Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Ikan Remora
Darren menuntun langkah ibunya dengan sangat hati-hati. Kedua telapak tangannya menutupi mata Lastri dari belakang, memastikan tidak ada celah cahaya yang masuk saat keduanya berjalan perlahan melewati hamparan rumput hijau yang tertata rapi di halaman depan.
Bibi Ayu beserta anak-anaknya berusaha keras menahan tawa melihat ide Darren. Sesekali mereka berbisik penuh kekaguman, menunjuk ke arah taman minimalis yang menghiasi sisi kanan dan kiri jalan setapak menuju pintu utama.
“Ibu tolong bersabar sedikit lagi ya?”
“Pokoknya kamu jangan nakal, nanti Ibu jatuh,” jawab Lastri dengan waswas namun penuh rasa penasaran yang dibalut senyuman.
Setelah sampai tepat di depan pintu jati yang jelas mahalnya, Darren perlahan melepaskan tangannya.
Lastri sampai dibuat mengerjapkan mata berkali-kali akibat sebuah bangunan elegan berwarna krem dengan atap genteng abu-abu dan lingkungan yang luar biasa asri. Jendela besar dengan bingkai kayu cokelat tua memberikan kesan mewah sekaligus hangat. Arsitektur modern itu jelas berbeda dengan lingkungan tempat tinggal mereka yang lama.
“Ini... rumah siapa, Nak?” Lastri menutupi mulutnya dengan tangan.
“Ini rumah Ibu.”
Lastri makin menutup mulut dengan kedua tangannya sampai menempel. Air mata seketika mengalir membasahi pipinya yang mulai berkerut itu. Sang Ibu tidak menyangka impian yang sering dia ceritakan pada Darren saat mereka masih hidup susah kini ada di depan mata.
Bahkan Bibi Ayu tidak kuasa menahan haru. Dia berlari kecil dan segera memeluk kakaknya. “Kamu lihat sendiri, Teh. Rumah ini luar biasa bagus. Darren membelinya untuk kita semua. Kamu tidak perlu pusing memikirkan atap bocor lagi.”
Sementara itu, sepupu-sepupu Darren sudah berlarian masuk ke dalam rumah. Keramaian mereka terdengar hingga ke halaman saat mereka mulai memperebutkan kamar yang paling luas.
“Ibu bisa tentukan kamar sendiri. Bibi juga. Untuk adik-adik, aku udah pesan supaya tidak boleh rebutan karena semua kamar sudah ada fasilitasnya masing-masing,” Darren menjelaskan dengan mempertahankan kedua telapaknya tersembunyi di balik saku celana.
Dia memang sudah menyiapkan segalanya sejak seminggu yang lalu. Begitu sistem penagih hutang miliknya aktif kembali setelah insiden pengejaran yang mengerikan itu, Darren langsung bergerak cepat melalui perusahaannya, Han Darren Propertindo. Rumah itu sudah lengkap dengan sofa empuk, kulkas dua pintu, televisi layar lebar, hingga AC. Semuanya adalah barang-barang yang dulu hanya bisa Lastri pandang lewat brosur toko.
Kebahagiaan di rumah baru itu masih menyelimuti hati Darren saat dia sedang bersantai di ruang tengah. Namun, getaran di saku celananya membuyarkan suasana. Layar ponselnya menampilkan nama Seo yeon dengan emoticon mahkota ratu.
“Ya, Nona?” Darren menjawab panggilan itu dengan sigap.
“Kemari sekarang. Budi membuat kekacauan lagi,” suara di seberang sana terdengar dingin namun tegas.
Darren mendesah karena tahu betul bahwa Seo yeon bukan tipe orang yang akan menelepon hanya untuk urusan remeh. Jika wanita itu menyebut nama Budi, berarti sahabatnya itu memang sudah melewati batas.
“Baik, Nona. Saya segera ke sana.”
Darren berpamitan pada ibunya yang masih sibuk mengelus permukaan meja makan yang baru. Sesampainya di penthouse milik keluarga Han, Darren langsung disuguhi pemandangan Budi yang sedang duduk lesu di sofa. Wajah sahabatnya itu cemberut dengan bekas kemerahan di pipinya.
Tanpa banyak bicara, Darren melayangkan pukulan dengan pinggiran telapak tangannya ke arah kepala Budi.
