Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25: Sisa Kode yang Tak Terhapus
Jam di dinding kantor Arkan Tech Solutions menunjukkan pukul 02.15 malam. Suasana di sini biasanya hening, hanya didominasi oleh dengungan pelan dari server-server berkapasitas besar di ruang sebelah. Namun malam ini, ada suara lain: denting keyboard yang ritmis dan tarikan napas dua orang yang sedang beradu argumen di depan monitor ultra-wide.
Kami telah menghabiskan waktu enam jam untuk membedah kernel sistem Arkan-Predictive. Di ruangan yang serba putih dan steril ini, topeng Lukas Arkan tampak mulai Retak. Kemeja putihnya yang tadi pagi terselip rapi, kini tampak kusut. Lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan lengannya yang dulu sering berlumuran oli di bengkel Pak Edi.
Aku duduk di sampingnya, memegang secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Kami sedang memperbaiki modul memory management yang menjadi penyebab utama kegagalan sistemnya.
"Kamu terlalu memaksakan resource di sini," kataku sambil menunjuk baris kode di layar. "Ini fungsinya Optimasi_Beban_V2. Kenapa kamu tidak menggunakan logika linear yang dulu kita pakai? Ini jauh lebih stabil."
Lukas terdiam. Matanya menatap layar, tapi pandangannya kosong. Dia tidak menjawab. Dia hanya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kak Lukas?"
"Aku sudah mencoba menulis ulang bagian itu lima kali," suaranya serak. "Tapi setiap kali aku mencoba menggantinya dengan logika baru yang 'lebih modern', sistemnya justru crash. Seolah-olah..." dia berhenti, ragu untuk melanjutkan.
"Seolah-olah sistem itu tidak mau menerima logika selain logika kita yang dulu?" sambungku, memberanikan diri menatapnya.
Lukas akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya, matanya tidak menatapku dengan dingin atau angkuh. Ada rasa lelah yang tulus di sana. "Ini konyol, Rea. Ini hanya sekumpulan baris kode. Harusnya ini tidak punya perasaan."
"Kode adalah cerminan dari logikanya sang penulis," jawabku lembut. "Kalau sistem ini menolak perubahan, mungkin karena sang penulis—kamu—belum benar-benar siap untuk berubah. Kamu menulis sistem ini sebagai benteng, bukan sebagai alat bantu."
Lukas tidak membantah. Dia justru berdiri, berjalan menjauh ke arah jendela kaca yang menampilkan pemandangan Hangzhou di malam hari. Dia tampak begitu kecil di tengah megahnya kantor yang dia bangun sendiri.
"Dulu, saat aku baru sampai di sini," Lukas mulai bercerita, suaranya pelan dan bergetar, "aku tidak punya apa-apa. Aku tidur di bawah meja kerja di sebuah toko gadget kecil. Aku makan mie instan setiap hari. Setiap kali aku menulis kode, aku hanya punya satu tujuan: menjadi orang yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata."
Aku mendekat, berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Dan kamu berhasil, Lukas. Dunia mengenali namamu sekarang."
"Tapi dunia mengenali Lukas Arkan. Mereka tidak tahu siapa itu Luqman." Dia membalikkan badan, menatapku dengan sorot mata yang penuh konflik. "Apakah menjadi Luq adalah dosa? Apakah menjadi anak dari seorang ibu dan ayah yang meninggal karena kemiskinan adalah noda yang harus dihapus?"
"Tidak ada yang bilang itu dosa," sahutku tegas. "Itu adalah identitas. Tanpa Luqman yang bekerja di bengkel sekaligus di Kafe, Lukas Arkan yang sekarang tidak akan punya ketangguhan untuk membangun sistem ini. Kamu mencoba membuang fondasinya, Lukas. Bagaimana mungkin bangunanmu bisa berdiri tegak kalau fondasinya kamu kubur dalam-dalam?"
Lukas terdiam. Dia menatap tangannya sendiri, memperhatikan bekas luka kecil di punggung tangannya—bekas luka yang ia dapat karena ketidaksengajaan saat kami mencoba memperbaiki motor tua milik Kak Hazel dulu. Dia menyadari aku sedang memperhatikan luka itu, lalu dia refleks memasukkan tangannya ke saku celana.
"Aku takut," bisiknya, hampir tidak terdengar. "Aku takut jika aku kembali menjadi Luqman, aku akan kembali merasa sakit. Aku akan kembali merasa kecil. Aku takut orang-orang akan melihatku dan melihat kemiskinan lagi."
Aku melangkah mendekat, kali ini tanpa rasa takut sedikit pun. "Orang-orang hanya melihat apa yang kamu tunjukkan, Lukas. Jika kakak terus menyembunyikan siapa kamu, orang akan melihat kepalsuan. Tapi jika kamu berdiri tegak membawa masa lalumu sebagai pelajaran, tidak ada yang bisa merendahkanmu. Kamu bukan Luq yang malang lagi. Kamu adalah Lukas Arkan, seorang pria yang berhasil menaklukkan dunia dengan membawa masa lalunya sebagai bahan bakar."
