NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zara Ayleen

POV ZARA AYLEEN

Pagi di rumah sederhana kami seperti biasa terasa hangat, dentingan sendok saling beradu dengan piring, suara ibu yang sering bersenandung mengalun lembut di tiap ruangan rumah kami yang tidak luas, rumah yang sangat sederhana. Lantunan dzikir pagi yang tidak terlewat selalu ayah nyalakan pada mini speaker yang sengaja aku belikan. Aku menyukai keteraturan itu. Bagiku, hidup yang baik adalah hidup yang berjalan mulus tanpa tuntutan yang berat dan tanpa ada kejutan di dalamnya.

Namaku Zara Ayleen, nama yang sangat indah yang berarti bunga dan cahaya, ibu yang menaimaiku karena kata ibu sewaktu mengandungku sangat menyukai aroma aroma bunga. Aku anak terakhir dari tiga bersaudara, dua kaku sudah menikah dan menetap bersama suaminya di luar kota, dan kini tinggalah aku si bungsu yang manja, yang kata orang-orang kalau anak bungsu ini selalu paling banyak mendapat limpahan kasih sayang. Akan tetapi, menurutku ayah dan ibu berbeda mereka memiliki persentase kasih sayang yang sama pada anak-anaknya. Aku sangat beruntung memiliki orangtua seperti mereka.

Aku berdiri didepan cermin kamar, merapikan hijab berwarna pink blush yang ku kenakan, aku meniti kedua ujung sisi hijab di pundakku supaya lebih rapi. Hijab sudah terpasang sempurna, rapi membingkai wajahku yang kecil. Tinggiku hanya seratus lima puluh tiga sentimeter, dengan bahu yang sempit dan postur tubuh yang ringan. Langkahku kecil, namun kuat menghadapi kerasnya dunia.

Aku bukan perempuan yang mencolok.  Ibu berkata aku cantik dengan cara yang pelan. Hidungku kecil dengan alis melengkung rapi bagai hasil bingkaian pensil alis. Aku memakai bedak tipis di wajahku dan lip balm, cukup itu saja. Tidak berlebihan, aku menyukai kesederhanaan. Kerudung rapih dengan dipadukan kemeja oversize berwarna pastel telah menutupi tubuh mungilku.

Aku melangkah menuruni tangga sempit rumahku, kamarku berada di lantai dua bersama dengan kamar kedua Kakaku kak Diana dan Kak sofhia yang kini telah pindah keluar kota mengikuti suaminya, itulah dukanya menjadi anak bungsu. Ketika kakak-kakanya menikah dia tidak punya teman di rumah.

Aku melanjutkan langkahku menuju lantai bawah, seperti biasa pemandangan ku tiap pagi adalah melihat ayah yang telah siap dengan kemeja coklat muda khas seperti pegawai negri sipil yang telah ia kenakan puluhan tahun sebagai guru sejarah, tidak lupa ayah ditemani oleh secangkir teh hangat buatan ibu dan setumpuk koran di meja. Di era modern ini masih saja ayah suka baca koran.

Ibu tersenyum hangat kepadaku, ia menawariku segelas susu hangat untuk sarapan. Ibuku bekerja sama seperti ayah, dengan posisi ibu sebagai guru bahasa indonesia.

"Zara, sarapan dulu nak" ibu tersenyum hangat padaku, meletakan susu hangat pada meja.

"Iya, makasih ibu" aku duduk dihadapan ayah yang sedang fokus membaca koran, kacamatanya sedikit melorot.

"Pagi banget berangkatnya za?" Tanya ayah sambil melepas kacamata dan menyimpan koran diatas tumpukan buku sejarah.

"Iya yah biar jalannya aga santai tidak terburu-buru"

Aku melihat ayah mengangguk pelan, ia menghabiskan teh hangatnya "kerja yang baik, ayah dan ibu tidak untuk kamu untuk jadi orang besar, berbaik hatilah sopan santun jadi perempuan yang lembut dan penyayang"

Aku mengangguk pelan, mengiyakan semua nasihat ayah. Sudah berapa kali ayah berkata seperti itu. Tapi aku tidak jengah apalagi bosan mendengarnya.

"Ya sudah Zara berangkat dulu". Aku pamit mencium tangan ibu dan ayah. Segelas susu hangat dan omelet membuatku kenyang. Aku bekerja sebagai pustakawan honorer di Sekolah Menengah Atas tempat dan ayah ibu bekerja.

Aku melangkah keluar rumah dengan menggendong tas canvas andalanku. Cuaca di pagi ini sangat cerah, angin lembut menerpa wajahku. Seolah menyapaku hangat di pagi ini. Sesekali aku menyapa orang-orang yang aku kenal, tersenyum ramah seperti yang diajarkan ibu.

