Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 Terima Kasih Sudah Membela
Nandini mengembuskan napas lega. Ia berhasil menyetor hafalan surat pada suaminya. Hafalan lama dan hafalan baru. Sungguh berat beban otak mungil Nandini.
"Alhamdulillah sudah sampai Al Adiyat, Mbak." Santaka tersenyum manis pada sang istri.
Inginnya sambil mengelus kepala, tapi Santaka khawatir akan dibalas jurus beladiri Nandini. Apa ia coba izin saja ya?
"Mbak, saya mau elus kepala Mbak, boleh? Nambah berkah. Mbak juga nanti makin encer hafalannya." Dada Santaka berdesir. Baru meminta sudah tegang duluan.
Nandini menipiskan bibirnya. Beginilah bebannya jika sudah belajar agama. Jadi lebih tahu banyak hal tentang dosa. Jadi takut dalam bertindak. Jangan-jangan menambah dosa.
Pernikahan ini hampir satu bulan. Nandini belum juga memberikan hak Santaka. Ia belum siap, walaupun mulai menerima pernikahan ini. Mulai nyaman pada lelaki itu.
Suami dadakan Nandini itu juga masih sabar. Tak menuntut haknya itu. Menepati janjinya untuk bersabar sampai istrinya siap. Entah kapan kesiapan itu tiba?
"Hmm, kepala saja ya. Jangan merambat ke yang laen. Curiga deh..." Mata Nandini memicing.
Santaka tersenyum lebar. "Ngapain curiga tho Mbak? Emang ada saya ngelakuin sesuatu tanpa persetujuan Mbak Dini?"
Iya juga, dia selalu minta izin. Nanya nyaman apa ndak. Baik banget sih jadi laki-laki. Belum tentu laki-laki lain kuat kalau jadi dia. Duh Dini, apa kamu sudah siap menyerahkan diri lahir batin sama Gus Roti? Siap jadi adonan hidup suamimu?
Nandini membayangkan dirinya sedang diuleni Santaka. Kepalanya menggeleng cepat.
"Iya, terima kasih ya Gus. Sudah selalu izin. Maafin saya belum siap."
Santaka menerbitkan senyum lebar di wajahnya. Akhirnya ada kemajuan lagi dalam hubungan mereka. Kontak fisik tanpa skenario.
Santaka mengulurkan tangan dan mengeksekusi permintaannya. Mengelus kepala yang terbungkus mukena. Kepala yang telah bekerja keras setelah menikah dengannya.
Jadi terbungkus hijab. Memahami karakter Ndalem. Mengaji sesuai kaidah. Menghafal isi Al Qur'an. Luar biasa.
Santaka jadi ingin mengecup kepala itu. Benar-benar keinginan tak berkesudahan. Sudah diberi akses belai kepala, maunya tambah. Lelaki itu meminta dirinya sendiri lebih bersabar.
"Iya, saya sabar kok. Terima kasih ya, sudah mau belajar banyak hal setelah jadi istri saya. Termasuk belajar bersabar ngadepin tekanan di Ndalem."
Nandini tersenyum simpul. "Terima kasih juga sudah selalu bela saya. Selalu pasang badan buat saya." Istri Santaka itu menunduk. Ia jadi teringat kejadian di sore tadi. Salah satu dari sekian banyak pembelaan Santaka padanya.
Nandini baru saja memakan bakso bersama Husna. Nikmat duniawi. Bakso hangat pedas di penghujung sore.
"Oh, jadi Ning Husna itu dijodohin sama Gus Nendra. Ta'aruf ya? So sweet banget." Nandini menyuap bakso uratnya.
"Iya, Mbak. Tapi siapa yang bisa nolak pesona anaknya Abi. Mbak Dini saja sudah merasakan tho?" Husna terkikik. Nandini tersenyum.
Iya sih, Gus Roti juga mempesona. Baik banget, lembut. Sabar, itu yang pasti.
"Berapa lama Ning bisa nerima pernikahan Ning?" Nandini meminum es teh manis. Sepertinya ia menuangkan sambal terlalu banyak. Pedasnya membakar. Tak hanya lidah tapi sebadan-badan.
"Maksudnya?" Husna memiringkan kepalanya.
"Ning bisa enjoy nikah sama Gus Nendra..." Nandini menarik jarum pentul di bawah dagu. Ia tusukkan menyamping jarum itu di atas kepalanya.
