Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Tatapan Yang Dikenali
Ruang rapat Alvero Group terasa terlalu dingin bagi Elvara. Pendingin ruangan bekerja normal, bahkan mungkin tidak lebih rendah dari gedung perkantoran lain, tetapi telapak tangannya basah dan tengkuknya menegang sejak pria itu masuk beberapa menit lalu. Ia duduk tegak dengan folder terbuka di depan, berusaha terlihat fokus pada laporan yang ditampilkan di layar.
Grafik berganti, angka-angka bergerak, dan suara presentasi datang silih berganti dari berbagai sisi meja. Beberapa orang mencatat, beberapa menyela dengan pertanyaan singkat, sisanya menyimak sambil menatap layar besar di depan ruangan. Semua tampak berjalan seperti rapat biasa.
Tak satu pun benar-benar masuk ke kepalanya.
Karena di ujung meja, Zayden Alvero berada hanya beberapa meter darinya.
Pria itu tampak jauh lebih matang dibanding lima tahun lalu. Garis wajahnya semakin tegas, rahang lebih keras, sorot matanya lebih tenang namun justru terasa lebih tajam. Dulu Zayden sudah sulit ditebak, sekarang ia terlihat seperti seseorang yang terbiasa mengambil keputusan besar tanpa perlu menaikkan suara.
Dan saat ini, keputusan terbesar Elvara adalah tetap terlihat biasa.
"Divisi branding akan mengajukan revisi kampanye kuartal depan," ujar salah satu direktur sambil menunjuk slide.
Elvara menunduk dan pura-pura mencatat poin penting. Ia tahu kalau menatap lurus ke depan, pandangannya bisa bertemu Zayden. Hal terakhir yang ia butuhkan adalah pria itu melihat kepanikan yang berusaha ia sembunyikan sejak awal rapat.
Tarik napas, tulis sesuatu, angguk saat perlu.
Ia memaksa dirinya mengikuti ritme ruangan. Pulpen di tangannya bergerak di atas kertas, meski yang ia tulis hanya potongan kata yang bahkan tak bermakna. Fokusnya lebih banyak dipakai untuk menenangkan detak jantung.
Namun sesaat kemudian, suara berat itu terdengar.
"Bu Elvara."
Jari Elvara berhenti menulis. Ia mengangkat kepala perlahan dan mendapati seluruh ruangan ikut menoleh ke arahnya.
"Ya, Pak?"
Zayden duduk bersandar dengan satu tangan di atas meja. Wajahnya tenang, ekspresinya datar, tetapi tatapannya terlalu lurus untuk disebut biasa.
"Saya ingin tahu pandangan Anda. Jika target pasar kita bergeser ke segmen yang lebih muda, pendekatan kreatif seperti apa yang paling efektif?"
Pertanyaan profesional. Wajar. Tidak ada yang aneh.
Kecuali caranya menatap.
Terlalu lama, terlalu teliti, seolah bukan jawabannya yang sedang dicari.
Elvara menegakkan punggung. Ini wilayah yang ia kuasai. Ia menahan gemetar di ujung jari lalu mulai bicara dengan nada setenang mungkin.
"Segmen muda lebih responsif pada kampanye yang terasa personal dan mudah dibagikan. Pendekatan visual saja sudah tidak cukup. Harus ada cerita yang bisa mereka kaitkan dengan diri sendiri."
Beberapa kepala mulai mengangguk. Direktur marketing di sisi kanan meja bahkan berhenti menulis.
"Jika brand ingin relevan, kita perlu hadir di percakapan mereka, bukan sekadar muncul di iklan. Audiens muda cepat bosan pada pesan satu arah, jadi komunikasi harus terasa hidup dan memberi ruang interaksi."
Direktur marketing tersenyum.
"Saya setuju."
Zayden belum memberi respons. Ia masih menatap Elvara dengan cara yang membuat udara di paru-parunya terasa berat.
"Lanjutkan," katanya singkat.
Elvara menambahkan beberapa poin tentang komunitas digital, kolaborasi kreator, dan strategi engagement jangka panjang. Ia menjelaskan sejelas mungkin sambil berusaha mengabaikan fakta bahwa pria di ujung meja tampak mengamati tiap perubahan ekspresinya.
Saat selesai, ruangan hening sesaat.
"Bagus," ucap Zayden akhirnya.
