NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 : Arsen Tersenyum

Begitu pintu kamar tertutup, Nayra langsung melepaskan genggaman tangan Arsen. Ia berbalik cepat. Menatap Arsen dengan ekspresi campur aduk.

“Apa maksud kamu?” tanyanya tiba-tiba.

Arsen mengangkat alis sedikit. “Apa?”

“Ucapan kamu tadi di depan Opa,” lanjut Nayra. “Kamu berkata, akan memberi apa yang Opa inginkan.”

Wajah Nayra kembali memerah. Namun kali ini karena kesal.

Arsen terdiam sejenak. Lalu... ia menghela napas pelan. “Itu…” jawabnya santai. “Hanya sandiwara.”

Nayra mengernyit. “Sandiwara?”

Arsen mengangguk. “Aku hanya ingin membahagiakan Opa,” lanjutnya tenang. “Opa sudah terlalu banyak berharap padaku.”

Nayra menatapnya lekat. Ia memastikan apakah yang di katakan Arsen itu benar. Arsen lalu menambahkan dengan bergurau.

“Kecuali… kamu mau melakukannya denganku.”

Deg!

Nayra langsung melotot. Tanpa pikir panjang, ia mencubit lengan Arsen.

“Aduh!” Arsen refleks meringis. “Sakit, tahu!”

“Itu buat kamu!” balas Nayra cepat, wajahnya merah. “Jangan bicara sembarangan!”

Alih-alih marah, Arsen justru tersenyum. Bukan senyum tipis seperti biasanya, tapi benar-benar tersenyum.

Nayra seketika terdiam, untuk pertama kalinya... ia melihat Arsen seperti itu. Dan entah kenapa, itu membuatnya ikut terpaku.

Arsen menggeleng kecil sambil mengusap lengannya. “Ternyata, galak juga ya kamu,” gumamnya.

Nayra langsung memalingkan wajah. “Biarkan saja,” balasnya pelan.

Hening sejenak, Arsen lalu melirik ke arah ranjang. “Ini sudah malam,” ucapnya. “Sebaiknya kamu tidur.” Suaranya kembali tenang.

Nayra sedikit terkejut. “Kamu…” ia ragu. “Tidak apa-apa?”

Arsen menatapnya sekilas, lalu menggeleng. “Kita hanya menikah kontrak, jadi kamu tidak berkewajiban melayaniku malam ini,” jawabnya.

Kalimat itu kembali membuat hati Nayra bergetar.

Arsen berjalan ke arah sofa bed. “Tidur sana,” katanya singkat sambil menunjuk ranjang.

Nayra terdiam beberapa detik. Lalu perlahan mengangguk.

“Iya…”

Ia berjalan ke ranjang, lalu berbaring. Sementara Arsen merebahkan diri di sofa. Lampu dimatikan, ruangan kembali gelap.

Keesokan paginya…

Meja makan keluarga Wiratama sudah ramai. Raya duduk rapi dengan seragam sekolah barunya. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak cerah meski matanya masih sedikit mengantuk.

Di sebelahnya, Alea sudah duduk manis, meskipun sesekali tangannya mengusap perutnya pelan. Namun seperti biasa, ia tetap semangat melihat makanan di meja.

“Wah… ini enak semua,” gumamnya pelan.

Raya langsung melirik. “Kamu jangan banyak makan dulu,” bisiknya mengingatkan.

Alea mengerucutkan bibirnya, tapi tetap mengangguk. “Iya…”

Di ujung meja, Kakek Sanjaya duduk tenang sambil menikmati sarapannya.

Sementara itu, Pak Arya sudah siap dengan pakaian kantor lengkap. Karena hari ini Pak Arya ada meeting penting di kantor, menggantikan Arsen yang masih cuti.

Tak jauh dari sana, Martha sedang menuangkan minuman ke gelas satu per satu.

Suasana tampak normal. Namun tidak dengan Bu Ambar. Wanita itu duduk dengan anggun, tapi tatapannya sinis mengarah ke arah Raya dan Alea.

Tatapan yang jelas tidak disembunyikan. Membuat suasana terasa sedikit menegang. Raya mengalihkan pandangannya.

Seketika Alea menanyakan Nayra. “Mama kemana ya, Kak? Ko belum keliatan,” tanya Alea polos.

Raya menoleh dan matanya mencari keberadaan Nayra. “Belum turun deh kayanya.”

Kakek Sanjaya langsung menjawab santai. “Biarkan saja,” ucapnya sambil tersenyum tipis. “Sepertinya mereka berdua begadang semalam.”

Raya langsung menatap kearah Kakek Sanjaya. “Begadang?” tanya Raya bingung.

Pak Arya yang mendengar hanya tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepala. Sementara Martha ikut tersenyum kecil sambil menunduk sopan.

