Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ijin dari Leon.
“Steve, lo telat lagi.” Ucap neo melihat ke arah Steve yang meneguk minumannya.
“Gue lupa, Sorry…” ucap Steve terdengar santai.
“Sudah gue duga.” Balas neo sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Steve, lihat arah jam tiga. Disana ada kakak lo dan kekasihnya.” Bisik Niko membuat tatapan mata Steve beralih melihat ke arah Leon.
“Kak Leon…” lirih Steve menatap Leon yang sedang menyuapi dias.
“Lo nggak apa apa…?” Lirih Niko yang tahu isi hati Steve saat ini.
“Gue baik baik saja nik, lo jangan kawatir.” Senyuman terpaksa Steve perlihatkan ke depan Niko, dia hanya ingin Niko tahu jika Steve baik bak saja melihat kemesraan Leon dan dias.
Leon yang sekilas melirik Steve mendapati Steve yang juga menatapnya, kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain. Suasana canggung mulai terasa di antara keduanya, Steve yang tampak terpergok saat Leon menatapnya segera mengalihkan pandangannya, berpura pura dia tidak melihat Leon.
“Dasar anak kecil, awas saja saat sampai di rumah akan aku kasih hukuman buat kamu karena kamu tidak ijin saat keluar malam ini.” Batin Leon menatap Steve yang terlihat sedang mengobrol asik dengan teman temannya.
“Steve, sepertinya kak Leon menatap ke arah lo.” Bisik Niko yang membuat Steve seolah terlihat mati kutu.
“Benarkah…? trus gue harus ngapain…? Atau kita segera pergi dari sini….?” Jawab Steve terdengar gugup.
“Santai bro, malam ini lo tidur di rumah gue. Tapi sebelum itu, lo samperin tuh kakak lo yang natap lo dari tadi, gue kawatir lo enggak akan di boleh in main lagi setelah ini.” Ucap Niko memberikan solusi terbaik untuk Steve.
“Lo anterin gue nik, gue takut. Noh lihat, tatapan mata kak Leon selama mau Helen gue hidup hidup.”
Niko menatap ke arah Leon, dia segera meneguk ludahnya yang terasa sulit untuk dia telan. Tak ubahnya Steve, dia merasa takut melihat sorot mata tajam Leon yang masih saja menatapnya.
“Sayang… sudahlah, biarkan Steve bersenang senang malam ini. Dia sudah dewasa, dia bukan anak abg lagi.”
Dias berusaha menenang kan kekasihnya yang terlihat kesal dari tadi, dias yang tadi menyadari kekesalan Leon saat melihat ke arah Steve, mencoba sekuat tenaga membujuk Leon untuk meredam emosi Leon.
“Dia sudah berani keluar apartemen tanpa seijinku sayang, kamu tahu…? Jika terjadi sesuatu dengan Steve, apa yang harus aku katakan dengan om alex nantinya.” Jawab Leon terdengar dramatis.
Elusan tangan dias dia lengan Leon, menarik atensi Leon untuk menatap ke arah dias. Dias berharap jika Leon bisa menghilangkan kekesalannya.
Steve berjalan bersama Niko menuju ke arah Leon, dengan tangan Steve yang di gandeng Niko dengan sangat erat. Sontak leon menatap tangan Niko yang menggenggam erat tangan Steve, kembali Leon mengepalkan tangannya melihat keromantisan Steve dan Niko.
“Apa yang kalian lakukan….!!!” Geram Leon saat kedua laki laki tampan itu berada tepat di depan leon.
Steve dan Niko saling bertatapan, mereka bingung dengan maksud dan ucapan Leon.
“Maksud kak Leon apa…?” Tanya steve penasaran menatap Leon.
Dias yang melihat kebingungan Steve dan Niko serta reaksi berlebihan Leon sampai menahan tawanya, dia sampai menutup mulutnya mengunakan telapak tangannya.
“Kak dias…?” Seru Steve berusaha agar dias mengucapkan maksud ucapan Leon.
“Kalian seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara, apa kalian tidak menyadari itu…?” Ucap dias yang menyadarkan tingkah Stevanus dan Niko.
“Ya Tuhan… Niko, lepasin tangan gue….” Seru Steve yang membuat Niko menyadari akan salahnya.
“Maaf Steve, gue refleks tadi.” Ucap Niko segera melepaskan tangannya.
Leon masih menatap Steve dalam diam, Steve tiba tiba merasakan suasana kafe yang tadinya terlihat ramai dengan beberapa orang yang sedang bercanda dan bergurau, seketika berubah seram karena tatapan Leon saat ini.
“Maaf kak, aku enggak ijin sama kak Leon saat mau keluar malam ini.” Ucap steve yang masih berdiri tepat di samping Leon.
“Hmm… kamu sudah sadar akan kesalahan yang kamu lakukan Steve.”
Suara Leon terdengar sangat berat dan mendominasi, Steve sampai menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap Leon yang masih duduk di tempatnya.
“Maaf kak…” lirih Steve merasa menyesal mengakui kesalahannya.
“Hmm….” Jawab Leon singkat.
“Segera pulang sebelum jam sebelas malam.” Ucap Leon mengintruksi Steve.
“Kak Leon…” panggil Niko memotong pembicaraan.
Leon menoleh menatap Niko, dia menatap tajam Niko dengan segala kekesalan yang masih tersisa.
“Ada yang ingin kamu sampaikan Niko….?”
Nyali Niko yang tadinya sudah membara tiba tiba menciut seketika mendengar suara berat Leon, dia meremas kedua tangannya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
“Anu kak… malam ini, Steve akan menginap di rumahku. Kami akan mengerjakan tugas dari dosen, tapi bukan aku dan Niko saja. Ada neo, Andra dan juga dimas. Boleh kak…?”
Niko menatap Leon dengan segala keberanian yang masih tersisa, dia berharap Leon mengijinkan Steve menginap malam ini di rumahnya.
“Sudahlah sayang, biarkan Steve menginap bersama teman temannya.” Bujuk dias berharap Leon mengabulkan keinginan Niko.
Helaan nafas panjang terdengar dari Leon, rasa kesal yang dari tadi dia rasakan berubah melunak seketika. Leon menatap Niko dan beralih menatap Steve yang masih menunduk, sepertinya Steve tidak berani menatap Leon.
“Oke,”
Mendengar persetujuan Leon, sontak niko dan Steve saling menatap satu sama lain seperti anak kecil yang akan di berikan mainan.
“Tapi, besok pagi kakak akan jemput kamu. Ingat… hanya boleh menginap kali ini, tidak untuk lain kali.”
Senyuman Steve yang tadinya mengembang sempurna berubah menciut seketika, dia kesal dengan kebebasan yang bisa dia rasakan hanya beberapa jam bersama teman temannya.
“Jika kamu enggak mau, setelah ini kamu bisa pulang bersama ku Steve.” Ucap Leon dengan entengnya.
“Baik… baik kak, tidak masalah. Besok pagi kak Leon jemput aku, tapi jangan pagi pagi sekali ya… please….”
Steve menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dia berharap Leon memberinya tengang waktu kebebasan sedikit lebih lama.
“Jam delapan, sehabis aku mengantar dias ke bandara.”
Steve sampai ingin meninju Leon, jika tidak mengingat jika dia sekarang ada di tempat umum. Senyuman terpaksa Steve berikan ke arah Leon, bagaimanapun juga dia harus patuh dengan ucapan dan titah Leon.
“Baik kak…” suara Steve terdengar lesu, rasanya Steve tidak bersemangat lagi hari ini.
Tak jauh dari tempat mereka, teriakan neo membuat atensi ke empat orang tersebut teralihkan.
“Steve, Niko… kita cabut yuk…” ucap neo sedikit menaikkan nada bicaranya.
“Kak kami pergi dulu, teman teman sudah mau cabut sekarang.” Pamit Niko yang mendapat anggukan samar Leon.
Sedangkan Steve masih diam tanpa mau berpamitan dengan Leon, rasa kesal Steve semakin menjadi saat Leon tersenyum mengejek melihat kekecewaan di wajah Steve.
“Apa kamu tidak terlalu kejam dengan Steve sayang, sepertinya dia masih kesal sama kamu.”
Dias melihat kepergian Niko dan Steve. Sedangkan Leon memilih menghabiskan minuman yang masih tersisa separuh.
“Nantinya dia akan paham merasakan ke posesif an ku saat ini, aku melakukan semuanya demi kebaikan dia sayang, aku tidak ingin dia terjerumus ke pergaulan bebas di luar sana.” Ucap Leon sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Sedangkan Steve yang masih kesal, berjalan bersama teman temannya keluar dari kafe. Niko yang setia berada di samping Steve berusaha meredakan kekesalan cowok tampan berwajah oriental tersebut.
“Sudahlah Steve, kita lupakan ucapan kak Leon. Malam ini setelah mengerjakan tugas dosen kita akan bersenang senang, bagaimana…?” Bujuk Niko yang berhasil membuat senyum an terbit di wajah Steve.
“Sangat tampan dan cantik.” Celetuk neo tiba tiba melihat senyuman yang terbit di kedua bibir Steve.
“Apa lo bilang….?” Tanya Andre yang ada di samping neo.
“Apa….?” Tanya neo mendengar pertanyaan Andre.
“Lo bilang apa barusan…?” Tanya Andre seakan mempertegas pertanyaannya.
“Enggak… gue enggak bilang apa apa.” Kilah neo sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
Malam ini stevan, Niko, neo dan juga Andre akan menginap di rumah Niko. Rencana yang sudah mereka persiapkan dari beberapa bulan yang lalu baru kali ini bisa mereka realisasikan karena stevan yang berulang kali membatalkannya, karena Leon yang tidak mengijinkan.
“Akhirnya kita bisa bobok bareng satu kamar.” Guyon receh Andre yang membuat tawa pecah di tengah tengah obrolan hangat ke empat laki laki yang kini berjalan masuk ke mobil Niko.
“Itu juga karena usaha gue yang minta ijin ke kak Leon buat bawa peliharaan kak Leon keluar kandang.” Celetuk Niko yang mendapat tepukan pelan Steve.
“Resek lo nik, gue di sama in hewan apa…?” Ucap Steve berpura pura kesal.