Nandini menyampirkan bagian kerudung bawah kerudung yang biasa menjuntai sehingga kerudungnya tak jatuh walaupun tak ditahan jarum di leher. Panas, istri Santaka itu tak tahan.
Husna terkejut melihat tindakan Nandini. Matanya memindai ruang dalam. Aman, tak ada lelaki atau abdi ndalem.
"Mbak, kepanasan ya?" Husna meringis.
"Iya, baksonya pedes tenan. Ndak apa-apa ya, kerudungnya Dini buka sebentar." Nandini mengipas-ngipas leher jenjangnya.
Husna tersenyum kering. Matanya mengawasi keadaan sekitar.
"Eh, tadi belum dijawab Ning Husna, kapan bisa nerima hasil perjodohan?" Nandini mendongakkan lehernya.
Husna menipiskan bibirnya. Ia kembali celingak-celinguk. Masih sepi. Aman. "Oh, ya sebelum nikah, Mbak. Kan proses ta'aruf itu saling mengenal.
Kita jadi tau calon kita seperti apa sifatnya, pemikirannya. Bukan diem-dieman kayak batu." Husna tersenyum simpul.
Nandini manggut-manggut. Ia mencebik. Berarti hanya dirinya yang terjebak dalam rasa tak nyaman setelah menikah. Wajar, ia bukan ta'aruf, tergerebek.
Boro-boro saling mengenal. Seminggu sebelum menikah, baik Nandini dan Santaka, sama-sama sibuk sendiri. Santaka sibuk meyakinkan diri, ia sibuk menyangkal dan mencari alasan menolak pernikahan.
Sarah dengan mata lasernya memantau keadaan Ndalem. Tatapan elangnya mendeteksi adanya kesalahan syariat. Membuka aurat di area publik. Nandini, siapa lagi?
Sarah mendengus. Tangannya mengepal. Sayangnya ia terburu-buru saat ini. Nanti ia akan menegur wanita itu. Kamar mereka berdekatan, jadi ia bisa menegur nanti.
Seperti biasa, akan Sarah hadang Nandini ketika menuju kamarnya. Ia sudah bak portal penjaga bagi Nandini sebelum masuk kamar. Pantang tidur sebelum kena semprot Sarah.
Nandini berjalan santai menuju kamarnya. Sarah bagaikan ninja hitam tiba-tiba muncul di hadapan istri Santaka. Nandini terlonjak hingga memundurkan langkahnya.
"Ya Allah, Ning, kaget..." Nandini mengelus dada.
"Makanya zikir Mbak, jadinya ndak kagetan." Sarah menatap datar. Nandini memutar bola matanya.
"Itu kenapa lehernya Mbak Dini keliatan? Ndak tertutup sempurna auratnya." Sarah menunjuk leher Nandini dengan delikan mata.
Nandini terkesiap. Ia meringis. "Oh ini, tadi abis makan bakso sama Ning Husna. Ning Sarah ndak ikutan sih. Enak baksonya. Coba tadi ikut makan, Ning. Kompak deh kita, menantu Um..."
"Jangan melebar ke mana-mana, Mbak! Kenapa Mbak berani lepas kerudung selain di kamar? Bisa saja Gus Yasa, Gus Nendra, Gus Ahsan atau abdi ndalem lelaki, lewat dan lihat Mbak Dini.
Kalaupun abdi ndalem perempuan yang lihat, tetap ndak elok. Mbak bisa jadi contoh yang ndak bener. Coba dipikir, Mbak, sebelum bertindak!"
Nandini menggigit bibirnya. Ia benar-benar spontan membuka kerudungnya karena kepanasan. Akibat bakso yang terlalu pedas.
Tak terpikir sama sekali oleh Nandini bahwa itu akan terlihat oleh orang lain. Apalagi lelaki selain Santaka.
Nandini masih membiarkan terbuka karena dipikirnya tanggung, ia berniat mandi sebelum Magrib. Jadi tak perlu ia merapatkan kembali kerudungnya itu.
"Maaf Ning Sarah, atas keteledoran saya. Saya ndak berpikir sejauh itu." Nandini menipiskan bibirnya.
"Lain kali dipikir jauh sebelum melakukan sesuatu. Itu kewajiban kita, sebagai bagian dari Ndalem. Jangan sampai Mbak Dini dianggap ndak pantes jadi istri Gus Taka!" Sarah bersedekap.
