Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Menjadi Kaya
Asap tembakau murahan dihembuskan tepat ke wajahnya.
Pria buncit itu sengaja melakukannya. Mandor proyek sialan yang selama tiga tahun terakhir memeras setiap tetes keringat dari tulang Fais.
Panas matahari memanggang aspal di bawah kaki mereka. Udara terasa seperti uap mendidih dari panci neraka.
Beberapa pekerja lain menahan napas. Kuli-kuli yang sedang mengaduk pasir itu mematung. Menunggu Fais menunduk. Menunggu Fais menggosok kedua tangan dan mengangguk patuh seperti anjing peliharaan yang diajarkan takut pada pukulan rotan.
Biasanya memang begitu. Biasanya.
Fais hanya memandangi wajah berminyak di depannya. Tidak berkedip. Tidak ada getaran ketakutan di ujung bibirnya.
"Kau pikir karena kau angkat semen sedikit lebih banyak, kau bisa pamer?" Suara mandor itu serak. Menggema di sela-sela rangka besi beton.
Pria buncit itu meludah ke tanah. Tepat di sebelah sepatu bot Fais yang solnya sudah jebol terkelupas.
"Anak kurang gizi macam kau ini cuma sampah di sini. Sampah. Ingat itu."
Mandor itu sengaja mengeraskan suara. Mempermalukan Fais di depan puluhan pekerja lain adalah hobi favoritnya. Tontonan gratis di tengah jam kerja yang menyiksa fisik dan mental.
Tapi Fais tidak bereaksi. Hatinya kebas.
Ia mengangkat tangannya pelan. Menarik tali pengaman di dagunya.
Helm kuning proyek itu terlepas. Helm plastik kotor yang penuh goresan dalam. Benda mati itu tiba-tiba memicu rasa mual di perut Fais. Helm itu saksi bisu berapa kali kepalanya nyaris pecah kejatuhan batu bata. Helm itu simbol perbudakan modern yang mengikat lehernya selama bertahun-tahun.
Fais memandangi helm itu dua detik. Lalu ia melemparnya.
Benda plastik itu menghantam meja kayu reyot di sebelah bedeng. Suaranya berdebam keras. Mengagetkan lalat-lalat yang mengerumuni sisa gelas kopi hitam.
"Saya berhenti," ucap Fais.
Datar. Tanpa nada tinggi. Tanpa emosi.
Suasana mendadak sunyi. Sepi keparat yang bikin telinga berdenging panjang. Suara mesin molen di kejauhan seakan tertelan bumi saat itu juga.
Para pekerja saling bertukar pandang. Menganga. Fais si penurut. Fais si samsak hidup. Fais yang paling tahan diinjak karena butuh uang untuk obat ayahnya, baru saja membuang helmnya begitu saja.
Wajah mandor itu memerah hebat. Urat di lehernya menonjol liar. Rokok di sela jarinya nyaris patah karena remasan tangannya sendiri.
"Apa kau bilang?"
"Telinga Anda masih berfungsi dengan baik." Fais memutar bahunya sedikit. Tulang punggungnya tidak lagi menjerit kesakitan. "Saya berhenti."
Keheningan pecah oleh tawa yang meledak. Tawa sumbang dan dipaksakan. Mandor itu tertawa keras sambil memegangi perut buncitnya yang berguncang.
"Berhenti? Kau pikir kau ini siapa? Bos besar?" Mandor itu menunjuk wajah Fais dengan telunjuk gemetar. "Mau kerja apa orang miskin sepertimu di luar sana? Jual ginjal? Ngemis di lampu merah persimpangan?"
Fais tidak marah. Sungguh, ia tidak merasakan amarah sedikit pun menjalar di urat nadinya.
Ia justru tersenyum kecil. Senyum tipis yang sangat merendahkan. Senyum orang yang mengantongi satu miliar di saku celananya menatap badut sirkus yang sedang melakukan trik murahan gagal.
Senyum itu membuat mandor semakin muak. Pria buncit itu maju selangkah, tangannya terangkat berniat mencengkeram kerah kemeja Fais.
