang sudah biasa ia pakai. Bayi itu langsung menyusu lahap.
Umi Salma memperhatikan cucunya sebentar sebelum duduk pelan di kursi dekat jendela. “Usman baru pulang tadi malam,” ujarnya tiba-tiba.
Amira mendongak sedikit.
“Dari rumah keluarga istrinya.”
Amira diam mendengarkan.
“Setelah pemakaman Alya, dia tinggal di sana beberapa hari.” Suara Umi Salma tenang, tetapi jelas menyimpan rasa iba untuk putranya sendiri. “Dia bilang ingin menemani mertua dan membereskan barang-barang Alya.”
Amira menunduk lagi. Entah kenapa membayangkan itu membuat dadanya ikut berat. “Makanya…” lanjut Umi Salma pelan, “baru sekarang dia benar-benar bertemu Habibi.”
Amira refleks menatap bayi di pelukannya. Baru sekarang? Berarti selama tiga hari ini Usman bahkan belum sempat dekat dengan anaknya sendiri.
“Semalam sebenarnya dia masuk waktu Habibi tidur,” ujar Umi Salma lagi. “Tapi tidak lama.”
Amira tidak tahu harus berkata apa. Ia mulai memahami kenapa tadi Usman terlihat sangat kaku saat menggendong bayinya. Bukan karena tidak sayang. Mungkin justru karena terlalu bingung menghadapi semua kehilangan yang datang sekaligus.
Istri meninggal. Anak yang baru lahir terus menangis. Dan sekarang ada perempuan asing yang justru bisa menenangkan bayi itu lebih baik daripada dirinya sendiri. Pikiran itu membuat hati Amira tiba-tiba tidak enak.
Habibi menyusu dengan tenang di pelukan Amira. Suara napas kecil bayi itu terdengar lembut memenuhi kamar yang sejak tadi sunyi.
Amira menunduk, mengusap pelan kepala Habibi dengan jemarinya.
Sementara Umi Salma masih duduk diam, memandangi cucunya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. “Usman itu anaknya tertutup,” ujar beliau pelan setelah beberapa saat.
Amira mendengarkan tanpa menyela.
“Dari kecil memang begitu.” Umi Salma tersenyum samar. “Kalau sedih, dia memilih diam.” Tatapan perempuan sepuh itu beralih ke jendela. “Waktu abahnya meninggal juga begitu.”
Amira sedikit tertegun. Ia tahu kyai sepuh pendiri pesantren ini sudah wafat beberapa tahun lalu. Tetapi baru sekarang ia sadar bahwa sejak usia muda, Usman sudah memikul pesantren sebesar ini sendirian.
“Dia pulang dari Madinah langsung menggantikan abahnya,” lanjut Umi Salma. “Padahal waktu itu dia baru selesai doktoral.”
Amira mengangguk kecil.
“Belum sempat menikmati hidup sebagai anak muda,” lanjut beliau lirih. “Tahu-tahu sudah jadi pengasuh pondok.” Suasana kembali hening.
Habibi mulai melambat menyusunya, tanda mulai kenyang. Umi Salma memperhatikan cucunya lama sebelum akhirnya berkata lagi, “Waktu Alya datang, saya pikir hidup Usman akhirnya akan lebih ringan.” Nada suaranya kali ini benar-benar terdengar sedih. “Dia jadi lebih sering pulang cepat.”
Lebih banyak tersenyum.”
Dan untuk pertama kalinya, saya melihat dia benar-benar bahagia.”
Amira menunduk semakin dalam. Dadanya ikut terasa sesak mendengar itu.
“Makanya waktu Alya meninggal…” Umi Salma berhenti sejenak, menarik napas perlahan. “Sebagian diri Usman ikut hilang. Kalimat itu menggantung lama di udara.
Amira tidak tahu kenapa hatinya jadi ikut nyeri. Padahal ia baru mengenal lelaki itu beberapa menit. Namun tadi sekilas ia melihat sendiri tatapan kosong di mata Usman saat memandang Habibi. Tatapan seseorang yang belum sempat memahami kenyataan hidupnya berubah total.
“Tapi Habibi tetap anaknya,” lanjut Umi Salma pelan. “Dan mau tidak mau, dia harus belajar menjadi ayah.”
Amira mengusap punggung Habibi perlahan. Bayi itu kini hampir tertidur lagi. “Tadi malam dia bilang pada saya…” suara Umi Salma melembut, “‘Mi, saya bahkan belum sempat membelikan pakaian untuk anak saya.’”
Amira langsung merasa tenggorokannya mengencang.
“Dia sibuk menjaga Alya selama hamil.” Umi Salma tersenyum pahit kecil. “Usman terlalu fokus memastikan istrinya sehat. Tapi Allah mengambil Alya lebih dulu.”
Kamar kembali sunyi. Dan di tengah keheningan itu, Amira tiba-tiba sadar sesuatu. Bukan cuma dirinya yang sedang belajar hidup setelah kehilangan. Orang-orang di ndalem ini pun sama hancurnya.
Habibi akhirnya benar-benar tertidur setelah kenyang menyusu. Amira menepuk-nepuk punggung kecil bayi itu pelan sebelum membaringkannya hati-hati ke dalam baby box.