NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Hamil

Dibuang Saat Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Single Mom
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

USG pertama

“Pasien atas nama Diana Veronika.”

Diana yang sedari tadi duduk di ruang tunggu langsung beranjak saat namanya dipanggil.

Tangannya refleks memegang tas kecilnya sebelum melangkah masuk ke ruangan dokter obgyn.

Hari ini, sebelum berangkat bekerja, Diana sengaja meluangkan waktu untuk memeriksakan kandungannya.

Ia ingin memastikan keadaan bayinya baik-baik saja.

“Selamat pagi, Bu,” sapa dokter dengan senyum hangat saat Diana masuk ke ruangan.

Diana membalas senyum itu dengan sopan.

“Selamat pagi, Dok.”

Ia kemudian duduk di kursi yang telah disediakan.

“Kehamilan keberapa, Bu?” tanya dokter sambil menuliskan sesuatu di berkas pemeriksaan.

“Pertama, Dok,” jawab Diana pelan.

Dokter mengangguk sambil tersenyum ramah.

Setelah berbasa-basi sejenak mengenai kondisi Diana, dokter akhirnya mengarahkan Diana untuk berbaring di atas brankar pemeriksaan.

Diana menurut dengan sedikit gugup.

Perawat mulai mengoleskan gel dingin ke perut Diana.

Diana sedikit meringis karena rasa dingin tersebut.

Dokter kemudian menggerakkan alat USG di atas perut Diana dengan hati-hati.

Beberapa detik kemudian, wajah dokter tersenyum.

“Lihat itu, Bu... janin Anda.”

Diana langsung menoleh ke arah layar monitor.

Matanya membulat perlahan.

Air matanya langsung menetes tanpa bisa ditahan.

Di layar itu, ia melihat kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

Untuk pertama kalinya, Diana benar-benar menyadari bahwa ia tidak sendiri lagi.

“Usia kandungan Ibu sudah memasuki minggu kedelapan,” jelas dokter.

Dokter kemudian kembali bertanya.

“Apa Ibu pernah mual atau pusing?”

Diana mengangguk pelan sambil menghapus air matanya.

“Pernah, Dok. Di awal kehamilan saya sempat merasakannya, tapi akhir-akhir ini sudah nggak lagi, Dok.”

“Itu hal yang wajar, Bu,” balas dokter dengan tenang.

Dokter kembali memperhatikan layar pemeriksaan.

“Janin Ibu sehat. Beratnya juga sesuai. Tidak ada kendala apa pun.”

Mendengar itu, hati Diana terasa jauh lebih lega.

Ia mengembuskan napas panjang sambil terus menatap layar dengan haru.

Setelah pemeriksaan selesai, Diana kembali duduk di kursi.

Dokter lalu menuliskan resep vitamin untuk Diana.

“Obatnya jangan lupa diminum ya, Bu.”

Dokter tersenyum hangat.

“Dan Ibu juga harus makan makanan yang sehat.”

Diana mengangguk patuh.

“Baik, Dokter. Terima kasih.”

Ia menerima resep tersebut dengan hati yang jauh lebih tenang.

Diana keluar dari ruangan dengan langkah pelan sambil memegang hasil pemeriksaannya.

Tangannya perlahan mengelus perutnya yang masih rata.

“Syukurlah... kamu sehat, Sayang,” lirihnya dengan mata berkaca-kaca.

Senyum kecil terukir di bibirnya.

“Bunda janji akan bekerja lebih keras untuk kamu.”

Ia menatap resep obat di tangannya, lalu menarik napas lega.

Untuk pertama kalinya, rasa takut di hatinya perlahan tergantikan oleh kebahagiaan.

Setidaknya, anaknya tumbuh dengan sehat.

Setelah selesai memeriksakan kandungannya, Diana langsung menuju Castella Cake—tempat ia mencari rezeki untuk dirinya dan calon bayinya.

Begitu membuka pintu toko, aroma manis kue yang baru dipanggang langsung menyambutnya.

Aroma itu selalu berhasil membuat hati Diana sedikit lebih tenang.

