No Plagiat 🚫
NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau
“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”
Yi Ling adalah anomali.
Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.
Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.
Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.
Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.
Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.
Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.
Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELODI DARAH DAN PERTEMUAN PERAK
Serigala Taring Besi itu melompat, kuku-kukunya yang sekeras baja mengincar leher Yi Ling.
“Tiup nada ketiga, Bocah! Jangan cuma bengong!” teriak Zhui Hai di dalam pikirannya.
Yi Ling tidak menjawab. Ia mengangkat seruling ke bibirnya dan meniup satu nada tajam.
TREET—!
Gelombang suara transparan melesat dari ujung seruling, menghantam dada serigala itu hingga tubuhnya terpental dan menabrak batang pohon.
Namun—
Serigala itu masih hidup.
Ia bangkit dengan geraman kasar, matanya semakin merah.
Yi Ling mengernyit. Dadanya terasa sesak, napasnya tidak stabil.
“Sial… tubuhku tidak kuat menahan tolakannya,” gumamnya pelan sambil memegangi dadanya.
“Tentu saja tidak kuat! Kau itu cuma kantong daging kosong!” cibir Zhui Hai tanpa ampun. “Biar aku pinjamkan sedikit aura kuno. Tapi ingat—setelah ini kau akan tumbang seperti bangkai!”
Sebelum Yi Ling sempat membalas, Zhui Hai berpendar cahaya perak.
Dingin.
Bukan dingin biasa—ini dingin yang menusuk langsung ke sumsum tulang.
Tubuh Yi Ling menegang. Energi asing itu mengalir liar di dalam nadinya, memaksa tubuhnya yang rapuh untuk bertahan.
“Sekarang! Tiup lagi!” bentak Zhui Hai.
Yi Ling menarik napas pendek.
Lalu meniup.
Nada kedua lahir—lebih dalam, lebih berat. Suaranya bukan lagi seperti angin, melainkan seperti bilah pedang yang diasah perlahan.
CRAASSHH!
Udara di depan Yi Ling terbelah.
Bilah-bilah angin tak kasat mata melesat, mencabik tubuh Serigala Taring Besi itu tanpa ampun. Dalam sekejap, tubuhnya terpotong menjadi serpihan daging yang berjatuhan ke tanah.
Darah menyembur, sebagian membasahi wajah Yi Ling.
Ia tidak bergerak.
Namun beberapa detik kemudian—
Tubuhnya goyah.
Napasnya kacau.
Energi itu… terlalu berat.
“Jangan pingsan sekarang, bodoh,” gumam Zhui Hai, meski nadanya mulai melemah.
Namun sebelum Yi Ling sempat memulihkan diri—
Hutan tiba-tiba sunyi.
Tidak ada angin.
Tidak ada suara burung.
Bahkan daun-daun pun berhenti bergerak.
Zhui Hai mendadak diam.
Getarannya berubah.
Serius.
“Bocah… jangan bergerak,” bisiknya pelan. “Ada sesuatu yang datang.”
Kabut di depan mereka perlahan terbelah.
Sosok itu muncul tanpa suara.
Seekor serigala.
Namun bukan sembarang serigala.
Tubuhnya sebesar manusia dewasa, bulunya berkilau seperti cahaya bulan. Setiap langkahnya anggun, namun membawa tekanan yang membuat udara terasa berat.
Di dahinya—
Sebuah kristal berpendar tujuh warna.
Zhui Hai terdiam sesaat.
Lalu—
“Serigala Perak Dantian Tujuh Warna…?” suaranya terdengar tak percaya. “Bagaimana mungkin makhluk ini ada di tempat seperti ini…”
Yi Ling tidak menjawab.
Matanya fokus.
Serigala itu tidak menyerang.
Ia hanya berdiri.
Menatap.
Namun kemudian Yi Ling melihatnya—
Luka di perutnya.
Darah berwarna pelangi merembes keluar, jatuh ke tanah… dan setiap tetesnya membuat tanaman di sekitarnya tumbuh liar dalam sekejap.
“Dia terluka,” ucap Yi Ling singkat.