"Siapa yang berani bilang Mbak Dini ndak pantas jadi istri Taka?" Suara Santaka membelah tensi tinggi di antara kedua menantu Ndalem.
Nandini menoleh cepat. Ada desir di hatinya mendengar suara sang suami. Ada bahagia, ada lega, melihat imamnya datang.
Sarah melihat ke arah adik iparnya. "Ya ndak tau, bisa jadi ada kalau lihat Mbak Dini lehernya ke mana-mana seperti itu," cetus Sarah.
Santaka memperhatikan penampilan istrinya. Netranya tertahan melihat kain penutup aurat itu tersibak di bagian jenjang milik Nandini. Di area yang kadang ia penasaran bagaimana rasanya. Istrinya memang teledor.
Tak tahu apa bahwa lehernya itu begitu indah? Menggoda. Bahaya sekali kalau dilihat lelaki lain. Santaka pun tak rela.
"Taka yakin Mbak Dini tak sengaja, Ning." Santaka melipat bibirnya.
"Iya Gus, saya ndak sengaja. Tadi habis makan bakso, kepedesan. Keringetan pol." Nandini menunduk.
"Bukan alasan harusnya seperti itu." Sarah menggelengkan kepala.
"Terima kasih Ning Sarah sudah peduli sama istri Taka. Tapi tolong, lain kali ingetin istri Taka dengan cara baik-baik, jangan di tengah jalan seperti ini.
Atau kasih tau Taka. Biar Taka yang nasehatin sendiri. Mbak Dini ini istri Taka, tangggung jawab Taka. Dan Taka mau Mbak Dini diperlakukan dengan baik, karena dia masih dalam proses belajar."
Nandini meremas bagian depan gamisnya. Ia bermaksud meredakan degup jantungnya mendengar ucapan Santaka. Begitu indah di telinganya. Sangat berjiwa ksatria. Pelindung.
"Iya. Tapi jangan sampai ini buat Mbak Dini jadi besar kepala. Merasa selalu dibela, Gus. Padahal salah." Sarah menatap tajam Nandini.
"Ndak, Taka tanggung jawab," pungkas Santaka. Sarah lansung membalikkan badan, meninggalkan pasutri itu.
Nandini mengangkat wajahnya. Memutus ingatannya tentang kejadian tadi sore.
"Iya, Mbak. Sudah kewajiban saya menjaga Mbak Dini. Kita adalah pakaian buat satu sama lain. Saya tutup kekurangan Mbak, Mbak tutup kekurangan saya."
Santaka menatap lembut Nandini, membuat sang istri salah tingkah. Wajahnya memerah. Santaka tersenyum geli.
"Sabar ya jalanin proses hijrah setelah jadi istri saya. Allah akan kasih pahala besar buat Mbak Dini." Santaka kembali mengelus kepala Nandini.
Gadis itu tertunduk. Matanya menghangat. Ada rasa haru menyeruak di dadanya. Ternyata menikah mendadak begitu mengubah hidupnya. Menjadi istri dari seseorang yang begitu lembut.
Yang tak mungkin Nandini temukan dalam lingkar pergaulan lamanya. Entahlah, rasa syukur mulai terbit di relung hatinya.
Sebelum tidur, Santaka meminta guling pembatas mereka dienyahkan. Nandini hanya mengangguk perlahan atas permintaan itu.
Nandini tidur memunggungi sang suami. Ia belum sanggup tanpa adanya guling. Tapi ia tak keberatan ketika ia merasa Santaka merapat padanya.
Mata Nandini yang sempat terpejam, mendadak membelalak ketika tangan kokoh Santaka membelai rambutnya. Perlahan dan berulang. Nandini menempelkan tangan di dadanya. Begitu riuh detak di dalam, namun ia suka. Ia nyaman.
Mata Nandini kembali memejam bersamaan dengan tercetaknya senyum di bibirnya. Usapan di rambutnya masih mengalun, menjadi penghantar tidur dari Santaka.
Sang Gus menutup matanya dengan senyum manis menghiasi wajah teduhnya. Syukurnya semakin bertambah. Tak ada lagi pembatas di antara mereka. Ia dapat tidur sambil merasakan hangat tubuh Nandini di sampingnya.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj