NovelToon NovelToon
ALEA STORY

ALEA STORY

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dokter
Popularitas:241.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.

Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.

Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan sosial

Di apartemen Alea kini tersisa gadis itu, Damon, dan teknisi pintu. Dia dokter yang bersama Damon tadi sudah pergi, setelah menonton drama yang terjadi antara kedua orang berbeda usia itu.

Damon berdiri dekat pintu, melihat sang teknisi bekerja. Pintu itu memang rusak parah karena di buka paksa oleh Damon tadi. Saking paniknya terjadi sesuatu dengan Alea. Kepanikan yang bodoh.

Alea juga berdiri tak jauh dari situ. Terus berdecak memperhatikan pintu apartemennya yang rusak.

"Ckckck, gila. Om pake kekuatan apa sih sampai rusaknya segini parah?"

Damon menatap gadis itu datar. Mengingat alasan di balik ia merusak pintu itu, rasa kesalnya bangkit lagi. Bisa-bisanya dia melakukan hal sebodoh itu. Pasti kedua bawahannya tadi menertawainya habis-habisan.

"Kenapa om natap kayak gitu? Serem tahu."

Damon tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap menempel pada Alea, datar… tapi jelas menyimpan sesuatu.

"Karena aku sedang mempertimbangkan," ujarnya akhirnya pelan.

"Mempertimbangkan apa?" Alea langsung waspada.

"Apa aku harus membiarkan teknisi ini memperbaiki pintu… atau membiarkannya rusak saja supaya kau belajar tidak berteriak sembarangan."

Alea melotot.

"Ih! Jahat banget sih om! Ini kan rumah aku, rumah gadis lemah yang cantik, imut dan lucu." matanya berkedip-kedip percaya diri. Damon hampir tersenyum tapi dia tahan.

"Kau hampir membuatku berpikir kau mau dibunuh di dalamnya," balas Damon dingin.

Alea mengerucutkan bibir, lalu mendengus.

"Ya siapa suruh langsung dobrak. Bisa kan ketok baik-baik, ngomong baik-baik … jangan asal dobrak."

Damon langsung memotong.

"Aku sudah mengetuk. Aku sudah memanggil. Kau yang berteriak seperti sedang diseret pembunuh." Alea terdiam sebentar.

"Ya ... Suara aku tadi agak dramatis sih," gumamnya pelan.

"Agak?" ulang Damon. Alea pura-pura tidak dengar. Matanya beralih ke teknisi yang masih bekerja.

Suara alat berbunyi pelan, sekrup dipasang, engsel diperbaiki. Pintu itu memang hancur cukup parah.

"Mas, itu masih bisa normal kan?" tanya Alea ke teknisi.

Tak ada jawaban.

"Mas, aku tanya loh. Cewek cantik yang nanya ini, jawab dong."

Tak di jawab juga. Alea berubah kesal. Ia maju sedikit dan berkacak pinggang di depan laki-laki itu.

"Mas! Aku nanya baik-baik ya. Itu pintunya masih bisa normal nggak?! Mas ini ngerti bahasa manusia kan?"

Laki-laki itu mengangkat wajahnya menatap Alea dengan wajah bingung lalu melirik Damon seakan bertanya sesuatu.

Hufftt ...

Damon menghembuskan nafas lelah lalu mengatakan sesuatu yang membuat Alea tersenyum tanpa dosa.

"Gimana dia mau ngerti? Kau pikir ini Indonesia? Bicaralah pakai bahasa yang dia mengerti."

Setelah Damon mengatakan itu Alea baru sadar kalau dari tadi dia ngomong bahasa tanah kelahiran mereka. Gadis itu menyengir lebar lalu tertawa sendiri.

"Oh sorry, sorry. Sorry mas. Maap udah teriak-teriak. Maap ya, maap."

"Pakai bahasa yang dia mengerti Alea, astaga anak ini." Damon rasanya ingin mencubit pipi Alea lagi.

