NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Pagi itu suasana di divisi marketing sudah ramai bahkan sebelum jam kerja benar-benar dimulai. Bunyi keyboard bercampur dengan suara printer dan obrolan ringan para karyawan yang masih menikmati sisa kantuk pagi. Namun keramaian kecil tiba-tiba muncul saat Mita datang sambil membawa sebuah majalah fashion tebal dengan sampul model terkenal mengenakan pakaian musim terbaru.

“Lihat ini, koleksi barunya lucu sekali!” seru Mita sambil meletakkan majalah itu di atas meja.

Ucapan itu seperti alarm darurat bagi para karyawan wanita. Dalam hitungan detik mereka langsung berkumpul mengelilingi meja Mita. Dunia kerja memang aneh. Laporan penjualan bisa diabaikan lima menit, tetapi diskon tas dan baju mampu menyatukan manusia lebih cepat daripada rapat motivasi perusahaan.

“Yang ini bagus sekali.”

“Sepatunya lucu.”

“Eh lihat tas yang warna krem ini.”

“Aduh aku mau jaket ini.”

Shinta yang awalnya hanya duduk sambil memeriksa email akhirnya ikut mendekat. Sejak mulai akrab dengan para wanita di kantor, ia jadi lebih sering ikut mengobrol santai seperti itu. Lagi pula melihat-lihat pakaian cantik di tengah pekerjaan yang membosankan memang cukup menyenangkan.

“Coba lihat yang halaman ini,” kata Rara sambil membuka halaman lain.

Shinta memperhatikan foto model dengan blouse putih dan rok panjang berwarna cokelat muda. Ia mengangguk kecil.

“Bagus juga.”

“Nah kan,” ujar Rara bangga. “Aku bilang juga apa.”

Sementara itu di meja sebelah, Andika dan Deni sedang membahas laporan distributor dengan wajah serius. Setidaknya sampai suara ribut para wanita mulai mengganggu konsentrasi mereka.

Deni menoleh sekilas lalu menghela napas panjang.

“Kenapa kalau sudah soal baju suaranya bisa seperti pasar malam?”

Rara langsung menatap tajam ke arahnya.

“Memangnya kenapa?”

Deni menyandarkan tubuh di kursi sambil mengangkat sebelah alis.

“Kalian ini lucu. Baju di lemari sudah berjejer seperti orang antre beras, masih saja bilang tidak punya baju.”

Beberapa wanita langsung protes bersamaan.

“Ih apaan sih.”

“Tidak nyambung.”

“Laki-laki memang tidak paham.”

Rara menunjuk Deni dengan majalah di tangan.

“Kalian itu tahunya cuma pakai kemeja kantor sama celana hitam tiap hari. Mana mungkin mengerti fashion.”

Deni tertawa kecil.

“Syukur kalau begitu. Dompet aman.”

Andika yang sejak tadi diam ikut menambahkan tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.

“Daripada beli barang yang tidak terlalu penting, lebih baik uangnya dipakai investasi.”

Kalimat itu langsung mengundang reaksi baru.

“Nah tuh keluar juga suara investor saham,” celetuk Mita.

Shinta melirik Andika sambil menyipitkan mata.

“Andika saja yang pelit.”

Suasana mendadak sedikit hening.

Andika akhirnya mengangkat kepala dan menatap Shinta dengan ekspresi tidak percaya. Deni yang duduk di sebelahnya sampai menahan senyum karena merasa ada sesuatu yang aneh dari nada bicara mereka.

“Pelit?” ulang Andika pelan.

“Iya,” jawab Shinta santai. “Pelit sekali.”

Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Dulu saat mereka masih pacaran, Andika hampir selalu memenuhi keinginan Shinta. Dari makanan, hadiah kecil, sampai hal-hal tidak penting yang kadang bahkan Shinta sendiri lupa pernah ia inginkan. Namun tentu saja Shinta tidak mungkin membahas masa lalu mereka di depan orang kantor.

Tatapan Andika berubah kesal.

Ia ingin membantah. Sangat ingin malah. Tetapi kalau terlalu banyak bicara, orang-orang bisa mulai curiga tentang hubungan mereka dulu. Jadi Andika memilih diam sambil menatap Shinta dengan wajah tidak terima.

Shinta malah tersenyum kecil seolah menikmati ekspresi itu.

Deni yang mulai merasa suasana aneh akhirnya berdiri.

“Sudah, sudah. Kalau diteruskan nanti perang dunia soal diskon tas.”

Ia menepuk pundak Andika.

“Ayo pindah saja. Kepala aku sudah pening dengar harga skincare.”

Andika langsung menutup laptopnya.

“Ayo.”

Para wanita langsung menyoraki mereka.

“Iya sana.”

“Dasar tidak menghargai seni fashion.”

“Jangan iri karena kalian tidak punya pilihan baju selain biru dan hitam.”

Deni menggeleng sambil berjalan pergi.

“Laki-laki hidup sederhana karena kami masih punya akal sehat.”

“Tolong diam!” teriak Rara sambil melempar tisu ke arahnya.

Suasana kantor kembali ramai dengan tawa.

Sementara itu Andika berjalan ke ruang rapat kecil bersama Deni dengan wajah masih terlihat kesal. Deni melirik sahabatnya beberapa kali sebelum akhirnya bertanya.

“Kenapa muka kamu seperti orang baru kehilangan deposito?”

“Tidak apa-apa.”

“Tidak apa-apa katanya. Wajah kamu sudah seperti orang ditagih utang.”

Andika menghela napas pendek.

“Kesal saja.”