Aku mengambil keyboard dari meja dan mengetikkan satu perintah terakhir pada modul Optimasi_Beban_V2. Aku tidak mengubah logikanya. Aku hanya menambahkan sebuah comment di atas baris kode tersebut: //Integrasi_Fondasi_V1.
Lukas melihat apa yang kulakukan. Dia berjalan kembali ke depan layar. Dia membaca komentar itu. Integrasi.
"Kamu ingin aku mengintegrasikan masa lalu ke dalam sistem masa kini?" tanyanya.
"Aku ingin kamu berhenti membagi dirimu menjadi dua," jawabku. "Kamu tidak perlu menghapus Lukas untuk menghargai Luq. Kamu hanya perlu menyatukannya."
Lukas menarik napas panjang. Dia duduk kembali di kursi kerjanya, menatap layar monitor dengan tatapan yang berbeda. Dia mulai mengetik dengan kecepatan yang tidak wajar. Jari-jarinya menari di atas tuts, kali ini bukan dengan kebencian, melainkan dengan ketenangan yang luar biasa. Dia mulai melakukan refactoring besar-besaran pada arsitektur sistemnya, menyatukan kode-kode lama yang dia simpan di folder tersembunyi dengan teknologi AI mutakhir yang dia kembangkan.
Dia bekerja selama dua jam penuh tanpa bicara. Aku hanya duduk di sana, memperhatikannya. Saat matahari mulai mengintip di balik gedung-gedung pencakar langit Hangzhou, Lukas menekan tombol Enter terakhir.
Sistem memberikan respons: System Stability: 100%. Efficiency: 110%.
Lukas bersandar di kursinya. Dia tampak lega, tapi juga terlihat sangat rapuh. Dia menatapku.
"Terima kasih," ucapnya. Bukan sebagai CEO kepada asisten, tapi sebagai manusia kepada manusia lainnya.
"Makasih Juga," jawabku.
"Rea," dia memanggil namaku. Bukan Andrea. Dia menggunakan nama panggilanku yang dulu sering dia pakai saat aku masih SMP. "Jangan pergi dulu. Aku... aku ingin tahu. Apa kabar Kak Hazel?"
Pertanyaan itu terasa seperti kunci yang membuka pintu yang sudah terkunci bertahun-tahun. Lukas akhirnya bertanya tentang sahabat—Sahabat yang dia tinggalkan bukan karena dia membenci mereka, tapi karena dia terlalu takut untuk menghadapi mereka dengan tangan kosong.
"Kak Hazel baik," jawabku sambil tersenyum. "Dia sudah menikah tahun lalu. Dia sering bertanya tentangmu. Dia tidak pernah marah padamu, Kak. Dia hanya rindu sahabatnya."
Lukas menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Dia tidak menangis seperti pria yang patah hati, tapi dia menangis seperti seseorang yang baru saja pulang setelah pengembaraan yang terlalu panjang dan melelahkan.
Pagi itu, di kantor yang mewah dan dingin, sesuatu yang hangat mulai tumbuh. Kami tidak langsung kembali ke masa lalu—itu mustahil. Lukas masihlah pria yang ambisius dengan sistem yang kompleks. Tapi setidaknya, sekarang ada satu baris kode di dalam hatinya yang telah berhasil di-perbaiki dengan baik.
Masa lalunya bukan lagi bug yang harus dihapus. Itu adalah legacy code yang membuat sistemnya menjadi unik.
Perjalanan kami masih panjang. Ada 55 episode lagi yang menanti di depan, dan aku tahu, akan ada banyak tantangan lain. Tapi melihat Lukas Arkan bersedia menyebut nama "Luqman" di dalam hatinya, aku tahu kami sudah berada di jalur yang benar.
"Mau cari sarapan?" tanya Lukas, suaranya kini terdengar jauh lebih ringan. "Ada warung mie di dekat sini yang rasanya mirip dengan mie instan yang biasa kita makan di bengkel Pak Edi."
Aku tertawa. "Ayo. Tapi kali ini, aku yang traktir. Kamu harus belajar bahwa orang sukses juga boleh makan makanan sederhana."
Lukas tersenyum—senyum tulus yang tidak pernah kulihat selama setahun terakhir. "Deal."
Kami melangkah keluar dari kantor, meninggalkan layar monitor yang menyala. Di layar itu, kursor terus berkedip, menunjukkan bahwa sistem sedang berjalan dengan stabil. Untuk pertama kalinya, sistem itu tidak bekerja untuk bertahan hidup. Sistem itu bekerja untuk mulai hidup.