Satu kata sederhana, tetapi entah kenapa membuat jantungnya berdetak lebih kacau.
Rapat berjalan lagi. Presentasi berikutnya dimulai dengan laporan angka penjualan dan rencana ekspansi. Elvara menunduk kembali, kali ini benar-benar menulis apa saja di kertas hanya agar punya alasan tidak melihat ke depan.
Ia menulis angka acak.
Lalu nama Rheon.
Cepat-cepat ia menutup halaman itu dan menggantinya dengan catatan lain. Ada rasa bersalah aneh saat nama anaknya muncul di tengah situasi seperti ini.
Jangan panik, pikirnya. Ia mungkin hanya merasa wajahmu familiar. Banyak orang punya kemiripan. Lima tahun sudah berlalu, dan satu malam singkat bukan hal yang pantas diingat seumur hidup.
Namun suara kecil di dalam kepalanya tidak setuju.
Pria seperti Zayden bukan tipe yang mudah lupa.
Setelah rapat selesai, beberapa eksekutif berdiri dan mulai mengobrol sambil membereskan dokumen. Ada yang membahas jadwal pertemuan berikutnya, ada yang berjalan keluar sambil menatap layar ponsel. Kursi-kursi mulai bergeser, suasana resmi perlahan mencair.
Elvara ingin menjadi orang pertama yang keluar. Namun ia menahan diri agar tidak tampak mencurigakan. Ia memasukkan pulpen ke tas, merapikan folder, lalu menunggu arus orang bergerak lebih dulu.
"Bu Elvara."
Ia membeku.
Suara itu datang dari dekat.
Saat menoleh, Zayden berdiri di samping kursinya. Tingginya membuat bayangan jatuh menutupi sebagian meja. Dari jarak sedekat ini, aroma parfum maskulin yang samar terasa sangat familiar, begitu juga detail kecil di wajahnya yang dulu pernah ia hafal tanpa sadar.
Orang-orang lain masih ada di ruangan, tetapi percakapan mereka seperti menjauh.
"Pak?" suaranya nyaris sempurna jika saja tenggorokannya tidak kering.
"Saya ingin bicara sebentar."
Tentu saja ia tidak bisa menolak. Beberapa orang yang lewat menatap sekilas lalu melanjutkan langkah, seolah sudah terbiasa melihat CEO menahan staf untuk membahas pekerjaan.
Tak sampai satu menit, ruang rapat besar itu hanya menyisakan mereka berdua dan seorang asisten yang berdiri jauh di dekat pintu sambil memegang tablet.
Zayden menatapnya tanpa tergesa. Elvara menahan dorongan untuk mundur satu langkah.
"Anda pernah bekerja di mana sebelum ini?" tanyanya.
"Di luar negeri."
"Perusahaan?"
Ia menyebut nama agensi tempatnya dulu bekerja.
Zayden mengangguk tipis.
"Sebelumnya?"
"Beberapa tempat freelance."
"Di kota ini?"
Elvara menatap folder di tangannya.
"Pernah."
Ia bisa merasakan pria itu memperhatikan setiap jeda jawabannya, setiap gerakan kecil yang berusaha ia kendalikan. Cara Zayden bertanya tenang, tetapi terlalu rapi untuk disebut basa-basi.
"Anda tampak gugup."
"Saya hanya lelah, Pak. Hari pertama."
"Begitu."
Nada datarnya justru lebih berbahaya daripada suara tinggi. Tidak ada emosi yang bisa dibaca, dan itu membuat semuanya lebih sulit.
Elvara mengangkat wajah sebentar. Kesalahan besar.
Tatapan mereka bertemu langsung.
Mata Zayden tetap sama. Gelap, tenang, dan terlalu jeli. Dulu tatapan itu pernah membuatnya lupa waktu. Kini tatapan yang sama membuatnya ingin kabur.
Pria itu menyipit sedikit, seperti sedang menyusun potongan puzzle di kepalanya.
"Kita pernah bertemu?"
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi menghantam lebih keras dari bentakan.
Napas Elvara tersangkut. Ia sudah membayangkan banyak kemungkinan sejak melihat Zayden tadi. Marah, dingin, mengabaikan, atau langsung menuntut penjelasan.
Yang tidak ia duga justru ini.
Ia belum yakin.
Masih meraba-raba ingatan.