Deru mesin motor memotong niat kasar itu.
Dua sepeda motor matik berukuran besar memasuki area proyek secara berisik. Ban mereka menggilas tanah berdebu, berhenti tepat di dekat tumpukan semen.
Tiga pria turun dari motor. Berjaket kulit sintetis hitam kelam. Wajah mereka keras, terbakar matahari jalanan. Bau keringat dan knalpot langsung mendominasi udara di sekitar mereka.
Pekerja lain langsung menunduk serentak. Pura-pura sibuk. Mereka tahu betul siapa tamu tak diundang ini.
Penagih hutang. Lintah darat jalanan.
Mandor yang tadinya marah kini tersenyum lebar. Sangat lebar. Insting predatornya mencium mangsa yang jauh lebih terpojok.
"Nah. Panjang umur," ejek mandor itu sambil melipat tangan di dada. "Lihat siapa yang datang. Utang bapakmu sudah jatuh tempo, Fais. Sekarang kau mau bayar pakai apa? Pakai senyum sombongmu itu?"
Salah satu penagih hutang melangkah maju. Pria dengan luka gores memanjang di pipi kirinya.
"Fais. Dua bulan nunggak." Suara pria berjaket kulit itu berat. "Bos minta semuanya hari ini. Pokok plus bunga pelunasan. Kalau tidak, sertifikat rumah gubukmu kami bawa pulang."
Mereka mengira Fais akan berlutut. Mereka menunggu Fais memelas. Meminta kelonggaran waktu satu minggu lagi. Meminta belas kasihan.
Seperti biasa. Seperti bulan-bulan krisis sebelumnya.
Fais memasukkan tangan ke dalam saku celananya perlahan. Jari liatnya meraba permukaan ponsel. Benda persegi panjang itu terasa padat dan meyakinkan.
Ia menarik napas panjang. Udara berdebu masuk ke paru-parunya yang kini sekuat mesin baja.
"Berapa total semuanya jika dilunasi hari ini?" tanya Fais tenang.
Pria berjaket kulit itu mendengus remeh. Merasa dipermainkan oleh kuli miskin yang tidak tahu malu.
"Tiga puluh lima juta. Tutup mata, lunas semua," jawabnya kasar sambil meludah ke samping. "Jangan banyak omong kosong. Mana uangnya?"
Fais mengeluarkan ponselnya. Layar menyala menembus silau matahari siang yang menyengat.
"Buka rekening bos Anda. Saya transfer sekarang."
Ketiga penagih hutang itu mengerutkan dahi. Mereka saling pandang sekilas. Mengira telinga mereka tersumbat debu proyek.
Mandor di belakang Fais tertawa lagi, lebih nyaring. "Jangan melawak. Kau pikir transfer pakai pulsa listrik?"
Fais mengabaikan lalat buncit itu. Ia menatap lurus mata pria berjaket kulit. Tatapan predator yang mengunci mangsanya tanpa celah berkedip.
"Buka rekeningnya," ulang Fais. Suaranya tidak naik satu oktaf pun.
Ada sesuatu dari nada suara itu. Sesuatu yang absolut dan menekan. Pria berjaket kulit itu entah kenapa merasa tengkuknya mendadak dingin. Ia mengeluarkan ponselnya pelan-pelan. Membuka aplikasi mutasi rekening atas nama bos besarnya.
Fais mengetik deretan angka di layarnya. Tiga. Lima. Nol. Nol. Nol. Nol. Nol. Nol.
Sandi enam digit ditekan mantap.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Ting.
Suara notifikasi bernada kecil terdengar dari ponsel penagih hutang itu. Suara yang sangat pelan, tapi di tengah keheningan proyek, bunyinya terdengar seperti hantaman palu godam ke aspal.
Pria berjaket kulit itu menunduk. Matanya menatap layar ponselnya lekat-lekat.
Mulutnya sedikit terbuka. Matanya menganga lebar. Ia mengusap layar itu dengan ibu jarinya berkali-kali, mengira ada kotoran yang membuat saraf matanya salah merespons visual.
Masuk. Tiga puluh lima juta rupiah. Tanpa kurang sepeser pun. Lunas. Transaksi kas selesai.
Pria itu menelan ludah kasar. Jakunnya naik turun. Ia mengangkat wajahnya lambat-lambat, menatap Fais dengan pandangan yang benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat.
Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Tidak ada lagi raut intimidasi preman murahan.
"Masuk... uangnya benar-benar masuk," gumam penagih hutang itu lirih. Mengkonfirmasi ketidakpercayaannya sendiri pada dunia.
Dua temannya langsung merapat terburu-buru. Menengok layar terang ponsel tersebut. Mereka ikut mematung. Bernapas pun sepertinya organ tubuh mereka lupa caranya.
Mandor yang sejak tadi bersiap melempar ejekan kotor kembali, kini membeku. Rahangnya mengeras kaku. Senyum ejekannya menguap tertiup angin panas siang itu.
Semua orang di area itu mematung. Detik jam seolah nyangkut di kerongkongan dunia.
Uang sungguh merubah segalanya secara gaib. Lembaran tak terlihat dari sinyal digital itu baru saja meruntuhkan hierarki sosial dalam hitungan detik.
"Lunas," kata Fais memecah kesunyian panjang itu.
"Y-ya. Lunas. Semua buku catatanmu bersih total, Mas Fais," ucap pria berjaket kulit itu.
Mas Fais. Panggilan itu berubah seketika. Ada nada segan yang sangat kentara mengalir dalam kalimatnya. Tubuh penagih hutang itu bahkan sedikit membungkuk secara refleks. Sopan santun dadakan yang dibeli kontan seharga tiga puluh lima juta.
Fais menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku kainnya. Ia tidak merasa bangga. Ia hanya merasa mual melihat betapa murahnya harga diri manusia di hadapan rentetan angka nol.
Ia memutar tubuhnya pelan. Menatap wajah mandor yang kini pucat pasi bak mayat hidup di meja otopsi. Mulut pria buncit itu tertutup rapat, tak mampu mengeluarkan satu suku kata pun untuk menyela.
Fais mengabaikannya. Tidak ada gunanya menginjak kecoa yang sudah mati lemas kaget.
Ia berjalan melewati tumpukan sak semen. Melewati meja kayu tempat helm kuningnya tergeletak pasrah. Melewati barisan kuli yang memandangnya seperti melihat wujud hantu di siang bolong.
Langkah demi langkah. Kakinya mantap menyusuri tanah berkerikil.
Tepat sebelum ia mencapai batas jalan raya besar di ujung area proyek, Fais berhenti sebentar. Ia memutar kepalanya setengah ke arah belakang. Menatap ketiga penagih hutang yang masih berdiri mengakar di sana.
"Mulai sekarang, jangan datang lagi ke rumah saya," ucap Fais tenang.
Suaranya terbawa angin udara panas yang berhembus kencang. Memukul langsung telinga semua orang yang mendengarnya.
Lalu ia membalikkan badan sepenuhnya. Terus melangkah maju. Menjauh dari tempat kotor itu selamanya.
Tidak ada satu pun yang berani bersuara memprotes. Para kuli, penagih hutang berwajah garang, dan mandor sombong itu hanya bisa diam membisu. Mereka menatap punggung Fais yang makin menjauh.
Punggung tegap yang memancarkan aura dominasi asing yang tak bisa dipahami nalar mereka.
Lampu lalu lintas di persimpangan jalan berkedip merah. Fais menyatu perlahan dengan kerumunan pejalan kaki. Menghilang di balik deru mesin kota tanpa menoleh sedikit pun.
Aroma debu jalanan terganti oleh tebalnya asap knalpot. Ia menyalakan sebatang rokok sembarangan. Menghisapnya dalam-dalam.
Asap memenuhi rongga dadanya. Dan entitas tak terlihat di dalam kepalanya masih terdiam pasif mengamati semuanya. Permainan gila ini baru saja diinjak pedal gasnya.
Fais membuang napas. Asap mengepul ke udara siang.
Uang benar-benar sakit jiwa. Gila. Sangat gila.