Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sebuah jendela informasi berwarna biru muncul di atas lukisan tersebut.
LUKISAN TIRUAN TINGKAT TINGGI.
MATERIAL: KANVAS MODERN YANG DITUA-KAN DENGAN BAHAN KIMIA, CAT MINYAK SINTETIS.
USIA PEMBUATAN: 3 TAHUN.
NILAI PASAR ASLI: RP 5.000.000.
Bayu tidak bisa menahan diri. Sebuah tawa kecil meluncur dari bibirnya. Tawa yang sangat pelan, namun cukup jelas terdengar di tengah keheningan area pameran tersebut.
Richard langsung menoleh. Wajah tampannya berubah menjadi garang. Ia memindai Bayu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Melihat Bayu tidak memakai aksesori mewah atau merek desainer terkenal, Richard langsung berasumsi bahwa Bayu hanyalah staf lelang atau pengusaha kacangan yang kebetulan mendapat undangan.
"Apa yang kamu tertawakan, Kawan? Apa ada yang lucu dari mahakarya seni bernilai sepuluh miliar ini?" tegur Richard dengan nada merendahkan.
Victoria ikut menoleh. Mata hitamnya yang tajam bertemu dengan mata Bayu yang tenang. Berbeda dengan Richard, Victoria memiliki insting membaca orang yang sangat kuat. Pria berjas abu-abu di depannya ini memancarkan ketenangan yang aneh. Tidak ada rasa gentar atau rasa rendah diri di matanya saat ditatap oleh dua pewaris konglomerat.
Bayu membalas tatapan Victoria sejenak, lalu tersenyum sopan kepada Richard.
"Maafkan saya. Saya tidak menertawakan lukisan itu. Saya menertawakan betapa mudahnya uang sepuluh miliar rupiah akan berpindah tangan untuk sebuah kanvas yang bahkan belum berumur lebih dari lima tahun," jawab Bayu santai.
Wajah Richard memerah karena marah. "Apa maksudmu? Kamu menuduh balai lelang sebesar ini menjual barang palsu? Kurator ahli dari Paris sudah mengeceknya. Kamu ini siapa? Tahu apa kamu soal seni kuno?"
Suara Richard yang meninggi mulai menarik perhatian beberapa tamu lain di sekitar mereka.
Victoria menyipitkan matanya. Alih-alih membela Richard, wanita itu melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Bayu. Rasa penasarannya memuncak.
"Tuan... maaf, dengan siapa saya berbicara?" tanya Victoria, suaranya sangat merdu namun memiliki ketegasan seorang pemimpin.
"Bayu Alexander. Senang bertemu dengan Anda, Nona Lin," Bayu menundukkan kepalanya sedikit. Ia tahu siapa wanita ini, dan ini adalah kesempatan emasnya.
"Kamu kenal aku? Bagus. Kalau begitu, Tuan Alexander, tolong jelaskan apa yang membuatmu begitu yakin bahwa lukisan yang sudah disertifikasi ini adalah barang palsu. Kalau kamu hanya membual untuk mencari perhatian, petugas keamanan akan mengeluarkanmu dari sini sekarang juga," ancam Victoria halus. Ia ingin menguji nyali pemuda ini.
Bayu berjalan mendekati etalase kaca yang membatasi lukisan tersebut. Ia menunjuk ke arah sudut kanan bawah kanvas, tepat di dekat bingkai kayu yang terlihat lapuk.
"Kurator Paris mungkin tertipu oleh teknik pewarnaan kimia yang membuat kanvas ini terlihat rapuh dan menguning. Itu teknik pemalsuan tingkat tinggi dari sindikat seni di Eropa Timur," jelas Bayu, menggunakan pengetahuan teknis yang ia karang sedikit berdasarkan fakta usia yang diberikan oleh sistemnya. "Tapi mereka membuat satu kesalahan fatal yang tidak bisa dimanipulasi oleh bahan kimia."
"Kesalahan apa?" tanya Victoria, kini sepenuhnya mengabaikan Richard.
"Ketebalan cat di bagian retakan, Nona Lin. Lukisan cat minyak yang usianya ratusan tahun akan mengalami proses pengeringan alami yang membuat retakannya dalam dan mencapai dasar kanvas. Tapi coba perhatikan sudut ini," Bayu menunjuk lebih dekat. "Retakan di lukisan ini hanya ada di permukaan atas cat. Di bagian dalamnya, catnya masih terlihat sedikit elastis. Ini adalah hasil pemanggangan oven suhu rendah yang dipaksakan. Lukisan ini dilukis tidak lebih dari tiga tahun yang lalu."
