NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menikah lagi

“Nadia, tunggu!” panggil Sindi.

Namun Nadia sudah telanjur melangkah cepat ke arah mobil Pajero milik sahabatnya.

“Beb!” teriak Sindi dari belakang. “Rumahmu belum dikunci!”

Nadia berhenti mendadak.

Ia menepuk jidat.

“Astagfirullah… bagaimana aku bisa lupa?”

Dalam keadaan kacau seperti ini, pikirannya benar-benar tak menentu.

Nadia berbalik dan berlari masuk ke rumah.

Seperti biasa, ia memastikan semuanya aman.

Kompor gas dimatikan dan regulator dilepas.

Lampu-lampu dipadamkan.

Jendela diperiksa satu per satu.

Pintu setiap kamar ditutup.

Setelah yakin tak ada yang terlewat, Nadia mengunci pintu utama.

Begitu kembali ke halaman, Sindi menyambutnya dengan senyum kecil.

“Nah, begitu dong. Itu baru Nadia yang aku kenal.”

Perempuan yang tetap teliti bahkan ketika hatinya sedang porak-poranda.

Nadia menarik napas panjang.

“Ayo. Kita harus cepat.”

Tanpa membuang waktu, ia melangkah menuju mobil.

Seorang sopir berseragam segera turun dan membukakan pintu untuk Nadia dan Sindi.

Setelah keduanya duduk, Sindi menyerahkan ponselnya kepada sopir.

“Pak, ikuti lokasi ini.”

“Baik, Bu.”

Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah.

Di dalam mobil, suasana sempat hening.

Nadia menatap ke luar jendela.

Pepohonan dan rumah-rumah yang mereka lewati tampak buram oleh sisa air mata yang belum benar-benar kering.

Sindi menoleh ke arahnya.

“Beb…”

Nadia menoleh pelan.

“Kalau ternyata Raka benar-benar menikah lagi, kamu akan bagaimana?”

Tak ada keraguan sedikit pun di wajah Nadia.

“Cerai.”

Jawabannya singkat.

Tegas.

Pasti.

Sindi terdiam sejenak, lalu mengacungkan kedua jempolnya.

“Good. Itu baru sahabatku.”

Sudut bibir Nadia terangkat tipis.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa sedikit lebih kuat.

Sepanjang perjalanan, Sindi terus berceloteh.

Ia bercerita tentang klien-kliennya yang menyebalkan, tentang tetangganya yang ribut karena kucing, hingga tentang mantan pacarnya yang mendadak menghubunginya lagi.

Sesekali Nadia menimpali.

Sesekali ia tersenyum.

Bahkan beberapa kali tertawa kecil.

Di tengah kekacauan yang sedang melanda hidupnya, kehadiran Sindi terasa seperti pelampung yang menahannya agar tidak tenggelam terlalu dalam.

Nadia menoleh ke arah sahabatnya.

Dalam hati, ia bersyukur.

Andai tidak ada Sindi, ia benar-benar tidak tahu harus menghadapi semua ini sendirian.

Sindi akan menelpon

Mobil terus melaju meninggalkan Tol Jakarta, menuju Bogor, lalu menanjak ke arah Puncak.

Jari-jarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Udara dingin dari AC mobil tak mampu meredakan kegelisahan yang sejak tadi menguasai dadanya.

Mobil akhirnya berbelok memasuki halaman sebuah hotel sederhana.

Begitu kendaraan berhenti, Nadia menatap ke depan dengan napas tertahan.

Sebuah janur kuning melengkung di pintu masuk.

Tamu-tamu berdatangan, sebagian mengenakan batik, sebagian lagi kebaya dan jas resmi.

“Sepertinya mereka benar-benar meeting, deh,” ucap Nadia, meski suaranya terdengar lebih seperti upaya menenangkan diri sendiri.

Sindi mendengus pelan.

“Ih, kamu ini. Sudah dibilang, di Cakrawala tidak ada agenda meeting atau acara apa pun di Puncak.”

Tatapan Nadia tak lepas dari pintu aula.

Di bawah janur kuning itu terpasang nama kedua mempelai.

Wijaya dan Purnama.

“Sepertinya bukan Raka yang menikah, Sin,” ucap Nadia, suaranya sedikit lega.

“Ya, mudah-mudahan memang begitu.” Sindi menoleh ke arahnya. “Tapi kalau memang hanya datang ke pesta pernikahan, kenapa dia tidak berdandan dari rumah? Kenapa kamu tidak diajak? Kenapa yang diajak justru anak dan ibu mertuamu?”

Sindi berhenti sejenak, lalu menatap Nadia dalam-dalam.

“Seolah-olah kamu memang tidak boleh tahu acara ini.”

Ucapan itu membuat dada Nadia kembali sesak.

“Ya sudah. Aku cek saja langsung.”

“Jangan!” cegah Sindi cepat.

“Kenapa?”

“Biarkan Mang Darman yang turun dan mencari informasi. Kalau kamu yang bertanya, aku takut informasi yang kamu dapat justru tidak jujur.”