Alea langsung bicara lagi menggunakan bahasa Belanda. Pertama, dia minta maaf, lalu menanyakan pertanyaan yang sama tadi. Teknisi itu langsung mengangguk mengerti setelah Alea berbicara dengan bahasa yang tepat. Ia menjelaskan dengan cukup panjang, sesekali menunjuk bagian engsel dan kunci yang rusak.

Alea mengangguk-angguk, pura-pura paham penuh.

"Ah… ya, ya,oke. Bagus, yang penting aman," katanya sok serius.

Damon meliriknya sekilas.

"Kau tidak mengerti setengah dari yang dia katakan."

Alea langsung menoleh cepat.

"Ngerti dong! Aku ngerti kok!" bantahnya.

"Dia barusan menjelaskan soal mekanisme kunci ganda dan alignment pintu. Kau bahkan tidak tahu istilahnya," balas Damon tanpa ekspresi. Alea terdiam dua detik.

"Yang penting intinya bisa dipakai lagi kan?" ujarnya akhirnya santai.

Damon hanya menggeleng pelan. Teknisi itu kembali bekerja. Suasana sedikit hening sekarang. Alea berdiri di samping Damon, tapi kali ini tidak banyak bicara. Matanya sesekali melirik ke arah pintu, lalu ke arah dapur, lalu kembali ke Damon.

Beberapa detik kemudian, tanpa sadar ia sedikit mendekat. Sampai bahunya hampir menyentuh lengan Damon. Damon melirik ke bawah.

"Kenapa?"

"Enggak," jawab Alea cepat. Hening lagi.

Lima detik, sepuluh detik. Lalu...

"Om," panggilnya pelan.

"Apa lagi?"

Alea menatap lurus ke depan, suaranya ditahan.

"Itu… mereka gak bakal keluar lagi kan?"

Damon menghela napas.

"Tidak."

"Yakin?"

"Yakin."

Alea menggigit bibirnya sebentar. Lalu tanpa sadar, tangannya menarik sedikit ujung kemeja Damon. Damon menatap tangan itu.

"Kau bilang tidak takut."

"Aku nggak takut emang," bantahnya pelan.

"Tapi tanganmu berbeda pendapat."

Alea langsung menurunkan tangannya.

"Itu refleks!"

Damon tidak menjawab. Tapi kali ini, ia tidak menjauh. Beberapa menit kemudian, teknisi itu berdiri tegak. Ia mengatakan sesuatu, bahwa pekerjaan sudah selesai. Alea langsung mendekat.

"Udah aman?"

Teknisi itu mengangguk sambil menjelaskan singkat. Kali ini Alea benar-benar mendengarkan.

"Thank you! Thank you so much!" katanya ramah, bahkan sempat membungkuk sedikit. Setelah teknisi itu pergi, pintu apartemen kembali tertutup rapi. Suasana langsung hening. Alea berdiri di tengah ruang tamu. Menatap pintunya sendiri. Lalu menoleh ke Damon,

"Aku pulang dulu." kata pria itu. Alea tidak menjawab. Damon juga sudah terlalu lelah karena kekacauan yang disebabkan oleh gadis itu.

Begitu Damon membuka pintu keluar apartemen, ternyata Alea mengekornya dari belakang. Damon baru melangkah satu kaki keluar ketika menyadari ada bayangan lain ikut bergerak di belakangnya. Ia berhenti, menoleh perlahan. Dan benar saja, Alea berdiri tepat di belakangnya, hampir menabrak punggungnya karena tidak sempat mengerem langkah.

"Kenapa mengikutiku?" tanya Damon datar, alisnya sedikit terangkat.

Alea berkedip dua kali, lalu pura-pura santai.

"Jalan-jalan," jawabnya singkat.

"Jalan-jalan?" ulang Damon.

"Iya. Udara di luar lebih sehat kalau malam hari," lanjut Alea tanpa beban, padahal tangannya sudah otomatis menarik sedikit ujung baju Damon lagi, refleks yang bahkan dia sendiri tidak sadar.

Damon menatap tangan itu, lalu menatap wajah Alea.

"Kau takut,"

"Nggak!" bantah Alea cepat, langsung melepas pegangannya.

"Terus kenapa ikut?"

Alea terdiam beberapa detik. Matanya melirik ke dalam apartemen, lalu ke arah koridor yang sepi, lalu kembali ke Damon.

"Ya… itu…" ia menggaruk pipinya, gelisah.

"Kalo tiba-tiba mereka keluar lagi gimana?"

"Mereka tidak akan keluar dan mengejarmu sampai ke sini," balas Damon datar.

"Tapi kan mereka bisa jalan-jalan juga … siapa tau mereka punya kehidupan sosial," gumam Alea pelan.

Damon memejamkan mata sejenak.

"Kecoa tidak punya kehidupan sosial seperti itu, Alea."

"Om yakin? Om kan dokter, bukan kecoa," balas Alea cepat.

Damon benar-benar tidak tahu harus menjawab apa lagi. Ia menatap gadis itu lama, lalu menghela napas.

"Masuk." Alea langsung menggeleng kuat.

"Nggak mau."

"Alea."

"Nggak mau!" ulangnya lebih keras, kali ini jelas.

Damon menatapnya beberapa detik, mencoba membaca ekspresi di wajah gadis itu. Keras kepala, tapi di balik itu jelas ada ketakutan. Akhirnya ia berbalik sepenuhnya menghadap Alea.

"Kau mau ikut aku?"

Alea langsung mengangguk cepat dengan senyum lebar.

"Katamu tidak akan pernah datang ke rumahku lagi."

"Itu kan masalah beda. Om, aku gak mau lihat bangsa kecooaa ..." suaranya manja kali ini. Matanya memelas. Damon jadi tidak tega juga.

"Satu malam saja. Dan ingat, jangan ribut. Jangan cerewet. Aku menyukai ketenangan."

"Siap bos!"

1
Ilfa Yarni
hahahahah lucu banget aku kira dia bercinta dgn pak Antony ga tau cuma muntahin burungnya pak Antony toh
faridah ida
tenang Elora , palingan cuma di suruh bersihin kamar mandi ...😁🤭
faridah ida
awaas kamu Lea ,.. ngomong nya jangan kenceng2 .. pak Anthony denger bahaya ...😜😂😂😂
Cristella Tella
alea gk setia kwan.... main kbur ajj🤣🤣🤣🤣
Cristella Tella
jodohnya dosen killer ni
Maharani Rani
lanjutt🤣🤣🤣
ollyooliver🍌🥒🍆
modus🫢
Aidil Kenzie Zie
penasaran kapan ciuman pertama mereka 🤔🤔🤔
Atik Marwati
jangan jangan nich elora dan pak Antony......
Syifa Azhar
cie ela.... gayanya pakai acara hukuman,bilang aja pingin Deket sama elora😂😂
Vie
wah ini jodohnya elora nih, si alea sama damon.... sahabat dengan sahabat lagi, jadilah keluarga sahabat kayak emak bapaknya dulu... 🤣🤣🤣🤣
RaDja
terima kasih
Nandi Ni
mulutmu Alea....🤭 ga ada filter 🤣🤣🤣
Susma Wati
damon dan anthony, masing2 dapet pawang, masih muda lagi sugar daddy dapat sugar baby 🤣🤣🤣
yumna
alea maen kabur aja
j4v4n3s w0m3n
🤣🤣🤣🤣🤣lea gak setia kawan kamu ...lempar batu sembunyi tangan...setelah ngomong kayak toa langsung kaburrr aja loooo🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Fitria Syafei
hahah Alea kocak maen kabur ajee 😜 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Bunda Dzi'3
ini mah Fix Daun muda alea&elora nanti bakalan Bucin sma sugar daddy jdinya🤣🤣🤣
Usagi tzukino
Wkwkwk 🤣
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
kalian berdua sama" polos & sama mendapatkan laki" yg dingin, & dewasa wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!