Ruangan itu mendadak hening. Beberapa tamu yang mengerti soal seni mulai berbisik-bisik dan mencondongkan tubuh mereka ke depan untuk melihat lebih jelas.
Richard tertawa sinis, berusaha menutupi kepanikannya.
"Omong kosong! Kamu hanya mengarang cerita. Retakan seperti itu biasa terjadi karena perbedaan kelembapan suhu selama masa penyimpanan. Victoria, jangan dengarkan orang gila ini."
Victoria tidak menjawab Richard. Ia mengeluarkan kacamata bacanya yang elegan dari dalam tas kecilnya, lalu menatap tajam ke bagian yang ditunjuk oleh Bayu. Selama dua menit penuh, ia mengamati detail lukisan itu dalam diam.
Sebagai pewaris Lin Group, Victoria telah dididik sejak kecil untuk mengenali seni bernilai tinggi. Kakeknya adalah kolektor legendaris. Instingnya mengatakan bahwa penjelasan pemuda bernama Bayu ini masuk akal. Retakan itu memang terlihat sedikit janggal jika diperhatikan dari jarak sangat dekat.
Victoria menegakkan tubuhnya. Ia menoleh ke arah seorang petugas lelang yang berdiri di dekat sana dengan wajah pucat pasi.
"Panggil kurator utama kalian ke sini. Sekarang," perintah Victoria dengan nada absolut yang tidak menerima bantahan. "Saya ingin lukisan ini diangkat dari bingkainya dan dites menggunakan sinar ultraviolet di depan saya detik ini juga. Kalau terbukti cat di dalamnya masih mengandung senyawa minyak mentah modern, bersiaplah menghadapi tuntutan hukum dari Lin Group atas percobaan penipuan publik."
Petugas itu gemetar hebat dan langsung berlari mencari atasannya.
Richard terlihat seperti orang bodoh yang kehilangan kata-kata. Ia baru saja bersiap membuang sepuluh miliar rupiah untuk sebuah sampah. Wajahnya memerah karena malu luar biasa. Ia menatap Bayu dengan pandangan penuh kebencian, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan area itu tanpa pamit kepada Victoria.
Setelah Richard pergi, Victoria kembali menatap Bayu. Pandangannya tidak lagi dingin, melainkan dipenuhi minat yang membara.
"Kamu menyelamatkanku dari rasa malu yang sangat besar, Bayu Alexander. Jika Richard membeli lukisan palsu itu dan memberikannya pada kakekku atas nama keluarga kami, reputasi keluarga Lin akan hancur di kalangan kolektor," kata Victoria jujur.
"Saya hanya kebetulan memiliki mata yang tajam untuk membedakan keaslian, Nona Lin. Lagipula, saya tidak suka melihat pria arogan membuang uang dengan cara yang bodoh," jawab Bayu sambil tersenyum tenang.
Victoria tersenyum tipis. Sebuah senyuman langka yang sangat jarang ia tunjukkan di depan publik.
"Mata yang tajam. Aku suka itu. Karena lukisan ini jelas-jelas akan ditarik dari pelelangan malam ini, aku sekarang tidak punya hadiah untuk kakekku." Victoria melipat kedua tangannya di depan dada. "Sebagai gantinya, maukah kamu membantuku berkeliling dan mencari satu barang antik sungguhan di ruangan ini? Tentu saja, aku akan membayar jasamu dengan sangat pantas."
Bayu menatap jam di dinding. Pembaruan sistem masih membutuhkan waktu lebih dari dua puluh jam. Tapi dengan kacamata di saku jasnya, dan seorang pewaris konglomerat yang kini berhutang budi padanya, Bayu tahu bahwa rencana awalnya untuk membangun aliansi telah berjalan jauh lebih sempurna dari yang ia perkirakan.
"Dengan senang hati, Nona Victoria. Mari kita cari harta karun yang sebenarnya," jawab Bayu.
Malam itu, di bawah kerlip lampu kristal, tanpa campur tangan sihir sistem yang aktif, Bayu Alexander baru saja meletakkan batu bata pertama untuk membangun jembatan emas menuju takhta tertinggi di Jakarta, sekaligus memicu sebuah konflik perasaan yang akan membuat dunianya dan dunia Tari terguncang hebat di masa depan.