NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

"Apa kalian butuh bantuan?"

Suara itu terdengar tenang, jelas, dan memecah keributan di sudut sepi itu.

Tiga orang pemuda yang sedang bergulat dan saling menimpa itu seketika membeku. Gerakan mereka berhenti total seolah ditekan tombol pause.

Dengan susah payah dan kepala yang berputar, mereka perlahan menoleh ke arah sumber suara.

Di sana, di atas struktur besi yang agak tinggi, duduk seorang gadis. Rambut panjangnya dikuncir kuda tinggi, wajahnya cantik namun berkulit sawo matang. Ia mengenakan seragam sekolah, namun terlihat celana olahraga training menyelinap di balik roknya—gaya yang aneh namun terlihat sangat tangkas.

Gadis itu duduk bersandar santai, kedua kakinya menjuntai, menatap mereka dengan tatapan menilai.

Xin Yi menurunkan pandangannya ke arah tubuh mereka yang masih saling bertumpuk, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sangat cerdik.

"Sepertinya... kalian sangat 'terikat'?" candanya.

GLEK!—Ketiga pemuda itu menelan ludah secara bersamaan.

Mereka baru sadar betapa konyol dan memalukan posisi mereka saat ini. Bertiga, para pria berbadan besar, malah terjebak menjadi tumpukan sampah dan ditertawakan oleh seorang gadis! Wajah mereka seketika berubah merah padam karena malu luar biasa.

Merasakan wajah mereka menjadi panas karena malu, Rong Tian segera mendongak dan menolak dengan tegas, meski suaranya sedikit terbata-bata.

"Tidak perlu! Kami bisa sendiri! Uruslah dirimu sendiri!"

Mendengar penolakan itu, Xin Yi hanya mengangkat kedua bahunya santai. Terserah kalian kalau mau tetap menjadi tumpukan jerami.

"Duh, terserah kalian saja," ucapnya pelan.

Dengan gerakan luwes, ia segera membereskan kotak bekalnya, melipat tisu bekas, dan memasukkan semuanya ke dalam tas. Kemudian, tanpa perlu memegang tali atau tangga, ia hanya melangkah dan melompat turun dari posisi duduknya yang agak tinggi itu.

Bruk.

Pendaratan sempurna, ringan seperti kucing.

"Baiklah... selamat tinggal," ucapnya singkat, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka dengan langkah santai, tak mau ambil pusing lagi dengan keributan orang lain.

Di belakangnya, Xu Xian dan Qin Yuwu yang masih terjepit dan kacau itu seolah terkena hipnotis. Karena terkejut dan refleks, mereka tanpa sadar menjawab dengan suara lirih dan sedikit bingung.

"Se... selamat tinggal...?"

Baru saja kalimat itu keluar dari mulut mereka, mereka langsung saling tatap dan menepuk kepala masing-masing.

"KAMU BENAR-BENAR TIDAK BERDAYA! MENGAPA MENJAWAB?! KAMI SEHARUSNYA MARAH!"

"KENAPA KAMU JUGA YANG MENJAWAB!"

Mereka benar-benar kacau. Sedangkan Xin Yi yang sudah berjalan menjauh hanya tersenyum tipis di balik punggungnya. Hari ini... cukup menghibur.

Langkah kaki Xin Yi terdengar ringan menyusuri lorong sekolah. Wajahnya yang biasanya datar dan dingin hari ini terlihat sedikit lebih rileks, sudut bibirnya bahkan masih menyimpan sisa senyum tipis karena tadi sempat tertawa melihat kelakuan tiga orang pemuda aneh itu. Suasana hatinya sedang sangat baik.

Di arah berlawanan, rombongan siswa dari kelas unggulan sedang berjalan ramai-ramai. Di tengah mereka berjalan Liu Yang, pemuda tampan yang populer itu. Mereka baru saja selesai makan di kantin dan sedang bercakap-cakap dengan riang.

Tiba-tiba, salah satu gadis di kelompok itu menyenggol lengan temannya dan berbisik dengan jelas.

"Hei... lihatlah! Itu murid baru di kelas 12-B! Yang kemarin membuat kaki Jian Nam sampai bergeser!"

"Hah? Itu dia?"

Liu Yang yang mendengar bisikan itu secara refleks menghentikan langkahnya dan mendongak menoleh ke depan. Matanya sedikit melebar.

Di sana, berjalan mendekat dengan gaya yang sangat santai namun tegap, adalah gadis yang pernah ia lihat di taman kemarin. Gadis itu berjalan lurus ke depan, seolah tidak melihat keberadaan mereka sama sekali. Tatapannya lurus, dingin.

Saat Xin Yi berjalan melewati mereka dengan jarak yang sangat dekat, Liu Yang tanpa sadar menahan napasnya sebentar.

Ada aroma samar tercium di udara. Bukan bau keringat atau debu jalanan, melainkan wangi yang segar seperti bunga-bunga alami, mungkin dari sabun atau lotion yang dipakainya. Wangi yang sangat lembut namun menenangkan. Dan saat ia melihat profil wajah gadis itu dari dekat...

Astaga... matanya begitu bulat dan gelap., pikir Liu Yang terpesona dalam hati. Seperti mata anak kucing liar yang cantik dan tajam.

Xin Yi berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun, meninggalkan Liu Yang yang masih berdiri mematung di tempatnya, menatap punggung gadis itu hingga menghilang di tikungan lorong.

Teman-teman Liu Yang segera menyenggol lengannya dengan sikap yang menggoda.

"Wah, mengapa kau terdiam? Apakah kau tertarik dengan gadis itu?" tanya salah satu dari mereka dengan senyum cerdik.

Yang lain pun ikut bersuara, sebagian besar dengan nada yang mengejek.

"Hati-hati, katanya gadis itu keras dan tidak mudah didekati."

"Benar, menurut kabar yang beredar, dia bukanlah tipe gadis yang galak Lebih baik kau berhati-hati."

Berbagai komentar terlontar, namun Liu Yang tidak menjawab satupun pertanyaan atau tuduhan tersebut. Ia hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pembicaraan.

"Ayo segera bergerak, kita harus masuk ke kelas sebelum bel berbunyi," ucapnya tegas, namun di dalam hatinya ia masih teringat akan sosok gadis yang baru saja lewat itu.

Pukul empat sore, kegiatan sekolah telah usai. Xin Yi menghentikan sepedanya di depan sebuah warung kelontong kecil. Ia berniat membeli es krim.

Sebenarnya, kebutuhan finansialnya saat ini sangat tercukupi. Nenek Xin memberinya uang saku dalam jumlah yang sangat besar, demikian pula dengan Kakek Xin, ayahnya, dan bahkan Xin Yuning pun sering memberinya tambahan.

Xin Yi kini memiliki banyak uang, namun ia tetap hidup sederhana.

Ia membeli beberapa jenis es krim dengan rasa yang berbeda-beda, lalu duduk di bangku panjang di depan toko sambil menikmati pemandangan matahari sore yang berwarna oranye.

Suasana di sana cukup sejuk dan tidak banyak kendaraan yang lewat, membuatnya merasa tenang.

Penjaga toko, seorang Paman yang ramah, memberikan sepotong buah semangka yang segar kepada Xin Yi sebagai hadiah. Gadis itu menerimanya dengan senang hati dan mengucapkan terima kasih.

Setelah itu, Paman tersebut masuk kembali ke dalam toko untuk menonton pertandingan sepak bola di televisi.

Di tempat lain, Ming Juan berjalan dengan wajah murung. Tangannya terus menyentuh pipinya yang memar akibat kejadian siang tadi. Ia berjalan menuju warung kelontong yang biasa ia kunjungi untuk membeli camilan.

Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti tepat di depan pintu warung.Dia melihat sosok seorang gadis yang duduk dengan sangat santai di bangku depan toko.

Gadis itu memejamkan matanya menghadap langit, seolah sedang menikmati angin sore dengan penuh kedamaian.

Itu adalah gadis yang ia temui di atap sekolah kemarin!

Ming Juan terdiam kaku, tidak tahu apakah ia harus melanjutkan langkahnya atau justru memutar balik dan pergi dari sana.

Zhang Yui yang berjalan di belakang melihat temannya berdiri kaku seperti patung. Ia segera berlari mendekat dengan wajah bingung.

"Hei, mengapa kau berhenti mendadak? Apa yang sedang kau lihat?" tanyanya sambil mendorong bahu Ming Juan.

Tanpa menjawab, Ming Juan justru menarik kerah baju Zhang Yui dan memaksanya menoleh ke arah bangku depan toko.

Zhang Yui terdiam sejenak, lalu matanya membelalak.

"Oh... bukankah dia gadis yang kita temui di atap sekolah kemarin?" gumamnya pelan, tak percaya.

Di sana, duduk dengan tenang, adalah Xin Yi.

Merasakan kehadiran orang lain yang semakin dekat, Xin Yi perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, menatap kedua pemuda itu dengan tatapan datar.

Kedua pemuda itu seketika membeku di tempat. Jantung mereka seakan berhenti berdetak sejenak. Gadis itu memiliki mata yang sangat bulat, gelap, dan tajam. Tatapannya tenang namun seolah mampu menembus pikiran mereka.

Xin Yi mengedipkan matanya perlahan. Ia mencoba mengingat, dan akhirnya sedikit mengernyitkan dahi. Sepertinya... ia pernah melihat kedua orang ini sebelumnya.

Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, suara Paman penjaga toko terdengar dari balik pintu.

"Nona, hari sudah mulai sore dan langit mulai gelap. Sebaiknya kau segera pulang agar tidak kemalaman," ucap Paman itu ramah namun tegas.

"Baik, Paman. Terima kasih," jawab Xin Yi singkat.

Gadis itu segera berdiri dari tempat duduknya. Ia memasukkan sisa makanan ke dalam tas, lalu dengan gerakan cekatan menaiki sepedanya, memakai helm dengan rapi, dan mulai mengayuh sepeda pergi meninggalkan tempat itu.

Ia berlalu begitu saja, meninggalkan kedua pemuda itu yang masih berdiri terpaku.

Paman penjaga toko yang hendak keluar kembali melihat pemandangan aneh di depannya.

Dua pelanggan setianya berdiri dengan wajah yang lebam dan berantakan, namun ekspresi mereka justru tampak bingung dan terkejut, menatap ke arah jalan kosong.

"Hei... apa yang terjadi dengan kalian berdua?" tanya Paman itu bingung. "Mengapa berdiri melamun seperti orang bingung arah?"

Zhang Yui dan Ming Juan saling bertatapan, namun mulut mereka terkunci rapat.

Mereka sendiri tidak mengerti mengapa hanya dengan ditatap oleh gadis itu, tubuh mereka terasa kaku tak berdaya.

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!