“Aduh, Bos! Sakit!” seru Budi sambil memegangi kepalanya.
Akan tetapi Darren tidak berhenti di situ. Dia mencubit perut gendut Budi hingga pria itu menggeliat berusaha berlindung di balik bantal sofa.
“Bukankah sudah aku ingatkan untuk jaga sikapmu? Sekarang kau malah bikin ulah sampai Nona Seo yeon harus turun tangan!” omel Darren.
“Tapi Bos, mereka itu kurang ajar! Mereka berani mengancam Nona Seo yeon dan adiknya, Nona Wonyoung. Aku tidak terima kalau majikan Bos diganggu begitu!” bela Budi dengan nada tinggi.
“Sudahlah, jangan banyak alasan. Masalah keamanan itu urusanku, bukan urusan ototmu yang tidak terkontrol itu,” balas Darren mengibaskan tangan dengan tersenyum sombong.
“Tapi seenggaknya kita harusnya sedia pistol, Bos!”
Shinta, pelayan bisu yang berdiri di sudut ruangan, hanya bisa menyaksikan drama itu dengan tatapan jenaka. Bahunya bergerak naik turun saat dia berusaha menyembunyikan tawa melihat kelakuan mereka berdua.
Tak lama kemudian, Seo yeon datang. “Budi, berhenti bertingkah konyol. Sekarang kamu antar orang tuaku ke bandara. Pastikan sampai tepat waktu dan jangan terjebak macet.”
Lantas Budi segera berdiri tegap layaknya seorang prajurit. “Siap, Nona! Perintah dilaksanakan!”
Setelah Budi pergi, Seo yeon mengalihkan pandangannya pada Darren. “Kau ikut aku. Ada urusan bisnis yang harus kita selesaikan hari ini.”
“Baik, Nona.”
Seo yeon dan Darren sudah melangkah masuk ke dalam lift menuju lantai basement. Sementara itu, Shinta masih tertinggal di lobi utama gedung keluarga Han untuk merapikan seragam pelayannya yang sedikit kusut. Lalu dari arah pintu utama, seorang pria tampak berlari kecil masuk ke dalam ruangan. Itu adalah William Kusuma dengan napasnya yang ngos-ngosan seperti sedang diburu waktu.
William segera menghampiri petugas keamanan di meja resepsionis dengan cemas. “Apakah Nona Seo yeon sudah berangkat?”
Petugas keamanan itu memberikan anggukan sopan. “Sudah, Tuan. Beliau menuju ke arah basement sekitar lima menit yang lalu.”
Lantas William menepuk jidatnya sendiri dengan gusar. “Sial, aku terlambat lagi.”
Tak lama kemudian, dia menoleh dan menyadari keberadaan Shinta di dekat sana. “Maaf, Nona. Apakah Anda mengetahui ke mana sebenarnya Nona Seo yeon akan pergi hari ini?”
Shinta memberikan gelengan kepala secara perlahan sebelum mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya, mengetikkan sesuatu dengan sangat cepat, lalu menunjukkan layar tersebut ke hadapan William.
Saya tidak tahu. Saya hanyalah seorang pelayan di sini.
William membaca tulisan itu dengan saksama, lalu berusaha tersenyum ramah meskipun gurat kekecewaan ketara sekali di wajahnya yang tampan itu. “Tidak apa-apa kalau begitu. Terima kasih banyak atas informasinya.”
Pria bermata biru itu lantas berbalik arah dan berjalan keluar gedung. Adapun Shinta hanya berdiri diam sembari menatap punggung William dengan tatapan bingung.
Mobil sedan mewah itu membelah jalanan kota yang cukup padat seperti biasanya. Seo yeon duduk di kursi penumpang depan, sementara Darren memegang kendali di balik kemudi. Akan tetapi situasi di dalam kabin kali ini benar-benar terasa tidak nyaman.
Sejak pembicaraan tentang perjodohan yang dilontarkan oleh ayah Seo yeon, hubungan mereka terasa sangat berbeda. Meskipun mereka sepakat untuk tidak membahasnya, namun topik itu seolah menjadi gajah di dalam ruangan yang tidak bisa diabaikan.