Elvara memaksa ekspresi tenang.
"Saya rasa tidak, Pak."
"Bukan?"
"Saya rasa wajah saya biasa saja."
Sudut bibir Zayden bergerak tipis, nyaris seperti senyum sinis.
"Justru karena tidak biasa, saya bertanya."
Jantungnya berdebar lebih cepat. Ia menunduk mengambil folder agar punya alasan memutus kontak mata.
"Mungkin Bapak pernah melihat saya saat proses rekrutmen."
"Saya tidak hadir saat rekrutmen."
"Atau di media sosial perusahaan."
"Saya juga tidak mengikuti akun perusahaan."
Setiap alasan yang ia lempar dipatahkan dengan mudah. Elvara ingin mengumpat dalam hati, tetapi wajahnya tetap datar.
Zayden melangkah setengah langkah lebih dekat. Bukan mengintimidasi secara terang-terangan, tetapi cukup membuat ruang geraknya menyempit.
"Saya ingat wajah dengan cukup baik," katanya tenang. "Dan wajah Anda mengganggu konsentrasi saya sejak tadi."
Kalimat itu terdengar nyaris seperti tuduhan.
Elvara menggenggam tali tas.
"Kalau begitu saya minta maaf."
"Bukan salah Anda."
"Lalu?"
"Saya hanya belum menemukan di mana saya pernah melihat Anda."
Ia menatap pria itu, kali ini lebih tajam.
"Mungkin Bapak salah ingat."
Zayden tampak sedikit tertarik. Ada perubahan kecil di matanya, seperti seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang menantang.
"Akhirnya Anda menatap saya."
Elvara menyesali refleksnya sendiri.
"Apa semua karyawan baru diuji seperti ini?" tanyanya.
"Hanya yang mencurigakan."
"Saya mencurigakan karena punya wajah familiar?"
"Anda mencurigakan karena sejak rapat dimulai berusaha tidak melihat saya sama sekali."
Darah di wajahnya serasa surut. Ia tidak sadar perilakunya seterbaca itu.
Zayden melipat tangan di depan dada.
"Biasanya ada dua alasan seseorang menghindari kontak mata. Mereka berbohong, atau mereka menyimpan sesuatu."
"Atau mereka menghormati atasan."
"Asisten saya menatap saya sejak tadi dan dia tetap sopan."
Elvara menoleh sekilas ke arah pintu. Asisten itu langsung pura-pura sibuk melihat tablet tanpa mengangkat kepala.
Situasi ini gila.
Ia menarik napas dalam-dalam lalu memaksa suaranya tetap stabil.
"Pak Zayden, jika tidak ada hal terkait pekerjaan, saya perlu kembali ke divisi."
Ada jeda singkat. Zayden tampaknya menimbang sesuatu, lalu mundur setengah langkah. Ruang bernapasnya kembali.
"Baik."
Elvara hampir berbalik saat suara pria itu menghentikannya lagi.
"Bu Elvara."
Ia menahan diri sebelum menoleh.
"Selamat datang di Alvero Group."
Kalimat formal. Namun cara mengucapkannya seperti ada makna lain yang belum selesai.
"Terima kasih."
Ia berjalan keluar dengan langkah setenang mungkin. Begitu pintu tertutup di belakangnya, barulah napas yang ia tahan lepas berantakan.
Koridor lantai tiga puluh terasa terlalu panjang. Ia masuk lift sendirian, menekan tombol lantai divisi kreatif, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin logam.
Pucat.
Saat pintu terbuka, Selena langsung menghampiri dengan ekspresi penasaran.
"Bu Elvara, Anda baik-baik saja? Tadi Pak CEO bicara lama sekali."
"Sedikit arahan kerja," jawabnya cepat.
Selena menatapnya beberapa detik.
"Jarang sekali beliau menahan orang setelah rapat."
Elvara memaksakan senyum tipis.
"Mungkin saya beruntung."
Ia masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu. Begitu sendiri, ia menjatuhkan diri ke kursi lalu menunduk sambil meremas jari sendiri yang masih dingin.
Tangannya gemetar.
Zayden belum ingat sepenuhnya. Itu kabar baik.
Tapi ia juga tahu satu hal yang jauh lebih buruk.
Pria itu penasaran.
Dan Zayden Alvero bukan tipe orang yang berhenti sebelum menemukan jawaban.