Namun Ibu Ambar mendengus pelan. "Tidak mungkin Arsen melakukan itu, pada wanita sembarangan,” gumamnya sinis, cukup pelan tapi terdengar.

Raya langsung menatap ke arahnya. Namun sebelum ia sempat bicara... langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Semua orang menoleh. Nayra turun perlahan. Wajahnya sedikit pucat, tapi tetap tenang. Di belakangnya Arsen berjalan santai, seperti biasa, dingin dan tenang.

Alea langsung tersenyum lebar. “Mama!”

Nayra membalas dengan senyum hangat. “Iya, sayang.”

Namun saat ia duduk, tatapan Ibu Ambar langsung menghujamnya... tajam.

“Bangun juga akhirnya,” ucapnya ketus.

Suasana meja makan kembali menegang. Namun, sebelum Nayra menjawab. Arsen menarik kursinya dengan suara cukup keras.

Semua orang langsung menoleh. Ia duduk dengan tenang. Lalu menatap lurus ke arah Ibu Ambar.

“Kalau tidak ada yang penting,” ucapnya dingin. “Lebih baik diam saja saat sarapan.”

Deg.

Suasana langsung membeku. Ibu Ambar terdiam. Kali ini, benar-benar tidak bisa membalas. Sementara itu, Nayra menatap Arsen sekilas. Jantungnya kembali berdebar. Karena tanpa disadari, Arsen sedang membelanya.

“Bagaimana malam kalian?” Suara Kakek Sanjaya tiba-tiba terdengar santai, tapi penuh arti.

Semua orang langsung terdiam.

“Nayra terlihat… berbeda,” lanjutnya sambil terkekeh pelan. “Apa yang kamu lakukan, Arsen?”

Nayra hampir tersedak minumannya. Wajahnya langsung memerah.

Pak Arya cepat-cepat menyahut, sedikit canggung. “Pa… di sini ada anak-anak,” ucapnya pelan mengingatkan.

Kakek Sanjaya langsung mengangguk. “Oh, iya… iya,” katanya sambil tersenyum. “Maaf, Papa lupa.”

Namun senyum itu, jelas penuh arti. Raya yang duduk tidak jauh dari situ langsung menatap Arsen dengan ekspresi sinis.

Arsen hanya diam, tenang. Seakan tidak terganggu sama sekali.

Sementara itu, Nayra berusaha mengalihkan suasana. Ia menoleh ke arah Raya.

“Kamu yakin hari ini mau sekolah?” tanyanya lembut. “Kaki kamu sudah tidak sakit?”

Raya langsung mengangguk cepat. “Aku sudah tidak apa-apa,” jawabnya mantap. “Aku bisa, aku bukan anak yang manja seperti Alea,” tambah Raya sambil melirik Alea.

Di sebelahnya, Alea langsung menatap kesal. “Kakak…” gumamnya manja. “Alea mau ikut sekolah.”

Raya mendengus kecil. “Kamu itu apa sih.”

Nayra tersenyum tipis melihat mereka. “Ya sudah,” lanjut Nayra. “Apa kamu mau Mama antar?”

Raya tidak langsung menjawab. Matanya justru melirik ke arah Arsen, sejenak seolah berpikir sesuatu.

Melihat itu, Arsen menghela napas pelan. “Ya sudah, kalau begitu... aku antar,” ucapnya singkat. “Kalau kamu mau.”

Raya langsung menegakkan badan. “Boleh!” jawabnya cepat, sedikit terlalu semangat.

Alea yang mendengar langsung ikut bersuara. “Alea ikut ya, Om...”

“Jangan panggil Om.” Suara Pak Arya langsung memotong. Pak Arya tersenyum kecil. “Sekarang kamu panggilnya Papa,” lanjutnya santai sambil melirik Arsen.

Raya dan Alea saling pandang.

Kakek Sanjaya langsung mengangguk setuju. “Benar itu,” sahutnya tegas. “Kalian sudah satu keluarga.”

Alea terdiam, matanya membesar. Lalu perlahan, ia menoleh ke arah Arsen... ragu. Namun penuh harap.

“Pa…pa?” ucapnya pelan.

Kali ini, Arsen yang terdiam. Untuk pertama kalinya ia tidak langsung menjawab. Tatapannya bertemu dengan mata kecil Alea. Yang begitu polos dan tulus.

Beberapa detik berlalu, lalu Arsen mengangguk pelan.

“Iya.”

Senyum Alea langsung mengembang lebar. “Papa!” ulangnya, kali ini lebih yakin.

Raya yang melihat itu langsung memalingkan wajah. Namun sudut bibirnya sedikit terangkat. Sementara itu, Nayra terdiam... matanya berkaca-kaca.

Tanpa ia sadari hubungan ini, sudah melangkah lebih jauh dari sekadar kontrak.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!