"Pagi, pak Kusma", sapa Zara pak Kusma, seorang penjaga sekolah dari semenjak Zara sekolah sampai sekarang pak Kusma masih setia menjaga sekolah cendikia.

"Pagi Zara" balas pak Kusma tidak kalah ramah dengan Zara.

Hari aku akan menjalani hari-hari ku seperti biasa menjadi pustakawan honorer SMA Negri Cendikia. Aku cukup menikmati menjadi pustakawan honorer. Sebenarnya ibu sudah menawariku untuk ikut tes CPNS atau lanjut S2, namun aku menolak untuk saat ini, karena aku masih menikmati pekerjaan ini. Yang dimana tidak ada perlombaan memperebutkan posisi di dalamnya. Yang ada hanya keteraturan, berangkat pagi dan pulang sofa. Aku menikmati itu.

Pekerjaanku hari ini di mulai dengan membereskan buku yang kemarin dibaca oleh siswa-siswi kemudian di lanjut dengan mendata buku yang di pinjam.

Nura : Zar hari aku gak masuk, kamu tolong handle dulu tugas aku ya. Kemarin Bu Dini memberi ku tugas untuk minta tanda tangan sama donatur.

Nura rekan kerja sekaligus sabatku dari kecil, hari ini dia tidak bisa masuk kerja karena harus mengantar ibunya ke rumahsakit. Setelah membalas dan mengiyakan permintaanya aku melanjutkan semua catatan pinjaman buku.

**

Setelah shalat asar aku membereskan semua keperluan, bersiap untuk pulang.

Eitsss, tapi aku baru ingat kalau hari ini aku harus mengantar proposal pengajuan dana untuk membeli buku sekolah.

Aku menghela nafas pelan, kembali melangkah menelusuri tiap lorong sekolah yang kini terasa sepi, hanya suara plat shoes ku yang mengetuk lantai di setiap langkah. Di ujung lorong, pintu bertuliskan ruang kepala sekolah sedikit terbuka.

Tok tok tok.

"Assalamualaikum, permisi Bu" ucap ku lirih.

Bu dini yang tengah membereskan barang barangnya, menoleh tersenyum ramah padaku. "Masuk Zara"

Kemudian aku masuk dan berdiri berhadapan di mejanya. Aku mengutarakan maksud dan tujuanku mendatanginya kesana. Aku menyerahkan map coklat yang berisikan proposal pengajuan dana pembelian buku.

"Ini proposal pengajuan dana untuk pembelian buku Bu, rencananya Harini akan saya antar ke perusahaan" jelasku.

Bu dini menerima map, ia membukanya dan memperhatikan lembar demi lembar dari proposal tersebut. Ia mengetuk-ngetukan ujung bolpoin menimang-nimang lembar demi lembar memastikan tidak ada yang salah. Kemudian pada halaman terakhir ia membubuhkan tandatangan.

"Oke bagus, zar. Tolong sampaikan dengan baik pada pemilik perusahaan". Ucapnya padaku.

"Baik Bu, kalau begitu saya permisi"

Keluar dari ruang Bu Dini, Zara mengengam erat map ditangannya. Tidak lupa ia mengirimkan pesan pada ibunya kalua akan pulang sedikit telat.

Nura : Zar ternyata pak Darmawan pemilik perusahaan tidak bisa menandatangani proposal itu, tapi beliau sudah menugaskan anaknya.

Zara : ohh syukurlah, ya sudah aku ini otw nur semoga berhasil.

Nura : aamiin, semangat zar maaf jadi ngerepotin kamu.

Nura : Menara Wiratama Jl. Jendral Sudirman Kav. 58 Kawasan SCBD, Jakarta Selatan 12190 indonesia. Lantai 47

Setelah menerima alamat perusahaan aku mematikan ponsel yang batrenya tinggal sedikit. Aku kembali melangkah untuk menaiki angkutan umum menuju lokasi.

Logo WIRATAMA GROUP terpampang jelas di depanku. Aku melangkah mantap tidak ada keraguan.

Tanpa mengetahui jika malam itu adalah malam yang kelam bagiku.

*

*

Sayang-sayangku, dukung terus karya kedua ku ini ya. Karena sekecil apapun dukungan dari kalian, itu sangat berarti untukku.

Like, komen dan kasil bintang ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️. Terimakasih banyak💗

1
Aniza
lanjut thooor
roses: siap kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Suren
mantappp👍 Arsyad butuh org ada disampingnya tapi egonya tinggi
roses: berul ka, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Ineu
baru mulai baca
roses: makasih kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
ceritanya menarik,tp agak bingung pas percakapan.atau dialog nyaga ada tanda nya.
Sri Jumiati
cantik .cocok thor
roses: Makasi yah kak, dukung terus author💗
total 1 replies
roses
iya kak, selamat membaca dan siap-siap diobrak abrik perasaan
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Buku Matcha
Typo nya banyak ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!