“Tiara.”

Diana menyapa rekannya saat melihat Tiara sedang sibuk menyusun kursi di area toko.

Tiara langsung menoleh.

“Hai, tumben kamu nggak telat?” tanyanya sambil bercanda.

Diana terkekeh kecil.

“Aku tadi periksa kandunganku dulu, Ra.” jawab Diana dengan senyum tipis.

Kini semua karyawan di Castella Cake sudah mengetahui kehamilannya, termasuk cerita kelam yang ia alami.

Awalnya Diana berpikir mereka akan menghujat dan menjauhinya.

Namun kenyataannya justru sebaliknya.

Mereka mendukungnya dengan tulus, dan itu membuat Diana sangat terharu sekaligus bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik.

“Terus bagaimana keadaannya? Sehat?” tanya Tiara antusias.

Diana langsung mengangguk dengan mata berbinar.

“Iya, dia sehat, Ra. Doain ya semoga lancar sampai aku melahirkan.”

“Tentu dong.”

Tiara tersenyum lebar.

“Kalau ada apa-apa, tanya aku aja ya.”

Tiara kemudian mengelus perut Diana dengan gemas.

“Sehat-sehat ya, calon bayi. Aunty Tiara siap menunggu.”

Diana tertawa kecil mendengar ucapan Tiara.

Sebelum ia sempat membalas—

“Perhatian... perhatian...”

Suara Puspa terdengar cukup keras hingga membuat seluruh karyawan menoleh ke arahnya.

Puspa berdiri di tengah ruangan sambil membawa clipboard di tangannya.

“Hari ini kita dapat pesanan lumayan banyak.”

Semua karyawan langsung fokus mendengarkan.

“Seribu kotak Cupcake, seribu Red Velvet Cake, seribu Tiramisu Cake …”

Puspa menjeda sejenak sambil melihat catatannya.

“Dan dua ribu Pavlova .”

Mata beberapa karyawan langsung membesar.

Puspa kembali melanjutkan.

“Jadi total semuanya lima ribu kue.”

Para karyawan langsung terdiam beberapa detik, mencerna ucapan Puspa.

“Apa?! Lima ribu buah?” seru salah satu staf dengan mata membulat.

“Itu banyak banget!”

“Acara siapa memangnya?” tanya yang lain penasaran.

Puspa tersenyum tipis melihat reaksi mereka.

“Pesanan ini untuk acara pernikahan keluarga besar. Mereka memesan dalam jumlah besar untuk tamu undangan dan bingkisan.”

Ruangan langsung dipenuhi suara takjub.

“Pantas saja jumlahnya segila itu.”

“Kalau berhasil, nama Castella Cake bakal makin terkenal.”

Diana ikut terdiam dengan mata membulat saat mendengar jumlah pesanan Pavlova miliknya paling banyak.

“Dua ribu buah Pavlova...” gumamnya tak percaya.

Tiara langsung memeluk lengannya dengan antusias.

“Diana, kue buatan kamu paling banyak dipesan!”

Diana menatap Tiara dengan mata berkaca-kaca.

“Aku benar-benar nggak nyangka...”

Puspa tersenyum bangga.

“Klien bilang Pavlova buatan kita sedang viral dan banyak tamu khusus meminta menu itu.”

Diana refleks mengelus perutnya.

“Sayang... rezeki kamu benar-benar luas,” gumamnya pelan.

Beberapa karyawan langsung bersorak semangat.

“Ayo kita mulai!”

“Hari ini dapur pasti perang.”

“Aku nggak mau pulang malam!”

Semua orang tertawa kecil.

Diana ikut mengenakan celemeknya dengan penuh semangat.

Untuk pertama kalinya, ia merasa masa depannya perlahan mulai cerah.

°°••°°

“Dika, apa kamu sudah mengetahui di mana Diana?”

Suara Samuel terdengar dingin sekaligus penuh tekanan.

Dika yang berdiri di hadapan meja kerja Samuel hanya bisa menggeleng pelan.