“Hanya gara-gara dibilang pelit?”

Andika diam beberapa detik.

“Padahal aku tidak seperti itu.”

Deni tertawa kecil.

“Kalau dipikir-pikir memang tidak cocok kata pelit buat kamu.”

Andika hanya bersandar di kursi sambil melipat tangan di dada. Ingatannya justru kembali ke masa lalu. Saat Shinta pernah bilang ingin mencoba restoran mahal dan Andika rela menabung seminggu hanya supaya bisa mengajaknya makan di sana. Atau waktu Shinta mengeluh ingin tas baru lalu beberapa minggu kemudian Andika diam-diam memberinya hadiah.

Dan sekarang wanita itu malah menyebutnya pelit di depan orang kantor.

Manusia memang spesies yang aneh. Sudah berusaha tulus malah dapat gelar berbeda. Untung belum dituduh lintah darat.

---

Jam makan siang tiba.

Sebagian karyawan mulai keluar kantor untuk mencari makan, sementara beberapa lainnya memilih memesan makanan online. Shinta sedang membereskan meja saat Andika tiba-tiba berdiri di sampingnya.

“Makan siang.”

Shinta menoleh.

“Ajak siapa?”

“Kamu.”

Shinta langsung menghela napas.

“Tidak usah.”

“Kenapa?”

“Aku sudah capek digosipkan.”

Andika memasukkan tangan ke saku celana sambil menatapnya datar.

“Kalau begitu jelaskan saja kita memang tidak ada hubungan apa-apa sekarang.”

Shinta memicingkan mata.

“Kata ‘sekarang’-nya tidak perlu ditekankan.”

Andika tidak menjawab. Ia justru sedikit mendekat lalu berkata pelan,

“Siapa yang tadi pagi bilang aku pelit?”

Shinta menahan senyum.

“Kamu masih memikirkan itu?”

“Tentu saja.”

“Itu cuma bercanda.”

“Bercanda?” Andika mulai protes. “Dulu siapa yang selalu aku turuti?”

Shinta langsung tertawa kecil.

“Aku lupa.”

Ekspresi Andika berubah.

Bukan marah besar, tetapi lebih seperti kecewa. Ia memalingkan wajah beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Ya sudah.”

Nada suaranya membuat Shinta sedikit merasa bersalah.

Karena kalau dipikir-pikir lagi, memang benar Andika dulu sangat loyal padanya. Bahkan terkadang terlalu baik sampai Shinta sendiri merasa heran kenapa laki-laki itu bisa sesabar itu menghadapi dirinya.

Namun Shinta buru-buru menepis pikirannya sendiri.

“Itu kan masa lalu,” katanya santai.

Andika menatapnya sebentar lalu mengangguk kecil.

“Iya. Masa lalu.”

Setelah itu ia langsung pergi meninggalkan meja Shinta tanpa berkata apa-apa lagi.

Shinta memperhatikannya berjalan menjauh sambil mengerucutkan bibir kecil. Ada rasa aneh yang muncul di dadanya, tetapi ia memilih mengabaikannya.

---

Selesai makan siang, suasana kantor kembali sibuk.

Andika duduk di mejanya sambil memeriksa laporan distributor dengan wajah datar. Tidak seperti biasanya yang masih suka menanggapi candaan orang lain, kali ini ia terlihat lebih diam.

Shinta yang sedang menyusun data akhirnya mendekat membawa beberapa berkas.

“Ini laporan revisinya.”

Andika menerimanya tanpa banyak bicara.

Ia membaca beberapa halaman sebentar lalu mengangguk.

“Sudah bagus.”

Cuma itu.

Tidak ada penjelasan panjang seperti biasanya. Tidak ada komentar tambahan. Bahkan tidak ada tatapan lama yang dulu sering ia lakukan saat berbicara dengan Shinta.

Wanita itu langsung menyipitkan mata.

“Kamu marah?”

“Tidak.”

“Bohong.”

“Aku sedang kerja.”

Jawabannya pendek sekali.

Shinta menatap wajah Andika lebih lama. Lelaki itu memang terlihat cuek, tetapi ada ekspresi cemberut kecil yang sangat familiar baginya.

Dulu waktu mereka masih pacaran, Andika sering memasang wajah seperti itu kalau sedang kesal tetapi gengsi mengatakannya langsung. Biasanya karena Shinta terlalu sibuk sendiri atau tidak memperhatikannya.

Dan sekarang ekspresi itu muncul lagi hanya karena disebut pelit.

Shinta hampir tertawa memikirkannya.

“Serius masih kesal?” tanyanya pelan.

Andika tetap fokus pada laptop.

“Tidak.”

“Kamu ngambek.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Wajah kamu seperti anak kecil.”

Andika akhirnya menatapnya.

“Kalau aku memang pelit, dulu aku tidak akan menuruti semua maumu.”

Kalimat itu membuat Shinta diam sesaat.

Nada bicara Andika terdengar tenang, tetapi jelas ada rasa tidak terima di dalamnya.

Shinta menghela napas kecil lalu duduk di kursi sebelah meja Andika.

“Maaf.”

Andika tidak menjawab.

“Aku tadi cuma bercanda.”

Masih diam.

Shinta mulai merasa tidak nyaman.

“Jangan marah terus.”

“Aku tidak marah.”

“Kamu bahkan tidak mau melihat aku.”

“Karena aku sedang baca laporan.”

Shinta menahan kesal sekaligus geli.

Sikap Andika benar-benar sama seperti dulu kalau sedang ngambek. Diam, cuek, bicara seperlunya, tetapi diam-diam berharap diperhatikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!