Nadia menggigit bibir bawahnya.

“Aku harus memastikan sendiri, Sin.”

“Iya. Tapi kita harus pakai strategi. Sekarang kamu duduk saja di sini. Biar Mang Darman yang turun.”

Nadia terdiam.

Ia tahu, Sindi benar.

Sindi lalu memberi beberapa pengarahan kepada Mang Darman.

“Serahkan tugas ini sama mamang, Bos,” ucap sopir itu penuh percaya diri.

Mang Darman turun dari mobil, sementara Nadia dan Sindi tetap menunggu.

Tangan Nadia terasa dingin.

Jantungnya berdetak tak beraturan.

Nama kedua mempelai memang bukan Raka dan Ratna.

Namun entah mengapa, perasaan Nadia justru semakin gelisah.

Saat menatap ke arah pintu aula, Nadia melihat seseorang yang dikenalnya.

Handoko.

Paman—atau lebih tepatnya ayah—Ratna.

Di sampingnya ada Ratih, sang istri.

Handoko mengenakan jas hitam, sementara Ratih memakai kebaya elegan.

Warna kebayanya sama persis dengan milik Yuni, ibu mertua Nadia.

Nadia menelan ludah.

“Kamu kenapa, Beb?” tanya Sindi.

Nadia menunjuk ke arah pintu masuk.

“Itu... ada Paman Handoko. Ngapain dia ke sini?”

“Tenang saja,” ujar Sindi sambil menggenggam tangan Nadia. “Sebentar lagi pasti ada kabar dari Mang Darman.”

Tamu terus berdatangan.

Dan Nadia semakin mengenali beberapa wajah yang tak asing.

Wajah-wajah yang pernah ia temui di acara keluarga.

Wajah-wajah yang seharusnya tidak berada di tempat ini.

Satu jam berlalu.

Namun Mang Darman belum juga kembali.

Nadia mulai gelisah.

“Kenapa lama sekali, Sin?”

Sindi menepuk punggung tangan Nadia lembut.

“Sabar, Sayang.”

Tetapi bagi Nadia, menunggu adalah siksaan.

Setiap menit terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hatinya.

Ponsel Sindi berbunyi.

Suara notifikasi itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang menyesakkan.

Sindi segera membuka pesan dari Mang Darman.

Baru beberapa detik menatap layar, mata Sindi langsung terbelalak.

Wajahnya mendadak pucat.

“Ada apa, Sin?” suara Nadia bergetar.

Sindi tidak segera menjawab.

Tangannya justru menggenggam ponsel itu semakin erat.

“Sini. Aku lihat,” ucap Nadia.

Dengan tangan gemetar, Sindi menyerahkan ponselnya.

Nadia menerima ponsel itu dengan napas memburu.

Jari-jarinya bergetar saat menekan tombol putar.

Sebuah video pun tampil di layar.

Suasana sebuah aula pernikahan.

Orang-orang duduk rapi.

Di depan, seorang penghulu sedang memimpin akad.

Lalu kamera menyorot seorang lelaki yang sangat dikenalnya.

Raka.

Suaminya.

Tangan Raka menjabat tangan Handoko.

Suara Raka terdengar jelas, tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

“Saya terima nikah dan kawinnya Ratna Purnama dengan maskawin satu set perhiasan dibayar tunai.”

Dunia Nadia seolah berhenti berputar.

Dadanya sesak.

Napasnya tercekat.

Tangannya bergetar hebat hingga ponsel nyaris terlepas dari genggaman.

Setetes air mata jatuh ke layar ponsel.

Lalu satu tetes lagi.

Dan berikutnya.

Raka benar-benar menikahi Ratna.

Bukan sekadar perselingkuhan.

Bukan sekadar dugaan.

Tetapi sebuah pengkhianatan yang disahkan di hadapan penghulu, para saksi, dan keluarga.

Ibu mertuanya tahu.

Anak angkatnya tahu.

Semua orang tahu.

Kecuali dirinya.

Nadia menggigit bibir, berusaha menahan tangis.

Namun rasa sakit itu terlalu besar.

Air mata mengalir semakin deras.

Bahu Nadia berguncang.

Ia mengepalkan tangan, seolah berusaha menahan hatinya yang remuk berkeping-keping.

Sindi merangkul tubuh Nadia dari samping.

Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menghibur.

Tidak ada kalimat yang mampu menghapus luka itu.

Di dalam mobil, hanya terdengar isak tangis Nadia.

Suasana mendadak berubah menjadi lautan duka.

Kesedihan memenuhi ruang sempit itu, pekat dan menyesakkan.

Dan di saat itulah Nadia menyadari satu hal.

Pernikahan yang selama ini ia perjuangkan dengan seluruh jiwa dan pengorbanannya telah berakhir.

Bukan karena takdir.

Melainkan karena pengkhianatan orang yang paling ia percaya.

1
falea sezi
🤣🤣 goblok aja klo. masih sayang anak haram
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!