“Tidak, Tuan. Semua akses informasi sudah saya telusuri, tapi tidak ada satu pun jejak Diana,” jawabnya jujur.

Brak!

Samuel melempar berkas di atas mejanya hingga menimbulkan suara keras yang membuat suasana ruangan semakin menegang.

Ia mengusap wajahnya dengan kasar, frustasi mulai terlihat jelas di wajahnya.

“Sial... di mana dia berada?”

Dika menatap atasannya dengan ekspresi rumit.

“Tuan... kenapa Anda terus mencarinya?”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Bukankah itu yang Tuan inginkan sejak awal?”

Samuel langsung terdiam.

Ucapan Dika terasa seperti tamparan keras baginya.

Bukankah benar dirinya sendiri yang memilih meninggalkan Diana?

Lalu kenapa sekarang ia justru mati-matian mencarinya?

Namun, hatinya tetap ingin menemukan Diana.

“Pernikahan Anda tinggal beberapa hari lagi, Tuan,” lanjut Dika dengan nada lebih tegas.

“Tuan Besar akan marah jika Anda masih terus mencarinya.”

Dika menatap Samuel serius.

“Ingat, perusahaan ini bisa bangkit kembali setelah keluarga Nona Citra membantu menyelamatkannya.”

Nada suara Dika terdengar penuh penekanan.

Ia mulai kesal melihat sikap atasannya yang terus terombang-ambing oleh perasaannya sendiri.

Samuel menatap tajam Dika.

“Beraninya kamu menceramahi saya, Dika.”

Dika tetap berdiri tenang meski mendapat tatapan tajam dari Samuel.

“Maaf, Tuan. Saya tidak sedang menceramahi Anda.”

Ia menarik napas pelan.

“Saya hanya memperingatkan Anda agar tidak masuk ke lubang yang salah.”

Samuel mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Jangan ikut campur urusan hati saya.”

Tatapannya semakin dingin.

“Saya tidak mencintai Citra.”

Dika mengembuskan napas pelan.

Ia sebenarnya sudah lama mengetahui hal itu.

“Maaf, Tuan. Kalau begitu saya permisi.”

Dika memilih mundur. Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan dengan atasannya.

Ia pun keluar dari ruangan.

Samuel menatap tajam kepergian asistennya.

Rahangnya mengeras.

“Sial... berani sekali dia.”

Samuel menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan emosi yang belum reda.

Sementara itu—

Tanpa Samuel ketahui, Iren ternyata melihat pertengkarannya Samuel dengan Dika melalui monitor CCTV perusahaan.

Awalnya, ia hanya ingin menemui salah satu staf di ruangan tersebut.

Namun tanpa sengaja, ia melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan pertengkaran Samuel dan Dika di ruang kerja.

Wajah Iren langsung berubah gelap.

Tangannya mengepal kuat.

“Jadi Samuel masih mencari wanita kampung itu... sial.”

Tatapannya dipenuhi kemarahan saat menatap layar monitor.

“Ini tidak bisa dibiarkan.”

Ia menarik napas kasar.

“Aku harus memberi pelajaran pada Samuel.”

1
Prafti Handayani
Lanjut thor..Gass tross....
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
Thor di tunggu lanjutannya...
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
FIX istrimu Pelacur Samm...
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Prafti Handayani
Calon suami dan Daddy buat Diana dan Debay.Mudah"an pria ini lebih berkuasa dri kel Samuel dan Citra.Biar Diana bs bls dendam.Dan calin Daddy bs melindungi Diana dan Debay slmnya.Niar debay nti gag bs diambil alih sm samuel dan keluarganya saat nti tau sam dan citra gag bs punya anak.
Mpusss...
Lia Rahmawati
katanya si Diana pergi jauh,tapi ko toko rotinya Deket sama toko rotinya yang punya si jahat?
Nona Jmn
Hai, kak. Akhirnya mampir di novel baruku😋😍
tia
jahat banget iren ,,makany toko u sepi
tia
semoga karma menghampir u Samuel sekuritas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!