apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pukul 22.18. Apartemen Skyline.
Kamar utama temaram. Lampu tidur warna warm. Di meja, ada bunga kaca piring sisa resepsi yang Saga pindahin ke vas. Wanginya tipis, menenangkan.
Saga duduk di tepi ranjang, kaki ayun-ayun. Pakai piyama kancing depan milik Arion yang kebesaran. Rambutnya masih setengah basah habis mandi.
Arion keluar dari kamar mandi. Kaos putih, celana training. Rambutnya juga basah.
Hening.
Keduanya saling lihat. Canggung. Padahal udah suami-istri. Padahal tiap malam Saga tidur meluk Arion.
Tapi ini beda.
“Ion,” panggil Saga pelan. Jari-jarinya meremas ujung piyama.
Arion duduk di sebelahnya. Jaraknya hati-hati. “Kenapa, Aga?”
Saga nunduk. “Aga... gugup.”
Arion senyum tipis. “Kenapa gugup? Kita udah nikah.”
“Iya, tapi...” Saga angkat muka. Pipinya merah. “Selama tiga minggu, Aga tidur meluk Ion karena takut. Karena mimpi buruk. Bukan karena... ini.”
Arion paham. Dia genggam tangan Saga. Dingin. “Aga nggak harus kalau belum siap. Aku bisa nunggu. Seumur hidup juga.”
Saga geleng cepet. “Bukan! Aga mau. Aga udah nunggu ini dari... dari dulu banget. Dari sebelum Edwin, sebelum nikah.” Matanya berkaca. “Cuma... Aga takut Ion ilfeel. Aga kan... rewel. Manja. Cengeng.”
“Stt.” Arion narik Saga ke pelukannya. Dagu di puncak kepala Saga. “Denger ya. Lima tahun aku nunggu kamu manggil aku ‘Ion’ tanpa beban. Tiga minggu aku nunggu kamu tidur bukan karena trauma, tapi karena kamu mau. Sekarang kamu di sini, bilang mau sama aku. Nggak ada yang bikin aku lebih bahagia dari ini.”
Saga meluk pinggang Arion erat. “Sumpah?”
“Sumpah.” Arion mengecup rambut Saga. “Aga itu rumahku. Mau rewel, mau nangis, mau nempel 24 jam, aku terima. Karena itu Aga.”
Saga diem. Napasnya mulai tenang. “Ion...”
“Hmm?”
“Peluk Aga kenceng. Kayak pas di gudang kemarin. Yang Aga nggak bisa napas tapi ngerasa aman.”
Arion nurut. Pelukannya erat, tapi nggak nyakitin. Saga bisa denger detak jantung Arion. Stabil. Nyata.
“Ion,” bisik Saga lagi.
“Ya?”
“Cium Aga boleh?”
Arion ketawa pelan, gemetar. “Dari tadi nunggu kamu yang minta.”
Saga dongak. Arion nunduk.
Ciuman pertama malam itu jatuh pelan. Hati-hati. Kayak takut Saga pecah. Bibir ketemu bibir, napas campur. Saga genggam kaos Arion. Arion nahan tengkuk Saga, ibu jari ngusap pipi.
Lepas. Keduanya ngos-ngosan.
“Aga?” Arion menyolek dagu Saga. “Masih mau lanjut?”
Saga ngangguk. Matanya basah, tapi senyum. “Mau. Sama Ion, Aga mau semuanya.”
Arion merebahkan Saga pelan ke bantal. menyelimuti sampai dada. Dia sendiri nyusul, miring ngadep Saga. Tangannya nggak lepas dari pinggang Saga.
“Kalau Aga takut di tengah, bilang ya?” kata Arion. Suaranya serak. “Kita berhenti. Kita ngobrol aja. Atau tidur.”
Saga mengelus pipi Arion. “Aga nggak takut. Ada Ion.”
Lampu tidur makin redup.
Yang terjadi setelahnya adalah bisik. Kecup. Janji yang diulang di sela napas. Saga yang manggil “Ion” lirih tiap kali Arion mastiin dia baik-baik aja. Arion yang bilang “Aku di sini, Aga” tiap kali Saga gemetar bukan karena takut, tapi karena akhirnya merasa utuh.
Tidak ada yang buru-buru. Tidak ada yang memaksa.
Cuma dua orang yang saling milih, saling jaga, saling pulang.
—
Pukul 01.44.
Saga meringkuk di dada Arion. Selimut sampai bahu. Rambutnya acak, pipi merah, tapi senyum.
“Ion,” panggilnya ngantuk.
“Hmm?” Arion mainin rambut Saga.
“Makasih ya... udah nunggu Aga.”
Arion mengecup kening Saga, lama. “Harusnya aku yang makasih. Kamu mau aku, Aga. Padahal aku cuma manusia biasa yang sering telat pulang.”
Saga menyubit pinggang Arion. “Udah nggak boleh telat lagi. Mulai besok.”
“Siap, Bos.” Arion ketawa. “Tidur, Sayang. Besok kamu pasti rewel minta gendong karena pegel.”
“Nggak apa-apa. Kan suami Aga yang gendong.” Saga merem, nyaman. “Ion...”
“Apa lagi?”
“Aga sayang Ion. Banyak-banyak.”
“Aku juga sayang Aga. Selamanya.”
Hening. Cuma suara AC sama detak dua jantung yang akhirnya selaras.
—
Pukul 07.02.
Tok. Tok.
“Papa! Om Ion! Sarapan udah dibeliin!” suara Langit dari luar.
Saga nggerem, sembunyi di ketek Arion. “Langit pagi-pagi banget...”
Arion ngakak, narik selimut nutupin Saga yang masih no shirt. “Bentar, Langit. Papa masih... tidur.”
“Bohong! Aku denger Papa bangun!” Langit nggak nyerah. “Buruan, nanti buburnya dingin! Abang Rasya yang beliin!”
Saga menyembul sedikit, teriak, “Papa masih capeeek! Lima menit lagiii!”
Dari luar, Revan nyeletuk, “Capek apa, Pa? Kan semalem...”
“REVAN!” Langit sama Rasya kompak ngegas.
Di dalam, Saga nutup muka, malu. “Kanak-anak Aga rese!”
Arion mengecup pipi Saga gemas. “Makanya, ayo bangun. Nanti mereka curiga Papanya nggak bisa jalan.”
“Aga bisa! Cuma... mau digendong aja ke meja makan.” Saga mengulurkan tangan manja.
Arion geleng, tapi angkat Saga ala bridal style. “Dasar suami manja. Tiga minggu nggak ‘malam pertama’, sekali dapet langsung minta gendong.”
Saga meluk leher Arion, ketawa. “Habisnya enak. Aga mau tiap malam kayak tadi.”
“ tiap malam?” Arion buka pintu, keluar. “Siap laksanakan, Tuan Aga.”
Di meja makan, Rasya, Revan, Langit udah siap. Lihat Saga digendong, mereka cuma saling lihat.
Langit: “Tuh kan.”
Revan: “Papanya kita udah sah milik Om Ion.”
Rasya: “Udah, makan. Biarin aja. Yang penting Papa senyum.”
Dan Saga senyum. Lebar.
Akhirnya, malam pertama yang tertunda tiga minggu itu kejadian.
Bukan karena nafsu. Tapi karena cinta yang udah nunggu lima tahun, yang udah lewatin gudang, trauma, dan air mata.