Darren sendiri ingin sekali mencairkan suasana, namun setiap kali dia membuka mulut, lidahnya malah terasa kelu bagaimana pun dirinya berusaha. Alhasil dia melirik ke arah Seo yeon, melihat bagaimana bosnya itu hanya menatap ke luar jendela, sesekali memainkan ponselnya atau menghela napas panjang.
“Kenapa jadi secanggung ini, sih?” Batin Darren dalam hati. “Dulu kita bisa bicara berjam-jam soal target properti atau strategi bisnis tanpa ada rasa tidak enak seperti sekarang. Gara-gara diajak menikah, semuanya jadi berantakan.”
Saat mobil berhenti di lampu merah yang cukup lama, Darren menoleh sekilas. Dia melihat Seo yeon sedang menggigit bibir bawahnya. Ekspresinya tidak menunjukkan kemarahan, tapi lebih ke arah gelisah yang tertahan.
“Nona... .” panggil Darren.
“Ya?”
“Ah... lupakan saja.”
“Bicara yang jelas, Darren. Jangan setengah-setengah,” balas Seo yeon dengan sedikit jengkel, meski dia tidak menoleh sedari awal.
“Sungguh, tidak jadi. Bukan hal penting,” pungkas Darren kembali fokus pada jalanan.
Seo yeon mendesah cukup keras, menandakan rasa frustrasinya terhadap sikap Darren. Alhasil, perjalanan itu berlanjut dengan kebisuan absolut.
Hingga mobil mereka menepi di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar sekaligus beristirahat sejenak. Seo yeon langsung membuka pintu mobil.
“Tolong belikan air mineral. Aku merasa haus sekali,” pintanya.
Darren mengangguk dan segera turun menuju mini market yang ada di area tersebut dan mengambil dua botol air dingin serta dua bungkus roti sebagai cadangan makanan di jalan.
Sementara itu, Seo yeon menunggu di dalam mobil sendirian. Awalnya tidk ada apapun sebelum sebuah mobil hitam berhenti tepat di belakang mereka dengan jarak yang sangat mepet. Ketukan pelan pun terdengar di kaca jendela. Seo yeon menoleh dan mendapati sosok William Kusuma berdiri di sana dengan senyuman lebar.
Seo yeon menghela napas panjang sebelum akhirnya menurunkan kaca mobilnya hanya sedikit.
“Liam, kau nggak capek mengikuti aku terus? Gwaenchana?” Seo yeon menyambutnya dengan ketus, menanyakan apakah pria itu baik-baik saja dengan perilaku penguntitnya.
Masalahnya William bermental baja dan malah tertawa kecil, menyandarkan sikunya di bingkai jendela mobil dengan santai tanpa merasa bersalah. “C’mon, Seo yeon. Kita kan teman lama sejak SMP di Seoul. Masa cuma mau kasih minum saja ditolak?”
“Kita memang teman lama, tapi bukan berarti kau bisa muncul tiba-tiba di SPBU begini. Dasar aneh,” balas Seo yeon tetap dingin.
“I was just passing by! Cuma kebetulan aja lho,” William membela diri dengan senyum yang menurutnya menawan memamerkan taringnya yang mencolok secara tidak langsung. “Lagian, si Darren itu cuma asisten kamu, kan? Kenapa kau harus sekaku ini kalau lagi ada dia?”
Seo yeon pun memutar bola matanya, merasa jengah dengan kepercayaan diri pria di depannya. “Dia bukan cuma asisten, dia partner kerjaku. Jangan bawa-bawa dia dalam urusan pertemanan kita yang sudah basi ini.”
“Jahat banget kamu,” William berpura-pura terluka. “Padahal aku mau ajak kamu nostalgia soal kantin sekolah kita dulu. Dulu kau yang paling suka makanan ekstra pedas sampai menangis. Padahal sudah aku ingatkan jika Tteokbokki kantin belakang memang pedas.”
Kenangan masa sekolah itu memanglah sempat melintas, tapi dia segera menggelengkan kepala. “Itu dulu, Liam. Sekarang aku lebih suka ketenangan. Jadi, pergilah, aku masih banyak urusan.”
“Alright, tapi dengerin aku dulu,” kata Wiliam mendorong rambutnya ke belakang sebelum mendesah lirih. “Aku cuman mau kasih tahu kalau kita bakal jarang ketemu untuk ke depannya, karena itu aku mau kamu datang ke tempatku besok untuk merayakan ulang tahunku.”