“Bukan terluka. Sekarat!” balas Zhui Hai cepat. “Bocah, ini kesempatanmu! Darah itu bisa membangkitkan Dantianmu menjadi Dantian Tujuh Warna! Kau bisa melampaui semua orang dalam satu langkah!”
Yi Ling tetap diam.
Serigala itu menggeram pelan.
Bukan ancaman.
Lebih seperti… permohonan.
Matanya yang perak menatap Yi Ling, dalam dan tajam, seolah sedang menilai sesuatu.
“Kenapa kau diam?!” desak Zhui Hai. “Hancurkan inti itu! Ambil kekuatannya! Ini kesempatan yang bahkan dewa pun jarang dapat!”
Yi Ling akhirnya bergerak.
Namun bukan menyerang.
Ia mengeluarkan botol kecil dari dalam bajunya.
Obat pemberian ibunya.
Zhui Hai terdiam satu detik.
Lalu—
“Kau gila?!”
Yi Ling melangkah maju.
Langkahnya pelan, tapi pasti.
“Aku tidak butuh kekuatan dari yang sekarat,” ucapnya dingin.
Ia berhenti tepat di depan serigala itu.
“Kalau kau ingin hidup, diam.”
Tatapannya tajam.
“Kalau kau ingin mati… gigit aku sekarang.”
Hening.
Beberapa detik terasa panjang.
Lalu—
Serigala itu perlahan menutup taringnya.
Ia tidak menyerang.
Ia… menerima.
Yi Ling berlutut di tanah yang basah oleh darah tujuh warna. Ia membuka botol itu dan menuangkan isinya ke luka serigala.
Obat itu jelas tidak cukup.
Namun niatnya… nyata.
“Tsk… keras kepala,” gumam Zhui Hai. Namun kali ini, nadanya tidak sepenuhnya mengejek. “Baiklah… jangan mati sia-sia.”
Cahaya perak lembut keluar dari seruling itu.
Energi itu membantu menahan luka serigala.
Tiba-tiba—
Serigala itu melolong panjang.
Auuuu—
Cahaya tujuh warna meledak dari dahinya.
“Bocah—!” suara Zhui Hai meninggi. “Ini bukan penyembuhan! Dia ingin melakukan Kontrak Jiwa!”
Cahaya itu menyelimuti Yi Ling.
Panas.
Membakar.
Seolah logam cair dituangkan langsung ke dalam tubuhnya.
“Aaakh—!”
Untuk pertama kalinya, Yi Ling berteriak.
Tubuhnya bergetar hebat.
Di perutnya—di tempat Dantian yang hancur—energi itu berputar liar, menambal, membentuk ulang, menyatukan kembali sesuatu yang telah mati.
Sementara itu, tubuh Serigala Perak mulai memudar.
Berubah menjadi partikel cahaya.
Satu per satu… masuk ke dalam tubuh Yi Ling.
Cahaya terakhir mengalir ke telapak tangan kanannya—
Membentuk sebuah tanda.
Tato kepala serigala perak.
BUM!
Gelombang energi meledak ke segala arah.
Pepohonan tumbang.
Tanah retak.
Kabut tersapu bersih.
Ketika semuanya mereda—
Yi Ling berlutut.
Napasnya berat.
Namun di dalam tubuhnya…
Ada sesuatu yang baru.
Sebuah pusaran.
Tujuh warna.
Berputar perlahan, tapi membawa kekuatan yang tak bisa diabaikan.
“Selamat,” gumam Zhui Hai pelan. “Sekarang kau bukan lagi sampah.”
Ia tertawa kecil.
“Kau adalah pemilik Dantian Tujuh Warna… dan tuan dari makhluk itu.”
Yi Ling menatap tangannya.
Tato itu berkilau samar.
Matanya tetap dingin.
Namun ada sesuatu yang berubah.
“Namamu…” ucapnya pelan.
“Xiān Yǔ.”
Tato itu berdenyut sekali.
Seolah menjawab.
Dan untuk pertama kalinya—
Angin di Hutan Kabut Hitam… bergerak mengikuti langkah Yi Ling.